Wednesday, November 14, 2018

Ini Alasan Mantap Mengapa Melakukan Aksi Bela Tauhid 212



Oleh: Annas I. Wibowo

Pertama, bendera tauhid al-Liwa dan ar-Royah adalah warisan, sunnah, dan tuntunan dari Rasulullah Muhammad Saw. Dalam hadits-hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Thabrani dari Buraidah ra. disebutkan, “Royah Nabi saw. berwarna hitam dan Liwa‘-nya berwarna putih.” Ibnu Abbas ra. mengatakan, “Tertulis pada Liwa` Nabi saw. kalimat: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh (Abdul Hayyi Al-Kattani, Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah [At-Tarâtib al-Idâriyyah], I/266).
(lebih lanjut lihat: KH. Muhammad Shiddiq al-Jawi, “Makna Bendera Dan Panji Rasulullah SAW”)

Maka mengikuti tuntunan dari Rasul SAW adalah kewajiban dan amalan berpahala, terlebih lagi jika tuntunan itu telah lama redup kemudian dipopulerkan kembali.
Nabi Saw. menjelaskan:

»قَالَ تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ «

“Aku telah meninggalkan dua perkara yang menyebabkan kalian tidak akan sesat selamanya selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. at-Tirmidzî, Abû Dâwud, Ahmad)

إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَيَرْجِعُ غَرِيبًافَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي

“Sungguh agama bermula asing dan kembali asing. Karena itu kegembiraanlah untuk al-ghurabaa’. [Yakni] orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak oleh orang-orang.” (HR. at-Tirmidzi no.2554, ath-Thabarani, Ibnu ‘Adi dan Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Menggunakan bendera Tauhid sebagaimana tuntunan Nabi Saw. adalah kewajiban. Tindakan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam yang terus-menerus menggunakan bendera Tauhid al-Liwa dan ar-Royah dan tidak pernah menggunakan yang lain, sudah cukup menjadi qarînah (indikasi), bahwa status perkara ini wajib, yaitu berdasarkan qarînah mudâwamah [indikasi penggunaan atau dilakukan terus-menerus oleh Nabi Saw.]. Dalam hal ini, bendera Tauhid digunakan oleh Nabi Saw. sebagai simbol identitas umat Islam dan negara Islam, yang berbeda dengan umat dan Negara lain. (Lebih lanjut lihat: KH. Hafidz Abdurrahman, “Lemahkah Hadits-Hadits Tentang Panji Rasulullah SAW?”)

Kedua, untuk menghentikan pelecehan terhadap ajaran Islam ini –yaitu bendera Tauhid al-Liwa dan ar-Rayah, termasuk lafadz kalimat Tauhid itu sendiri- maka diperlukan dakwah edukasi kepada seluruh masyarakat dan juga penguasa. Sehingga diharapkan tidak terulang lagi tindakan yang melecehkan simbol Islam -termasuk bendera Tauhid- di masa mendatang.

As-Shaidalani (w. 427H), ulama dari kalangan Syafi’iyyah, menyatakan bahwa pencaci Allah dan Rasul-Nya, jika bertobat, tobatnya diterima, tidak dihukum mati; namun tetap diberi ‘pelajaran’ dengan dicambuk 80 kali (Mughni al-Muhtâj, 5/438). (Lihat: Al Azizy Revolusi, “Sekularisme menyuburkan Penistaan Agama, ganti dengan Islam”)

Ingat, di bendera Tauhid terdapat lafadz Allah, Muhammad, Rasulullah, dan lafadz kalimat Tauhid itu sendiri. Dan mencaci ajaran Islam adalah salah satu perbuatan melecehkan atau menghina, sebagaimana perbuatan membakar simbol Islam sambil bersuka cita.

Ketiga, selama ini, bendera umat Islam -yakni bendera Tauhid- tenggelam dari kancah kehidupan umat Islam, terutama setelah munculnya banyak bendera yang memecah politik umat Islam berdasarkan kebangsaan atau nasionalisme. Maka dakwah Islam harus juga mencakup seruan persatuan umat Islam, yaitu bersatu berpegang teguh kepada tali agama Allah SWT saja. Inilah asas yang benar untuk persatuan umat Islam di seluruh dunia, bukan asas yang lain.

Ditegaskan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali Allah dan jangan bercerai-berai…” (TQS. Ali Imran [3]: 103)

Imam as-Samarqandi berkata, “Wa'tashimû bi hablilLâh (Berpegang teguhlah kalian pada tali Allah)” bermakna, “Tamassakû bi dînilLâhi wa bi al-Qur'ân (Berpegang teguhlah kalian semuanya dengan agama Allah dan al-Quran)” (As-Samarqandi, Bahr al-'Ulûm, 1/234). (Lihat: Buletin Dakwah Kaffah edisi 018, “Umat, Persatuan dan Politik”)

Dan, jelas bahwa umat Islam dilarang bersatu dengan asas sekularisme yang menolak sebagian ayat-ayat Allah SWT dan sunnah Rasul Saw. sehingga tidak diterapkan.

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya…” (TQS. an-Nisaa’: 46)

Dan jelas pula, umat Islam dilarang bersatu dengan asas kebangsaan yang menolak ajaran Islam Imamah/ Khilafah, sehingga tidak memiliki pemimpin yang syar’i yang menerapkan seluruh syariat Islam.

Nabi Saw. bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ، وَإِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ مُجَدَّعٌ، فَاسْمَعُوْا وأَطِيْعُوْا مَا أَقَامَ فِيْكُمْ كِتَابَ اللهِ

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah. Jika diangkat amir atas kalian seorang hamba sahaya Habasyi yang hitam legam maka dengar dan taatilah dia selama dia menegakkan di tengah kalian Kitabullah.” (HR. at-Tirmidzi)

Bela Tauhid 212, Momen Persatuan Kaum Muslimin.

Keempat, Anggapan bahwa aksi damai Bela Tauhid adalah sebuah kesia-siaan atau perbuatan mubazir jelas merupakan anggapan yang jauh dari ilmu Islam. Sebagaimana beberapa saat yang lalu Wiranto berkomentar ketika Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) akan menggelar Aksi Bela Tauhid 211. "Kita melihat kegiatan demonstrasi semacam itu, selain menghabiskan energi kita, dalam konteks ini tidak relevan," kata Menko Polhukam Wiranto seusai rapat koordinasi di kantornya, Jalan Medan merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (1/11/2018) (detik.com).

Perbuatan manusia dihukumi dengan Syariat Islam, yang tidak keluar dari ahkamul khomsah, yaitu hukum yang lima: haram, makruh, mubah, sunnah, dan wajib. Maka aksi Bela Tauhid, sebagaimana telah disebutkan di atas, adalah bentuk pemenuhan kewajiban dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, yang mendapat pahala dari Allah SWT.

Apakah yang bermanfaat dan tidak mubazir itu konser-konser dangdut, rock n roll, guns n roses, acara stand up comedy, sinetron pacaran, pabrik dan distribusi miras, perhelatan para rentenir riba skala dunia? Sedangkan dakwah Bela Tauhid mubazir? Bertaubatlah dari sekularisme!

Harus dipahami bersama, bahwa dakwah Islam itu memang memerlukan pengorbanan yang seringkali tidak sedikit. Maka, aksi Bela Tauhid juga merupakan upaya untuk terus menyalakan semangat dakwah umat Islam, semangat rela berkorban untuk tegaknya Islam di bumi Allah SWT.

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (TQS. al-Baqarah: 207)

Kelima, berbagai macam persoalan yang menimpa umat Islam terus didorong pula oleh adanya neoliberalisme dan neoimperialisme. Kaum Muslimin bisa dengan mudah tertindas neoimperialisme di berbagai negeri adalah karena belum berlakunya tauhid sebagai asas di semua bidang kehidupan, karena yang berlaku justru sekularisme, hukum dari kafir penjajah, liberalisme, kapitalisme yang dilestarikan oleh para anteknya imperialis dari kalangan umat Islam sendiri.

Tauhid meniscayakan upaya penerapan syariat Islam, dan syariat Islam tegas menolak neoliberalisme dan neoimperialisme. Pahlawan tidak hanya ada dalam sejarah masa lalu namun di masa sekarang pun harus bangkit para pahlawan baru, yang berjalan di atas jalan yang lurus, mengikuti teladan Nabi Saw. dan para Shahabat ra., beraqidah Islam dan bersyariat Islam, rela berkorban melawan kezhaliman, seperti kaum Anshor.

Kaum Anshor bukanlah orang-orang yang takut pada kaum kafir imperialis, bukanlah mereka yang suka menjadi antek imperialis, menjual agamanya demi uang haram, menjilat penguasa zhalim, menentang dakwah syariah Islam, gemar memfitnah sesama Muslim, menyembunyikan kebenaran, membengkokkan ajaran-ajaran Islam, membiarkan gembong kemaksiatan merajalela, mencari kedamaian dan kenikmatan hidup dengan meninggalkan banyak kewajiban.

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka," maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (TQS. Ali Imran: 173)

Menjadi Anshorullah adalah sebagaimana kaum Anshor dahulu menolong agama Allah dengan jiwa dan raga sehingga tegak sistem Islam secara totalitas, meskipun orang-orang kafir dan munafik imperialis membencinya.

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah," lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (TQS. ash-Shaff: 14)

Wallahu a’lam.

Nahnu Ansharullah!

#BelaTauhid212
#212BersatuDibawahTauhid
#AksiBelaTauhid212







Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog