Wednesday, July 24, 2019

VOC Gaya Baru Asing Dan Aseng


 
Oleh: Zakariya al-Bantany

Dahulu kala di zaman old atau zaman tempo dulu dalam peradaban kolonialisme imperialisme gaya lama, VOC Belanda dahulu masuk ke bumi Nusantara modusnya adalah dagang atau ekonomi.

Namun, setelah VOC Belanda menguasai dan mencengkram kuat ekonomi Indonesia sepenuhnya maka VOC Belanda pun menampakkan wajah asli politiknya yang sangat jahat nan culas dengan menjajah dan mengkolonialisasi Indonesia selama lebih dari 300 tahun lamanya.

Begitupula sekarang di zaman now dalam peradaban kapitalisme global saat ini, VOC gaya baru dalam wujud Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan-perusahaan multinasional baik asing maupun aseng dengan modus yang sama yaitu dagang atau ekonomi.

Melalui jeratan globalisasi, investasi, hutang luar negeri dan TKA yang dilancarkan perusahaan multinasional dari negara asing dan aseng tersebut kepada Indonesia hanya akan makin mengokohkan cengkraman VOC gaya baru asing dan aseng tersebut terhadap ekonomi dan politik Indonesia.

Dan kini terbukti semakin nampak wajah asli politik jahat VOC gaya baru asing dan aseng tersebut, kian dalam menguasai, mencengkram dan menjajah Indonesia secara sistemik selama puluhan tahun.

Salah satu bukti, lihatlah bagaimana Freeport menguasai berton-ton tambang gunung emas di Papua selama lebih dari 30 tahun dan kini pun Freeport sukses pula mempecundangi NKRI dengan diperpanjangnya kontrak kerja Freeport oleh pemerintah RI hingga tahun 2040.

Dan lihatlah pula lebih dari 86% Sumberdaya alam dan migas Indonesia dikuasai oleh perusahaan-perusahaan multinasional asing dan aseng tersebut seperti Chevron, Exxon Mobile, Shell, Conoco Phillip, Total Oil, Newmont, perusahaan Cina, dan lain-lain.

Juga 2/3 wilayah Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang yang memiliki modal raksasa yaitu para taipan atau konglongmerat aseng.

Indonesia pun diserbu oleh jutaan tenaga kerja asing dan aseng baik legal maupun ilegal via kerjasama totalitas pemerintah RI dengan Cina dan negara-negara ASEAN lewat CAFTA dan MEA yang notabene adalah bentuk liberalisasi ekonomi Indonesia di tengah masih banyaknya jutaan lebih rakyat Indonesia yang masih hidup miskin dan pengangguran.

Indonesia pun terjerat utang luar negeri hingga tembus lebih dari Rp5.000 triliun melalui jeratan utang yang dilancarkan oleh lembaga-lembaga rentenir raksasa seperti IMF, Bank Dunia dan Bank China.

Diperparah pula dengan telah ditekennya 28 proyek OBOR (One Belt One Road) Cina yang diteken oleh pemerintah RI, justru ini hanyalah bunuh diri politik ekonomi dan kedaulatan dan hanya akan kian membakar secara sistematis dan totalitas wilayah dan kedaulatan hingga justru akan makin mengokohkan dan melanggengkan cengkraman gurita penjajahan kapitalisme global aseng di negeri ini hingga hanya akan berujung bakal membuat Indonesia menjadi Indocina seperti Singapura atau yang paling tragis seperti Uighur Turkistan Timur.

Inilah ancaman nyata yang sesungguhnya bagi Indonesia yaitu neo-imperialisme dan neo-kolonialisme yang berwujud VOC gaya baru tersebut yakni kapitalisme global asing dan aseng, bukan Syariah dan Khilafah serta bukan pula HTI.

Syariah dan Khilafah yang ditawarkan oleh HTI sesungguhnya adalah solusi real dari Islam untuk menyelamatkan Indonesia dari belenggu penjajahan VOC gaya baru kapitalisme global asing dan aseng tersebut.

Sekaligus Syariah dan Khilafah yang ditawarkan oleh HTI adalah solusi real mengenyahkan ancaman neo-imperialisme dan neo-kolonialisme kapitalisme global asing dan aseng tersebut dari bumi Nusantara Indonesia ini.

Karena itu, selamatkan Indonesia hanya dengan Syariah dan Khilafah untuk Indonesia yang lebih baik penuh berkah. Mau..?! []


#UlamaBelaHTI
#HTIOnTheTrack
#KhilafahAjaranIslam
#KhilafahTheRealSolution
#ReturnTheKhilafah

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog