Wednesday, May 8, 2019

Khilafah Itu Cocok Untuk Indonesia



Oleh: Zakariya al-Bantany

Di antara propaganda jahat yang dihembuskan oleh penjajah kafir kapitalis Barat dan Timur melalui kaki tangannya baik para penguasa boneka, para komprador dan media mainstream serta tim cybernya yang menjadi corong imperialisme, maupun orang-orang yang awam dan buta politik, yaitu: Indonesia bukan negara Islam, karena itu, Syariah dan Khilafah tidak cocok untuk Indonesia. Siapapun yang ingin menegakkan Syariah dan Khilafah silahkan keluar dari Indonesia dan pindah saja ke Timur Tengah..?! Benar sekali, Indonesia bukan negara Islam. Tapi, Indonesia penduduknya mayoritas beragama Islam dan Islam sendiri adalah agama yang bertuhankan Allah SWT yang Maha Esa.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan dan mengusir penjajah Portugis, Belanda, Jepang, Inggris dan sekutu justru umat Islamlah -yang dipimpin oleh para Ulama- yang terdepan dalam melawan dan mengusir penjajah Belanda, Portugis, Jepang, Inggris dan sekutu dari bumi pertiwi ini. Bahkan yang paling banyak tertumpahkan darah dan nyawanya di tanah Nusantara ini adalah umat Islam dan para Ulamanya.

Bahkan, saat di sidang BPUPKI dan Konstituante pada tahun 1945 para Ulama lintas harakah baik dari Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis, NU, Syarikat Islam, dan lain-lain pernah mengusulkan dan pernah pula memperjuangkan agar Islam menjadi asas negara dan agar Islam menjadi UUD negara ini.

Dan juga sebelumnya pun pasca diruntuhkannya Khilafah Islam Utsmaniyah di Turki pada 3 Maret 1924 Masehi oleh Inggris melalui agennya seorang yahudi yakni Mustafa Kamal Attarturk laknatullahi 'alaihi seluruh Ulama di Nusantara dari berbagai harakah Islam baik Muhammadiyah, Syarikat Islam, Persis, NU, Al-Irsyad, Jami'atul Khair, dan lain-lain bermusyarah dan bermufakat memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah dan Syariah sebagai respon atas diruntuhkannya Khilafah Islam Utsmaniyah tersebut.

Dan sejarah Indonesia pun tidak bisa lepas dari sejarah Islam, karena di Indonesia terdapat banyak sekali jejak-jejak Syariah dan Khilafah baik fisik maupun non-fisik di seantero penjuru Nusantara yang dibawa oleh Walisongo yang merupakan duta-duta politik dan da'i-da'i pilihan yang dikirim secara resmi oleh Daulah Khilafah Islam yang berpusat di Turki sehingga kini kita sekeluarga menjadi Muslim dan Indonesia menjadi negara Muslim terbesar di dunia dengan mayoritas rakyatnya beragama Islam.

Bahkan sebelumnya pun pada abad 7 masehi, Islam sudah masuk ke Nusantara ini yaitu dengan masuk Islamnya raja Sridavarman seorang penguasa kerajaan Sriwijaya di Nusantara. Sebelumnya raja Sridavarman mengirimkan suratnya kepada Khalifah Mu'awiyyah bin Abi Sofyan pada masa Khilafah Bani Umayyah, di mana raja Sridavarman sangat tertarik dan takjub dengan keagungan Islam dan peradaban Islam dalam negara Khilafah. Dan raja Sridavarman pun mengirimkan kembali suratnya kepada Khalifah selanjutnya yakni Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayyah, agar Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkenan mengirimkan seorang Ulama atau da'i untuk mengajarkan Islam kepadanya di kerajaan Sriwijaya. Setahun kemudian raja Sridavarman pun akhirnya masuk Islam dan mengubah namanya menjadi Sribuza Islam.

Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibnu Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.

Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para da'i atau Ulama yang diutus Khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 7 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400-an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.

Lalu ada Syekh Ja'far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus -berasal dari kata al-Quds (Jerusalem Palestina). Pada masa Walisongo, Kesultanan-kesultanan Islam seantero nusantara pun benar-benar telah menerapkan Syariah Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan dan Islam pun menjadi sendi-sendi kehidupan masyarakat Islam di bumi nusantara ini.

Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang dan Islam pun kini menjadi mayoritas di Indonesia. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak Syariah dan Khilafah. Itu sama artinya ia menolak jati diri asal-usul sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para Ulama yang diutus oleh para Khalifah.

Artinya secara historis, Syariah dan Khilafah itu sangat cocok untuk Indonesia.

Justru yang tidak cocok untuk Indonesia itu adalah sosialisme-komunisme dan demokrasi-kapitalisme-sekulerisme yang notabene adalah warisan penjajah kafir terlaknat.

Sosialisme-komunisme melahirkan banyak tragedi berdarah dan petaka serta bencana dalam sejarah Indonesia dan puncaknya adalah pengkhianatan G30SPKI pada tahun 1965.

Lalu, demokrasi, kapitalisme, sekulerisme yang diterapkan di negeri ini sejak awal kemerdekaan Indonesia hingga sekarang hanya banyak melahirkan kerusakan dan masalah yang begitu kompleksnya bagi negeri ini, seperti kian tinggi dan mengguritanya: korupsi, narkoba, kriminalitas, kemiskinan, sex bebas, prostitusi, pornografi dan pornoaksi, penistaan agama, aliran sesat, hutang luar negeri, LGBT, liberalisme, imperialisme, separatisme OPM di Papua dan lepasnya Timor Timur dari NKRI pada tahun 1999, Biaya hidup yang mahal dan mencekik rakyat, kesenjangan sosial, Freeport (AS) makin leluasa menguasai gunung emas di Papua, lebih dari 80% sumber daya alam Indonesia dikuasai asing dan aseng, privatisasi aset-aset penting negara, ancaman disintegrasi bangsa, konflik horizontal dan vertikal antar anak bangsa, hukum makin tumpul ke atas dan hanya tajam ke bawah, kriminalisasi ajaran Islam dan Ulama, martabat rakyat pun kian terancam dan kian menguritanya secara sistemik neoliberalisme dan neoimperialisme yang berwujud raksasa kapitalisme global baik kapitalis Barat (asing) maupun kapitalis Timur (aseng) di negeri ini.

Bahkan pasca pesta demokrasi pemilu serentak 17 April 2019 yang lalu, kini semakin terungkap dan terbukti demokrasi, kapitalisme, sekulerisme tersebut hanya membawa kerusakan, petaka dan bencana bagi negeri ini. Lihatlah, betapa pesta demokrasi tersebut telah menghabiskan lebih dari Rp25 trilyun lebih, namun justru memicu banyak sekali kekisruhan dan kegaduhan serta kecurangan yang kasat mata, sistematis, terstruktur, massif dan brutal demi memenangkan sang petahana hingga pesta demokrasi itu pun telah memakan korban jiwa yakni tumbal jiwa petugas pemilu sebanyak lebih dari 330 orang dan lebih dari 2000 orang lainnya dirawat di Rumah Sakit. Dan korban nyawa dari pesta demokrasi tersebut sangat mungkin akan terus bertambah.

Masihkah percaya demokrasi..?! Masihkah tetap mempertahankan demokrasi..?!

Kalau bukan Islam yaitu Syariah dan Khilafah, lantas apa solusinya atas segala problematika umat dan negeri ini yang disebabkan oleh sistem kufur demokrasi-kapitalisme-sekulerisme warisan kafir penjajah tersebut..?!

Sosialisme-komunisme telah terbukti gagal dan hanya membawa petaka berdarah dan bencana di negeri ini. Demokrasi, kapitalisme, sekulerisme pun terbukti sekarang hanya membawa bencana dan malapetaka bagi negeri ini dan hanya menjadi biang masalah, biang kecurangan, biang keculasan dan kerusakan serta biang penjajahan bagi negeri ini dan dunia secara sistemik.

Jadi, kesimpulannya baik secara historis maupun secara empiris, sistem Islam yaitu Syariah dan Khilafah tentunya sangat cocok dan sangat tepat untuk Indonesia yang lebih baik dan penuh berkah. Bahkan Syariah dan Khilafah sangat mendesak dibutuhkan oleh Indonesia. Karena, Syariah dan Khilafah itulah solusi dari Islam untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik penuh rahmah dan penuh berkah. Apatah lagi Allah SWT yang Maha Sempurna telah menjamin kesempurnaan Islam, sebagaimana firman-Nya:

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagimu." (QS. Al-Maidah: 3)

Maka, Hanya Syariah dan Khilafah saja yang bisa menyelamatkan Indonesia dari jurang kehancurannya dan dari penjajahan gaya baru akibat demokrasi, kapitalisme, sekulerisme warisan penjajah tersebut.

Dan karena Indonesia juga adalah milik Allah, sebab Indonesia adalah bagian integral dari buminya Allah Tuhan Semesta Alam yang Maha Esa lagi Maha Kuasa lagi Maha Serba Maha.

Karena itulah, sesungguhnya penegakkan Syariah dan Khilafah adalah bukti keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya sendiri." (QS. Al-A'raf: 96)

Jadi, siapapun yang tidak suka dan berupaya menghalangi tegaknya Syariah dan Khilafah, maka bersiap-siaplah berhadapan dengan Allah SWT dan silakan saja keluar dari buminya Allah ini, bila perlu silahkan keluar dari kolong langitnya Allah SWT..?! Karena langit ini pun dan alam semesta ini adalah miliknya Allah, bahkan nyawa dan jasad tubuh kita ini pun adalah miliknya Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 284)

Wallahu a'lam bish shawab. []


#2019TumbangkanDemokrasi
#2019TegakkanKhilafah
#KhilafahPastiMenang
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahTheRealSolution
#KhilafahUntukIndonesiaYangLebihBaikPenuhBerkah

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog