Saturday, August 3, 2019

Ilmu Adalah Jantung Kehidupan



Oleh: Zakariya al-Bantany

Sebagai seorang Muslim kita sangat kenal dengan seorang Ulama besar yang sangat terkenal dari zamannya dahulu hingga zaman kita yang sekarang, beliau adalah Imam al-Bukhari yang bernama asli Muhammad bin Ismail (lahir 196 H/ 810M - wafat 256 H/ 870 M), karya-karya beliau banyak sekali. Dan karya beliau yang paling fenomenal adalah kitab Hadits Shahih Bukhari yang berisikan kumpulan hadits-hadits shahih Rasulullah ﷺ dengan sanad dan matannya yang sangat terjaga.

Kitab Hadits Shahih Bukhari beliau tersebut telah menjadi salah-satu menu rujukan utama kita dalam menjalani rutinitas kehidupan kita sehari-hari mulai urusan kamar mandi hingga urusan negara, mulai dari bab Akidah hingga bab Syariah dan Akhlak, serta mulai dari bab Thaharah (bersuci) hingga bab Khilafah (Imamah).

Imam Bukhari sendiri berasal dari sebuah negeri Islam yang bernama Bukhara Samarkand (sekarang Uzbekistan, di Asia Tengah) yang merupakan bagian dari Kekhilafahan Islam Abbasiyah. Imam Bukhari banyak menuntut ilmu dan mengumpulkan banyak hadits dari ribuan Ulama pada masanya. Dari setiap Ulama yang didatangi beliau, Imam Bukhari hafal ribuan hadits, dan kemudian beliau pun seleksi lagi hadits-hadits Rasulullah ﷺ tersebut sampai benar-benar hadits tersebut didapatkan sanadnya minimal shahih dan maksimal mutawattir. Imam Bukhari sangat terkenal dengan kekuatan daya hafalannya yang sangat luar biasa di atas rata-rata kebanyakan orang pada masanya.

Dengan segala keterbatasan sarana dan prasana pada masa beliau yang masih mengandalkan kuda, unta dan keledai serta belum ada yang namanya mobil, motor dan pesawat terbang serta belum ada yang namanya gadget, internet, telekomunikasi dan media sosial. Imam Bukhari begitu sangat istimewa dan begitu sangat semangatnya dalam menuntut ilmu dan dalam mengumpulkan ribuan lebih hadits-hadits Rasulullah ﷺ dari ribuan Ulama dengan menempuh perjalanan yang sangat jauh berkilo-kilo meter bermil-mil bolak-balik hingga tidak terhitung dari Bukhara (Asia tengah) ke Timur Tengah khususnya ke Makkah dan Madinah.

Dengan semangat baja dan teladan mulia beliau dalam menuntut ilmu tersebut, sangat wajar Imam al-Bukhari rahimahullah sendiri pernah berkata:

العِلمُ قَبلَ القَولِ وَ العَمَلِ

"Ilmu itu sebelum berkata dan berbuat."

Begitulah bab yang ditulis oleh imam besar ahli hadits yang terkenal dengan sebutan Imam al-Bukhari dalam salah satu bab dari Kitab Al-‘Ilmi.

Beliau yang bernama asli Muhammad bin Ismail, karena kedudukan dan kehebatan ilmunya sehingga nama daerah asal beliau pun menjadi terkenal. Bahkan para Ulama yang sezaman dengan beliau pun mengakui dan mengagungkan kemampuannya dalam ilmu hadits, sampai beliau dijuluki “Amirul Mu’miniin fil Hadist (Pemimpin atau penguasa orang-orang Mukmin dalam bidang hadits)” itu adalah sebuah julukan yang agung yang disandang oleh beliau, terutama setelah para Ulama mengetes langsung kemampuan dan kehebatan beliau dalam ilmu hadits dan kekuatan hafalannya.

Dari bab yang beliau tulis kemudian mengambil dalil firman Allah SWT yang Maha Mulia lagi Maha berilmu:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Illah (sesembahan, Tuhan) yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad: 19)


Dan dari ayat Al-Quran ini, salah seorang Ulama ahli hadits menjadikan dalil tentang keutamaan ilmu. Beliau bernama Sufyan bin Uyainah (Sufyan bin Uyainah bin Maimun, Abu Muhammad Al-Hilaly, seorang Ulama ahli hadits (lahir 108 H-wafat 198 H).

Dan dari bab yang ditulis oleh Imam Bukhari, terkandung makna yang luhur dan mulia makna yang tersirat dalam bab yang ditulis oleh beliau adalah wajibnya melandasi perkataan dan perbuatan kita dengan ilmu. Oleh karena itu belajar ilmu yang wajib lebih diutamakan daripada perkataan dan perbuatan.
           
Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim berkata, “Sesungguhnya belajar ilmu yang wajib lebih diutamakan daripada perkataan dan perbuatan, karena perkataan dan perbuatan seseorang tidak dibenarkan kecuali berdasarkan ilmu, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
           
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa berbuat (melakukan suatu perbuatan) yang tidak ada ajarannya dari kami maka (perbuatan) itu tertolak/tidak diterima oleh Alloh.” (HR. Bukhari No. 2697 dan Muslim No.1718)

Dan dikatakan dalam sebuah syair:

"Dan siapa saja yang berbuat tanpa didasari ilmu, maka perbuatannya tertolak, tidak diterima."
           
Allah SWT memerintahkan kepada Nabi-Nya dengan dua hal, yaitu pertama ilmu kemudian yang kedua adalah berbuat. Perintah pertama adalah ilmu baru kemudian diikuti dengan perbuatan, ini menunjukkan bahwa kedudukan ilmu lebih utama daripada kedudukan perbuatan dan ilmu adalah suatu syarat untuk perkataan dan perbuatan. [Hasyiyat Ibnu Qosim atas kitab Ushulu Tsalatsah, hal: 18 dan 19]
           
Syaikhul Islam fil hadist Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani dalam menjelaskan bab yang ditulis oleh Imam Bukhari, menukil perkataan yang indah dari seorang Ulama, beliau berkata, Ibnu al-Munir mengatakan:
           
“Yang diinginkan (dimaksud) olehnya (Imam Bukhari) adalah bahwa ilmu merupakan syarat sahnya suatu perkataan dan perbuatan, maka tidak dibenarkan keduanya (perkataan dan perbuatan) kecuali dengan ilmu, maka ilmu lebih diutamakan daripada perkataan dan perbuatan karena ilmulah sebagai pembetul niat yang bisa membetulkan amal perbuatan.” [Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari jilid 1 hal: 234, Bab ilmu sebelum perkataan dan perbuatan. Cetakan Darul Mishriyah]
           
Maka dari penjelasan para Ulama-ulama salaf, jelaslah bahwa ilmu merupakan modal utama yang harus dimiliki oleh seseorang sebelum ia berkata dan berbuat. Ilmu adalah syarat sahnya perkataan dan perbuatan seseorang, oleh karena itu landasan ilmu juga merupakan salah satu unsur utama dalam berdakwah dan dalam kehidupan. Allah SWT berfirman:
قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ
           
“Katakanlah hai Muhammad inilah jalan-Ku, yaitu menyeru kepada Allah atas dasar ilmu…” (QS. Yusuf: 108)
           

Karena itulah dalam Islam sendiri betapa sangat pentingnya dan sangat utamanya ilmu itu, sebab ilmu adalah fondasi kehidupan, jantung kehidupan dan akar kehidupan. Laksana rumah tanpa fondasi, maka rumah itu tidak akan pernah jadi. Laksana manusia tanpa jantung, maka manusia itu akan mati. Dan laksana pohon tanpa akar, maka pohon itu tidak akan pernah bisa hidup dan tidak akan tumbuh, juga tidak akan berbunga dan tidak akan berbuah pula.
           
Ilmu pun adalah cahaya kehidupan. Laksana cahaya matahari yang menyinari dunia dan menghilangkan kegelapan dunia sehingga dunia pun semakin lebih hidup dan lebih bermakna. Seandainya tidak ada cahaya matahari maka niscaya tidak akan pernah ada kehidupan di dunia.
           
Karena itulah, wahyu Allah yang pertama kali turun kepada Rasulullah ﷺ melalui perantaraan Malaikat Jibril AS pada 17 Ramadhan -saat malam Lailatul Qadr- di Goa Hira berbunyi:

       إِقْرَاْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ, خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقَ. إِقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ. الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الإِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui.”(QS. Al-Alaq: 1-5)
           
Wahyu Allah SWT yang pertama kepada Rasulullah ﷺ tersebut secara tertulis dan secara tersirat menegaskan bukti Kerasulan Nabi Muhammad ﷺ sekaligus penegas betapa pentingnya dan betapa utamanya ilmu sebagai jantung kehidupan.
           
Sebab ilmu adalah fondasi perkataan dan perbuatan bahkan fondasi letupan isi hati seorang hamba dalam kehidupannya agar selaras dengan keridhaan Allah SWT Sang Maha Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan sehingga akan membawa dampak keberkahan dan keselamatan serta kebahagiaan hidupnya baik di dunia maupun di akhirat. Dan juga agar seorang hamba tidak terjerumus dalam kesesatan dan tidak tersesat jalan serta agar tidak salah pilih dan agar tidak menyalahi Allah dan Rasul-Nya. Karena setiap perkataan dan perbuatan kita bahkan letupan isi hati kita baik ataupun buruknya pasti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT saat di Yaumul Hisab kelak di akhirat nanti. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

       يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ

"Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka." (QS. Al-Zalzalah: 6)

       فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
           
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji sawi, debu atau atom) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Al-Zalzalah: 7)

       وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah (biji sawi, debu atau atom) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Al-Zalzalah: 8)
           

Artinya, Ilmu -sebagai informasi awal (ma'lumat tsabiqah) sebelum kita terjun dalam realitas atau fakta-fakta kehidupan kita sehari-hari dalam segala aspeknya- itu merupakan perkara vital yang menyangkut hidup dan matinya kita sekaligus perkara surga dan neraka. Ilmu yang menghasilkan atau menerbitkan keimanan (keyakinan) dan pemahaman (mafahim) serta amal perbuatan seorang hamba akan menentukan nasib akhir seorang hamba, apakah ia kelak di akhirat berakhir di Surga (bagi seorang Muslim yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya) ataukah justru ia akan berakhir di neraka minimal berabad-abad lamanya (bagi seorang Muslim yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya) dan maksimal abadi selama-lamanya (bagi orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya).
           
Apatah lagi ajaran Islam sendiri sangat luas sekali yang wajib kita ketahui dan wajib kita pelajari secara mendalam dan menyeluruh agar kita tidak gagal paham dan tidak salah paham serta tidak tersesat dalam menjalani kehidupan. Sebab Islam adalah akidah ruhiyah (akidah spritual: akidah dan ibadah) sekaligus akidah siyasiyah (akidah politik: yang mengatur segala aspek kehidupan tidak sekedar ibadah ritual belaka).
           
Sebab juga Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya (al-Khaliq) yaitu Allah SWT atau disebut dengan istilah hablun minallah yaitu mencakup perkara akidah dan ibadah; mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri (hablun minannafsiy) yaitu mencakup perkara makanan, minuman, pakaian dan akhlak; dan mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (hablun minannaas) yaitu mencakup perkara politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, hukum, peradilan, persanksian, pertahanan dan keamanan. Karena itulah banyak yang harus kita pelajari lagi dari luas dan dalamnya tsaqafah (keilmuan) Islam tersebut.
           
Karena sangat pentingnya ilmu ini, maka Allah SWT sendiri memberi kedudukan yang tinggi dan mulia pada orang-orang yang berilmu dalam banyak ayat-ayat Al-Quran. Bahkan Rasulullah ﷺ pun menyebutkan beberapa kelebihan dan kemuliaan orang yang berilmu dalam banyak hadits. Di antara ayat-ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah ﷺ yang menunjukkan keutamaan dan kelebihan ilmu antara lain:
           
1. Menuntut ilmu itu kewajiban. Rasulullah ﷺ bersabda:
           
       طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ على كل مُسْلِمٍ
           
Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (Shahih al-Jami': 3913)
           
           
       أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَحْدِ إِلَى اللَّهْدِ
           
Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat.” (HR. Muslim)
           
2. Ilmu adalah cahaya keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:
           
       قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
           
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah:15-16)
           
3. Ilmu merupakan tanda kebaikan seorang hamba. Rasulullah ﷺ bersabda:

       من يُرِدْ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ
           
Siapa yang Allah kehendaki kebaikan kepada seorang hamba maka ia akan dipahamkan tentang agamanya.” (Muttafaq Alaihi dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu 'anhuma)
           
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
           
           
       إِنَّ اللَّهَ عز وجل خَلَقَ خَلْقَهُ في ظُلْمَةٍ فَأَلْقَى عليهم من نُورِهِفَمَنْ أَصَابَهُ من ذلك النُّورِ اهْتَدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ
           
Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menciptaan makhluk-Nya dalam kegelapan, Lalu Allah memberikan kepada mereka dari cahaya-Nya, maka siapa yang mendapatkan cahaya tersebut, maka dia mendapatkan hidayah, dan siapa yang tidak mendapatkannya maka dia tersesat.” (HR. Ahmad (2/176), Tirmidzi,no:2642, Ibnu Hibban (6169), Al-Hakim dalam Mustadrak (1/84), dari hadits Abdullah bin Amr bin Ash)
           
4. Orang yang terbaik adalah para penuntut ilmu dan para pengajar ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda:

       خَيْرُكُمْ من تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
           
Sebaik- baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari (4739), dari Utsman Bin Affan Radhiallahu Anhu)

5. Ilmu agama menyelamatkan dari laknat Allah SWT.

Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

       إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ ما فيها إلا ذِكْرُ اللَّهِ وما وَالَاهُ وَعَالِمٌ أو مُتَعَلِّمٌ
           
Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali dzikir kepada Allah dan amalan-amalan ketaatan, demikian pula seorang yang alim (berilmu) atau yang belajar.” (HR. Tirmidzi, 2322; Ibnu Majah, 4112)
           
6. Menuntut Ilmu, jalan menuju surga.
           
Disebutkan dalam Shahih Muslim, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
           
       وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ
           
Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, 2699)
           
7. Ilmu lebih utama dari ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda:

       فضل العلم أحب إلي من فضل العبادة و خير دينكم الورع
           
Keutamaan ilmu lebih aku sukai dari keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah bersikap wara’.” (HR. Al-Hakim, Al-Bazzar, At-Thayalisi, dari Hudzaifah bin Yaman Radhiallahu Anhu)
           
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
           
       وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ على الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ على سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
           
Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah, seperti keutamaan bulan di malam purnama dibanding seluruh bintang-bintang.” (HR. Abu Dawud (3641), Ibnu Majah (223), dari hadits Abu Darda’ Radhiallahu Anhu)
           
Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

       فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ
           
Keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamanku atas orang paling rendah dari kalian.” (HR. At-Tirmidzi No. 2685)
           
8. Dengan ilmu akan ditinggikan derajat.
           
            Allah SWT berfirman:
           
       يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
           
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu: ‘Berilah kelapangan dalam majelis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujaadilah: 11)
           
Rasulullah ﷺ bersabda:
           
       إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِـهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
           
Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur’an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.” (HR. Muslim)
           
9. Ilmu adalah kemuliaan dan anugerah terbesar dari Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda:

       مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ وَإِنَّ الْـمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِـمِ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى الْـحِيْتَانُ فِى الْـمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِـمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ لَـمْ يَرِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.
           
“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.” (HR. Ahmad, V/196; Abu Dawud, No.3641; at-Tirmidzi, No.2682; Ibnu Majah, No.223; dan Ibnu Hibban, No.80; al-Mawaarid), lafazh ini milik Ahmad, dari Shahabat Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu)
           
10. Majlis ilmu adalah taman-taman surga dan taman-taman penuh rahmat.
           
Nabi ﷺ bersabda:
           
       إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْـجَنَّةِ فَارْتَعُوْا، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا رِيَاضُ الْـجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ.
           
Apabila kalian berjalan melewati taman-taman Surga, perbanyaklah berdzikir.” Para Shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud taman-taman Surga itu?” Beliau menjawab, “Yaitu halaqah-halaqah dzikir (majelis ilmu).” (HR. at-Tirmidzi, No.3510; Ahmad, III/150; dan lainnya, dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.” Lihat takhrij lengkapnya dalam Silsilah ash-Shahiihah, No.2562)
           
‘Atha’ bin Abi Rabah (wafat th. 114 H) rahimahullaah berkata, “Majelis-majelis dzikir yang dimaksud adalah majelis-majelis halal dan haram, bagaimana harus membeli, menjual, berpuasa, mengerjakan shalat, menikah, cerai, melakukan haji, dan yang sepertinya.” [Disebutkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Faqiih wal Mutafaqqih (no. 40). Lihat kitab al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 132)]
           
       عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
           
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda, ”Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapan-Nya.” (HR. Muslim, no.2699; Abu Dawud, no.3643; Tirmidzi, no.2646; Ibnu Majah, no.225; dan lainnya)
           
11. Ilmu adalah kunci pertolongan Allah. Salah-satu bentuk menolong agama Allah adalah menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada manusia. Barangsiapa yang menolong agama Allah niscaya Allah akan menolongnya tidak hanya perkara akhirat tapi juga perkara dunia. Allah SWT berfirman:
           
       يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)
           
12. Orang berilmu (Ulama) adalah Pewaris Para Nabi. Rasulullah ﷺ bersabda:

       الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
           
Ulama adalah pewaris para Nabi.” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)
           
13. Ilmu adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:

       مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ ْالآخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ
           
"Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, mak ia harus memiliki ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu." (HR. Thabrani)
           
14. Dan masih banyak sekali kemuliaan dan keutamaan ilmu lainnya.
           
Saudaraku! Oleh karena itu, mari kita lebih bersemangat lagi dalam menuntut ilmu sebagaimana teladan mulia semangat baja dari penghulu guru-guru kita seperti Imam al-Bukhari dan para Ulama Salafush Shalih serta para Sahabat Rasul Radhiyallahu 'anhum, demi mencari keridhaan Allah SWT semata dan demi keselamatan dan kebahagiaan serta keberkahan hidup kita sekeluarga baik di dunia maupun di akhirat.
           
Wallahu a'lam bish shawab. []
           
#KhilafahAjaranIslam
#ReturnKhilafah
#KhilafahWujudkanIslamRahmatanLilAlamin

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog