Sunday, February 17, 2019

Puncak Tauhid Itu Tegaknya Khilafah



Oleh: Zakariya al-Bantany

Intisari semua risalah yang dibawa dan diemban oleh para Nabi dan para Rasul adalah ajaran tauhid. Tauhidullah yakni mengesakan Allah SWT semata. Tidak mengakui keberadaan tuhan selain Allah SWT. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

"Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami mewahyukan kepada dia bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku. Karena itu sembahlah Aku oleh kalian." (QS. Al-Anbiya’ [21]: 25)

Allah SWT juga berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

"Sungguh Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah oleh kalian Allah saja dan jauhilah thâghût-thâghût itu." (QS. An-Nahl [16]: 36)

Islam adalah agama yang dibangun di atas tauhid. Kalimat dakwah pertama yang disampaikan kepada umat manusia oleh Nabi adalah ajakan mengesakan Allah SWT dan mengakui dirinya sebagai utusan Allah SWT. Ajaran itu pula yang dibawa oleh baginda Nabi Muhammad Rasulullah untuk disampaikan ke seluruh penjuru alam.

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّيْ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالَى

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada tuhan yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat dan membayar zakat. Jika mereka melakukan semua itu, berarti mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam. Adapun perhitungan atas dosa mereka diserahkan kepada Allah SWT." (HR. Muttafaq ‘alaih)

Mentauhidkan Allah bukan semata mengakui Dia sebagai Maha Pencipta. Tidak cukup. Tapi harus pula mengesakan Allah SWT dalam ketuhanan-Nya. Sebab, dulu kaum musyrik pun mengakui keberadaan Allah. Mengakui Allah sebagai Pencipta, namun mereka juga menyembah berhala dan makhluk lain.

Allah SWT berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

"Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Niscaya mereka menjawab, "Allah." Katakanlah, "Karena itu terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian seru selain Allah jika Allah hendak mendatangkan kemadaratan kepadaku, apakah berhala-berhala kalian itu dapat menghilangkan kemadaratan itu, atau jika Allah hendak memberikan rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?” Katakanlah, "Cukuplah Allah bagiku." Kepada Dialah bertawakal orang-orang yang berserah diri." (QS. Az-Zumar [39]: 38)

Sungguh ajaran tauhid membawa dampak yang luar biasa kepada manusia sepanjang masa. Ajaran tauhid melahirkan kebangkitan dan keberanian untuk melakukan perubahan melawan kesyirikan dan kezaliman serta kebangkitan dan keberanian untuk meruntuhkan kedigdayaan peradaban kufur tirani yang angkara murka.

Dengan modal kalimat tauhid, Nabiyullah Ibrahim As berani menghancurkan berhala-berhala sesembahan kaumnya, berhadapan dengan Raja Namrudz yang zhalim, bahkan merelakan dirinya dibakar hidup-hidup dalam kobaran raksasa api yang sangat panas.

Dengan dorongan kalimat tauhid Nabi Musa As dan Nabi Harun As berani menghadapi kediktatoran Fir’aun bersama kejahatan tukang sihir dan pasukannya.

Demi kalimat tauhid para sahabat radhiyallahu 'anhum dan orang-orang shalih pun rela mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah SWT. Mush’ab bin Umair ra rela meninggalkan kemewahan hidupnya dan kasih sayang kedua orangtuanya demi memilih berada di barisan pendukung kalimat tauhid.

Karena kalimat tauhid Bilal bin Rabbah ra pun sanggup menahan siksaan orang kafir. Demikian pula keluarga Yasir, demi mempertahankan kalimat tauhid, Summayah istri Yasir rela menerima siksaan yang mengantarkannya kepada syahid pertama dalam Islam.

Karena itulah, Islam datang untuk membongkar kebatilan akidah umat manusia sepanjang masa. Apakah kaum Ahlul Kitab yang meyakini Isa al-Masih sebagai bagian dari tuhan, atau kaum Yahudi yang mempercayai Uzair sebagai anak tuhan, atau kaum paganis yang mempersekutukan Allah SWT dengan berbagai mahluk-Nya. Islam mengajak mereka untuk beribadah dan taat hanya kepada Allah SWT.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah, "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) pada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, yakni bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah, tidak mempersekutukan Dia dengan apapun dan sebagian kita tidak pula menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling, katakanlah kepada mereka, "Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS Ali Imran [3]: 64)

Berkat kalimat tauhid, umat manusia dibebaskan oleh Islam dari penyembahan kepada sesama mahluk. Mereka hanya tunduk dan taat pada Allah SWT. Tidak ada yang dimintai bantuan dan pertolongan melainkan Allah ‘Azza wa Jalla. Tak ada yang diharapkan ridhanya selain ridha Allah SWT. Tak ada yang ditakuti selain kemurkaan-Nya.

Pemahaman tauhid yang benar akan membuat orang yang lemah menjadi bangkit dan kuat, bangsa jahiliyah menjadi penguasa dunia dan bangsa yang lemah menjadi adidaya superpower. Manusia yang berbeda suku bangsa, warna kulit dan bahasa justru bisa disatukan secara hakiki dengan ikatan tauhid. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudara kalian itu dan takutlah kepada Allah agar kalian mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Tauhid sejatinya melahirkan ketaatan mutlak hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketaatan hanya kepada Allah SWT tentu menafikan pihak lain untuk ditaati. Tauhid pun meniscayakan bahwa pembuat hukum yang wajib ditaati hanyalah Allah SWT. Dialah sebaik-baik pembuat aturan bagi manusia. Ketika seorang manusia tidak mau berhukum pada hukum Allah dan Rasul-Nya, tentu tauhidnya ternoda. Allah SWT berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada keberatan di dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa’ [4]: 65)

Selain itu Allah SWT juga mengecam orang yang mengada-adakan hukum dengan menyatakan halal-haram untuk membatalkan hukum Allah.

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

"Janganlah kalian mengatakan apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian secara dusta, "Ini halal dan ini haram," untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sungguh orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung." (QS. An-Nahl [16]: 116)

Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi dalam Syarh ‘Aqidah Thahawiyah (2/267) mengatakan, “Sungguh jika seseorang meyakini bahwa hukum yang Allah turunkan tidak wajib, bahwa boleh dipilih (untuk tidak dilaksanakan), atau ia merendahkannya, padahal ia meyakini itu adalah hukum Allah, maka ini adalah kekufuran yang besar.”

Ketaatan pada hukum Allah SWT adalah refleksi tauhid seorang Muslim. Ia tidak akan menjadikan Syariah Islam sebagai perkara yang boleh dipilih sesuka hati. Ia memahami bahwa memilih hanya Syariah Islam adalah kewajiban. Ia pun akan menjauhkan diri dari sikap sombong dan meremehkan hukum-hukum Allah. Tak mungkin ia membanggakan sistem demokrasi dan kapitalisme yang notabene lahir dari hawa nafsu manusia. Jika ia mengklaim bertauhid, maka tak ada hukum atau aturan yang wajib ia laksanakan selain aturan-aturan Allah SWT atau Syariah Islam. [Buletin Kaffah No. 057 (11 Muharram 1440 H - 21 September 2018 M)]

Oleh sebab itu, ajaran tauhid Islam khususnya kalimat tauhid atau kalimat tahlil tidak boleh dikriminalisasi dan tidak boleh pula distigmatisasi negatif serta tidak boleh pula dimonsterisasi sebagai simbol radikalisme, simbol terorisme, simbol anti kemanusiaan dan keadilan, simbol anti persatuan, simbol anti Kebhinekaan dan simbol intoleransi.

Ajaran tauhid Islam khususnya kalimat tauhid atau kalimat tahlil tersebut pun tidak boleh difitnah dan tidak boleh dikriminalisasi, serta tidak boleh dimonsterisasi dengan tuduhan sebagai simbol organisasi terlarang, simbol organisasi radikal dan simbol organisasi teroris.

Ajaran tauhid Islam khususnya kalimat tauhid atau kalimat tahlil tersebut pun tidak cukup ditulis, dibaca dan diucapkan dengan lisan dan diimani dalam hati saja, namun juga wajib dibumikan dalam segala aspek kehidupan khususnya dalam kehidupan bernegara dengan meniadakan atau mencampakkan seluruh hukum jahiliyah buatan manusia seperti demokrasi-kapitalisme-sekulerisme, sosialisme-komunisme, teokrasi, monarki, dan lain-lain. Dan kemudian bersegera menerapkan hukum Allah SWT (yakni Syariah Islam) semata secara kaffah dalam segala aspek kehidupan dalam bingkai Khilafah.

Sebab tanpa Khilafah, Syariah Islam tidak bisa diterapkan secara totalitas dalam segala aspek kehidupan khususnya terutama dalam hal mu'amalah seperti perkara politik, ekonomi, sosial-budaya, pendidikan, kesehatan, hukum-persanksian, peradilan, pertahanan dan keamanan.

Karena itu, sejatinya Khilafah adalah taajul furudh (mahkota kewajiban) sang penerap Syariah dan pemersatu umat. Dan Khilafah adalah tuntutan dari akidah tauhid Islam itu sendiri sekaligus tuntutan dari kalimat tauhid atau kalimat tahlil tersebut.

Dengan tegaknya Khilafah, maka seluruh hukum-hukum Allah atau Syariah Islam tersebut akan bisa diterapkan kembali secara kaffah atau secara totalitas dalam segala aspek kehidupan sehingga akan terwujud kembali berlanjutnya kehidupan Islam dan risalah Islam akan bisa disebarluaskan kembali ke segala penjuru alam dengan dakwah dan jihad sehingga benar-benar Islam rahmatan lil 'alamin dan khairu ummah (umat yang terbaik) akan terwujud kembali dalam menebar rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta.

Oleh sebab itulah, sesungguhnya puncak tauhid dan puncak kalimat tauhid atau kalimat tahlil tersebut adalah tegaknya Khilafah Rasyidah Islamiyah Wa'dullah (janji Allah) wa Fardhun minallah (kewajiban dari Allah) wa Busyrah Rasulillah (kabar gembira Rasulullah ) sebagai bukti keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Wallahu a'lam bish shawab. []

#JanganPilihPembohong
#HaramPilihPemimpinDzhalimDanIngkarJanji
#HaramPilihPemimpinAntekAsingAseng
#2019GantiRezimGantiSistem
#2019TumbangkanDemokrasi
#2019TegakkanKhilafah
#KhilafahAjaranIslam
#UlamaBelaHTI
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAdalahSolusi

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog