Sunday, October 13, 2019

Makna Politis Masjid


Oleh: Zakariya al-Bantany


Pengertian Masjid

Masjid (مسجد) berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat sujud. Masjid merupakan suatu bangunan gedung atau lingkungan yang berpagar sekeliling. Masjid didirikan secara khusus sebagai tempat beribadah kepada Allah SWT, khususnya untuk mengerjakan ibadah shalat.

Istilah masjid berasal dari kata sajada-yasjudu (سجد-يسجد) yang berarti bersujud atau menyembah.

Karena masjid adalah Baitullah (rumah Allah) yang artinya milik Allah dan diperuntukkan untuk ibadah kepada Allah dan digunakan untuk kepentingan dan kemaslahatan Islam dan umat Islam, bukan milik pribadi dan bukan pula milik golongan tertentu serta bukan hanya untuk kepentingan dan kemaslahatan pribadi dan golongan tertentu. Allah SWT berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." (QS. Al-Jin: 18)

Maka, orang yang memasukinya disunahkan mengerjakan shalat Tahiyyatul Masjid (menghormati masjid dua rakaat). Nabi Muhammad ﷺ bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. Al-Bukhari no. 537 & Muslim no. 714)

Kata masjid merupakan bentuk mufrad (tunggal). Sedangkan jama' (banyak) masaajid (مساجد) banyak terdapat dalam Al-Quran, antara lain dalam ayat berikut ini:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ...

''Hai Anak Adam pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid...'' (QS. Al-A'raaf: 31)

Dalam ayat lainnya, Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

''Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.'' (QS. At-Taubah: 18)


Keutamaan Masjid

Sejarah perkembangan bangunan masjid erat kaitannya dengan perluasan wilayah Islam dan pembangunan kota-kota baru.

Pada masa permulaan perkembangan Islam ke berbagai negeri, bila umat Islam menetap di suatu daerah baru, maka salah satu sarana untuk kepentingan umum yang mereka buat adalah masjid.

Masjid merupakan salah satu karya budaya umat Islam di bidang teknologi konstruksi atau madaniyah khas Islam yang telah dirintis sejak masa permulaannya. Ini lantas menjadi ciri khas dari suatu negeri atau kota Islam dan peradaban (hadharah) Islam.

Perwujudan bangunan masjid juga merupakan lambang dan cermin kecintaan umat Islam kepada Tuhannya dan menjadi bukti ketinggian tingkat perkembangan peradaban kebudayaan Islam sekaligus simbol hadharah Islam.

Oleh karena itulah, dalam Islam masjid banyak memiliki keutamaan di antaranya sebagai tempat yang paling dicintai oleh Allah. Sebagaimana digambarkan dalam hadits Rasulullah ﷺ berikut ini: 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا 

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- Rasulullah ﷺ bersabda:

Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ ash-Shalah)

Jadi, sangat wajar bila Allah sangat murka dan melaknat siapapun orang-orang yang berupaya menghalangi orang lain untuk menghidupkan dan memakmurkan masjid seperti melarang dan membubarkan aktivitas dakwah dan pengajian atau aktivitas syiar Islam dan ibadah lainnya di masjid. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya?” (QS. Al-Baqarah: 114)


Fungsi Masjid pada Zaman Rasulullah ﷺ

Masjid adalah bangunan pertama yang didirikan Rasulullah ﷺ saat tiba di Yatsrib (Madinah) dalam peristiwa agung yakni hijrahnya beliau ﷺ dan para Sahabat dari Makkah ke Madinah, yaitu Masjid Quba. Masjid ini hingga kini masih berdiri kokoh di Kota Madinah, Arab Saudi.

Setelah Masjid Quba, Nabi Muhammad ﷺ mendirikan Masjid Nabawi pada 18 Rabiul Awal tahun pertama Hijrah. Masjid Nabawi sendiri pada masa Rasulullah ﷺ bukan hanya digunakan untuk urusan ibadah ritual belaka, tetapi juga menjadi pusat atau poros politik pengaturan dan pengurusan Islam dan umat Islam yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para Sahabat radhiyallahu 'anhum.

Atau masjid tesebut menjadi tempat sentral Rasulullah ﷺ dalam bermusyawarah bersama para Sahabatnya untuk membicarakan segala urusan rakyatnya, syiar dakwah Islam termasuk mengatur strategi perang dan tempat latihan perang bukan hanya untuk ibadah mahdhah saja.

Hingga kini di Masjid Nabawi berdiri kokoh ustuwanah wufud (tiang delegasi). Di sinilah Rasulullah ﷺ menerima tamu-tamu kenegaraan. Posisinya paling ujung dari sudut mihrab tahajud. Terdapat pula ustuwanah haris (tiang penjaga).

Di sinilah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu mengawal Rasulullah ﷺ dan ditugasi menyampaikan pesan kepada para tamu.

Di masjid inilah shalat dan ibadah pada mulanya banyak dilakukan. Di masjid itu pula Rasulullah ﷺ menyampaikan ajaran Islam, nasihat dan pidatonya kepada umat Islam. Di sini juga beliau bertindak sebagai hakim yang memutuskan ragam persengketaan di kalangan umat, bermusyawarah dengan para Sahabat, bahkan mengatur siasat perang dan siasat bernegara. Ringkasnya, Masjid Nabawi justru menjadi basis politik dan pusat pemerintahan Islam.

Keadaan ini tidak banyak berubah setelah Nabi ﷺ wafat. Masjid tetap merupakan pusat kegiatan politik dan pemerintahan. Di sanalah Abu Bakar menerima bai'at (pengangkatan sebagai Khalifah) setelah disetujui dalam pertemuan di Saqifah Bani Saidah. Masjid-masjid yang didirikan di daerah-daerah yang tunduk pada kekuasaan Islam tidak lama setelah Nabi Muhammad ﷺ wafat juga mempunyai fungsi yang tidak banyak berbeda dengan fungsi masjid di Madinah.

Pasca penaklukkan kota Makkah, Masjidil Haram di Makkah yang di dalamnya terdapat Ka'bah dikembalikan pula kepada fungsi awalnya oleh Allah SWT melalui Rasulullah ﷺ sebagai pusat ibadah dan berkumpulnya kaum Muslimin khususnya ibadah haji dan umrah serta syiar dakwah Islam dan pengurusan bagi seluruh umat Islam dari seluruh penjuru dunia, serta dijadikan kiblat bagi umat Islam menggantikan Masjidil Al-Aqsha di Al-Quds Palestina yang sebelumnya pernah menjadi kiblat bagi umat Islam dalam ibadah shalat.


Mengembalikan Fungsi Masjid

Sejarah mencatat setidaknya ada sepuluh fungsi masjid pada zaman Nabi ﷺ yaitu: tempat ibadah ritual (shalat, zikir. tilawah al-Qur’an); tempat konsultasi dan komunikasi umat tentang berbagai persoalan kehidupan; tempat pendidikan; tempat pembagian zakat, ghanimah, sedekah, dll; tempat latihan militer/perang; tempat pengobatan dan perawatan para korban perang; tempat pengadilan sengketa; tempat menerima tamu; tempat menawan tahanan; dan pusat penerangan (syiar) Islam.

Walhasil, masjid saat ini pun harus dikembalikan fungsinya sebagaimana pada masa Nabi ﷺ, bukan sekadar tempat shalat saja atau tempat ibadah mahdhah belaka namun juga merupakan tempat ibadah ghairu mahdhah juga seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para Sahabat radhiyallahu 'anhum.

Selain itu masjid harus dimakmurkan oleh kaum beriman, sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

"Sungguh yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang mengimani Allah dan Hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk  (QS at-Taubah [9]: 18).

Lebih dari itu, masjid dibangun di atas dasar takwa (Lihat: QS. A t-Taubah [9]: 108). Itulah sebabnya mengapa Rasulullah ﷺ meruntuhkan bangunan kaum munafik yang juga mereka sebut masjid karena bangunan tersebut tidak difungsikan untuk membangun ketakwaan, tetapi malah untuk memecah-belah umat.

Karena itu saat ini pun jangan sampai kita membiarkan masjid “dimakmurkan” oleh kaum munafik yang di satu sisi menolak politisasi masjid, tetapi di sisi lain justru menjadikan masjid sebagai ajang pencitraan menjelang Pemilu, baik Pilkada ataupun Pilpres. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

"(Di antara kaum munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemadharatan (atas kaum Mukmin), karena kekufuran, untuk memecah-belah kaum Mukmin serta demi menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dulu. Mereka benar-benar bersumpah, “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Padahal Allah menyaksikan bahwa mereka itu adalah para pendusta (dalam sumpahnya)."  (QS at-Taubah: 107).


Makna Politis Dan Makna Filosofis Di Balik Masjid

Di masa perjuangan kemerdekaan dahulu dalam melawan penjajahan kolonialisme Portugis, VOC-Belanda, Jepang dan sekutu di negeri ini. Masjid memiliki peran sentral politis sebagai basis proses penyadaraan umat, tempat pembinaan secara intensif kaderisasi para pejuang kemerdekaan dan pembinaan umum bagi masyarakat sekaligus pusat jihad perlawanan umat Islam yang dipimpin oleh para Ulama dan Habaib dalam melawan dan mengenyahkan penjajahan kolonialisme Portugis, VOC-Belanda, Jepang dan sekutu dari bumi Nusantara ini.

Oleh karena itulah, kesimpulannya dari penjelasan-penjelasan di atas bahwa bangunan Masjid mengandung makna politis dan makna filosofis seperti yang dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para Sahabat radhiyallahu 'anhum tersebut serta dipraktekkan pula oleh para Khalifah setelahnya dan para Ulama-Habaib di zaman perjuangan kemerdekaan dahulu.

Adapun makna politis dan filosofis yang terkandung dalam masjid, antara lain yaitu:

1. Sebagai simbol Islam dan simbol peradaban (hadharah) Islam.
2. Simbol persatuan dan persaudaraan umat Islam.
3. Poros ibadah dan ketaatan serta ketundukan kepada Allah SWT dan pembinaan umat Islam.
4. Basis Islam dan pengaturan segala urusan Islam dan umat Islam serta negara.
5. Pusat perjuangan umat Islam dalam aktivitas dakwah amar ma'ruf wa nahi munkar serta aktivitas melawan kedzaliman dan penjajahan.
6. Masjid mengandung makna politis sebagai konsep ajaran Islam perihal sistem politik Islam dimana masjid merupakan miniatur Daulah Islam (negara Islam/Khilafah).

Sedangkan, shalat berjama'ah di dalamnya menggambarkan konsep sistem pemerintahan Islam/ketatanegaraan Islam di mana shalat berjama'ah merupakan miniatur sistem pemerintahan Khilafah Islam, imam shalat berjama'ah wajib satu adalah miniatur Khalifahnya yang wajib satu dan makmum shalat berjama'ahnya adalah miniatur dari rakyat dari Daulah Islam (Khilafah Islam).

Imam (Khalifah) dan makmum (rakyat) menghadap kiblat yang sama, menyembah Tuhan (Allah) yang sama dan tatacara shalat mereka pun sama mengikuti tatacara shalat Rasulullah ﷺ dari takbir hingga salam, serta bahasa (bahasa Arab) dan bacaan (Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang mereka pakai pun sama. Artinya sistem hukum yang diterapkan dalam Daulah Islam seperti yang digambarkan dalam masjid dan shalat berjama'ah tersebut adalah satu dan sama yaitu Syariah Islam dalam bingkai Khilafah.

Itulah makna politis dan filosofis masjid, semoga masjid dapat dikembalikan kepada fungsi awalnya seperti pada masa Rasulullah ﷺ dan para Sahabat radhiyallahu 'anhum serta para Khalifah setelahnya sehingga menjadi basis dan tempat mengawali perubahan hakiki, kebangkitan Islam dan tegaknya Khilafah Rasyidah Islamiyah yang menebar rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta. Aaamiin.

Wallahu a'lam bish shawab. []


#MasjidMilikUmat
#MuslimUnited2
#SedulurSaklawase
#DariJogjaUntukSemua
#MenyongsongPerubahanBesarDunia
#ReturnTheKhilafah

Tuesday, September 10, 2019

Bahaya Munafik Intelektual



Oleh: Zakariya al-Bantany


Munafik Itu Sangat Tercela

Dalam Islam, munafik adalah perilaku sangat tercela. Dan dalam banyak ayat-Nya, Allah SWT tidak pernah menyebut kaum munafik kecuali dalam makna yang negatif atau buruk. Sebagian Ulama membagi orang munafik menjadi dua:

Pertama: munafik secara i’tiqâdi. Pelakunya pada dasarnya kafir, tetapi berpura-pura atau menampilkan diri sebagai Muslim semata-mata demi menipu Allah SWT (QS. An-Nisa’: 142). Munafik jenis ini ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

"Sungguh kaum munafik itu ditempatkan di dasar neraka yang paling bawah (kerak neraka) dan mereka tidak memiliki seorang penolongpun." (QS. An-Nisa’: 145)

Kedua: munafik secara ‘amali. Pelakunya boleh jadi Muslim, tetapi memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri orang munafik. Dalam hal ini Rasulullah ﷺ bersabda:

آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

"Ada tiga tanda orang munafik: jika berkata, berdusta; jika berjanji, ingkar; jika diberi amanah, khianat." (HR. al-Bukhari dan Muslim)


Pertama: Berbicara bohong atau dusta dinyatakan sebagai salah satu karakter orang munafik. Hal itu menunjukkan bahwa berbohong merupakan dosa besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

"Sungguh kebohongan itu mengantarkan pada kejahatan dan kejahatan itu mengantarkan ke neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua: Ingkar janji adalah ciri kaum munafik berikutnya. Kaum munafik itu gemar berjanji, tetapi gemar pula mengingkari janji-janji mereka.

Ketiga: Khianat terhadap amanah adalah ciri kaum munafik yang ketiga. Allah SWT mencela sikap khianat ini:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

"Sungguh Allah tidak menyukai para pengkhianat." (QS. Al-‘Anfal: 58)

Di antara amanah itu adalah amanah kepemimpinan. Kepemimpinan —dalam konteks bernegara— adalah amanah untuk mengurus rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Imam itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus." (HR. Bukhari dan Ahmad)

Mengurusi kemaslahatan rakyat yang menjadi amanah seorang pemimpin tentu harus sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya (Syariah Islam). Karena itu selalu merujuk pada Syariah Islam dalam mengurus semua urusan rakyat adalah wajib (Lihat: QS al-Nisa’ [4]: 59). Amanah untuk mengurus semua kemaslahatan rakyat tidak boleh didasarkan pada aturan-aturan kapitalis sekular —sebagaimana yang terjadi saat ini— yang dasarnya adalah hawa nafsu. Allah SWT jelas mencela segala tindakan yang bersumber dari hawa nafsu manusia:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

"Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya…" (QS. Al-Kahfi: 28)


Selain ketiga ciri kemunafikan di atas, menurut ‘Aid Abdullah al-Qarni dalam salah satu kitabnya, Al-Qur’an menyebut sejumlah perilaku orang munafik. Di antaranya: dusta; khianat; ingkar janji; riya' (doyan pencitraan); mencela orang-orang taat dan shalih; memperolok-olok Al-Qur’an, As-Sunnah dan Rasulullah ﷺ; bersumpah palsu; tidak peduli terhadap nasib kaum Muslim; suka menyebarkan kabar bohong (hoax); mencaci-maki kehormatan orang-orang shalih; membuat kerusakan di muka bumi dengan dalih mengadakan perbaikan; tidak ada kesesuaian antara lahiriah dan batiniah; menyuruh kemungkaran dan mencegah kemakrufan; sombong dalam berbicara; menantang Allah SWT dengan terus berbuat dosa; dan seterusnya.

Sayang, saat ini perilaku munafik ini terus tumbuh makin subur. Khususnya di kalangan rezim atau penguasa, para pejabat negara dan para politisi. Faktanya, sebagian perilaku di atas —jika tidak semuanya— banyak dipraktikkan oleh rezim saat ini, termasuk sebagian pejabat negara dan para politisi. Di antara mereka banyak yang biasa berdusta; khianat; ingkar janji; riya' (doyan pencitraan); mencela orang-orang taat dan shalih; memperolok-olok Al-Quran, As-Sunnah dan Rasulullah ﷺ; bersumpah palsu; tidak peduli terhadap nasib kaum Muslim; suka menyebarkan kabar bohong (hoax); mencaci-maki kehormatan orang-orang shalih; membuat kerusakan di muka bumi dengan dalih mengadakan perbaikan; tidak ada kesesuaian antara lahiriah dan batiniah; menyuruh kemungkaran dan mencegah kemakrufan; sombong dalam berbicara; menantang Allah SWT dengan terus berbuat dosa; dan seterusnya. [https://mediaumat.news/buletin-kaffah-stop-segala-kemunafikan/]

Munafik Intelektual

Di antara golongan orang munafik atau kaum munafik, sesungguhnya ada orang munafik yang paling berbahaya yaitu munafik intelektual ('aalimul lisaan). Sebab, dalam sejarah umat manusia, kebanyakan masyarakat dan negara serta peradabannya rusak dan hancur karena di antaranya disebabkan oleh kaum munafik intelektual ('alimul lisan). Kaum munafik intelektual itu sangat berlemah lembut terhadap orang kafir dan bersikap sangat keras terhadap sesama Muslim. Bahkan kaum munafik intelektual tersebut menjalin kerjasama dengan orang-orang kafir dalam menghancurkan Islam dan dalam menghabisi umat Islam.
Kaum munafik intelektual senantiasa meniupkan keragu-keraguan dan rasa was-was dalam benak umat Islam dan berupaya keras menggembosi umat Islam serta mengadu-domba antar umat Islam, di mana mereka senantiasa berupaya menyesatkan umat Islam dengan mendistorsi atau mengaburkan dan merusak serta mengkriminalisasi ajaran Islam khususnya ajaran Islam yang utama seperti Tauhid, Dakwah, Syariah, Jihad dan Khilafah. Bahkan kaum munafik intelektual itu senantiasa menyerukan amar munkar dan nahi ma'ruf dan loyalitas mereka hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya serta untuk majikan mereka yakni para penguasa ruwaibidhah dan para penjajah kafir kapitalis asing dan aseng.

Karena itulah, daya rusak kaum munafik intelektual itu sangat sistemik, terstruktur, massif dan brutal serta jangka panjang. Jadi, sangat wajar bila orang munafik itu tempatnya di keraknya neraka Jahannam selamanya, khususnya munafik intelektual tersebut. Allah SWT berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ
"Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal." (QS. At-Taubah: 68)

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

"Sungguh kaum munafik itu ditempatkan di dasar neraka yang paling bawah (kerak neraka) dan mereka tidak memiliki seorang penolong pun." (QS. An-Nisa’: 145)

Seorang munafik intelektual mampu menyesatkan ribuan bahkan jutaan lebih umat manusia dan membawa kerusakan sistemik yang sangat besar bagi tatanan kehidupan umat manusia. Serta daya rusaknya pun berkepanjangan turun-temurun dari generasi ke generasi hingga puluhan tahun, ratusan tahun bahkan hingga lebih dari ribuan tahun lamanya.

Sebab, seorang munafik intelektual argumentasinya bernas, lengkap dengan kutipan dari literatur yang secara akademik tampak sangat ilmiah, mengutip perkataan Ulama, alur penyampaiannya teratur dan logikanya terstruktur dan sistematis serta terkadang gaya retorikanya dalam berkomunikasi sangat menarik dan menawan hati. Namun, sayang semua itu dia gunakan untuk mendukung kemaksiatan dan kesesatan serta kekufuran dan ia pun menjadi agen penguasa dan penjajah atau komprador kaki tangan penguasa ruwaibidhah yang dzalim dan para penjajah kafir asing dan aseng.

Di zaman now ini, potret atau fakta di atas sering kita temukan pada beberapa orang yang biasa disebut cendekiawan Muslim terkadang mereka bergelar profesor, doktor, insinyur, ilmuan, peneliti, aktivis, kyai, gus, ustadz, dan lain-lain. Ada yang membela dan menghalalkan LGBT, menghalalkan zina dan mengharamkan Khilafah serta mengharamkan poligami, menghalalkan ekonomi ribawi dan pajak serta BPJS, berupaya menghapus kata kafir dalam Islam.

Mereka ada yang terang-terangan menentang Syariah Allah dan Khilafahnya Allah, ada pula yang menistakan Syariah Allah dan Khilafahnya Allah, serta mereka pun sering kali menjilat penguasa ruwaibidhah yang zhalim dan menjilat para penjajah kafir kapitalis asing dan aseng demi uang, jabatan dan wanita atau demi dunia dan materi atau karena mereka tersandera kasus hukum seperti korupsi, penipuan, dan lain-lain, sehingga ia banting setir berbalik mendukung penguasa ruwaibidhah yang dzalim dan mendukung para penjajah kafir asing dan aseng, dia tak ubahnya seperti Ar-Rajjal bin Unfuwah -seorang mantan Sahabat Nabi ﷺ- yang pindah kubu menjadi pengikut setia Nabi palsu Musailamah al-Kadzdzab laknatullahi 'alaihi.

Potret-potret atau fakta semacam itu mengingatkan kita tentang sabda Nabi Muhammad ﷺ perihal para munafik 'alimul lisan tersebut, yakni munafik yang pandai bersilat lidah atau pandai dan ahli beretorika alias munafik intelektual. Rasulullah ﷺ sangat mengkhawatirkan keberadaan orang-orang munafik ini, para pendusta yang pandai mengolah kata dan data, serta pandai berbicara dan pandai beretorika. Beliau ﷺ bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ

Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti menimpa umatku, adalah setiap munafik yang pandai bicara (bersilat lidah).” (HR. Ahmad no. 143)

Senada dengan itu, suatu ketika Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu naik mimbar kemudian berpidato:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُنَافِقُ الْعَلِيمُ ، قِيلَ : وَكَيْفَ يَكُونُ الْمُنَافِقُ عَلِيمٌ ؟ قَالَ : عَالِمُ اللِّسَانِ، جَاهِلُ الْقَلْبِ وَالْعَمَلِ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umat ini adalah orang pintar yang munafik. Para sahabat bertanya: Bagaimana bisa seseorang itu menjadi munafik yang pintar? Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Yaitu orang yang pandai berbicara (bak seorang alim), tapi hati dan perilakunya jahil”. [Ihya Ulumuddin, hlm. 1/59]

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka (keraknya neraka). Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka." (QS. An-Nisaa': 145)


Dahulu, di zaman Nabi Musa AS pun ada seorang tokoh munafik intelektual yang bernama Samiri yang berpura-pura menjadi pengikutnya Nabi Musa AS. Samiri pun berhasil sukses menyesatkan banyaknya pengikut Nabi Musa yakni Bani Israil yang menyembah patung emas sapi buatan tangan Samiri saat Bani Israil ditinggal oleh Nabi Musa AS untuk menerima wahyu Allah di bukit Thur.

Di masa Rasulullah ﷺ pun ada seorang tokoh munafik intelektual yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul yang berupaya keras menggembosi umat Islam dan memecah belah umat Islam serta membangkang kepada Rasulullah ﷺ melalui pemikiran-pemikiran kufur nan sesatnya Abdullah bin Ubay tersebut dan juga pendirian Masjid Dhirar di Madinah serta menjalin kerjasama dengan kaum yahudi di Madinah untuk merongrong Rasulullah ﷺ dan Daulah Islam.

Di masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq pun muncul sosok seorang munafik intelektual yang bernama Ar-Rajjal bin Unfuwah. Pada awalnya dia adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ. Ar-Rajjal bin Unfuwah telah berhijrah, menyatakan keislamannya kepada Rasulullah ﷺ. Dia membaca Al-Qur’an dan memahami ilmu agama. Dia juga seorang yang cerdas dan memiliki pandangan yang luas tentang problematika hidup. Suatu ketika muncul fitnah kenabian Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah. Maka, Rasulullah ﷺ mengutusnya sebagai pengajar penduduk Yamamah.

Ar-Rajjal bin Unfuwah mendapat tugas untuk mengajar dan memberikan pemahaman kepada penduduk Yamamah akan sesatnya Musailamah. Sehingga penduduk Yamamah menentang Musailamah dan menggagalkan usaha Musailamah untuk diakui menjadi nabi di samping Rasulullah ﷺ. Akan tetapi, di tengah jalan, Ar-Rajjal bin Unfuwah justru terpengaruh dan lalai dari tugasnya. Ia termakan tipudaya dan kebohongan Musailamah. Sehingga dia berbalik menjadi pembela Musailamah al-Kadzdzaab sebagai nabi palsu.

Pindah kubu Ar-Rajjal bin Unfuwah jauh hari telah dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, “Suatu hari aku duduk di sisi Rasulullah bersama sekelompok orang, di tengah kami hadir Ar-Rajjal bin Unfuwah. Nabi bersabda, “Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”

Kemudian aku (Abu Hurairah) perhatikan bahwa seluruh yang dulu hadir telah wafat, dan yang tinggal hanya aku dan Ar-Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar-Rajjal keluar mengikuti Musailamah dan membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailamah.” [Lihat Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, dalam bahasan nabi palsu Musailamah al-Kadzdzab]

Sungguh fitnah Ar-Rajjal bin Unfuwah menjadi cerminan kondisi para elit politik dalam kubangan demokrasi. Pindah kubu demi menyelamatkan kepentingan. Memuji pihak kawan dan menjelek-jelekkan pihak lawan. Kerap kita jumpai dalam kontestasi politik ala demokrasi di zaman now ini.

Munculnya gerakan khawarij dan gerakan syiah tidak bisa pula dilepaskan dari fitnah yang dilontarkan oleh orang-orang munafik di tengah kaum Muslimin. Di antaranya tokoh munafik intelektual yang berjasa memicu konflik antar sesama Muslim hingga melahirkan gerakan khawarij dan syiah adalah Abdullah bin Saba' seorang yahudi hitam dari Yaman sejak era Khalifah Utsman bin Affan. Si Abdullah bin Saba' berupaya keras memecah-belah kaum Muslim melalui pemikiran-pemikiran sesat dan nyelenehnya serta melalui propaganda fitnah kepada Khalifah Utsman bin Affan dan memprovokasi kaum Muslim untuk membangkang Khalifah Utsman bin Affan dan membunuh Utsman bin Affan hingga terjadilah pembunuhan terhadap Khalifah Ustman bin Affan tersebut.

Hingga fitnah tersebut pun berkelanjutan pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib hingga terjadilah perang saudara antar sesama Muslim dalam perang Shiffin dan perang Jamal. Hingga terjadilah pembunuhan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh seorang khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam dan pasca terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh Ibnu Muljam tersebut, fitnah tersebut pun berkelanjutan hingga ribuan tahun sampai dengan sekarang di zaman now ini.

Dan juga di masa akhir Khilafah Islam Utsmaniyah yang berpusat di Turki pun muncul tokoh munafik intelektual yang bernama Mustafa Kamal Attarturk seorang agen Inggris dan juga seorang yahudi yang berpura-pura Islam dan berpura-pura dekat dengan Ulama serta berpura-pura pula cinta Ulama dan cinta Islam. Serta Mustafa Kamal pun berhasil menyusup ke dalam tubuh militer Khilafah Ustmani hingga ia mendapatkan posisi sangat strategis di militer Khilafah Utsmani hingga berhasil menguasai militer Khilafah Utsmani.

Dan akhirnya Mustafa Kamal pun berhasil diciptakan sebagai pahlawan Turki oleh Inggris dengan skenario perang-perangan melawan Inggris oleh Mustafa Kamal Attarturk tersebut di Turki hingga ia pun berhasil menguasai parlemen Turki, dan pada 3 maret 1924 masehi ia pun berhasil menghapus sistem Khilafah di Turki dan di dunia untuk selama-lamanya. Dan ia pun mengusir Khalifah kita yang terakhir Sultan Abdul Hamid II beserta keluarganya dari istana sang Khalifah dan memenjarakan sang Khalifah seumur hidupnya di Tesalonika Yunani.

Hingga akhirnya pun Turki menjadi negara sekuler sampai dengan sekarang dengan presiden pertamanya yakni Mustafa Kamal Attarturk laknatullahi 'alaihi dan ia pun menghapus semua simbol-simbol Islam dan ajaran Islam khususnya Islam politik serta umat Islam pun terpecah berkeping-keping menjadi lebih dari 50 negara kecil dalam bentuk negara bangsa (nation state) dengan paham kufurnya nasionalisme hingga umat Islam pun terjajah secara sistemik dan menjadi bulan-bulanan negara-negara kafir imperialis Barat (asing) dan Timur (aseng) hingga umat Islam pun merintih kesakitan penuh bersimbah darah sampai sekarang, serta kondisi umat Islam pun bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya dan bagaikan kebun tanpa pagar serta bagaikan hidangan di atas meja yang diperebutkan oleh musuh-musuhnya dari segala penjuru mata angin.

Di zaman penjajahan Belanda di Indonesia dahulu pun muncul tokoh munafik intelektual yang bernama Christiaan Snouck Hurgronje yang merupakan seorang orientalis dan think thank-nya Belanda dalam menguasai dan menjajah Indonesia. Di mana Snouck Hurgronje berpura-pura masuk Islam dan ia pun sangat fasih berbahasa Arab dan hafal sebagian kecil Al-Qur’an dan ia pernah berangkat haji ke tanah suci Mekkah serta ia pun berpenampilan seperti seorang Ulama atau Syaikh bahkan di Aceh ia dijuluki Syaikh Putih.

Dengan begitulah Snouck Hurgronje masuk ke dalam tubuh umat Islam di Nusantara dengan mulai melemahkan dari dalam umat Islam dengan pemikiran-pemikiran kufur liberal barat sesatnya ia pun meracuni pemikiran umat Islam untuk secara pelan-pelan menjauhkan umat Islam dari Islam dan memecah-belah kekuatan umat Islam hingga Belanda pun berhasil menguasai sepenuhnya pulau Jawa dan pulau Sumatera khususnya Aceh hingga kian langgenglah kekuasaan penjajahan dan kolonialisme Belanda di Indonesia.

Dan kini di zaman now ini, di peradaban sampah kapitalisme dan di negara-negara demokrasi ataupun di negara-negara sekuler yang mengadopsi ideologi kufur demokrasi kapitalisme sekulerisme biang kemunafikan di zaman now ini justru semakin membuat kaum munafik intelektual tersebut tumbuh subur bagaikan tumbuh suburnya jamur di musim penghujan.

Dan orang-orang munafik intelektual tersebut itu pun diberi fasilitas lengkap, gaji yang besar dan jabatan tinggi nan strategis oleh negara bahkan dijadikan sebagai soko guru dan guru bangsa serta pemimpin masyarakat hingga makin rusaklah masyarakat dan negara hingga carut-marutlah di semua lini kehidupan, dan makin mengguritanya liberalisme dan neo imperialisme serta neo kolonialisme kafir penjajah asing dan aseng serta kemunafikan di negeri ini dan di negeri-negeri Islam lainnya serta di seluruh penjuru dunia.

Jadi, begitulah fitnah yang dilontarkan oleh kaum munafik intelektual sangat dahsyat mampu memecah-belah kaum muslimin hingga Ulama dan ahlul Qur’an pun bisa terkena fitnah dahsyat kaum munafik intelektual tersebut dan menjadi pengikut setia kaum munafik intelektual tersebut. Karena itulah, begitu sangat berbahayanya munafik intelektual ('alimul lisan) tersebut.

Semoga Allah melindungi kita dan menjauhkan kita dari sifat nifaq dari dalam diri kita dan potensi diri kita menjadi orang munafik. Dan semoga Allah pun melindungi dan menjauhkan kita dari bahaya dan fitnah keji kaum munafik intelektual serta dari kejahatan sistematis kaum munafik khususnya kaum munafik intelektual ('alimul lisan) tersebut yang hidup dan berkembang biang dalam ekosistem peradaban sampah kapitalisme sekuler demokrasi di zaman now ini. Aaamiin.

Wallahu a'lam bish shawab. []


#IjtimaUlama
#IkutUlama
#KhilafahWajib
#KhilafahAdalahSolusi
#ReturnTheKhilafah

Thursday, September 5, 2019

Ulama Adalah Benteng Terakhir Islam



Oleh: Zakariya al-Bantany

Ulama adalah manusia biasa seperti kita, hanya saja Allah SWT telah memilih para Ulama sebagai hamba-hamba pilihan-Nya sekaligus sebagai Wali (kekasih)-Nya dan telah menganugerahkan kepada mereka keutamaan, kelebihan dan kemuliaan dibandingkan manusia biasa lainnya, yaitu berupa ilmu dan keimanan yang kokoh dan ketaqwaan yang tinggi.

Ulama memang bukan Nabi, tapi mereka para Ulama adalah Pewaris para Nabi. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوادِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَن أَخَذَهُ أَخَذَبِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya Ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. al-Imam at-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimah-nya, serta dinyatakan sahih oleh al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih at-Targhib, 1/33/68)


Allah SWT pun berfirman:

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (QS. Fathir: 32)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, Allah SWT berfirman, “Kemudian Kami menjadikan orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) Al-Kitab (Al-Qur’an) yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu yaitu orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, mereka adalah dari umat ini.”  [Tafsir Ibnu Katsir, 3/577]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Ayat ini sebagai syahid (penguat) terhadap hadits yang berbunyi al-‘ulama waratsatil anbiya (Ulama adalah pewaris para Nabi).” [Fathul Bari, 1/83]

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah mengatakan bahwa maknanya adalah, “Kami telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami yaitu al-Kitab (al-Qur’an). Kami telah tentukan dengan cara mewariskan kitab ini kepada para Ulama dari umat engkau wahai Muhammad yang telah Kami turunkan kepadamu. Tidak ada keraguan bahwa Ulama umat ini adalah para Sahabat dan orang-orang setelah mereka. Sungguh Allah SWT telah memuliakan mereka atas seluruh hamba dan Allah SWT menjadikan mereka sebagai umat di tengah-tengah agar mereka menjadi saksi atas sekalian manusia, mereka mendapat kemuliaan demikian karena mereka umat Nabi yang terbaik dan sayyid bani Adam.” [Fathul Qadir, hlm. 1418]

Allah SWT juga menegaskan dalam firman-NYA:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Lantas siapakah yang layak dan pantas disebut dan menyandang gelar Ulama..?!


Pengertian Ulama

Secara harfiah menurut bahasa etimologi, kata Ulamāʾ (علماء) berasal dari bahasa arab ( علم, يعلم yang berarti mengetahui) perubahan kaidah tashrif arab menjadi kata (عالِم Ālim) ismul faa'il (kata untuk menunjukkan si pelaku yang berarti orang yang mengetahui). Kemudian dari kata tunggal (عالِم) berubah menjadi kata jamak (العلماء) yang diartikan sebagai orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

Terminologi Ulama menurut Wikipedia, Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupun masalah sehari-hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti, kemudian arti Ulama tersebut berubah ketika diserap ke dalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam. [https://id.wikipedia.org/wiki/Ulama]

Ulama Menurut istilah adalah orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam mengenai Al-Qur’an dan Al-Hadits dan Menerapkan Al-Qur'an dan Al-Hadits dalam kehidupannya. Ulama adalah orang-orang yang mengetahui Al-Qur’an (baik bacaannya maupun kandungannya) dan mengajarkannya.

Ulama adalah orang-orang yang mendapat ilmu Rasulullah ﷺ dan setiap harinya disibukkan dengan ilmunya seperti tabligh atau dakwah, mengajar dan mengarang kitab serta menasehati penguasa. Dan masih banyak lagi yang lain namun pada dasarnya tetap sama yaitu orang-orang yang bukan hanya sangat memahami ilmu agama Islam, namun juga mengamalkan ilmunya.

Ulama adalah orang-orang yang mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi setelah para Nabi dan Rasul dan Ulama adalah pewaris para rasul. Pewarisan Ulama di sini bukan hanya sekedar mengenai ilmu dan hal-hal luar biasa yang diberikan kepada mereka, akan tetapi juga mencakup mengenai beban dan tugas mereka dalam meluruskan dan membimbing masyarakat kepada jalan yang benar menurut Akidah dan Syariah Islam.

Allah SWT menegaskan sosok Ulama yang sesungguhnya dalam firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)


Maka sebagai pelaku dalam ayat ini adalah: Para Ulama adalah orang yang paling khawatir dan paling takut kepada Allah. Lafdzul jalalah (Allah) sebagai obyek yang didahulukan. Adapun faidah dan fungsi didahulukannya peletakan obyek ini adalah: untuk pembatasan kerja subyek. Maksudnya yang takut kepada Allah SWT tidak lain hanyalah para Ulama. Karena kalau subyeknya yang didahulukan pastilah pengertiannya akan berbeda, dan menjadi "Sesungguhnya para Ulama kepada Allah," Permaknaan seperti ini tidak dibenarkan, karena artinya ada di antara para Ulama yang tidak takut kepada Allah.

Atas dasar inilah Syaikhul Islam berkomentar tentang ayat ini: “Hal ini menunjukkan bahwa setiap yang takut kepada Allah maka dialah orang yang Alim, dan ini adalah haq. Dan bukan berarti setiap yang Alim akan takut kepada Allah”. [Dari kitab “Majmu Al Fatawa”, 7/539. Lihat “Tafsir Al Baidhawi”, 4/418, Fathul Qadir, 4/494]

Dari penjelasan di atas maka ayat yang mulia ini memberikan faidah: "Sesungguhnya para Ulama itu pemilik rasa takut kepada Allah, dan sesungguhnya siapa saja yang tidak takut kepada Allah berarti dia bukanlah seorang alim".

Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dan benar-benar takut adalah para Ulama yang mereka paham betul tentang hakikat Allah SWT, karena ketika pengetahuan kepada Yang Maha Agung dan Maha Kuasa sudah sempurna dan bekal ilmu tentang-Nya sudah memadai maka perasaan takut kepada-Nya akan semakin besar..”

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu tentang firman Allah SWT:

إنما يخشى الله من عباده العلماء

Dia berkata, "Mereka yang takut kepada Allah adalah mereka yang mengetahui sesungguhnya Allah Kuasa atas segala sesuatu." Said bin Jubair berkata, "Yang dinamakan takut adalah yang menghalangi anda dengan perbuatan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla." Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Orang Alim adalah yang takut kepada yang Maha Pemurah terkait perkara yang Ghaib, menyukai apa yang disukai oleh Allah, dan menjauhi apa-apa yang mendatangkan kemurkaan Allah. Lalu beliau membaca Ayat:

إنما يخشى الله من عباده العلماء إن الله عزيز غفور

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Bukanlah yang dikatakan orang berilmu itu orang yang banyak hafal hadits, akan tetapi yang dinamakan orang berilmu itu orang yang rasa takutnya amat besar."

Sufyan Ats Tsauri meriwayatkan dari Abu Hayyan At-Taimi dari seorang lelaki dia berkata, "Seorang yang alim tentang Allah adalah orang yang Alim tentang perintah Allah. Orang yang Alim tentang perintah Allah bukanlah orang yang alim tentang Allah. Adapun orang yang Alim tentang Allah dan tentang perintah Allah, dialah orang yang takut kepada Allah SWT dan mengetahui koridor agama serta hal-hal yang difardhukan oleh agama. Adapun orang yang Alim tentang Allah bukanlah orang yang Alim tentang perintah Allah, apabila dia takut kepada Allah SWT dan tidak mengetahui ajaran agama serta hal-hal yang difardhukan oleh agama. Begitupun orang yang Alim tentang perintah Allah bukanlah orang yang alim tentang Allah, jika dia adalah orang yang mengetahui batasan-batasan dan hal-hal yang difardhukan oleh agama akan tetapi sama sekali tidak takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla." [Dikutip dengan ringkas dari “Tafsir Ibnu Katsir, 4/729]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam kitab “Majmu Al Fatawa”, 17/21, tentang firman Allah SWTً ( إنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء ). Maksud dari ayat tersebut adalah tidak takut kepada Allah melainkan orang yang Alim. Allah telah memberitakan sesungguhnya setiap yang takut kepada Allah maka dialah orang yang alim, sebagaimana Firman Allah dalam ayat yang lain:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ (سورة الزمر: 9)

"Apakah kalian hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar: 9)


As-Sa’di Rahimahullah berkata: “Setiap orang yang pengetahuannya kepada Allah sangat mendalam, maka dialah orang yang banyak takut kepada Allah. Maka rasa takutnya kepada Allah mewajibkan dia menghindari perilaku maksiat dan selalu bersiap diri menjumpai yang ia takuti. Ini merupakan bukti dari keutamaan ilmu, karena sesungguhnya ilmu itu menuntun untuk takut kepada Allah, dan orang yang biasa takut kepada Allah maka dia layak mendapat karomah-Nya, sebagaimana firman Allah SWT:

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

"Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhan-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 8)


Kesimpulannya: Sesungguhnya subyek dalam ayat tersebut adalah para Ulama. Pengertian ayatnya adalah, "Sesungguhnya tidak ada yang takut kepada Allah SWT melainkan para Ulama. Merekalah yang paling mengetahui kekuasaan-Nya dan kemampuan-Nya. Tidak ada maksud dari ayat tersebut bahwa Allah SWT-lah yang takut kepada para Ulama karena Allah lebih Agung, lebih Mulia dari yang demikian.


Ulama Benteng Terakhir Islam dan Ujung Tombak Umat Islam

Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Perumpamaan para ulama di tengah-tengah umat manusia bagaikan bintang-bintang di langit yang menjadi penunjuk arah bagi manusia.” [Akhlaq al-’Ulama, hal. 29, Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-Hasan]

Ulama juga adalah laksana bulan purnama yang menerangi dunia tatkala kegelapan malam tiba. Ulama adalah laksana perisai dan benteng yang kokoh.

Baiknya Ulama akan membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. Sedangkan, rusaknya Ulama akan membawa kerusakan bagi seluruh umat manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلاَ إِنَّ شَرَّ الشَّرِّ شِرَارُ الْعُلَمَاءِ وَإِنَّ خَيْرَ الْخَيْرِ خِيَارُ الْعُلَمَاءِ

"Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan Ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan Ulama." (HR. ad-Darimi)


Imam al-Ghazali, menjelaskan:

ففساد الرعايا بفساد الملوك، و فساد الملوك بفساد العلماء، و فساد العلماء باستلاء حب المال والجاه، ومن استولى عليه حب الدنيا لم يقدر على الحسبة على اﻷراذل، فكيف علي الملوك واﻷكابر؟ والله المستعان علي كل حال.

"Setelah menulis keberanian para ulama salaful ummah tentang banyak dari mereka yang sangat berani berhisbah yaitu beramar makruf nahi munkar bahkan terhadap para penguasa yang dzalim hingga siap syahid dibunuh para penguasa karena mengamalkan hadits.

أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر

Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat kebenaran di depan penguasa rusak yang menyimpang”.

Maka terakhir Imam Ghazali memberikan penutup: “Bahwasanya rusaknya rakyat (masyarakat umum) disebabkan karena rusaknya para penguasa, sedangkan rusaknya para penguasa disebabkan karena rusaknya para Ulama. Para Ulama rusak karena terperdaya kecintaan harta dan wibawa (tahta)".

Imam Al Ghazali melanjutkan bahwa “Barangsiapa yang terperdaya kecintaan terhadap dunia, maka dia tidak akan mampu dan kuasa berhisbah melakukan amar makruf nahi munkar terhadap perkara yang remeh, kecil dan sepele. Bagaimana mungkin dia akan mampu berhisbah amar makruf nahi munkar terhadap para penguasa dan perkara-perkara yang besar?" [Akhir Kitab Hisbah Amar Makruf Nahi Munkar dari Kitab Ihya Ulumuddin Juz II Hal. 385]

Rasulullah ﷺ mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِوَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِعَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَعِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah SWT tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)


Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan bahwa asy-Sya’bi berkata, “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.”

Di dalam Shahih al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah ﷺ): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para Ulama dan diangkatnya orang jahat.” [Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 60]

Wafatnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan Ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan berkah dari Allah SWT. Lebih-lebih Rasulullah ﷺ mengistilahkan mereka dalam sebuah sabdanya:

مَفَاتِيحُ لِلْخَيرِ مَغَالِيقُ لِلشَّرِّ

Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.” (Hadits Hasan, Shahihul Jami', 4108)


Al-Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, beliau berkata, “ِAku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa, keduanya berkata, ‘Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ.

"Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan ada beberapa hari di mana kebodohan turun dan ilmu dihilangkan." (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ.

"Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan semakin banyak." (HR. Muslim)

Ini menegaskan bahwasanya Ulama adalah simbol sekaligus representasi Islam dan umat Islam. Karena itulah, Ulama menjadi benteng terakhir Islam dan Umat Islam. Jika Ulama dirusak maka terusakkanlah Islam dan umat Islam pun akan menjadi rusak, maka rusaklah pula seluruh umat manusia. Di sinilah urgensi Ulama sebagai benteng terakhir Islam sekaligus menjadi ujung tombak umat Islam.

Karena itulah sejak dulu, Ulama memiliki peran yang sangat besar dalam berbagai peristiwa sejarah penting, terutama sejarah perubahan masyarakat (social engineering). Bahkan nyaris tidak ada satu pun perubahan masyarakat di dunia ini yang tidak melibatkan peran Ulama. Mereka jugalah orang pertama yang menyebarkan kesadaran ini di tengah-tengah masyarakat hingga masyarakat memiliki kesadaran kolektif untuk melakukan perubahan. Jika kesadaran terhadap kerusakan masyarakat belum tumbuh di tengah-tengah masyarakat, niscaya tidak akan tumbuh pula keinginan untuk berubah, apalagi upaya untuk melakukan perubahan. Dari sini bisa disimpulkan, bahwa Ulama merupakan sumber dan inspirasi perubahan.

Sayang, seiring dengan kemunduran taraf berpikir umat Islam, yang diimbuhi dengan proses sekularisasi di Dunia Islam, umat Islam mulai kesulitan menemukan sosok Ulama yang mampu menggerakkan perubahan, seperti yang pernah dilakukan Nabi ﷺ. Yang kita dapati adalah Ulama yang fakih dalam masalah agama, tetapi tidak memiliki visi politik (tidak kaffah) dan bukan negarawan yang handal serta bukan politisi ulung. Akhirnya, mereka mudah dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam. Ada pula Ulama yang memisahkan diri dari kekuasaan dan politik, dengan alasan, politik itu kotor dan najis.

Serta ada pula Ulama yang tidak memahami fakta (realitas) dan buta politik akhirnya diperalat oleh partai politik sekuler dan penguasa tiran serta para penjajah kafir asing dan aseng hingga terjebak dalam kubangan lumpur hitam berhala demokrasi sehingga hanya menjadi stempel dan corong penguasa boneka dan para penjajah kafir kapitalis asing dan aseng tersebut.

Akibatnya, mereka tidak mampu memberikan konstribusi bagi perubahan masyarakat dan negaranya. Mereka asyik dengan ibadah-ibadah ritual belaka yang sejatinya justru memberangus predikatnya sebagai Pewaris Nabi. Ada pula Ulama yang, sadar atau tidak, terkooptasi oleh sistem kufur dan pemerintah kufur serta para kafir penjajah beserta antek-anteknya. Mereka rela menjual ilmu dan agamanya untuk kepentingan dunia semata. Jahatnya lagi, mereka bahkan rela menyerahkan saudara-saudara Muslimnya untuk memenuhi keinginan kaum kafir. Ada pula yang bertingkah bak seorang artis yang hanya mengejar popularitas belaka. Lantas, apa fungsi dan peran Ulama sesungguhnya..?!


Peran dan Fungsi Para Ulama

Peran dan fungsi strategis Ulama dapat diringkas sebagai berikut:

Pertama: Pewaris para Nabi. Tentu, yang dimaksud dengan Pewaris Nabi adalah pemelihara dan penjaga warisan para Nabi, yakni wahyu atau risalah, dalam konteks ini adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah atau Islam itu sendiri. Dengan kata lain, peran utama Ulama sebagai Pewaris para Nabi adalah penjaga agama Allah SWT dari kebengkokan dan penyimpangan. Hanya saja, peran Ulama bukan hanya sekadar menguasai khazanah pemikiran Islam, baik yang menyangkut masalah Akidah maupun Syariah dan Akhlaq, tetapi juga bersama umat berupaya menerapkan, memperjuangkan, serta menyebarkan risalah Allah di muka bumi.

Dalam konteks saat ini, Ulama bukanlah orang yang sekadar memahami dalil-dalil Akidah dan Syariah, kaidah istinbâth (pengalian hukum), dan ilmu-ilmu alat lainnya. Akan tetapi, ia juga terlibat dalam perjuangan untuk mengubah realitas rusak yang bertentangan dengan warisan Nabi ﷺ menjadi realitas Islami yang haq di atas jalan Nabi.

Kedua: Pembimbing, pembina dan penjaga umat. Pada dasarnya, Ulama bertugas membimbing umat agar selalu berjalan di atas jalan lurus. Ulama juga bertugas menjaga mereka dari tindak kejahatan, pembodohan, dan penyesatan yang dilakukan oleh kaum kafir dan munafik serta antek-anteknya; melalui gagasan, keyakinan, dan sistem hukum yang bertentangan dengan Islam.

Semua tugas ini mengharuskan Ulama untuk selalu menjaga kesucian pemikiran Islam dalam benaknya sekaligus menjaga kesucian agamanya dari semua kotoran. Ulama juga harus mampu menjelaskan kerusakan dan kebatilan semua pemikiran dan sistem kufur kepada umat Islam. Ia juga harus bisa mengungkap tendensi-tendensi jahat di balik semua sepak terjang kaum kafir dan munafik beserta antek-anteknya. Ini ditujukan agar umat terjauhkan dari kejahatan musuh-musuh Islam.

Ketiga: Pengontrol penguasa. Peran dan fungsi ini hanya bisa berjalan jika Ulama mampu memahami konstelasi politik global dan regional. Ia juga mampu terdepan dalam mengontrol dan mengoreksi penguasa, dan ia pun mampu pula memimpin perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan, menyingkap makar jahat dan permusuhan kaum kafir dalam memerangi Islam dan kaum Muslim. Dengan ungkapan lain, seorang Ulama harus memiliki visi politis-ideologis yang kuat, hingga fatwa-fatwa yang ia keluarkan tidak hanya beranjak dari tinjauan normatif belaka, tetapi juga bertumpu pada konteks ideologis-politis.
Dengan demikian, fatwa-fatwanya mampu menjaga umat Islam dari kebinasaan dan kehancuran sekaligus membangkitkan umat Islam dengan kebangkitan hakiki, bukan malah menjadi sebab malapetaka dan kehancuran bagi umat Islam. Misalnya, fatwa yang dikeluarkan oleh Syaikhul Islam mengenai bolehnya kaum Muslim mengadopsi sistem pemerintahan demokrasi dan perundang-undangan Barat pada akhir Kekhilafahan Islam. Fatwa ini tidak hanya keliru, tetapi juga menjadi penyebab kehancuran Khilafah Islamiyah. Fatwa ini muncul karena lemahnya visi politis-ideologis Ulama pada saat itu.

Keempat: Sumber ilmu. Ulama adalah orang yang faqih fiddiin dalam masalah halal-haram dan dalam seluruh perkara kehidupan. Ia adalah rujukan dan tempat menimba ilmu sekaligus guru yang bertugas membina umat agar selalu berjalan di atas tuntutan dan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dalam konteks ini, peran sentralnya adalah mendidik dan membina umat dengan Akidah dan Syariah Islam. Dengan begitu, umat memiliki kepribadian Islam yang kuat; mereka juga berani mengoreksi penyimpangan masyarakat dan penguasa.

Kelima: Ulama sebagai pemimpin umat yang terdepan dalam memobilisasi dan menggerakkan umat dan seluruh elemen umat Islam untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan menerapkan Syariah Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan dan menyebarluaskan risalah Islam ke segala penjuru dunia dengan dakwah dan jihad melalui penegakkan kembali Daulah Khilafah Rasyidah Islamiyah yang dilakukan oleh para Ulama Pewaris Nabi tersebut bersama umat dan seluruh elemen umat Islam apapun madzhab dan harakah dakwahnya. Karena Khilafah Islam adalah benteng utama Islam sekaligus milik seluruh Umat dan kewajiban bagi seluruh Umat Islam termasuk kewajiban bagi para Ulama.

Inilah peran dan fungsi sentral Ulama sebagai benteng terakhir Islam dan ujung tombak umat Islam di tengah-tengah masyarakat. Hanya saja, sekularisasi dan demokratisasi telah memberangus fungsi dan peran Ulama di atas, sekaligus meminggirkan mereka dari urusan negara dan masyarakat.

Apatah lagi pasca Aksi Damai Bela Islam Jilid II 411 dan Aksi Super Damai Bela Islam Jilid III 212 pada tahun 2016 yang sukses dipimpin dan dimobilisasi para Ulama sebagai respon penistaan terhadap Islam, Al-Qur’an, Ulama dan Umat Islam yang telah dilakukan oleh Basuki Tcahya Purnama alias Ahok. Di mana Aksi 411 dan 212 serta berlanjut aksi-aksi besar lainnya sepanjang tahun 2017 yang lalu hingga tahun  2018 yang lalu mulai aksi sejuta umat tolak Perppu Ormas hingga Aksi Bela Islam 212 Jilid 2 tahun 2017 yang lalu.

Hingga terjadi pula Aksi Bela Tauhid 211 dan Reuni 212 jilid 3 yang dihadiri sekitar 13 juta lebih umat Islam hingga berkibarlah jutaan bendera tauhid al-Liwa dan ar-Royah di Monas Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2018 yang lalu atas respon pembakaran bendera tauhid oleh Banser NU.

Juga digelarnya Ijtima' Ulama Jilid 4 pada 5 Agustus 2019 yang lalu telah menegaskan kewajiban menerapakan Syariah dan menegakkan kembali Khilafah serta amar ma'ruf wa nahi munkar merupakan kewajiban agama Islam, dan lain-lain.

Itu semua semakin meneguhkan dan menjadi sinyal yang sangat kuat bahwa sedang terjadi kebangkitan Islam dan umat Islam sekaligus menjadi sinyal sangat kuat kebangkitan Ulama Pewaris Nabi dan Persatuan Umat Islam yang bakal berpotensi bangkit kembali menjelma menjadi raksasa adidaya super power Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah. Tentunya ini, membuat penjajah kafir kapitalis baik asing maupun aseng beserta rezim bonekanya sangat ketakutan hingga mereka pun menjadi Islamphobia dan super paranoid dengan Islam.

Sehingga demi melanggengkan gurita penjajahan hegemoni kapitalisme global mereka, penjajah kafir kapitalis asing dan aseng tersebut pun melalui rezim bonekanya membuat banyak skenario jahat dengan menghalalkan segala cara untuk mematikan kebangkitan Islam dengan menjadikan hukum tumpul ke kafir dan hanya tajam ke bawah melalui sejumlah UU, adu domba umat, adu domba Ulama dan kriminalisasi Islam khususnya ajaran Islam tentang dakwah, jihad, Syariah dan Khilafah, persekusi dan kriminalisasi umat Islam dan khususnya persekusi dan kriminalisasi Ulama, Aktivis Dakwah dan Ormas Islam serta pencabutan Badan Hukum HTI tanpa proses Pengadilan dan upaya membubarkan FPI.

Penjajah kafir kapitalis asing dan aseng beserta rezim bonekanya sangat mengetahui dan memahami dengan benar bahwa penghalang utama mereka untuk menguasai sepenuhnya negeri zamrud khatulistiwa yang kaya raya dengan sumberdaya alamnya ini adalah Islam, umat Islam dan khususnya Ulama sebagai benteng terakhir Islam dan ujung tombak umat Islam.

Karena itulah, mereka berupaya keras untuk melemahkan dan menghancurkan Islam dan umat Islam selain melalui adu domba umat, persekusi dan  kriminalisasi Ulama serta pembunuhan karakter Ulama, mereka pun membuat sebuah skenario jahat secara sistematis untuk membungkam Ulama melalui sertifikasi penceramah atau sertifikasi Ulama yang dilakukan secara paksa oleh rezim boneka ini demi mengamankan kepentingan tuan besarnya tersebut dalam melanggengkan gurita penjajahan kapitalisme global mereka di negeri ini.

Menghancurkan Ulama sebagai benteng terakhir Islam dan ujung tombak umat Islam sama saja menghancurkan Islam dan umat Islam.

Memusuhi Ulama sama saja memusuhi Allah SWT Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Siapapun yang memusuhi bahkan mempersekusi dan mengkriminalisasi Ulama dan membunuh karakter Ulama, maka dia benar-benar telah menjadi musuhnya Allah.

Kecelakaan besarlah bagi mereka khususnya penjajah kafir kapitalis asing dan aseng beserta rezim bonekanya yang telah menjadi musuh Allah akibat memusuhi Ulama Pewaris Nabi dan agama-Nya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّ اللهَ قال : من عادَى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحربِ ، وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيءٍ أحبَّ إليَّ ممَّا افترضتُ عليه ، وما يزالُ عبدي يتقرَّبُ إليَّ بالنَّوافلِ حتَّى أُحبَّه ، فإذا أحببتُه : كنتُ سمعَه الَّذي يسمَعُ به ، وبصرَه الَّذي يُبصِرُ به ، ويدَه الَّتي يبطِشُ بها ، ورِجلَه الَّتي يمشي بها ، وإن سألني لأُعطينَّه ، ولئن استعاذني لأُعيذنَّه ، وما تردَّدتُ عن شيءٍ أنا فاعلُه ترَدُّدي عن نفسِ المؤمنِ ، يكرهُ الموتَ وأنا أكرهُ مُساءتَه

“Sesungguhnya Allah berfirman: 'Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shalih) yang lebih Aku cintai daripada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun mencintainya. Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya. Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti aku lakukan seperti keraguan untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman (kepada-Ku), dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya” (HR. al-Bukhari 5/2384, no. 6137).


Sungguh Allah SWT Maha Perkasa dan amatlah keras adzab dan siksa-Nya. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّ‍ذِينَ يَكْفُرُونَ بِئَايَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ {21} أُوْلاَئِكَ الَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَمَالَهُم مِّن نَّاصِرِينَ {22}

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi dengan tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka berilah mereka kabar gembira, bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong.” (QS. Ali Imran [3]: 21-22)

Dan juga Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

"Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci." (QS. Ash-Shaff [6]: 9)


Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Oleh karena itu, wahai para Ulama pewaris para Nabi dan benteng terakhir Islam yang dirahmati Allah di manapun kalian berada dan apapun harakah dakwah kalian serta apapun mazhab kalian, sudah tiba saatnyalah kalian bangkit dari tidur panjang kalian dan bersegeralah kalian bersatu dengan istiqamah dalam barisan dakwah berjama'ah mengikuti manhaj/ thariqah dakwah Rasulullah ﷺ dan bergerak memimpin, memobilisasi serta menggerakkan seluruh umat Islam bersama militer untuk segera meruntuhkan kedigdayaan peradaban sampah kapitalisme global tersebut dengan segera mencampakkan demokrasi dengan hanya menumbangkan rezim demokrasi dan sistem kufur penjajah demokrasi kapitalisme sekulerisme yang menjadi biang penjajahan dan biang kerusakan serta biang malapetaka bagi dunia dan negeri ini.

Dengan manhaj/ thariqah dakwah Rasulullah ﷺ tersebut bersegeralah pula kalian bersatu dan bergerak memimpin dan memobilisasi umat beserta militer untuk segera menegakkan kembali Khilafah Rasyidah Islamiyah -sang pelaksana Syariah secara kaffah dan pemersatu umat- sebagai tuntutan akidah tauhid Islam sekaligus solusi real dalam menyelamatkan Indonesia dan dunia dari kehancurannya serta demi meninggikan kalimat Allah dan demi izzul Islam wal Muslimin serta demi meraih ridha, rahmah dan berkah di dunia dan di akhirat dari Allah SWT Sang Maha Penguasa Serba Maha lagi Maha Pencipta Alam Semesta, manusia dan kehidupan yang nyawa kita dalam genggaman-Nya.

Yakinlah sesungguhnya Allah bersama kita dan kemenangan Islam sudah di depan mata kita. Allah SWT berfirman:

...لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“...Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

Allah berfirman, ‘Janganlah kalian berdua takut, sesungguhnya Aku bersama kalian, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thahaa: 46)

اَمۡ حَسِبۡتُمۡ  اَنۡ تَدۡخُلُوا الۡجَنَّۃَ وَ لَمَّا یَاۡتِکُمۡ مَّثَلُ الَّذِیۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلِکُمۡ ؕ مَسَّتۡہُمُ الۡبَاۡسَآءُ  وَالضَّرَّآءُ وَ زُلۡزِلُوۡا حَتّٰی یَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ مَتٰی نَصۡرُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datang pertolongan Allah?' Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

وَمَا جَعَلَہُ اللّٰہُ اِلَّا بُشۡرٰی وَلِتَطۡمَئِنَّ بِہٖ قُلُوۡبُکُمۡ ۚ وَمَا النَّصۡرُ اِلَّا مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ

Dan tidaklah Allah menjadikannya (mengirim pertolongan) melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tentram, dan kemenangan (pertolongan) itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh Allah maha perkasa, maha bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 10)

اِنۡ یَّنۡصُرۡکُمُ اللّٰہُ فَلَا غَالِبَ لَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ یَّخۡذُلۡکُمۡ فَمَنۡ ذَاالَّذِیۡ یَنۡصُرُکُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ وَعَلَی اللّٰہِ فَلۡیَتَوَکَّلِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ

"Jika Allah menolong kamu maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan) maka siapakah yang dapat menolong kamu (selain dari Allah) setelah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran: 160)


Wallahu a'lam bish shawab. []


#IjtimaUlama
#IkutUlama
#UlamaBelaHTI
#KhilafahWajib
#KhilafahAjaranIslam
#KhilafahAdalahSolusi
#ReturnTheKhilafah

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog