Thursday, December 6, 2018

Pasca 212


-Abu Jihad-

Ahad 212 kemarin sama-sama kita saksikan bagaimana umat Islam di Indonesia bersama-sama melakukan aksi di Monas. Meskipun tidak diberitakan oleh media massa, kecuali beberapa.

Lebih kurang 10 juta umat Islam berkumpul di sana, dalam rangka membela agama kita. Mengapa agama kita? Sebab beberapa waktu yang lalu, salah satu simbol agama kita, yaitu bendera tauhid, telah dibakar oleh oknum yang juga mengaku dirinya muslim.

Bendera Tauhid adalah bendera pemersatu umat Islam sejak jaman nabi hingga nanti di akhir zaman. Sebab di sanalah tertulis kalimat laa ilaha ilallah, muhammadan rosuulullah, kalimat syahadat kita, kalimat kesaksian kita kepada Allah dan Rosul-Nya.

Bendera ini pula yang dulu senantiasa digunakan oleh nabi dan para kholifah penggantinya untuk mengomando seluruh pasukan perang di setiap peperangan yang dilakukan. Yang dengannya kemenangan selalu dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin.

Kita masih ingat peristiwa Perang Mu'tah yang menewaskan 3 panglima perang kaum muslimin: Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abi Tholib dan Abdullah bin Rowahah? Di tangan ketiga panglima itulah nyawa mereka dipertaruhkan hanya untuk menjaga tetap berkibarnya Bendera Tauhid di perang melawan Romawi kala itu.

Tentu bukan hanya membela kalimat tauhid yang kita inginkan dari aksi 212 kemarin. Sebab apa? Sebab lebih jauh lagi hari ini bukan hanya kalimat tauhid yang dinistakan, tapi hukum-hukum Allah juga ditelantarkan oleh penguasa.

Mengapa penguasa? Sebab 90% taklif perintah hukum Allah diterapkan harus dengan kekuasaan, sehingga penguasanya syar’i. Ketika ada orang yang membunuh, siapa yang berhak menghukum? Penguasa. Tapi coba perhatikan, kalau ada yang membunuh, apa yang dilakukan penguasa di negeri ini? Penguasa hanya menjatuhkan hukuman penjara maksimal 25 tahun pada pelakunya. Apakah ini hukum yang diridhoi Allah? Bukankah Allah telah memerintahkan/ mewajibkan hukuman mati untuk orang yang membunuh?
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى
telah Aku wajibkan atas kalian qisos/ hukum mati atas pembunuhan” (Al-Baqoroh:178)

Bukankah ini juga bagian dari penistaan?

Ketika ada yang berzina, siapa yang punya kuasa untuk menindak? Penguasa. Tapi, sekali lagi apa yang dilakukan penguasa? Membiarkan, bebas, selama dilakukan atas dasar suka sama suka. Bukankah Allah telah mewajibkan cambuk dan rajam untuk mereka.
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ
pezina perempuan dan pezina laki-laki cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali cambukan (An-Nur: 2)

Bukankah ini juga bagian dari penistaan, pengabaian, kemaksiyatan terhadap hukum/ syariat Allah?

Karena itu, selama hukum-hukum syariat Allah belum diterapkan, maka selama itu pula agama kita terus dinistakan. Kita punya agama, kita punya syariat, tapi apa gunanya agama sementara syariat kita dilarang atau ditolak untuk diterapkan oleh manusia, oleh penguasa, yang dia bukan siapa-siapa di hadapan Allah Subhanahu wa ta'ala.

Kesombongan apa yang mau kita atau penguasa tunjukkan pada Allah SWT? tidak ada. Sebab pada dasarnya kita ini makhluk yang lemah, jahil/ bodoh. Kita baru tahu sesuatu setelah Allah memberi petunjuk pada kita. Tanpa informasi dari Allah, tanpa petunjuk dari Allah, pastilah kita dalam keadaan tetap bodoh dan tersesat. Bukankah Allah telah berfirman pada kita:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
dan Allah mengetahui, dan kalian tidak mengetahui” (Al Baqoroh: 216).

Oleh karena itu, kalau Allah sudah berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
apakah hukum jahiliyah yang kalian kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah, bagi orang-orang yang yakin” (Al-Maidah: 50),

maka sudah pasti hanya hukum Allah-lah yang terbaik untuk kita, bukan hukum buatan manusia, apalagi buatan Belanda.

Karena itu, kita masih punya tugas besar pasca aksi 212 kemarin, yaitu terus mendorong kesadaran umat bahwa selama syariat Allah belum tegak di negri yang mayoritas penduduknya muslim ini, maka selama itu pula sebenarnya agama kita terus dinista.

Dan sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk terus memperjuangkan agar agama kita, syariat kita, agar ditegakkan kembali melalui negara, melalui penguasa. Sebab Rasulullah dan para kholifah pengganti beliau telah mencontohkan kepada kita.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
sungguh telah ada di dalam rosul suri tauladan yang baik bagi kalian” (Al-Ahzab:21).

Karena itu mari bersama kaum muslimin lainnya ber-amar makruf nahi mungkar pada penguasa kita, sampai kemauan mayoritas umat Islam di negri ini mengkristal dalam satu suara, "kami menolak diatur dengan cara sekuler hukum buatan manusia, kami hanya mau diatur dengan syariat Allah."

Dengan usaha yang maksimal ditopang oleh pertolongan Allah, maka tidak ada siapapun yang bisa menghalangi tegaknya kembali syariat Islam di bawah naungan khilafah nantinya, sebagaimana yang sudah dijanjikan oleh Allah dan Rosul-nya. Tugas kita hanya mengupayakan sekuat tenaga, adapun kapan terjadinya, kita serahkan pada Allah Subhanahu wa ta'ala. Wallahu a'lam.[]

#Spirit212
#BelaTauhid212
#KhilafahAjaranIslam

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog