Tuesday, September 10, 2019

Bahaya Munafik Intelektual



Oleh: Zakariya al-Bantany


Munafik Itu Sangat Tercela

Dalam Islam, munafik adalah perilaku sangat tercela. Dan dalam banyak ayat-Nya, Allah SWT tidak pernah menyebut kaum munafik kecuali dalam makna yang negatif atau buruk. Sebagian Ulama membagi orang munafik menjadi dua:

Pertama: munafik secara i’tiqâdi. Pelakunya pada dasarnya kafir, tetapi berpura-pura atau menampilkan diri sebagai Muslim semata-mata demi menipu Allah SWT (QS. An-Nisa’: 142). Munafik jenis ini ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

"Sungguh kaum munafik itu ditempatkan di dasar neraka yang paling bawah (kerak neraka) dan mereka tidak memiliki seorang penolongpun." (QS. An-Nisa’: 145)

Kedua: munafik secara ‘amali. Pelakunya boleh jadi Muslim, tetapi memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri orang munafik. Dalam hal ini Rasulullah ﷺ bersabda:

آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

"Ada tiga tanda orang munafik: jika berkata, berdusta; jika berjanji, ingkar; jika diberi amanah, khianat." (HR. al-Bukhari dan Muslim)


Pertama: Berbicara bohong atau dusta dinyatakan sebagai salah satu karakter orang munafik. Hal itu menunjukkan bahwa berbohong merupakan dosa besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

"Sungguh kebohongan itu mengantarkan pada kejahatan dan kejahatan itu mengantarkan ke neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua: Ingkar janji adalah ciri kaum munafik berikutnya. Kaum munafik itu gemar berjanji, tetapi gemar pula mengingkari janji-janji mereka.

Ketiga: Khianat terhadap amanah adalah ciri kaum munafik yang ketiga. Allah SWT mencela sikap khianat ini:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

"Sungguh Allah tidak menyukai para pengkhianat." (QS. Al-‘Anfal: 58)

Di antara amanah itu adalah amanah kepemimpinan. Kepemimpinan —dalam konteks bernegara— adalah amanah untuk mengurus rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Imam itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus." (HR. Bukhari dan Ahmad)

Mengurusi kemaslahatan rakyat yang menjadi amanah seorang pemimpin tentu harus sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya (Syariah Islam). Karena itu selalu merujuk pada Syariah Islam dalam mengurus semua urusan rakyat adalah wajib (Lihat: QS al-Nisa’ [4]: 59). Amanah untuk mengurus semua kemaslahatan rakyat tidak boleh didasarkan pada aturan-aturan kapitalis sekular —sebagaimana yang terjadi saat ini— yang dasarnya adalah hawa nafsu. Allah SWT jelas mencela segala tindakan yang bersumber dari hawa nafsu manusia:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

"Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya…" (QS. Al-Kahfi: 28)


Selain ketiga ciri kemunafikan di atas, menurut ‘Aid Abdullah al-Qarni dalam salah satu kitabnya, Al-Qur’an menyebut sejumlah perilaku orang munafik. Di antaranya: dusta; khianat; ingkar janji; riya' (doyan pencitraan); mencela orang-orang taat dan shalih; memperolok-olok Al-Qur’an, As-Sunnah dan Rasulullah ﷺ; bersumpah palsu; tidak peduli terhadap nasib kaum Muslim; suka menyebarkan kabar bohong (hoax); mencaci-maki kehormatan orang-orang shalih; membuat kerusakan di muka bumi dengan dalih mengadakan perbaikan; tidak ada kesesuaian antara lahiriah dan batiniah; menyuruh kemungkaran dan mencegah kemakrufan; sombong dalam berbicara; menantang Allah SWT dengan terus berbuat dosa; dan seterusnya.

Sayang, saat ini perilaku munafik ini terus tumbuh makin subur. Khususnya di kalangan rezim atau penguasa, para pejabat negara dan para politisi. Faktanya, sebagian perilaku di atas —jika tidak semuanya— banyak dipraktikkan oleh rezim saat ini, termasuk sebagian pejabat negara dan para politisi. Di antara mereka banyak yang biasa berdusta; khianat; ingkar janji; riya' (doyan pencitraan); mencela orang-orang taat dan shalih; memperolok-olok Al-Quran, As-Sunnah dan Rasulullah ﷺ; bersumpah palsu; tidak peduli terhadap nasib kaum Muslim; suka menyebarkan kabar bohong (hoax); mencaci-maki kehormatan orang-orang shalih; membuat kerusakan di muka bumi dengan dalih mengadakan perbaikan; tidak ada kesesuaian antara lahiriah dan batiniah; menyuruh kemungkaran dan mencegah kemakrufan; sombong dalam berbicara; menantang Allah SWT dengan terus berbuat dosa; dan seterusnya. [https://mediaumat.news/buletin-kaffah-stop-segala-kemunafikan/]

Munafik Intelektual

Di antara golongan orang munafik atau kaum munafik, sesungguhnya ada orang munafik yang paling berbahaya yaitu munafik intelektual ('aalimul lisaan). Sebab, dalam sejarah umat manusia, kebanyakan masyarakat dan negara serta peradabannya rusak dan hancur karena di antaranya disebabkan oleh kaum munafik intelektual ('alimul lisan). Kaum munafik intelektual itu sangat berlemah lembut terhadap orang kafir dan bersikap sangat keras terhadap sesama Muslim. Bahkan kaum munafik intelektual tersebut menjalin kerjasama dengan orang-orang kafir dalam menghancurkan Islam dan dalam menghabisi umat Islam.
Kaum munafik intelektual senantiasa meniupkan keragu-keraguan dan rasa was-was dalam benak umat Islam dan berupaya keras menggembosi umat Islam serta mengadu-domba antar umat Islam, di mana mereka senantiasa berupaya menyesatkan umat Islam dengan mendistorsi atau mengaburkan dan merusak serta mengkriminalisasi ajaran Islam khususnya ajaran Islam yang utama seperti Tauhid, Dakwah, Syariah, Jihad dan Khilafah. Bahkan kaum munafik intelektual itu senantiasa menyerukan amar munkar dan nahi ma'ruf dan loyalitas mereka hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya serta untuk majikan mereka yakni para penguasa ruwaibidhah dan para penjajah kafir kapitalis asing dan aseng.

Karena itulah, daya rusak kaum munafik intelektual itu sangat sistemik, terstruktur, massif dan brutal serta jangka panjang. Jadi, sangat wajar bila orang munafik itu tempatnya di keraknya neraka Jahannam selamanya, khususnya munafik intelektual tersebut. Allah SWT berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ
"Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal." (QS. At-Taubah: 68)

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

"Sungguh kaum munafik itu ditempatkan di dasar neraka yang paling bawah (kerak neraka) dan mereka tidak memiliki seorang penolong pun." (QS. An-Nisa’: 145)

Seorang munafik intelektual mampu menyesatkan ribuan bahkan jutaan lebih umat manusia dan membawa kerusakan sistemik yang sangat besar bagi tatanan kehidupan umat manusia. Serta daya rusaknya pun berkepanjangan turun-temurun dari generasi ke generasi hingga puluhan tahun, ratusan tahun bahkan hingga lebih dari ribuan tahun lamanya.

Sebab, seorang munafik intelektual argumentasinya bernas, lengkap dengan kutipan dari literatur yang secara akademik tampak sangat ilmiah, mengutip perkataan Ulama, alur penyampaiannya teratur dan logikanya terstruktur dan sistematis serta terkadang gaya retorikanya dalam berkomunikasi sangat menarik dan menawan hati. Namun, sayang semua itu dia gunakan untuk mendukung kemaksiatan dan kesesatan serta kekufuran dan ia pun menjadi agen penguasa dan penjajah atau komprador kaki tangan penguasa ruwaibidhah yang dzalim dan para penjajah kafir asing dan aseng.

Di zaman now ini, potret atau fakta di atas sering kita temukan pada beberapa orang yang biasa disebut cendekiawan Muslim terkadang mereka bergelar profesor, doktor, insinyur, ilmuan, peneliti, aktivis, kyai, gus, ustadz, dan lain-lain. Ada yang membela dan menghalalkan LGBT, menghalalkan zina dan mengharamkan Khilafah serta mengharamkan poligami, menghalalkan ekonomi ribawi dan pajak serta BPJS, berupaya menghapus kata kafir dalam Islam.

Mereka ada yang terang-terangan menentang Syariah Allah dan Khilafahnya Allah, ada pula yang menistakan Syariah Allah dan Khilafahnya Allah, serta mereka pun sering kali menjilat penguasa ruwaibidhah yang zhalim dan menjilat para penjajah kafir kapitalis asing dan aseng demi uang, jabatan dan wanita atau demi dunia dan materi atau karena mereka tersandera kasus hukum seperti korupsi, penipuan, dan lain-lain, sehingga ia banting setir berbalik mendukung penguasa ruwaibidhah yang dzalim dan mendukung para penjajah kafir asing dan aseng, dia tak ubahnya seperti Ar-Rajjal bin Unfuwah -seorang mantan Sahabat Nabi ﷺ- yang pindah kubu menjadi pengikut setia Nabi palsu Musailamah al-Kadzdzab laknatullahi 'alaihi.

Potret-potret atau fakta semacam itu mengingatkan kita tentang sabda Nabi Muhammad ﷺ perihal para munafik 'alimul lisan tersebut, yakni munafik yang pandai bersilat lidah atau pandai dan ahli beretorika alias munafik intelektual. Rasulullah ﷺ sangat mengkhawatirkan keberadaan orang-orang munafik ini, para pendusta yang pandai mengolah kata dan data, serta pandai berbicara dan pandai beretorika. Beliau ﷺ bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ

Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti menimpa umatku, adalah setiap munafik yang pandai bicara (bersilat lidah).” (HR. Ahmad no. 143)

Senada dengan itu, suatu ketika Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu naik mimbar kemudian berpidato:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُنَافِقُ الْعَلِيمُ ، قِيلَ : وَكَيْفَ يَكُونُ الْمُنَافِقُ عَلِيمٌ ؟ قَالَ : عَالِمُ اللِّسَانِ، جَاهِلُ الْقَلْبِ وَالْعَمَلِ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umat ini adalah orang pintar yang munafik. Para sahabat bertanya: Bagaimana bisa seseorang itu menjadi munafik yang pintar? Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Yaitu orang yang pandai berbicara (bak seorang alim), tapi hati dan perilakunya jahil”. [Ihya Ulumuddin, hlm. 1/59]

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka (keraknya neraka). Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka." (QS. An-Nisaa': 145)


Dahulu, di zaman Nabi Musa AS pun ada seorang tokoh munafik intelektual yang bernama Samiri yang berpura-pura menjadi pengikutnya Nabi Musa AS. Samiri pun berhasil sukses menyesatkan banyaknya pengikut Nabi Musa yakni Bani Israil yang menyembah patung emas sapi buatan tangan Samiri saat Bani Israil ditinggal oleh Nabi Musa AS untuk menerima wahyu Allah di bukit Thur.

Di masa Rasulullah ﷺ pun ada seorang tokoh munafik intelektual yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul yang berupaya keras menggembosi umat Islam dan memecah belah umat Islam serta membangkang kepada Rasulullah ﷺ melalui pemikiran-pemikiran kufur nan sesatnya Abdullah bin Ubay tersebut dan juga pendirian Masjid Dhirar di Madinah serta menjalin kerjasama dengan kaum yahudi di Madinah untuk merongrong Rasulullah ﷺ dan Daulah Islam.

Di masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq pun muncul sosok seorang munafik intelektual yang bernama Ar-Rajjal bin Unfuwah. Pada awalnya dia adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ. Ar-Rajjal bin Unfuwah telah berhijrah, menyatakan keislamannya kepada Rasulullah ﷺ. Dia membaca Al-Qur’an dan memahami ilmu agama. Dia juga seorang yang cerdas dan memiliki pandangan yang luas tentang problematika hidup. Suatu ketika muncul fitnah kenabian Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah. Maka, Rasulullah ﷺ mengutusnya sebagai pengajar penduduk Yamamah.

Ar-Rajjal bin Unfuwah mendapat tugas untuk mengajar dan memberikan pemahaman kepada penduduk Yamamah akan sesatnya Musailamah. Sehingga penduduk Yamamah menentang Musailamah dan menggagalkan usaha Musailamah untuk diakui menjadi nabi di samping Rasulullah ﷺ. Akan tetapi, di tengah jalan, Ar-Rajjal bin Unfuwah justru terpengaruh dan lalai dari tugasnya. Ia termakan tipudaya dan kebohongan Musailamah. Sehingga dia berbalik menjadi pembela Musailamah al-Kadzdzaab sebagai nabi palsu.

Pindah kubu Ar-Rajjal bin Unfuwah jauh hari telah dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, “Suatu hari aku duduk di sisi Rasulullah bersama sekelompok orang, di tengah kami hadir Ar-Rajjal bin Unfuwah. Nabi bersabda, “Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”

Kemudian aku (Abu Hurairah) perhatikan bahwa seluruh yang dulu hadir telah wafat, dan yang tinggal hanya aku dan Ar-Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar-Rajjal keluar mengikuti Musailamah dan membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailamah.” [Lihat Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, dalam bahasan nabi palsu Musailamah al-Kadzdzab]

Sungguh fitnah Ar-Rajjal bin Unfuwah menjadi cerminan kondisi para elit politik dalam kubangan demokrasi. Pindah kubu demi menyelamatkan kepentingan. Memuji pihak kawan dan menjelek-jelekkan pihak lawan. Kerap kita jumpai dalam kontestasi politik ala demokrasi di zaman now ini.

Munculnya gerakan khawarij dan gerakan syiah tidak bisa pula dilepaskan dari fitnah yang dilontarkan oleh orang-orang munafik di tengah kaum Muslimin. Di antaranya tokoh munafik intelektual yang berjasa memicu konflik antar sesama Muslim hingga melahirkan gerakan khawarij dan syiah adalah Abdullah bin Saba' seorang yahudi hitam dari Yaman sejak era Khalifah Utsman bin Affan. Si Abdullah bin Saba' berupaya keras memecah-belah kaum Muslim melalui pemikiran-pemikiran sesat dan nyelenehnya serta melalui propaganda fitnah kepada Khalifah Utsman bin Affan dan memprovokasi kaum Muslim untuk membangkang Khalifah Utsman bin Affan dan membunuh Utsman bin Affan hingga terjadilah pembunuhan terhadap Khalifah Ustman bin Affan tersebut.

Hingga fitnah tersebut pun berkelanjutan pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib hingga terjadilah perang saudara antar sesama Muslim dalam perang Shiffin dan perang Jamal. Hingga terjadilah pembunuhan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh seorang khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam dan pasca terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh Ibnu Muljam tersebut, fitnah tersebut pun berkelanjutan hingga ribuan tahun sampai dengan sekarang di zaman now ini.

Dan juga di masa akhir Khilafah Islam Utsmaniyah yang berpusat di Turki pun muncul tokoh munafik intelektual yang bernama Mustafa Kamal Attarturk seorang agen Inggris dan juga seorang yahudi yang berpura-pura Islam dan berpura-pura dekat dengan Ulama serta berpura-pura pula cinta Ulama dan cinta Islam. Serta Mustafa Kamal pun berhasil menyusup ke dalam tubuh militer Khilafah Ustmani hingga ia mendapatkan posisi sangat strategis di militer Khilafah Utsmani hingga berhasil menguasai militer Khilafah Utsmani.

Dan akhirnya Mustafa Kamal pun berhasil diciptakan sebagai pahlawan Turki oleh Inggris dengan skenario perang-perangan melawan Inggris oleh Mustafa Kamal Attarturk tersebut di Turki hingga ia pun berhasil menguasai parlemen Turki, dan pada 3 maret 1924 masehi ia pun berhasil menghapus sistem Khilafah di Turki dan di dunia untuk selama-lamanya. Dan ia pun mengusir Khalifah kita yang terakhir Sultan Abdul Hamid II beserta keluarganya dari istana sang Khalifah dan memenjarakan sang Khalifah seumur hidupnya di Tesalonika Yunani.

Hingga akhirnya pun Turki menjadi negara sekuler sampai dengan sekarang dengan presiden pertamanya yakni Mustafa Kamal Attarturk laknatullahi 'alaihi dan ia pun menghapus semua simbol-simbol Islam dan ajaran Islam khususnya Islam politik serta umat Islam pun terpecah berkeping-keping menjadi lebih dari 50 negara kecil dalam bentuk negara bangsa (nation state) dengan paham kufurnya nasionalisme hingga umat Islam pun terjajah secara sistemik dan menjadi bulan-bulanan negara-negara kafir imperialis Barat (asing) dan Timur (aseng) hingga umat Islam pun merintih kesakitan penuh bersimbah darah sampai sekarang, serta kondisi umat Islam pun bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya dan bagaikan kebun tanpa pagar serta bagaikan hidangan di atas meja yang diperebutkan oleh musuh-musuhnya dari segala penjuru mata angin.

Di zaman penjajahan Belanda di Indonesia dahulu pun muncul tokoh munafik intelektual yang bernama Christiaan Snouck Hurgronje yang merupakan seorang orientalis dan think thank-nya Belanda dalam menguasai dan menjajah Indonesia. Di mana Snouck Hurgronje berpura-pura masuk Islam dan ia pun sangat fasih berbahasa Arab dan hafal sebagian kecil Al-Qur’an dan ia pernah berangkat haji ke tanah suci Mekkah serta ia pun berpenampilan seperti seorang Ulama atau Syaikh bahkan di Aceh ia dijuluki Syaikh Putih.

Dengan begitulah Snouck Hurgronje masuk ke dalam tubuh umat Islam di Nusantara dengan mulai melemahkan dari dalam umat Islam dengan pemikiran-pemikiran kufur liberal barat sesatnya ia pun meracuni pemikiran umat Islam untuk secara pelan-pelan menjauhkan umat Islam dari Islam dan memecah-belah kekuatan umat Islam hingga Belanda pun berhasil menguasai sepenuhnya pulau Jawa dan pulau Sumatera khususnya Aceh hingga kian langgenglah kekuasaan penjajahan dan kolonialisme Belanda di Indonesia.

Dan kini di zaman now ini, di peradaban sampah kapitalisme dan di negara-negara demokrasi ataupun di negara-negara sekuler yang mengadopsi ideologi kufur demokrasi kapitalisme sekulerisme biang kemunafikan di zaman now ini justru semakin membuat kaum munafik intelektual tersebut tumbuh subur bagaikan tumbuh suburnya jamur di musim penghujan.

Dan orang-orang munafik intelektual tersebut itu pun diberi fasilitas lengkap, gaji yang besar dan jabatan tinggi nan strategis oleh negara bahkan dijadikan sebagai soko guru dan guru bangsa serta pemimpin masyarakat hingga makin rusaklah masyarakat dan negara hingga carut-marutlah di semua lini kehidupan, dan makin mengguritanya liberalisme dan neo imperialisme serta neo kolonialisme kafir penjajah asing dan aseng serta kemunafikan di negeri ini dan di negeri-negeri Islam lainnya serta di seluruh penjuru dunia.

Jadi, begitulah fitnah yang dilontarkan oleh kaum munafik intelektual sangat dahsyat mampu memecah-belah kaum muslimin hingga Ulama dan ahlul Qur’an pun bisa terkena fitnah dahsyat kaum munafik intelektual tersebut dan menjadi pengikut setia kaum munafik intelektual tersebut. Karena itulah, begitu sangat berbahayanya munafik intelektual ('alimul lisan) tersebut.

Semoga Allah melindungi kita dan menjauhkan kita dari sifat nifaq dari dalam diri kita dan potensi diri kita menjadi orang munafik. Dan semoga Allah pun melindungi dan menjauhkan kita dari bahaya dan fitnah keji kaum munafik intelektual serta dari kejahatan sistematis kaum munafik khususnya kaum munafik intelektual ('alimul lisan) tersebut yang hidup dan berkembang biang dalam ekosistem peradaban sampah kapitalisme sekuler demokrasi di zaman now ini. Aaamiin.

Wallahu a'lam bish shawab. []


#IjtimaUlama
#IkutUlama
#KhilafahWajib
#KhilafahAdalahSolusi
#ReturnTheKhilafah

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog