Monday, August 19, 2019

Sudahkah Indonesia Merdeka ?!



Oleh: Zakariya al-Bantany


Hari Sabtu tanggal 17 Agustus 2019 tepat dengan HUT RI yang ke-74 tahun sejak diproklamirkannya pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno Presiden RI yang pertama. Tidak terasa usia kemerdekaan Indonesia sudah genap 74 tahun lamanya. Di bulan Agustus ini begitu semaraknya perayaaan hari kemerdekaan RI dari awal bulan Agustus hingga tanggal 17 Agustus hari ini, bahkan terkadang semarak HUT RI pun selesai sampai akhir bulan Agustus nanti.

Sebagai bentuk perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, rakyat Indonesia pun dari Sabang hingga Merauke dengan semaraknya berlomba-lomba turut serta memeriahkan hari kemerdekaan dengan berbagai macam perlombaan, turnamen, tirakatan, mengibarkan bendera merah putih di sepanjang jalan, upacara bendera, parade kemerdekaan, nonton baren film napak tilas perjuangan kemerdekaan para Pahlawan kemerdekaan terdahulu, dan lain-lain.

Pertanyaannya, apakah benar Indonesia sudah merdeka..?!

Jika Indonesia sudah merdeka, lantas mengapa:







5. Pemerintah negeri ini justru memberikan izin pendirian gedung baru Kedubes AS di Jakarta, padahal gedung baru Kedubes AS tersebut hanya menjadi markas militer dan intelijen AS untuk mengokohkan hegemoni penjajahan kapitalisme AS di Indonesia [https://news.okezone.com/read/2019/03/19/18/2031994/diresmikan-hari-ini-gedung-baru-kedutaan-as-di-jakarta-jadi-salah-satu-yang-terbesar-di-dunia; https://nasional.kompas.com/read/2013/01/08/13223495/hti.minta.jokowi.tak.izinkan.pembangunan.kedubes.as];

6. Dan lain-lain..?!

Mengapa pula rakyat Indonesia tidak semarak tergerak hatinya untuk berlomba-lomba merebut kembali 80% lebih SDA dan mineralnya, 2/3 wilayahnya dan ratusan aset-aset penting negara yang dikuasai asing dan aseng tersebut serta merebut kembali gunung emas Papua yang dikuasai Freeport tersebut sekaligus merebut kembali tanah negara yang dikuasai oleh Kedubes AS yang telah mendirikan gedung baru kedubesnya tersebut sebagaimana semarak dan bersemangatnya rakyat Indonesia dalam berlomba-lomba memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia tersebut..?!

Ini bukti Indonesia belum merdeka secara hakiki. Indonesia hanya baru merdeka secara fisik dari penjajahan para penjajah baik VOC, Belanda, Portugis, Jepang dan lain-lain yang telah menjajah Indonesia baik puluhan tahun maupun sampai ratusan tahun. Namun, kini Indonesia terperangkap dalam belenggu penjajahan dan kolonialisme gaya baru yaitu penjajahan VOC gaya baru asing dan aseng.


VOC Gaya Baru Asing Dan Aseng

Dahulu kala di zaman old atau zaman tempo dulu dalam peradaban kolonialisme imperialisme gaya lama, VOC Belanda dahulu masuk ke bumi Nusantara Indonesia modusnya adalah dagang atau ekonomi. Namun, setelah VOC Belanda menguasai dan mencengkram kuat ekonomi Indonesia sepenuhnya maka VOC Belanda pun menampakkan wajah asli politiknya yang sangat jahat nan culas dengan menjajah dan mengkolonialisasi Indonesia selama lebih dari 300 tahun lamanya.

Begitupula sekarang di zaman now dalam peradaban kapitalisme global saat ini, VOC gaya baru dalam wujud Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan-perusahaan multi nasional baik asing maupun aseng dengan modus yang sama yaitu dagang atau ekonomi.

Melalui jeratan globalisasi, investasi, hutang luar negeri dan TKA yang dilancarkan perusahaan multinasional dari negara asing dan aseng tersebut kepada Indonesia hanya akan makin mengokohkan cengkraman VOC gaya baru asing dan aseng tersebut terhadap ekonomi dan politik Indonesia.



Dan kini terbukti semakin nampak kian wajah asli politik jahat VOC gaya baru asing dan aseng tersebut kian dalam menguasai, mencengkram dan menjajah Indonesia secara sistemik selama puluhan tahun lebih.

Salah satu bukti, lihatlah bagaimana Freeport menguasai berton-ton tambang gunung emas di Papua selama lebih dari 30 tahun dan kini pun Freeport sukses pula mempecundangi negara dengan diperpanjangnya kontrak kerja Freeport oleh pemerintah RI hingga tahun 2040. [https://ekbis.sindonews.com/read/1234853/34/pemerintah-perpanjang-kontrak-freeport-hingga-2041-1503990393; https://mediaumat.news/media-umat-edisi-223-freeport-bohong-besar-rezim-jokowi/; https://mediaumat.news/media-umat-edisi-235-kedustaan-dan-kejahatan-di-balik-divestasi-freeport/].

Dan lihatlah pula lebih dari 86% Sumberdaya alam dan migas Indonesia dikuasai oleh perusahaan-perusahaan multi nasional asing dan aseng tersebut seperti Chevron, Exxon Mobile, Chell, Conoco Phillip, Total Oil, Newmont, perusahaan Cina, dan lain-lain [https://mediaumat.news/buletin-kaffah-islam-mengatur-pengelolaan-sumberdaya-alam/; https://www.kompasiana.com/mustanirinfo/5ad98827bde575133a3d5042/waspada-asing-mencengkeram-sumber-daya-alam-kita?page=2].


Indonesia pun diserbu oleh jutaan tenaga kerja asing dan aseng baik legal maupun ilegal via kerjasama totalitas pemerintah RI dengan Cina dan negara-negara ASEAN lewat CAFTA dan MEA yang notabene adalah bentuk liberalisasi ekonomi Indonesia di tengah masih banyaknya jutaan lebih rakyat Indonesia yang masih hidup miskin dan pengangguran. [https://www.kompasiana.com/amp/nuryatimasewe/aftamea_56bed660ad7e612707ff629c; https://www.cermati.com/artikel/seberapa-pentingkah-mea-itu-inilah-penjelasannya]; [https://economy.okezone.com/read/2018/05/07/320/1895378/3-fakta-di-balik-kerjasama-indonesia-china-dalam-belt-and-road-initiative; https://www.kompasiana.com/milisinasionalreturn/5c9350657a6d880fce0760b3/mahatir-jokowi-dan-jebakan-utang-cina]; [https://mediaumat.news/media-umat-edisi-158-bahaya-serbuan-tenaga-kerja-cina/]

Indonesia pun terjerat utang luar negeri hingga tembus lebih dari Rp5000 triliyun melalui jeratan utang yang dilancarkan oleh lembaga-lembaga rentenir raksasa seperti IMF, Bank Dunia dan Bank China. [https://m.liputan6.com/bisnis/read/4012823/utang-luar-negeri-indonesia-rp-5379-triliun-pada-akhir-mei-2019]

Diperparah pula dengan telah ditekennya 28 proyek OBOR (One Belt One Road) Cina yang diteken oleh pemerintah RI, justru ini hanyalah bunuh diri politik ekonomi dan kedaulatan dan hanya akan kian membakar secara sistematis dan totalitas wilayah dan kedaulatan hingga justru akan makin mengokohkan dan melanggengkan cengkraman gurita penjajahan kapitalisme global aseng di negeri ini hingga hanya akan berujung bakal membuat Indonesia menjadi Indocina seperti Singapura atau yang paling tragis seperti Uighur Turkistan Timur. [https://bisnis.tempo.co/read/1188812/proyek-one-belt-one-road-cina-di-indonesia-rp-1-288-t-apa-saja; https://mediaumat.news/tolak-proyek-obor-cina/]

Inilah ancaman nyata yang sesungguhnya bagi Indonesia yaitu neo imperialisme dan neo kolonialisme yang berwujud VOC gaya baru tersebut yakni kapitalisme global asing dan aseng, bukan Syariah dan Khilafah serta bukan pula HTI. Namun, Syariah dan Khilafah yang ditawarkan oleh HTI sesungguhnya adalah solusi real dari Islam untuk menyelamatkan Indonesia dari belenggu penjajahan VOC gaya baru kapitalisme global asing dan aseng tersebut.

Sekaligus Syariah dan Khilafah yang ditawarkan oleh HTI adalah solusi real mengenyahkan ancaman neo imperialisme dan neo kolonialisme kapitalisme global asing dan aseng tersebut dari bumi Nusantara Indonesia ini. Karena itu, selamatkan Indonesia hanya dengan Syariah dan Khilafah untuk Indonesia yang lebih baik penuh berkah. Mau..?!


Wujud Kemerdekaan Hakiki

Mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT, itulah misi utama Islam. Itu pula arti kemerdekaan hakiki. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya.

Terkait misi kemerdekaan Islam ini, Rasulullah Saw. pernah menulis surat kepada penduduk Najran. Di antara isinya berbunyi:

«... أَمّا بَعْدُ فَإِنّي أَدْعُوكُمْ إلَى عِبَادَةِ اللّهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ وَأَدْعُوكُمْ إلَى وِلاَيَةِ اللّهِ مِنْ وِلاَيَةِ الْعِبَادِ ...»

“...Amma badu. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)…” [Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, v/553].

Misi Islam mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk seluruh umat manusia itu juga terungkap kuat dalam dialog Jenderal Rustum (Persia) dengan Mughirah bin Syu’bah yang diutus oleh Panglima Sa’ad bin Abi Waqash ra. Pernyataan misi itu diulang lagi dalam dialog Jenderal Rustum dengan Rabi bin Amir (utusan Panglima Sa’ad bin Abi Waqash ra.). Ia diutus setelah Mughirah bin Syu’bah pada Perang Qadisiyah untuk membebaskan Persia. Jenderal Rustum bertanya kepada Rabi bin Amir, “Apa yang kalian bawa?” Rabi bin menjawab, “Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada sesama hamba (manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju kelapangannya; dan dari kezhaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam…” (Ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, II/401). [Buletin Kaffah No. 051-28 Dzulqa'dah 1439 H-10 Agustus 2018 M]

Jadi, bila penghambaan ditujukan selain kepada Allah SWT atau saat manusia terbelenggu dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia atau manusia benar-benar terbelenggu dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezhaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya serta terbelenggu oleh akidah kufur ataupun ideologi kufur dan sistem kufur maupun segala bentuk peraturan-peraturan kufur buatan manusia. Maka itu artinya hanyalah sebuah kemerdekaan semu bukan kemerdekaan hakiki atau masih terjajah secara hakiki dan sistemik.

Karena itulah, Allah SWT memerintahkan kita semua untuk menerapkan Syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Penerapan hukum syariah Islam itu menjadi bukti kebenaran dan kesempurnaan klaim keimanan dan penghambaan kita kepada Allah SWT.

Allah SWT pun berfirman:

إِيَّاكَ نَعبُدُ وَ إيَّاكَ نَستَعِينُ.

"Hanya kepada-Mu (ya Allah) kami menyembah dan hanya kepada-Mu pula (ya Allah) kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5)

فَلَا وَ رَبِّكَ لَا يُؤمِنُونَ حَتَّي يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَينَهُم ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي اَنفُسِهِم حَرَجًا مِّمَّا قَضَيتَ وَ يُسَلِّمُوا تَسلِيمًا.

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisaa': 65)


Oleh karena itulah, wujud hakiki kemerdekaan adalah penghambaan hanya kepada Allah SWT dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan bernegara.

Sedangkan Islam tidak mungkin bisa diterapkan secara kaffah dalam segala aspek kehidupan tanpa institusi politik Islam yang bernama Khilafah Islam, sehingga tanpa Khilafah Islam sang pelaksana dan penerap Islam secara kaffah (totalitas) maka tidak akan terwujud dan tidak akan tampak wujud hakiki kemerdekaan hakiki tersebut.

Maka, di sinilah pentingnya Khilafah Islam sebagai solusi real dari Islam untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki sekaligus menampakkan secara real wujud hakiki kemerdekaan tersebut dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan khususnya dalam kehidupan bernegara sehingga akan terwujud pula rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta.

Oleh karena itulah, Indonesia akan benar-benar merdeka secara hakiki hanya dengan solusi Islam, yaitu hanya dengan Syariah dan Khilafah untuk Indonesia yang merdeka secara hakiki dan lebih baik, penuh keadilan dan kesejahteraan yang penuh rahmah dan berkah dari Allah SWT Sang Penguasa dan Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan sekaligus Sang Pemilik bumi dan Pemilik Indonesia yang sesungguhnya. Wallahu a'lam bish shawab. []


#IjtimaUlama
#IkutUlama
#KhilafahWajib
#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAdalahSolusi

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog