Saturday, July 27, 2019

LGBT Adalah Perang Proxy Ala Kapitalisme Global



Oleh: Zakariya al-Bantany

Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) jadi ancaman serius. Di seluruh Indonesia, sesuai data Kemenkes pada 2012, ada 1.095.970 pria yang hidup dengan perilaku seks sesama pria. Kini, populasi kaum gay diperkirakan tiga persen dari total populasi atau sekitar 7.000.000 orang. Belum lagi dengan lesbian. Bagaimana mencegah penularan LGBT sejak dalam keluarga?

Selain dilarang agama, perilaku seks sesama lelaki memiliki faktor risiko 44 kali lipat terinfeksi HIV karena berhubungan anal. Sedangkan berdasarkan penelitian di Asia, prevalensi HIV dari hubungan sesama jenis sekitar 18,7 kali lebih tinggi daripada seks normal antara pria dan wanita.

Sementara itu, menjamurnya LGBT juga akan menjadi penghambat bonus demografi yang akan dihadapi negeri ini pada 2030. Karena LGBT menjadi ancaman buat ketahanan nasional karena tidak akan bisa membuat negeri ini menjadi produktif di masa mendatang. [https://indopos.co.id/read/2018/03/19/131524/waspada-virus-lgbt-yang-terus-mencari-korban]


Kini, sangat mengejutkan jumlah populasi LGBT terbanyak ada di Sumatera Barat se-Indonesia. Angka LGBT di Sumatera Barat mencapai 18.000 orang. Wakil Gubenur Sumatera Barat Nasrul Abit mengatakan, jumlah lesbian gay biseksual dan transgender (LGBT) di Sumbar terbanyak se-Indonesia.

Berdasarkan data hasil tim konselor penelitian perkembangan penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), angka LGBT di Sumbar tercatat sebanyak 18.000 orang. [https://www.google.com/amp/s/m.tribunnews.com/amp/kesehatan/2019/05/07/populasi-pelaku-lgbt-terbanyak-berada-di-sumatera-Barat#ampshare=https://www.tribunnews.com/kesehatan/2019/05/07/populasi-pelaku-lgbt-terbanyak-berada-di-sumatera-Barat]


Sekretaris Utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Nofrijal mengatakan Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) merupakan musuh utama pembangunan. Atas alasan itu, BKKBN mengajak setiap kepala daerah untuk memeranginya. "Penyimpangan seksual tersebut selain melanggar aturan agama juga melemahkan kita dalam menyongsong bonus demografi," kata Nofrijal mengutip Antara, Senin (3/6).

Ia menambahkan perlu komitmen yang kuat dari setiap kepala daerah untuk memeranginya. LGBT dinilai pria tersebut merupakan penyakit yang harus disembuhkan dengan cara yang tepat dan berkelanjutan. Ia mengklaim persentase penderita LGBT di Sumatera Barat (Sumbar) cukup tinggi sehingga harus menjadi perhatian bersama baik dari pemerintah, masyarakat, lingkungan dan keluarga.


Dan pada tahun 2018, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Tengah (Jateng) memperkirakan sekitar 27.000 pelajar di Jateng terindikasi mengidap HIV/AIDS. Sebagian besar pelajar terkena virus HIV/AIDS karena melakukan hubungan seks sejenis atau laki seks laki (LSL).

Hal itu diungkapkan Sekretaris KPA Jateng, Zainal Arifin, saat dijumpai Semarangpos.com di kantornya, Jl. Tumpang Raya No.84, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Kamis (29/11/2018). [https://www.google.com/amp/s/m.solopos.com/semarang/read/20181129/515/955930/duh-27000-pelajar-di-jateng-terindikasi-hivaids-ini-penyebabnya/amp#ampshare=https://semarang.solopos.com/read/20181129/515/955930/duh-27000-pelajar-di-jateng-terindikasi-hivaids-ini-penyebabnya]


Sedangkan pada tahun 2019, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa prihatin mendengar kabar yang menyebut ratusan pelajar di Tulungagung memiliki perilaku seks menyimpang. Sebagaimana dirilis oleh KPA Tulungagung, ada ratusan pelajar di Tulungagung yang memiliki perilaku seks menyimpang penyuka sesama jenis. Angkanya ratusan orang dan sebagian besar masuk kategori pelajar. Atas temuan itu, Khofifah segera melakukan koordinasi dengan sejumlah tokoh di Tulungagung dan menkroscek kebenarannya. "Ternyata mereka menyampaikan mereka sudah mendengar ada indikasi begitu," kata Khofifah, Selasa (23/7/2019). [https://www.google.com/amp/s/m.tribunnews.com/amp/regional/2019/07/24/ratusan-pelajar-di-tulungagung-berperilaku-homoseks-hingga-gubernur-melakukan-hal-ini#ampshare=https://www.tribunnews.com/regional/2019/07/24/ratusan-pelajar-di-tulungagung-berperilaku-homoseks-hingga-gubernur-melakukan-hal-ini]


Namun, justru sikap negara ini dan pemerintah tidak tegas menindak pelaku bejat amoral LGBT tersebut bahkan cenderung melindungi LGBT atas dasar HAM dan juga putusan MK beberapa tahun yang lalu.

Pasca Mahkamah Konstitusi (MK) tolak kriminalisasi LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) dan hubungan di luar nikah alias kumpul kebo. Di mana Mahkamah Konstitusi memutuskan menolak permohonan memperluas pasal perzinahan di KUHP. Putusan MK dihasilkan lewat 'dissenting opinion' dengan komposisi 5:4.

"Amar putusan mengadili menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya," kata Ketua MK, Arief Hidayat di persidangan , Kamis (14/2), seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Tito Sianipar. Dalam putusan yang dibacakan Kamis (14/12), dinyatakan bahwa Mahkamah Konstitusi tidak memiliki kewenangan untuk membuat aturan baru.

Mahkamah juga menyatakan bahwa pasal-pasal KUHP yang dimohonkan untuk diuji-materi, tidak bertentangan dengan konsitusi. [Bbc.com, 14/12/2017]


Berdasarkan keputusan MK tersebut artinya dapat kita pahami bahwasanya LGBT dan kumpul kebo atau zina di negara Pancasila ini hukumnya boleh alias legal sekalipun bertentangan dengan norma sosial dan hukum agama yang ada di negara demokrasi ini yang katanya Pancasila dan NKRI harga mati dan segala-galanya.

Inilah wajah asli negara demokrasi yang menghalalkan dan melegalkan perbuatan bejat amoral yang sangat menjijikkan dan sangat nista sekalipun ditentang oleh mayoritas rakyatnya yang beragama dan berketuhanan yang Maha Esa khususnya mayoritas umat Islam.

Demokrasi-kapitalisme-sekulerisme-lah biang masalah yang telah melahirkan, menyuburkan dan melegalkan LGBT dan kumpul kebo atas nama HAM. Selama demokrasi, kapitalisme, sekulerisme tetap diadopsi dan diterapkan oleh rezim ruwaibidhah di negeri ini, maka selama itulah LGBT dan kumpul kebo akan terus tumbuh subur seperti tumbuh suburnya jamur di musim penghujan, bahkan LGBT dan kumpul kebo hanya akan kian menjadi gerakan politik sistematis dan massif yang hanya akan kian melemahkan dan menghancurkan negeri berkeping-keping.

LGBT dan kumpul kebo -yang jelas-jelas merupakan perbuatan menyimpang, amoral dan kriminal serta bertentangan dengan fitrah manusia, norma sosial, dan hukum agama (khususnya bertentangan dengan hukum Islam) dan hanya memecah-belah dan merusak masyarakat- justru oleh rezim ruwaibidhah produk busuk demokrasi dibela, dilindungi dan dibolehkan alias dilegalkan atas nama HAM dan demokrasi. Sebaliknya ajaran Islam tentang Syariah, Khilafah, Dakwah dan Jihad justru dikriminalisasi, diterorisasi dan di-radikalisasi, bahkan para aktivis dakwah serta para Ulama pun dikriminalisasi dan dipersekusi tanpa henti.

Sedangkan, HAM sendiri yang merupakan pilar utama dari demokrasi -yang lahir dari rahim kotor nan najis ideologi iblis dajjal kapitalisme sekulerisme- sejatinya adalah alat penjajahan kapitalisme global Barat dan Timur dalam mengokohkan dan melanggengkan hegemoni penjajahan kapitalisme global Barat (asing) dan Timur (aseng) di dunia khususnya di dunia Islam.

LGBT dan kumpul kebo sejatinya pun adalah proyek besar kapitalisme global dalam melanggengkan hegemoni penjajahannya di seluruh dunia khususnya negara-negara yang berkembang dan di negeri-negeri Islam. Sekaligus skenario sistematis dalam membendung kebangkitan Islam dan menghancurkan Islam dan umat Islam serta merusak tatanan kehidupan umat manusia serta masyarakat secara luas khususnya dalam merusak dan menghancurkan institusi keluarga dan pernikahan serta nasab keturunan. Sekaligus pula menyuburkan virus HIV-AIDS dan berbagai penyakit kelamin yang menjadi proyek politik dan ekonomi kapitalisme global Barat (asing) dan Timur (aseng).

Proyek LGBT dan kumpul kebo ini pun juga dijadikan oleh kafir penjajah Barat dan Timur sebagai operasi perang pemikiran gaya baru dan operasi perang asimetris atau proxy war (perang boneka) untuk menghancurkan pola pikir dan pola hidup umat Islam serta sebagai senjata pemusnah massal dalam menghabisi dan mengurangi populasi umat manusia khususnya populasi umat Islam untuk mewujudkan tatanan dunia baru yang dicita-citakan oleh 'the invisible hands' yaitu para raksasa penjajah kapitalisme global tersebut yakni para mafia raksasa di balik negara-negara kapitalis penjajah tersebut.

Proyek LGBT dan kumpul kebo ini tidak main-main ada dana sebesar US$180 juta untuk melegalkan dan menyuburkan secara massif praktek kumpul kebo atau Zina dan LGBT tersebut.

Sebagaimana yang diungkap oleh Mahfud MD Mantan Ketua MK dan Pakar Hukum Tata Negara yang menyampaikan pernyataan yang mengejutkan dengan mengingatkan kembali adanya dana sebesar US$180 juta, atau sekitar Rp2,4 triliun yang siap digelontorkan untuk meloloskan zina dan LGBT di Indonesia. Ia meminta publik untuk mengarahkan pandangannya pada legislatif, dan meminta sejumlah aktivis islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah ramai-ramai datang ke DPR untuk mendorong Undang-undang KUHP dapat menghukum perbuatan zina dan LGBT secara pidana. Sebab, sekarang ini belum final. [http://www.viva.co.id/berita/nasional/989276-ada-us-180-juta-dari-lgbt-mahfud-aktivis-jangan-kecolongan]


Pada tahun 2016 saja ada kucuran dana melimpah sebesar USD8 juta atau sekitar Rp107,8 miliar untuk mendukung komunitas lesbian, gay, biseksual, transgender dan interseks (LGBTI) di Indonesia dan tiga negara Asia lainnya.

Dana melimpah itu berasal dari kemitraan regional antara UNDP, Kedutaan Besar Swedia di Bangkok dan USAID. Selain komunitas LGBTI Indonesia, komunitas serupa di China, Filipina dan Thailand juga mendapat dukungan dana dari proyek UNDP itu.

Proyek ini dimulai Desember 2014 hingga September 2017. “Inisiatif ini bertujuan untuk memajukan kesejahteraan lesbian, gay, biseksual, transgender dan interseks (LGBTI) orang, dan mengurangi ketimpangan dan marginalisasi atas dasar orientasi seksual dan identitas gender (SOGI),” demikian keterangan tertulis yang dikutip Sindonews dari situs resmi UNDP, Jumat (12/2/2016). [Sindonews.com, 12/02/2016]


Masih ingat dengan pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (pada 23/02/2016 yang lalu) yang menilai:

"Fenomena kemunculan lesbian, gay, biseksual, dan transjender (LGBT) di Indonesia adalah bagian dari proxy war atau perang proksi untuk menguasai suatu bangsa tanpa perlu mengirim pasukan militer.

"Sejak 15 tahun lalu saya sudah buat (tulisan) perang modern, itu sama modelnya. Perang murah-meriah," kata Menhan di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (23/2/2016).

Menurut Ryamizard, ancaman perang proksi itu berbahaya bagi Indonesia karena negara lain yang memiliki kepentingan tidak langsung berhadapan.

Oleh karena itu, fenomena pendukung LGBT yang meminta komunitasnya dilegalkan itu wajib diwaspadai.

"(LGBT) bahaya dong, kita tak bisa melihat (lawan), tahu-tahu dicuci otaknya, ingin merdeka segala macam, itu bahaya," kata mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ini.

Ia menjelaskan, perang proksi itu menakutkan lantaran musuh tidak diketahui. Kalau melawan militer negara lain, musuh mudah dideteksi dan bisa dilawan.

"Kalau perang proksi, tahu-tahu musuh sudah menguasai bangsa ini. Kalau bom atom atau nuklir ditaruh di Jakarta, Jakarta hancur, di Semarang tak hancur. Tetapi, kalau perang modern, semua hancur. Itu bahaya," ujarnya.

Ia menambahkan, perang modern tidak lagi melalui senjata, tetapi menggunakan pemikiran.

"Tidak berbahaya perang alutsista, tetapi yang berbahaya cuci otak yang membelokkan pemahaman terhadap ideologi negara," tuturnya. [Kompas.com, 23/02/2016]


Inilah LGBT dan kumpul kebo yang sejatinya proxy war ala kapitalisme global Barat dan Timur yang dikomandoi oleh AS beserta sekutu jahatnya negara-negara Eropa, RRC dan zionis yahudi serta PBB dalam melanggengkan gurita penjajahan kapitalisme globalnya serta mengokohkan peradaban sampah kapitalismenya tersebut yang penuh dengan kerusakan dan amoral.

LGBT dan kumpul kebo yang merupakan proxy war ala kapitalisme global ini sangat mengancam eksistensi populasi umat manusia, eksistensi umat Islam, eksistensi keluarga, eksistensi pernikahan dan nasab, eksistensi masyarakat yang beradab dan dunia itu sendiri. Sebab LGBT dan kumpul kebo hanya akan mengundang laknat dan azab Allah SWT semata serta cepat ataupun lambat hanya akan menghancurkan negeri-negeri yang melegalkan dan menyuburkan LGBT dan kumpul kebo tersebut seperti hancur dan binasanya kaum sodom dan kaum tompei Italia.

LGBT dan kumpul kebo yang merupakan 'proxy war' ala kapitalisme global tersebut sejatinya merupakan bentuk dari neo-imperialisme dan neo-liberalisme yang hakikatnya adalah ancaman serius bagi Indonesia dan dunia. Jadi yang terbukti yang jelas-jelas mengancam Indonesia bukanlah HTI dan Khilafah, tapi justru ancaman serius yang sesungguhnya tersebut adalah neoimperialisme dan neoliberalisme kapitalisme global asing dan aseng dengan LGBT proyek proxy war-nya tersebut.

Maka, solusi real-nya adalah solusi Islam yang saat ini terus-menerus ditawarkan dan dikampanyekan oleh HTI yakni Syariah dan Khilafah. Sebab, hanya Syariah dan Khilafah sajalah yang bisa menghentikan megaproyek sampah LGBT dan kumpul kebo tersebut sekaligus mengenyahkan LGBT dan kumpul kebo beserta tuannya besarnya yaitu AS dan sekutu jahatnya tersebut dari peta dunia. Sekaligus hanya Khilafah yang bisa mengenyahkan peradaban sampah nan najis kapitalisme yang penuh kerusakan dan amoral tersebut ke tong sampah sejarah peradaban dunia selamanya.

Wallahu a'lam bish shawab. []



#2019TumbangkanDemokrasi
#2019TegakkanKhilafah
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAdalahSolusi
#KhilafahPastiMenang

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog