Saturday, August 10, 2019

Kriminalisasi Ulama Adalah Perang Kepada Allah



Oleh: Zakariya al-Bantany


Di tengah upaya kriminalisasi terminologi Khilafah dan persekusi terhadap para Ulama dan aktivis Islam yang mendakwahkannya, Ijtima Ulama IV menegaskan kembali kewajiban menegakkan Khilafah.

“Bahwa sesungguhnya semua Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah sepakat bahwa penerapan Syariah dan penegakan Khilafah serta amar makruf nahi mungkar adalah kewajiban agama Islam,” tegas Penanggung Jawab Ijtima Ulama IV Ustadz Yusuf Muhammad Martak membacakan Keputusan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional IV, Senin (5/8/2019) sore di Hotel Lor In, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Para Ulama juga dengan tegas menolak kapitalisme. “Menolak segala bentuk perwujudan tatanan ekonomi kapitalisme dan liberalisme di segala bidang termasuk penjualan aset negara kepada asing maupun aseng, dan memberikan kesempatan kepada semua pribumi tanpa memandang suku maupun agama untuk menjadi tuan di negeri sendiri,” ujarnya.

Selain itu, dalam acara yang berlangsung sejak pagi tersebut mengajak seluruh Ulama dan umat untuk terus berjuang melakukan pencegahan bangkit kembalinya komunisme.

“Mencegah bangkitnya ideologi marxisme, leninisme, komunisme, maoisme, dalam bentuk apapun dan cara bagaimanapun, sesuai amanat TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966, UU Nomor 77 Tahun 1999 junto KUHP Pasal 107a, 107b, 107c, 107d dan 107e,” pungkasnya. [https://mediaumat.news/ijtima-ulama-iv-tegaskan-khilafah-wajib-serta-tolak-kapitalisme-dan-komunisme/]

Alhamdulillah, ini menjadi bukti kuat telah terjadinya geliat kebangkitan Ulama, dan Ulama mulai kembali kepada fitrahnya sebagai Waratsatul Anbiyaa' sekaligus kembalinya Ulama kepada khiththah dakwahnya. Serta juga bentuk komitmen keseriusan para Ulama dalam memperjuangkan tegaknya Syariah dan Khilafah serta amar ma'ruf wa nahi munkar sebagai wujud tuntutan dan pelaksanaan kewajiban agama Islam, sekaligus bentuk komitmen para Ulama untuk tidak ikut larut dan tidak terjebak pada politik dagang sapi.

Namun, banyak pihak -dalam hal ini mereka yang dekat dengan kekuasaan sang rezim demokrasi petahana yang curang dan juga mereka para pemuja dan penikmat demokrasi yang berkepentingan rebutan dan bagi-bagi kue kekuasaan dalam rekonsiliasi MRT dan batu tulis serta politik nasi goreng pasca pilpres 2019 ini di atas tumbal nyawa 700 KPPS dan 9 warga sipil lebih korban berdarah pada aksi kedaulatan rakyat yang menolak pemilu curang pada tanggal 21, 22 dan 23 Mei yang lalu- justru merespon negatif hasil ijtima' Ulama jilid IV tersebut dengan mengkriminalisasi para Ulama tersebut dan mengkriminalisasi Khilafah ajaran Islam yang diserukan oleh para Ulama tersebut. Bahkan ada yang berani lancang melabeli para Ulama pendukung Khilafah sama dengan Ulama palsu serta antek jendral merah dan menyeru Kapolri untuk menangkap dan memenjarakan para Ulama pendukung Khilafah tersebut.

Padahal faktanya, Ulama palsu nan jahat yang sesungguhnya adalah mereka yang menjadi stempel penguasa dzhalim dan para penjajah kafir asing dan aseng dalam menolak, memusuhi, mengkriminalisasi dan memerangi Khilafah ajaran Islam tersebut beserta para pejuangnya. Sebaliknya Ulama sejati yang asli adalah mereka yang terdepan dalam mendukung, membela dan turut serta totalitas dalam perjuangan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah Islamiyah sang pelaksana Syariah dan pemersatu umat, itulah mereka Ulama sejati yang asli yaitu Ulama pewaris para Nabi.

Sungguh Ulama adalah pewaris para Nabi (Waratsatul Anbiyaa'). Ulama adalah mutiara terindah umat. Ulama adalah da'i-da'i pilihan Allah yang bertugas menyeru umat manusia untuk hanya beriman dan hanya menyembah Allah SWT semata serta menerapkan hukum-hukum Allah saja di muka bumi milik Allah ini.

Ulama adalah benteng terakhir Islam dan ujung tombak umat. Ulama adalah pemimpin dan pembina umat Islam. Ulama adalah pengayom umat Islam serta penjaga terakhir umat Islam dan risalah Islam. Serta Ulama adalah motor penggerak kebangkitan umat di tengah masyarakat dalam melawan kedzaliman dan kebatilan serta dalam melawan segala bentuk penjajahan dan juga dalam mewujudkan perubahan secara revolusioner yang hakiki di tengah masyarakat.

Siapapun yang menista dan memusuhi Ulama beserta risalah dakwah Islam yang diemban Ulama serta mengkriminalisasi Ulama beserta risalah dakwah Islam yang mereka emban khususnya risalah dakwah Syariah dan Khilafah serta amar ma'ruf wa nahi munkar yang notabene adalah ajaran Islam yang merupakan kewajiban agama Islam yang mereka serukan tersebut, maka sama saja dia telah memusuhi Allah SWT dan menantang perang dengan Allah.

Karena Ulama adalah kekasih Allah atau Wali Allah SWT Sang Maha Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Allah SWT mengumumkan perang kepada orang-orang yang memusuhi para Ulama yang menjadi kekasih (wali)-Nya. Allah SWT berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali Imran: 18)


Juga ditegaskan dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّ اللهَ قال : من عادَى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحربِ...

Sesungguhnya Allah berfirman: 'Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya...” (HR. al-Bukhari 5/2384, No. 6137)


Imam an-Nawawi Rahimahullah dalam “At-Tibyan fii Aadab Hamalah Al-Qur'an” menukil perkataan Imam Abu Hanifah dan Imam asy-Syaafi’i Rahimahumallah, “Jika Ulama bukan wali-wali Allah, maka tidak ada yang menjadi wali Allah.”

Makna ‘Aadaa (memusuhi) mencakup membenci, memusuhi, dan menyakiti dengan perkataan dan perbuatan. Masuk di dalamnya mengkriminalisasi Ulama. Siapa yang berani berbuat demikian, Allah maklumatkan kepadanya akan memeranginya. Kata Ibnu Taimiyah, “Siapa yang diperangi Allah, pasti Allah menghancurkannya.”

Al-Hafidz Abul Qasim Ibnu ‘Asakir Rahimahullah -Ulama besar abad 6 Hijriyah- menyatakan:

أن لحوم العلماء مسمومة

“Bahwasanya daging para Ulama itu beracun.” [Tabyin Kadzbil Muftari: 29]

Beliau menyebutkan kebiasaan yang sering terjadi dan sudah maklum bahwa orang-orang yang merendahkan (menghinakan) Ulama, maka Allah akan bongkar boroknya. Dan sesungguhnya siapa yang gemar memfitnah Ulama dengan lisannya maka Allah menghukumnya sebelum kematiannya dengan kematian hati.

Kemudian pengarang kitab tarikh “Tarikh Dimzyaq” itu menyitir firman Allah SWT:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63)


Sesungguhnya memusuhi Ulama (di antaranya dengan penistaan, fitnah dan kriminalisasi) itu berbeda dengan memusuhi selain mereka. Perbuatan tersebut secara tidak langsung memusuhi ilmu yang ada dalam dada mereka yang wajib diketahui umat sekaligus juga bentuk memusuhi risalah dakwah Islam yang diemban para Ulama.

Jika Ulama dinista, difitnah dan dikriminalisasi berakibat rusaknya reputasi mereka sehingga -dikhawatirkan- umat menolak ilmu yang mereka sampaikan dan umat akan membenci dan menjauhi risalah dakwah Islam yang diemban para Ulama. Ini tindakan yang membahayakan bagi keberlangsungan Islam dan umat Islam.

Oleh karena itu, bertaubat dan bertakwalah serta takutlah kepada Allah wahai manusia yang berakal. Bertaubat dan bertakwa serta takutlah kalian wahai orang-orang yang membenci, memusuhi, menyakiti, menista, memfitnah, dan mengkriminalisasi Ulama beserta risalah dakwah Islam yang mereka emban tersebut khususnya risalah dakwah Syariah dan Khilafah serta amar ma'ruf wa nahi munkar. Karena yang akan bangkit memusuhi dan memerangi kalian adalah Allah; Pencipta dan Penguasa alam semesta. Sungguh urat leher kalian dan nyawa kalian ada dalam genggaman erat Allah SWT.

Sungguh Allah SWT Maha Perkasa dan amatlah keras azab dan siksaan-Nya. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّ‍ذِينَ يَكْفُرُونَ بِئَايَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ {21} أُوْلاَئِكَ الَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَمَالَهُم مِّن نَّاصِرِينَ {22}

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi dengan tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka berilah mereka kabar gembira, bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong.” (QS. Ali Imran: 21-22)


Karena itu, wahai manusia yang berakal berhentilah kalian memusuhi, menista dan mengkriminalisasi Ulama para kekasih Allah (Waliyullah) beserta risalah dakwah Islam yang diemban para Ulama tersebut khususnya risalah dakwah Syariah dan Khilafah serta amar ma'ruf wa nahi munkar yang mereka serukan tersebut. Sebab, jika kalian teruskan kedzhaliman dan kebodohan kalian tersebut, itu hanya akan mengundang murka, laknat dan azab Allah bagi diri kalian dan keluarga kalian baik cepat ataupun lambat.

Belajarlah kalian dari kisah-kisah kaum terdahulu yang dilaknat, diazab dan dibinasakan oleh Allah SWT akibat mereka memusuhi dan memerangi para kekasih Allah atau Waliyullah (baik dari kalangan Nabi maupun para Ulama) beserta risalah dakwah mereka.

Tidakkah kalian ingat azab dahsyat dan kebinasaan yang menghinakan yang Allah timpakan kepada kaumnya Nabi Nuh AS, kaum Sodom, kaum Tsamud dan 'Ad, kaum Saba', kaum Sabath, Raja Namrud, Fir'aun, Qarun, “Raksasa” Jalut, Abu Jahal dan Abu Lahab, dan lain sebagainya. Akibat mereka memusuhi dan memerangi kekasih Allah (Waliyullah) dan risalah Agama-Nya.

Wahai manusia yang berakal sebelum Allah SWT mengutus utusan-Nya yaitu Malaikat Maut untuk menjemput kalian, maka camkanlah baik-baik firman Allah SWT ini:

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari Kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. Al-Baqarah: 212)


Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ . تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ . أَلَمْ تَكُنْ ءَايَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ . قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَآلِّينَ . رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ . قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلاَتُكَلِّمُونِ . إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ . فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّى أَنسَوْكُمْ ذِكْرِي وَكُنتُم مِّنْهُمْ تَضْحَكُونَ . إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَاصَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَآئِزُونَ

"Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya? Mereka berkata: “Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dzhalim.” Allah berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku. Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdo’a (di dunia): “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka, Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang." (QS. Al-Mu’minun: 103-111)


Berkaitan dengan tafsir ayat ini, Ibnu Katsir menyatakan: Kemudian Allah menyebutkan dosa mereka di dunia, yaitu mereka dahulu mengolok-olok hamba-hamba Allah yang beriman dan para wali-Nya. Allah mengatakan: “Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdo’a (di dunia): Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan,” yakni kalian malah mengolok-olok dan mengejek do’a dan permohonan mereka kepada-Ku. Sampai pada firman Allah “sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku,” yakni kebencian kalian kepada mereka membuat kalian lupa kepada-Ku. Firman Allah: “kamu selalu mentertawakan mereka,” yakni mentertawakan perbuatan dan amal ibadah mereka. [Silakan lihat Kitab Al-Mishbah Al-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir tulisan Shafiyurrahman Mubarakfuuri pada firman Allah surat Al-Mukminun ayat 110]

Dan takutlah kalian dengan doanya para Ulama dan doanya orang-orang yang terdzhalimi. Karena doanya para Ulama dan orang-orang yang terdzhalimi mampu menembus pintu langit dan niscaya dikabulkan oleh Allah SWT.

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahuanhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

اِتَّقِ دَعْوةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)." (HR. Muslim, kitab Iman 1/37-38)


Semoga Allah SWT menunjuki orang-orang yang dzhalim dan bodoh tersebut ke jalan yang benar. Jika orang-orang yang dzhalim dan bodoh tersebut tetap berpaling dari jalan Allah dan mereka tetap kepada kedzhaliman mereka dengan terus menista, menindas dan mengkriminalisasi para Ulama beserta risalah dakwah Islam yang diemban para Ulama khususnya perihal risalah dakwah Syariah dan Khilafah serta amar ma'ruf wa nahi munkar yang mereka serukan tersebut, maka semoga orang-orang yang dzhalim dan bodoh tersebut dilaknat penuh kehinaan dan diazab oleh Allah SWT di dunia maupun di akhirat.

Semoga Allah SWT menjaga dan menolong para Ulama dan risalah dakwah Islam yang mereka emban tersebut beserta umat Islam umatnya Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ ini. Dan semoga Allah SWT segera menurunkan pertolongan-Nya dengan memenangkan Islam dan umat Islam dengan tegaknya Syariah dan Khilafah -mahkota kewajiban (taajul furuudh) dan solusi Islam- yang diserukan oleh para Ulama Warasatul Anbiyaa' sejati tersebut. Aaamiin.

Wallahu a'lam bish shawab. []


#IjtimaUlama
#IkutUlama
#KhilafahWajib
#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAdalahSolusi

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog