Monday, August 19, 2019

Sudahkah Indonesia Merdeka ?!



Oleh: Zakariya al-Bantany


Hari Sabtu tanggal 17 Agustus 2019 tepat dengan HUT RI yang ke-74 tahun sejak diproklamirkannya pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno Presiden RI yang pertama. Tidak terasa usia kemerdekaan Indonesia sudah genap 74 tahun lamanya. Di bulan Agustus ini begitu semaraknya perayaaan hari kemerdekaan RI dari awal bulan Agustus hingga tanggal 17 Agustus hari ini, bahkan terkadang semarak HUT RI pun selesai sampai akhir bulan Agustus nanti.

Sebagai bentuk perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, rakyat Indonesia pun dari Sabang hingga Merauke dengan semaraknya berlomba-lomba turut serta memeriahkan hari kemerdekaan dengan berbagai macam perlombaan, turnamen, tirakatan, mengibarkan bendera merah putih di sepanjang jalan, upacara bendera, parade kemerdekaan, nonton baren film napak tilas perjuangan kemerdekaan para Pahlawan kemerdekaan terdahulu, dan lain-lain.

Pertanyaannya, apakah benar Indonesia sudah merdeka..?!

Jika Indonesia sudah merdeka, lantas mengapa:







5. Pemerintah negeri ini justru memberikan izin pendirian gedung baru Kedubes AS di Jakarta, padahal gedung baru Kedubes AS tersebut hanya menjadi markas militer dan intelijen AS untuk mengokohkan hegemoni penjajahan kapitalisme AS di Indonesia [https://news.okezone.com/read/2019/03/19/18/2031994/diresmikan-hari-ini-gedung-baru-kedutaan-as-di-jakarta-jadi-salah-satu-yang-terbesar-di-dunia; https://nasional.kompas.com/read/2013/01/08/13223495/hti.minta.jokowi.tak.izinkan.pembangunan.kedubes.as];

6. Dan lain-lain..?!

Mengapa pula rakyat Indonesia tidak semarak tergerak hatinya untuk berlomba-lomba merebut kembali 80% lebih SDA dan mineralnya, 2/3 wilayahnya dan ratusan aset-aset penting negara yang dikuasai asing dan aseng tersebut serta merebut kembali gunung emas Papua yang dikuasai Freeport tersebut sekaligus merebut kembali tanah negara yang dikuasai oleh Kedubes AS yang telah mendirikan gedung baru kedubesnya tersebut sebagaimana semarak dan bersemangatnya rakyat Indonesia dalam berlomba-lomba memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia tersebut..?!

Ini bukti Indonesia belum merdeka secara hakiki. Indonesia hanya baru merdeka secara fisik dari penjajahan para penjajah baik VOC, Belanda, Portugis, Jepang dan lain-lain yang telah menjajah Indonesia baik puluhan tahun maupun sampai ratusan tahun. Namun, kini Indonesia terperangkap dalam belenggu penjajahan dan kolonialisme gaya baru yaitu penjajahan VOC gaya baru asing dan aseng.


VOC Gaya Baru Asing Dan Aseng

Dahulu kala di zaman old atau zaman tempo dulu dalam peradaban kolonialisme imperialisme gaya lama, VOC Belanda dahulu masuk ke bumi Nusantara Indonesia modusnya adalah dagang atau ekonomi. Namun, setelah VOC Belanda menguasai dan mencengkram kuat ekonomi Indonesia sepenuhnya maka VOC Belanda pun menampakkan wajah asli politiknya yang sangat jahat nan culas dengan menjajah dan mengkolonialisasi Indonesia selama lebih dari 300 tahun lamanya.

Begitupula sekarang di zaman now dalam peradaban kapitalisme global saat ini, VOC gaya baru dalam wujud Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan-perusahaan multi nasional baik asing maupun aseng dengan modus yang sama yaitu dagang atau ekonomi.

Melalui jeratan globalisasi, investasi, hutang luar negeri dan TKA yang dilancarkan perusahaan multinasional dari negara asing dan aseng tersebut kepada Indonesia hanya akan makin mengokohkan cengkraman VOC gaya baru asing dan aseng tersebut terhadap ekonomi dan politik Indonesia.



Dan kini terbukti semakin nampak kian wajah asli politik jahat VOC gaya baru asing dan aseng tersebut kian dalam menguasai, mencengkram dan menjajah Indonesia secara sistemik selama puluhan tahun lebih.

Salah satu bukti, lihatlah bagaimana Freeport menguasai berton-ton tambang gunung emas di Papua selama lebih dari 30 tahun dan kini pun Freeport sukses pula mempecundangi negara dengan diperpanjangnya kontrak kerja Freeport oleh pemerintah RI hingga tahun 2040. [https://ekbis.sindonews.com/read/1234853/34/pemerintah-perpanjang-kontrak-freeport-hingga-2041-1503990393; https://mediaumat.news/media-umat-edisi-223-freeport-bohong-besar-rezim-jokowi/; https://mediaumat.news/media-umat-edisi-235-kedustaan-dan-kejahatan-di-balik-divestasi-freeport/].

Dan lihatlah pula lebih dari 86% Sumberdaya alam dan migas Indonesia dikuasai oleh perusahaan-perusahaan multi nasional asing dan aseng tersebut seperti Chevron, Exxon Mobile, Chell, Conoco Phillip, Total Oil, Newmont, perusahaan Cina, dan lain-lain [https://mediaumat.news/buletin-kaffah-islam-mengatur-pengelolaan-sumberdaya-alam/; https://www.kompasiana.com/mustanirinfo/5ad98827bde575133a3d5042/waspada-asing-mencengkeram-sumber-daya-alam-kita?page=2].


Indonesia pun diserbu oleh jutaan tenaga kerja asing dan aseng baik legal maupun ilegal via kerjasama totalitas pemerintah RI dengan Cina dan negara-negara ASEAN lewat CAFTA dan MEA yang notabene adalah bentuk liberalisasi ekonomi Indonesia di tengah masih banyaknya jutaan lebih rakyat Indonesia yang masih hidup miskin dan pengangguran. [https://www.kompasiana.com/amp/nuryatimasewe/aftamea_56bed660ad7e612707ff629c; https://www.cermati.com/artikel/seberapa-pentingkah-mea-itu-inilah-penjelasannya]; [https://economy.okezone.com/read/2018/05/07/320/1895378/3-fakta-di-balik-kerjasama-indonesia-china-dalam-belt-and-road-initiative; https://www.kompasiana.com/milisinasionalreturn/5c9350657a6d880fce0760b3/mahatir-jokowi-dan-jebakan-utang-cina]; [https://mediaumat.news/media-umat-edisi-158-bahaya-serbuan-tenaga-kerja-cina/]

Indonesia pun terjerat utang luar negeri hingga tembus lebih dari Rp5000 triliyun melalui jeratan utang yang dilancarkan oleh lembaga-lembaga rentenir raksasa seperti IMF, Bank Dunia dan Bank China. [https://m.liputan6.com/bisnis/read/4012823/utang-luar-negeri-indonesia-rp-5379-triliun-pada-akhir-mei-2019]

Diperparah pula dengan telah ditekennya 28 proyek OBOR (One Belt One Road) Cina yang diteken oleh pemerintah RI, justru ini hanyalah bunuh diri politik ekonomi dan kedaulatan dan hanya akan kian membakar secara sistematis dan totalitas wilayah dan kedaulatan hingga justru akan makin mengokohkan dan melanggengkan cengkraman gurita penjajahan kapitalisme global aseng di negeri ini hingga hanya akan berujung bakal membuat Indonesia menjadi Indocina seperti Singapura atau yang paling tragis seperti Uighur Turkistan Timur. [https://bisnis.tempo.co/read/1188812/proyek-one-belt-one-road-cina-di-indonesia-rp-1-288-t-apa-saja; https://mediaumat.news/tolak-proyek-obor-cina/]

Inilah ancaman nyata yang sesungguhnya bagi Indonesia yaitu neo imperialisme dan neo kolonialisme yang berwujud VOC gaya baru tersebut yakni kapitalisme global asing dan aseng, bukan Syariah dan Khilafah serta bukan pula HTI. Namun, Syariah dan Khilafah yang ditawarkan oleh HTI sesungguhnya adalah solusi real dari Islam untuk menyelamatkan Indonesia dari belenggu penjajahan VOC gaya baru kapitalisme global asing dan aseng tersebut.

Sekaligus Syariah dan Khilafah yang ditawarkan oleh HTI adalah solusi real mengenyahkan ancaman neo imperialisme dan neo kolonialisme kapitalisme global asing dan aseng tersebut dari bumi Nusantara Indonesia ini. Karena itu, selamatkan Indonesia hanya dengan Syariah dan Khilafah untuk Indonesia yang lebih baik penuh berkah. Mau..?!


Wujud Kemerdekaan Hakiki

Mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT, itulah misi utama Islam. Itu pula arti kemerdekaan hakiki. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya.

Terkait misi kemerdekaan Islam ini, Rasulullah Saw. pernah menulis surat kepada penduduk Najran. Di antara isinya berbunyi:

«... أَمّا بَعْدُ فَإِنّي أَدْعُوكُمْ إلَى عِبَادَةِ اللّهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ وَأَدْعُوكُمْ إلَى وِلاَيَةِ اللّهِ مِنْ وِلاَيَةِ الْعِبَادِ ...»

“...Amma badu. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)…” [Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, v/553].

Misi Islam mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk seluruh umat manusia itu juga terungkap kuat dalam dialog Jenderal Rustum (Persia) dengan Mughirah bin Syu’bah yang diutus oleh Panglima Sa’ad bin Abi Waqash ra. Pernyataan misi itu diulang lagi dalam dialog Jenderal Rustum dengan Rabi bin Amir (utusan Panglima Sa’ad bin Abi Waqash ra.). Ia diutus setelah Mughirah bin Syu’bah pada Perang Qadisiyah untuk membebaskan Persia. Jenderal Rustum bertanya kepada Rabi bin Amir, “Apa yang kalian bawa?” Rabi bin menjawab, “Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada sesama hamba (manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju kelapangannya; dan dari kezhaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam…” (Ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, II/401). [Buletin Kaffah No. 051-28 Dzulqa'dah 1439 H-10 Agustus 2018 M]

Jadi, bila penghambaan ditujukan selain kepada Allah SWT atau saat manusia terbelenggu dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia atau manusia benar-benar terbelenggu dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezhaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya serta terbelenggu oleh akidah kufur ataupun ideologi kufur dan sistem kufur maupun segala bentuk peraturan-peraturan kufur buatan manusia. Maka itu artinya hanyalah sebuah kemerdekaan semu bukan kemerdekaan hakiki atau masih terjajah secara hakiki dan sistemik.

Karena itulah, Allah SWT memerintahkan kita semua untuk menerapkan Syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Penerapan hukum syariah Islam itu menjadi bukti kebenaran dan kesempurnaan klaim keimanan dan penghambaan kita kepada Allah SWT.

Allah SWT pun berfirman:

إِيَّاكَ نَعبُدُ وَ إيَّاكَ نَستَعِينُ.

"Hanya kepada-Mu (ya Allah) kami menyembah dan hanya kepada-Mu pula (ya Allah) kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5)

فَلَا وَ رَبِّكَ لَا يُؤمِنُونَ حَتَّي يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَينَهُم ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي اَنفُسِهِم حَرَجًا مِّمَّا قَضَيتَ وَ يُسَلِّمُوا تَسلِيمًا.

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisaa': 65)


Oleh karena itulah, wujud hakiki kemerdekaan adalah penghambaan hanya kepada Allah SWT dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan bernegara.

Sedangkan Islam tidak mungkin bisa diterapkan secara kaffah dalam segala aspek kehidupan tanpa institusi politik Islam yang bernama Khilafah Islam, sehingga tanpa Khilafah Islam sang pelaksana dan penerap Islam secara kaffah (totalitas) maka tidak akan terwujud dan tidak akan tampak wujud hakiki kemerdekaan hakiki tersebut.

Maka, di sinilah pentingnya Khilafah Islam sebagai solusi real dari Islam untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki sekaligus menampakkan secara real wujud hakiki kemerdekaan tersebut dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan khususnya dalam kehidupan bernegara sehingga akan terwujud pula rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta.

Oleh karena itulah, Indonesia akan benar-benar merdeka secara hakiki hanya dengan solusi Islam, yaitu hanya dengan Syariah dan Khilafah untuk Indonesia yang merdeka secara hakiki dan lebih baik, penuh keadilan dan kesejahteraan yang penuh rahmah dan berkah dari Allah SWT Sang Penguasa dan Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan sekaligus Sang Pemilik bumi dan Pemilik Indonesia yang sesungguhnya. Wallahu a'lam bish shawab. []


#IjtimaUlama
#IkutUlama
#KhilafahWajib
#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAdalahSolusi

Sunday, August 11, 2019

Makna Hakiki Kurban



Oleh: Zakariya al-Bantany


Rasulullah ﷺ adalah sosok pribadi agung nan mulia yang telah banyak mengorbankan segala daya dan upaya dalam ketaatan secara totalitas kepada Allah SWT dan dalam mengemban risalah dakwah Islam ke segala penjuru dunia dan ke segenap alam semesta. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubat : 128)


Dalam menjelaskan ayat ini, Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an mengatakan, “Allah tidak mengatakan ‘rasul dari kalian’ tetapi mengatakan ‘dari kaummu sendiri’.

Ungkapan ini lebih sensitif, lebih dalam hubungannya dan lebih menunjukkan ikatan yang mengaitkan mereka. Karena beliau adalah bagian dari diri mereka, yang bersambung dengan mereka dengan hubungan jiwa dengan jiwa, sehingga hubungan ini lebih dalam dan lebih sensitif.”

Sudah maklum, selain Baginda Rasulullah ﷺ yang wajib kita amalkan seluruh ajarannya dan semua nasihatnya, ada sosok penting lain yang tak bisa dipisahkan dari momen ibadah haji dan kurban. Dialah Nabiyullah Ibrahim AS. Di dalam QS al-Shafat [37] ayat 102, Allah SWT mengisahkan bagaimana Ibrahim AS, dengan sepenuh keimanan, tanpa sedikitpun keraguan, menunaikan perintah Tuhannya: menyembelih putra tercintanya, Ismail AS. Demikianlah, kedua hamba Allah yang shalih itu tersungkur dalam kepasrahan. Berpadu dengan ketaatan dan kesabaran.

Kisah cinta yang amat romantis sekaligus dramatis ini selayaknya menjadi ibrah sepanjang zaman bagi umat Islam. Sebab bukankah Allah SWT pun telah berfirman:

لَنْ تَنَالُوْا الْبِرَّ حَتَى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ

"Sekali-kali kalian tidak akan sampai pada kebajikan sebelum kalian menginfakkan harta (di jalan Allah) yang paling kalian cintai." (QS Ali Imran [3]: 92)


Nabiyullah Ibrahim AS telah membuktikan hal itu. Bukan hanya harta, bahkan nyawa putra semata wayangnya —yang kepada dia tertumpah segenap cinta dan kasih sayangnya— ia persembahkan dengan penuh keyakinan kepada Allah, Zat Yang lebih ia cintai dari apapun.

Karena itu pada momen penting ibadah haji dan kurban tahun ini, selayaknya kita bisa mengambil ibrah dari keteladanan Nabiyullah Ibrahim AS; dari besarnya cinta, ketaatan dan pengorbanannya kepada Allah SWT. Cinta, ketaatan dan pengorbanan Ibrahim kepada Allah SWT ini kemudian diteruskan secara sempurna, bahkan dengan kadar yang istimewa, oleh Baginda Rasulullah ﷺ. Bukan hanya cinta dan taat, bahkan beliaupun siap mengorbankan segalanya, termasuk nyawa sekalipun, demi tegaknya agama Allah SWT ini.

‘Ala kulli hal. Inilah sesungguhnya esensi ibadah haji dan kurban. Kita diajari tentang cinta, ketaatan dan kepatuhan total kepada Allah SWT. Kita pun diajari tentang keharusan untuk berkorban —mengorbankan apa saja yang ada pada diri kita— semata-mata demi kemuliaan Islam dan kaum Muslim. [Buletin Kaffah_No. 052_05 Dzulhijjah 1439 H-17 Agustus 2018 M]

Karena itu dengan meneladani cinta, ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim AS dan Baginda Rasulullah ﷺ, mari kita songsong kembali masa depan cerah peradaban umat manusia di bawah naungan Islam. Tentu saat kita hidup dalam naungan sistem Islam yang paripurna yakni dalam bingkai Khilafah Rasyidah Islamiyah, di bawah ridha Allah SWT hingga Allah SWT pun berkenan curahkan rahmah dan berkah-Nya dari langit dan bumi kepada kita.

Maka, sebagai wujud keimanan, ketaatan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT marilah kita berkorban segenap jiwa dan raga kita dalam barisan umat Islam sedunia dalam medan dakwah perjuangan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah Islamiyah sang pelaksana Syariah dan pemersatu umat yang dijanjikan Allah SWT (Wa'dullah) dan diwajibkan oleh Allah (Fardhun minallah) serta kabar gembira dari Rasulullah ﷺ (Busyrah Rasulillah).

Itulah makna hakiki kurban tersebut. Allah SWT berfirman:

 إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An-Nuur: 51)

فَلَا وَ رَبِّكَ لَا يُؤمِنُونَ حَتَّي يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَينَهُم ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي اَنفُسِهِم حَرَجًا مِّمَّا قَضَيتَ وَ يُسَلِّمُوا تَسلِيمًا.

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisaa': 65)


إِيَّاكَ نَعبُدُ وَ إيَّاكَ نَستَعِينُ.

"Hanya kepada-Mu (ya Allah) kami menyembah dan hanya kepada-Mu pula (ya Allah) kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5)

Wallahu a'lam bish shawab. []


@Selamat Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1440 H/11 Agustus 2019.


#IjtimaUlama
#IkutUlama
#KhilafahWajib
#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAdalahSolusi
#KitaButuhKhilafah
 #IdulAdhaAlaNabi
#11IdulAdha
#MenujuKesatuanUmmat


Saturday, August 10, 2019

Wujud Kemerdekaan Hakiki



Oleh: Zakariya al-Bantany


Mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT, itulah misi utama Islam. Itu pula arti kemerdekaan hakiki. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezhaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya.

Terkait misi kemerdekaan Islam ini, Rasulullah ﷺ pernah menulis surat kepada penduduk Najran. Di antara isinya berbunyi:

«... أَمّا بَعْدُ فَإِنّي أَدْعُوكُمْ إلَى عِبَادَةِ اللّهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ وَأَدْعُوكُمْ إلَى وِلاَيَةِ اللّهِ مِنْ وِلاَيَةِ الْعِبَادِ  ...»

...Amma ba’du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)… [Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, v/553].

Misi Islam mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk seluruh umat manusia itu juga terungkap kuat dalam dialog Jenderal Rustum (Persia) dengan Mughirah bin Syu’bah yang diutus oleh Panglima Sa’ad bin Abi Waqash ra. Pernyataan misi itu diulang lagi dalam dialog Jenderal Rustum dengan Rabi bin Amir (utusan Panglima Sa’ad bin Abi Waqash ra.). Ia diutus setelah Mughirah bin Syu’bah pada Perang Qadisiyah untuk membebaskan Persia. Jenderal Rustum bertanya kepada Rabi bin Amir, “Apa yang kalian bawa?” Rabi bin menjawab, “Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada sesama hamba (manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju kelapangannya; dan dari kezaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam…” (Ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, II/401). [Buletin Kaffah No. 051-28 Dzulqa'dah 1439 H-10 Agustus 2018 M]

Jadi, bila penghambaan ditujukan selain kepada Allah SWT atau saat manusia terbelenggu segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia atau manusia benar-benar terbelenggu segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya serta terbelenggu akidah kufur ataupun ideologi kufur dan sistem kufur maupun segala bentuk peraturan-peraturan kufur buatan manusia maka itu artinya hanyalah sebuah kemerdekaan semu bukan kemerdekaan hakiki atau masih terjajah secara hakiki dan sistemik.

Karena itulah Allah SWT memerintahkan kita semua untuk menerapkan Syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Penerapan hukum syariah Islam itu menjadi bukti kebenaran dan kesempurnaan klaim keimanan dan penghambaan kita kepada Allah SWT.

Allah SWT pun berfirman:

إِيَّاكَ نَعبُدُ وَ إيَّاكَ نَستَعِينُ.

"Hanya kepada-Mu (ya Allah) kami menyembah dan hanya kepada-Mu pula (ya Allah) kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5)

فَلَا وَ رَبِّكَ لَا يُؤمِنُونَ حَتَّي يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَينَهُم ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي اَنفُسِهِم حَرَجًا مِّمَّا قَضَيتَ وَ يُسَلِّمُوا تَسلِيمًا.

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisaa': 65)


Oleh karena itulah, wujud hakiki kemerdekaan adalah penghambaan hanya kepada Allah SWT dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan bernegara.

Sedangkan Islam tidak mungkin bisa diterapkan secara kaffah dalam segala aspek kehidupan tanpa institusi politik Islam yang bernama Khilafah Islam, sehingga tanpa Khilafah Islam sang pelaksana dan penerap Islam secara kaffah maka tidak akan terwujud dan tidak akan tampak wujud hakiki kemerdekaan hakiki tersebut.

Maka, di sinilah pentingnya Khilafah Islam sebagai solusi real dari Islam untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki sekaligus menampakkan secara real wujud hakiki kemerdekaan tersebut dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan khususnya dalam kehidupan bernegara sehingga akan terwujud pula rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta.

Wallahu a'lam bish shawab. []


#IjtimaUlama
#IkutUlama
#KhilafahWajib
#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAdalahSolusi
#KhilafahSolusiIslamWujudkanKemerdekaanHakiki
#SelamatkanIndonesiaDenganSyariahDanKhilafah

Kriminalisasi Ulama Adalah Perang Kepada Allah



Oleh: Zakariya al-Bantany


Di tengah upaya kriminalisasi terminologi Khilafah dan persekusi terhadap para Ulama dan aktivis Islam yang mendakwahkannya, Ijtima Ulama IV menegaskan kembali kewajiban menegakkan Khilafah.

“Bahwa sesungguhnya semua Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah sepakat bahwa penerapan Syariah dan penegakan Khilafah serta amar makruf nahi mungkar adalah kewajiban agama Islam,” tegas Penanggung Jawab Ijtima Ulama IV Ustadz Yusuf Muhammad Martak membacakan Keputusan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional IV, Senin (5/8/2019) sore di Hotel Lor In, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Para Ulama juga dengan tegas menolak kapitalisme. “Menolak segala bentuk perwujudan tatanan ekonomi kapitalisme dan liberalisme di segala bidang termasuk penjualan aset negara kepada asing maupun aseng, dan memberikan kesempatan kepada semua pribumi tanpa memandang suku maupun agama untuk menjadi tuan di negeri sendiri,” ujarnya.

Selain itu, dalam acara yang berlangsung sejak pagi tersebut mengajak seluruh Ulama dan umat untuk terus berjuang melakukan pencegahan bangkit kembalinya komunisme.

“Mencegah bangkitnya ideologi marxisme, leninisme, komunisme, maoisme, dalam bentuk apapun dan cara bagaimanapun, sesuai amanat TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966, UU Nomor 77 Tahun 1999 junto KUHP Pasal 107a, 107b, 107c, 107d dan 107e,” pungkasnya. [https://mediaumat.news/ijtima-ulama-iv-tegaskan-khilafah-wajib-serta-tolak-kapitalisme-dan-komunisme/]

Alhamdulillah, ini menjadi bukti kuat telah terjadinya geliat kebangkitan Ulama, dan Ulama mulai kembali kepada fitrahnya sebagai Waratsatul Anbiyaa' sekaligus kembalinya Ulama kepada khiththah dakwahnya. Serta juga bentuk komitmen keseriusan para Ulama dalam memperjuangkan tegaknya Syariah dan Khilafah serta amar ma'ruf wa nahi munkar sebagai wujud tuntutan dan pelaksanaan kewajiban agama Islam, sekaligus bentuk komitmen para Ulama untuk tidak ikut larut dan tidak terjebak pada politik dagang sapi.

Namun, banyak pihak -dalam hal ini mereka yang dekat dengan kekuasaan sang rezim demokrasi petahana yang curang dan juga mereka para pemuja dan penikmat demokrasi yang berkepentingan rebutan dan bagi-bagi kue kekuasaan dalam rekonsiliasi MRT dan batu tulis serta politik nasi goreng pasca pilpres 2019 ini di atas tumbal nyawa 700 KPPS dan 9 warga sipil lebih korban berdarah pada aksi kedaulatan rakyat yang menolak pemilu curang pada tanggal 21, 22 dan 23 Mei yang lalu- justru merespon negatif hasil ijtima' Ulama jilid IV tersebut dengan mengkriminalisasi para Ulama tersebut dan mengkriminalisasi Khilafah ajaran Islam yang diserukan oleh para Ulama tersebut. Bahkan ada yang berani lancang melabeli para Ulama pendukung Khilafah sama dengan Ulama palsu serta antek jendral merah dan menyeru Kapolri untuk menangkap dan memenjarakan para Ulama pendukung Khilafah tersebut.

Padahal faktanya, Ulama palsu nan jahat yang sesungguhnya adalah mereka yang menjadi stempel penguasa dzhalim dan para penjajah kafir asing dan aseng dalam menolak, memusuhi, mengkriminalisasi dan memerangi Khilafah ajaran Islam tersebut beserta para pejuangnya. Sebaliknya Ulama sejati yang asli adalah mereka yang terdepan dalam mendukung, membela dan turut serta totalitas dalam perjuangan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah Islamiyah sang pelaksana Syariah dan pemersatu umat, itulah mereka Ulama sejati yang asli yaitu Ulama pewaris para Nabi.

Sungguh Ulama adalah pewaris para Nabi (Waratsatul Anbiyaa'). Ulama adalah mutiara terindah umat. Ulama adalah da'i-da'i pilihan Allah yang bertugas menyeru umat manusia untuk hanya beriman dan hanya menyembah Allah SWT semata serta menerapkan hukum-hukum Allah saja di muka bumi milik Allah ini.

Ulama adalah benteng terakhir Islam dan ujung tombak umat. Ulama adalah pemimpin dan pembina umat Islam. Ulama adalah pengayom umat Islam serta penjaga terakhir umat Islam dan risalah Islam. Serta Ulama adalah motor penggerak kebangkitan umat di tengah masyarakat dalam melawan kedzaliman dan kebatilan serta dalam melawan segala bentuk penjajahan dan juga dalam mewujudkan perubahan secara revolusioner yang hakiki di tengah masyarakat.

Siapapun yang menista dan memusuhi Ulama beserta risalah dakwah Islam yang diemban Ulama serta mengkriminalisasi Ulama beserta risalah dakwah Islam yang mereka emban khususnya risalah dakwah Syariah dan Khilafah serta amar ma'ruf wa nahi munkar yang notabene adalah ajaran Islam yang merupakan kewajiban agama Islam yang mereka serukan tersebut, maka sama saja dia telah memusuhi Allah SWT dan menantang perang dengan Allah.

Karena Ulama adalah kekasih Allah atau Wali Allah SWT Sang Maha Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Allah SWT mengumumkan perang kepada orang-orang yang memusuhi para Ulama yang menjadi kekasih (wali)-Nya. Allah SWT berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali Imran: 18)


Juga ditegaskan dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّ اللهَ قال : من عادَى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحربِ...

Sesungguhnya Allah berfirman: 'Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya...” (HR. al-Bukhari 5/2384, No. 6137)


Imam an-Nawawi Rahimahullah dalam “At-Tibyan fii Aadab Hamalah Al-Qur'an” menukil perkataan Imam Abu Hanifah dan Imam asy-Syaafi’i Rahimahumallah, “Jika Ulama bukan wali-wali Allah, maka tidak ada yang menjadi wali Allah.”

Makna ‘Aadaa (memusuhi) mencakup membenci, memusuhi, dan menyakiti dengan perkataan dan perbuatan. Masuk di dalamnya mengkriminalisasi Ulama. Siapa yang berani berbuat demikian, Allah maklumatkan kepadanya akan memeranginya. Kata Ibnu Taimiyah, “Siapa yang diperangi Allah, pasti Allah menghancurkannya.”

Al-Hafidz Abul Qasim Ibnu ‘Asakir Rahimahullah -Ulama besar abad 6 Hijriyah- menyatakan:

أن لحوم العلماء مسمومة

“Bahwasanya daging para Ulama itu beracun.” [Tabyin Kadzbil Muftari: 29]

Beliau menyebutkan kebiasaan yang sering terjadi dan sudah maklum bahwa orang-orang yang merendahkan (menghinakan) Ulama, maka Allah akan bongkar boroknya. Dan sesungguhnya siapa yang gemar memfitnah Ulama dengan lisannya maka Allah menghukumnya sebelum kematiannya dengan kematian hati.

Kemudian pengarang kitab tarikh “Tarikh Dimzyaq” itu menyitir firman Allah SWT:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63)


Sesungguhnya memusuhi Ulama (di antaranya dengan penistaan, fitnah dan kriminalisasi) itu berbeda dengan memusuhi selain mereka. Perbuatan tersebut secara tidak langsung memusuhi ilmu yang ada dalam dada mereka yang wajib diketahui umat sekaligus juga bentuk memusuhi risalah dakwah Islam yang diemban para Ulama.

Jika Ulama dinista, difitnah dan dikriminalisasi berakibat rusaknya reputasi mereka sehingga -dikhawatirkan- umat menolak ilmu yang mereka sampaikan dan umat akan membenci dan menjauhi risalah dakwah Islam yang diemban para Ulama. Ini tindakan yang membahayakan bagi keberlangsungan Islam dan umat Islam.

Oleh karena itu, bertaubat dan bertakwalah serta takutlah kepada Allah wahai manusia yang berakal. Bertaubat dan bertakwa serta takutlah kalian wahai orang-orang yang membenci, memusuhi, menyakiti, menista, memfitnah, dan mengkriminalisasi Ulama beserta risalah dakwah Islam yang mereka emban tersebut khususnya risalah dakwah Syariah dan Khilafah serta amar ma'ruf wa nahi munkar. Karena yang akan bangkit memusuhi dan memerangi kalian adalah Allah; Pencipta dan Penguasa alam semesta. Sungguh urat leher kalian dan nyawa kalian ada dalam genggaman erat Allah SWT.

Sungguh Allah SWT Maha Perkasa dan amatlah keras azab dan siksaan-Nya. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّ‍ذِينَ يَكْفُرُونَ بِئَايَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ {21} أُوْلاَئِكَ الَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَمَالَهُم مِّن نَّاصِرِينَ {22}

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi dengan tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka berilah mereka kabar gembira, bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong.” (QS. Ali Imran: 21-22)


Karena itu, wahai manusia yang berakal berhentilah kalian memusuhi, menista dan mengkriminalisasi Ulama para kekasih Allah (Waliyullah) beserta risalah dakwah Islam yang diemban para Ulama tersebut khususnya risalah dakwah Syariah dan Khilafah serta amar ma'ruf wa nahi munkar yang mereka serukan tersebut. Sebab, jika kalian teruskan kedzhaliman dan kebodohan kalian tersebut, itu hanya akan mengundang murka, laknat dan azab Allah bagi diri kalian dan keluarga kalian baik cepat ataupun lambat.

Belajarlah kalian dari kisah-kisah kaum terdahulu yang dilaknat, diazab dan dibinasakan oleh Allah SWT akibat mereka memusuhi dan memerangi para kekasih Allah atau Waliyullah (baik dari kalangan Nabi maupun para Ulama) beserta risalah dakwah mereka.

Tidakkah kalian ingat azab dahsyat dan kebinasaan yang menghinakan yang Allah timpakan kepada kaumnya Nabi Nuh AS, kaum Sodom, kaum Tsamud dan 'Ad, kaum Saba', kaum Sabath, Raja Namrud, Fir'aun, Qarun, “Raksasa” Jalut, Abu Jahal dan Abu Lahab, dan lain sebagainya. Akibat mereka memusuhi dan memerangi kekasih Allah (Waliyullah) dan risalah Agama-Nya.

Wahai manusia yang berakal sebelum Allah SWT mengutus utusan-Nya yaitu Malaikat Maut untuk menjemput kalian, maka camkanlah baik-baik firman Allah SWT ini:

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari Kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. Al-Baqarah: 212)


Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ . تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ . أَلَمْ تَكُنْ ءَايَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ . قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَآلِّينَ . رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ . قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلاَتُكَلِّمُونِ . إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ . فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّى أَنسَوْكُمْ ذِكْرِي وَكُنتُم مِّنْهُمْ تَضْحَكُونَ . إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَاصَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَآئِزُونَ

"Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya? Mereka berkata: “Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dzhalim.” Allah berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku. Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdo’a (di dunia): “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka, Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang." (QS. Al-Mu’minun: 103-111)


Berkaitan dengan tafsir ayat ini, Ibnu Katsir menyatakan: Kemudian Allah menyebutkan dosa mereka di dunia, yaitu mereka dahulu mengolok-olok hamba-hamba Allah yang beriman dan para wali-Nya. Allah mengatakan: “Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdo’a (di dunia): Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan,” yakni kalian malah mengolok-olok dan mengejek do’a dan permohonan mereka kepada-Ku. Sampai pada firman Allah “sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku,” yakni kebencian kalian kepada mereka membuat kalian lupa kepada-Ku. Firman Allah: “kamu selalu mentertawakan mereka,” yakni mentertawakan perbuatan dan amal ibadah mereka. [Silakan lihat Kitab Al-Mishbah Al-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir tulisan Shafiyurrahman Mubarakfuuri pada firman Allah surat Al-Mukminun ayat 110]

Dan takutlah kalian dengan doanya para Ulama dan doanya orang-orang yang terdzhalimi. Karena doanya para Ulama dan orang-orang yang terdzhalimi mampu menembus pintu langit dan niscaya dikabulkan oleh Allah SWT.

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahuanhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

اِتَّقِ دَعْوةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)." (HR. Muslim, kitab Iman 1/37-38)


Semoga Allah SWT menunjuki orang-orang yang dzhalim dan bodoh tersebut ke jalan yang benar. Jika orang-orang yang dzhalim dan bodoh tersebut tetap berpaling dari jalan Allah dan mereka tetap kepada kedzhaliman mereka dengan terus menista, menindas dan mengkriminalisasi para Ulama beserta risalah dakwah Islam yang diemban para Ulama khususnya perihal risalah dakwah Syariah dan Khilafah serta amar ma'ruf wa nahi munkar yang mereka serukan tersebut, maka semoga orang-orang yang dzhalim dan bodoh tersebut dilaknat penuh kehinaan dan diazab oleh Allah SWT di dunia maupun di akhirat.

Semoga Allah SWT menjaga dan menolong para Ulama dan risalah dakwah Islam yang mereka emban tersebut beserta umat Islam umatnya Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ ini. Dan semoga Allah SWT segera menurunkan pertolongan-Nya dengan memenangkan Islam dan umat Islam dengan tegaknya Syariah dan Khilafah -mahkota kewajiban (taajul furuudh) dan solusi Islam- yang diserukan oleh para Ulama Warasatul Anbiyaa' sejati tersebut. Aaamiin.

Wallahu a'lam bish shawab. []


#IjtimaUlama
#IkutUlama
#KhilafahWajib
#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAdalahSolusi

Wednesday, August 7, 2019

Hukum Laut Tumpah Ke Daratan



Oleh: Zakariya al-Bantany


Realitas carut marutnya -khususnya penegakkan hukum- pada zaman kita sekarang yang tengah terjadi di bumi pertiwi yang kita cintai ini, mengingatkan kenangan lama kita semasa kecil dahulu di kampung saat mendengarkan setiap ceramah agama dari guru kita yang tercinta Da'i Sejuta Umat Al-Ustadz KH. Zainuddin MZ (Almarhum) yang setiap sore jelang maghrib sering diputar di Radio. Di antara ceramah beliau, "Hukum Laut tumpah ke daratan, paus makan tongkol dan tongkol makan teri, lah teri makan apa..?!

Dan "hukum laut tumpah ke daratan" benar-benar sekarang terjadi di negeri kita ini yang katanya menjadikan hukum sebagai panglima. Tapi pada faktanya, sekarang justru hukum di negeri ini tidak lagi menjadi panglima, tapi justru yang jadi panglima sekarang adalah kekuasaan, kepentingan dan uang atau kekuatan modal. Sebaliknya hukum kini hanya menjadi alat kekuasaan dan alat kepentingan penguasa, pemilik modal dan para penjajah.

Hukum di negeri ini tidak lagi berpihak kepada kebenaran dan keadilan, tapi justru hukum di negeri ini sekarang lebih banyak berpihak kepada kekuasaan, kepentingan dan uang atau kekuatan modal para pemilik modal (kapitalis), penguasa dan para penjajah. Hukum telah diperjualbelikan dengan murah-meriahnya. Kebenaran dan keadilan sekarang telah menjadi hak paten milik penguasa dan pemodal (kapitalis) serta para penjajah, bukan lagi milik rakyat kecil yang tidak berdaya. Siapa yang berkuasa dan memiliki kekuatan modal (uang) yang besar nan raksasa, maka ia akan menjadi pemenangnya dengan menghalalkan segala cara termasuk melanggar konstitusi yang mereka buat sendiri pun bukanlah masalah, karena hukum sudah dibeli dan menjadi milik pribadi mereka serta hukum pun telah berada dalam genggaman erat mereka serta berada di bawah kaki mereka.

Dalam "hukum laut tumpah ke daratan" di negeri ini memiliki sebuah doktrin dan dogma permanen yaitu penguasa dan pemilik modal (kapitalis) serta para penjajah tidak pernah salah dan yang sudah pasti salah adalah rakyat kecil yang tidak berdaya. Tatkala rakyat kecil itu mencari dan menuntut keadilan, maka siap-siap rakyat kecil tidak berdaya itu pasti akan berhadapan dengan moncong senjata dan pedang penguasa serta siap-siap rakyat kecil tidak berdaya itu akan ditendang dengan kerasnya ke dalam belenggu jeruji penjara atau mati binasa karena kuasa sang penguasa yang berkolaborasi dengan para pemilik modal dan para penjajah.

Betapa banyaknya pengadilan di negeri ini, tapi betapa sangat sulitnya mencari keadilan sejati. Hukum di negeri ini benar-benar sudah laksana pisau yang hanya tajam ke bawah tapi hanya tumpul ke atas. Yang benar jadi salah, tapi yang salah jadi benar. Yang benar dipenjara dan dibinasakan, tapi yang salah dipelihara dan dibebaskan dengan merdekanya.

Parahnya, sekarang "hukum laut tumpah ke daratan" di negeri ini hanya semakin tajam ke Islam dan hanya tumpul ke kafir. Islam dan umat Islam serta para Ulamanya dikriminalisasi dan dibunuh karakternya sedimikian rupa demi memuaskan syahwat penguasa dan para pemilik modal (kapitalis) yang jumawa serta para penjajah yang terlaknat. Itulah realitas sistem hukum sekuler demokrasi yang sangat bobroknya pertanda matinya hukum dan keadilan di negeri Nusantara Zamrud Khatulistiwa, akibat hukum laut tumpah ke daratan yang disebabkan oleh gelombang tsunami kehidupan dari samudera dunia antah-berantah peradaban sampah kapitalisme global yang hina durja.

Semoga firman Allah SWT ini menjadi nasihat kita bersama:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 124)

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah: 50)

Jika bukan sistem hukum Islam dalam wujud solusi Syariah dan Khilafah untuk mengenyahkan "hukum laut tumpah ke daratan" tersebut serta dalam mewujudkan tegaknya kebenaran dan keadilan yang sejati di negeri ini dan di seluruh penjuru dunia maka apa solusi real-nya..?!

Wallahu a'lam bish shawab. []


#IslamSelamatkanNegeri
#SyariahDanKhilafahAdalahSolusi
#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah


Sunday, August 4, 2019

Ironi Negeri Zamrud Khatulistiwa



Oleh: Zakariya al-Bantany


Negeri Zamrud Khatulistiwa yang luasnya tiada tara laksana sebongkah tanah dari surga yang dijatuhkan oleh Sang Maha Pencipta lagi Maha Kuasa ke muka bumi dunia.

Kekayaan alamnya yang berlimpah ruah dan kekayaan hayatinya yang tak ternilai harganya laksana Oasis di tengah gurun pasir dan laksana sumber mata air yang mengalir tiada hentinya.

Hijau nian hutan belantaranya yang luas laksana paru-paru yang terisi penuh dengan oksigen kehidupan dunia.

Hingga dunia pun merasakan kesegarannya yang menentramkan jiwa dan kian membuat dunia pun makin hidup bergembira ria penuh makna.

Lautan samudera yang terbentang luas tiada tara yang dimilikinya kian membuat makin sempurna nan indahnya negeri Zamrud Khatulistiwa hingga dunia pun merasakan kesejukan dan kebahagiaannya.

Ribuan gugusan pulau-pulaunya yang terbentang luas laksana gugusan bintang-gemintang di angkasa raya semakin menambah keindahan dan keperkasaan negeri Zamrud Khatulistiwa.

Barisan ribuan perbukitan hijau dan gunung-gunung yang menjulang tinggi nan perkasa di angkasa semakin menambah kesuburan dan kesempurnaan negeri Zamrud Khatulistiwa.

Namun, ironisnya rakyat negeri Zamrud Khatulistiwa ini tiada merasakan keberkahan kekayaan alam negerinya yang melimpah ruah.

Tapi justru kekayaan alamnya hanya dikuasai dan dinikmati oleh segelintir pemilik kuasa dan segelintir pemilik kaya yang jumawa penuh tawa di atas derita dan genangan air mata dan genangan keringat dan darah rakyat jelata.

Kasihan rakyat negeri Zamrud Khatulistiwa ini sudahlah mereka tiada kuasa menikmati kekayaan alam negerinya yang melimpah ruah.

Kini sang rakyat jelata pun terus-menerus hidup termiskinkan penuh sengsara hingga dunia pun terasa menghimpit keras tubuhnya yang sudah lemah tiada daya dan tiada upaya.

Kasihan rakyat Negeri Zamrud Khatulistiwa ini sudahlah mereka hidup miskin nan papa tiada tara dan tiada kesudahan yang tak terkira dan tak terhingga.

Kini penguasanya pun tega nian khianati janji-janjinya dengan terus naikkan biaya hidupnya yang kian mencekik keras leher sang rakyat jelata hingga susah nian bernafasnya.

Kasihan rakyat negeri Zamrud Khatulistiwa ini sudahlah leher mereka tercekik keras oleh kian mahalnya biaya hidup sehari-hari mereka akibat kejamnya penguasa durjana.

Kini sang rakyat jelata pun disetrum dengan tegangan tinggi oleh sang penguasa yang tak punya hati nurani dan tiada belas kasihan padanya.

Hingga sang rakyat jelata negeri Zamrud Khatulistiwa ini pun hidupnya kian kritis antara hidup dan mati yang setiap saat menghantuinya.

Inilah Ironi negeri Zamrud Khatulistiwa yang katanya kaya raya nan berlimpah ruah keberkahannya yang tiada tara.

Namun ironis, rakyat pribuminya banyak yang miskin nan sengsara bahkan binasa bagaikan anak ayam yang mati di lumbung padi yang hijau raya.

Bahkan parahnya kini negeri Zamrud Khatulistiwa ini dirundung banyak terjadi bencana alam tiada tara hingga menjelma menjadi negeri seribu bencana hingga semakin mendera sang rakyat jelata hingga merintih kesakitan yang tak terkira.

Apa yang salah dari negeri Zamrud Khatulistiwa ini hingga rakyatnya sengsara dan menderita terperihkan yang tak terkira..?!

Apa dosa dan salah dari sang rakyat jelata hingga mereka terasa hidup bagaikan di neraka di negeri Zamrud Khatulistiwa yang katanya laksana surga..?!

Di manakah letak keberkahan dari negeri Zamrud Khatulistiwa ini yang katanya pula laksana sebongkah tanah surga yang dijatuhkan oleh Sang Maha Pencipta nan Maha Kuasa ke muka bumi dunia..?!

Apakah alam negeri Zamrud Khatulistiwa ini sudah tidak lagi bersahabat dengan sang rakyat jelata..?!

Ataukah justru Sang Maha Pencipta nan Maha Kuasa sudah menghukum tingkah laku manusia di dalam negeri Zamrud Khatulistiwa..?!

Ke manakah rakyat jelata harus bertanya untuk menyelamatkan kelangsungan dan keberkahan hidupnya di negeri Zamrud Khatulistiwa..?!

Apakah sang rakyat jelata harus datang dan bertanya kepada rumput yang bergoyang tatkala semilir angin meniupnya..?!

Lantas apa obat penawar untuk mengobati dan menyembuhkan serta membebaskan derita sang rakyat jelata dari belenggu penjara ironi negeri Zamrud Khatulistiwa..?!
Kalaulah obat penawarnya bukan Islam yakni bukan Syariah dan Khilafah dalam mengobati, menyembuhkan dan membebaskan ataupun menyelamatkan sang rakyat jelata dan negeri Zamrud Khatulistiwa itu lantas apa..?! []

#IslamSelamatkanNegeri
#SyariahDanKhilafahSolusinya
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAjaranIslam

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog