Wednesday, May 8, 2019

Petaka Pesta Demokrasi



Oleh: Zakariya al-Bantany

Pesta demokrasi 2019 di Indonesia yakni pemilu serentak 17 April 2019 sudah digelar serentak di seluruh penjuru Nusantara dari Sabang hingga Merauke.

Namun, pasca pesta demokrasi pemilu serentak baik pilpres maupun pileg tersebut pada hari Rabu 17 April 2019 yang lalu, kini mulai semakin tampak begitu telanjangnya betapa rusak dan bobroknya serta buruknya demokrasi hingga hanya membawa petaka bagi negeri ini sehingga hanya membawa duka yang sangat mendalam bagi rakyat negeri ini.

Di mana pesta demokrasi yang membawa petaka tersebut telah banyak memakan korban jiwa atau tumbal nyawa yang sangat banyak dan mungkin akan terus bertambah banyak jumlah korban jiwa yang disebabkan oleh pesta demokrasi yang membawa petaka tersebut.

Proses pemilu yang begitu panjang membuat korban dari jajaran KPU dan Bawaslu terus berjatuhan. Hingga kemarin (26/4), sudah 326 petugas pemilu yang meninggal dunia. Perinciannya, 253 korban berasal dari jajaran KPU, 55 dari unsur Bawaslu, dan 18 personel Polri.

Yang memprihatinkan, berdasar laporan yang diterima KPU, salah seorang korban bernama Alhat Supawi, 32 tahun, meninggal karena bunuh diri. Alhat adalah petugas KPPS yang bertugas mengisi formulir C1 sebanyak 86 rangkap.

Menurut laporan istrinya, Alhat tidak tahan dengan beban pekerjaan yang begitu berat. Pekerjaan sehari semalam itu membuat dia kelelahan dan berujung stres. Alhat begitu khawatir jika di antara 86 formulir C1 tersebut ada kesalahan mengisi. Dalam kondisi itulah, dia meminum racun hingga meninggal.

Selain Alhat, ada 307 petugas penyelenggara pemilu lainnya yang meninggal dunia. Itu diketahui berdasar data yang didapat Jawa Pos dari KPU dan Bawaslu hingga kemarin.  [https://www.jawapos.com/nasional/pemilihan/27/04/2019/326-petugas-pemilu-meninggal-dunia/]

Padahal, pesta demokrasi atau pemilu serentak 2019 tersebut telah sangat banyak mengeluarkan uang negara yang sangat besarnya, yang notabene adalah uang rakyat. Ini adalah pemilu termahal sepanjang sejarah Indonesia.

Di mana Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menganggarkan sebesar Rp25,59 triliun untuk kegiatan pemilihan umum (Pemilu) serentak pada 17 April 2019. Angka ini naik 61% dibanding anggaran untuk Pemilu 2014 yang sebesar Rp15,62 triliun. [https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4485400/fantastis-anggaran-untuk-pemilu-2019-capai-rp-25-t].

Bahkan, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, mengatakan, pihaknya mengajukan permohonan tambahan dana untuk memperlancar proses Pemilu 2019. [https://m.republika.co.id/berita/nasional/politik/18/07/11/pbpja4409-kpu-minta-tambahan-dana-rp-35-m-untuk-pengamanan-website]


Namun, justru pesta demokrasi yang sangat mahal tersebut selain telah memakan tumbal nyawa 326 orang petugas pemilu, dan sementara yang sakit sebanyak 2.232 orang [https://www.jawapos.com/nasional/humaniora/30/04/2019/bertambah-lagi-petugas-kpps-meninggal-dunia/], kini semakin tampak terang benderang betapa amburadulnya pesta demokrasi tersebut hingga kisruh baik yang di dalam negeri maupun yang di luar negeri. Antar paslon pun saling klaim kemenangan hingga bersitegang [https://inikata.com/2019/04/20/paslon-01-dan-02-saling-klaim-kemenangan-ini-respon-kpu/; https://www.msn.com/id-id/berita/pemilu/kpu-minta-kubu-jokowi-dan-prabowo-setop-klaim-kemenangan/ar-BBW65HQ] dan parpol koalisi petahana pun mulai gusar dan buyar dengan menuding bahwa partai petahana menggelembungkan perolehan suaranya dan menggembosi perolehan suara partai koalisinya. [http://www.posmetro.info/2019/04/pkb-tuding-pdip-gelembungkan-suara.html?m=1; https://m.merdeka.com/politik/pkb-tuding-pdip-gelembungkan-suara-pileg-2019-di-surabaya.html]

Parahnya, sebelumnya KPU pun telah menetapkan kotak suaranya terbuat dari kardus yang digembok pula. [https://m.detik.com/news/berita/d-4345704/kpu-semua-fraksi-dpr-setuju-kotak-suara-kardus]


Dan data-data rekap real count pun dimanipulasi dengan curangnya pakai metode STMB (Sistematis, Terstruktur, Massif dan Brutal) untuk memenangkan sang petahana. [https://newspurwakarta.com/desain-besar-kpu-memenangkan-jokowi-mungkinkah/]

Sampai-sampai data quick count di Televisi pun disulap dan dibolak-balik oleh lembaga survey bayaran demi menyenangkan dan melanggengkan syahwat kekuasaan sang petahana yang gila kekuasaan. [https://www.mediaoposisi.com/2019/04/kecurangan-dalam-quick-count-mungkinkah.html?m=1].



Bahkan sangat mungkin akan berujung "people power" yang sangat nyata di depan mata di mana rakyat akan menggelar Mahkamah Rakyat untuk mengadili dan menghukum rezim democrazy yang curang dan culas tersebut.

Ini bukti pemilu Jurdil dan Luber dalam negara demokrasi hanyalah sebuah ilusi dan utopia belaka. Inilah petaka pesta demokrasi. Demokrasi benar-benar sangat brutal dan sadis. Demokrasi makin terbukti adalah sistem terburuk yang hanya memecah-belah bangsa dan umat Islam serta pembunuh rakyat yang paling efektif dan efisien. Dan demokrasi pun makin terbukti lebih banyak mudharatnya daripada maslahatnya. Makin terbukti demokrasi adalah biang petaka dan biang bencana serta biang penjajahan bagi negeri ini dan dunia.

Itu semua pertanda bahwa demokrasi akan dan sedang benar-benar membunuh dirinya sendiri. John Adams (mantan Presiden AS ke-II), dia pernah menulis: Remember, democracy never lasts long. It soon wastes, exhausts, and murders it self. There never was a democracy yet that did not commit suicide. (Ingatlah, demokrasi tidak akan bertahan lama. Ia akan segera terbuang, melemah dan membunuh dirinya sendiri; demokrasi pasti akan bunuh diri). [https://kuliahpemikiran.wordpress.com/2014/03/20/saatnya-jujur-tentang-demokrasi/]

Masihkah percaya demokrasi..?! Masihkah tetap membela demokrasi sistem kufur tersebut..?!

Allah SWT berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al-Maidah: 50)

Sangat berbeda ketika sistem Islam yakni Khilafah diterapkan dalam kehidupan khususnya dalam negara, selain hemat biaya dalam waktu singkat (maksimal 3 hari) pemimpin baru sudah terangkat dengan sah dan sempurna melalui proses bai'at in'iqad (baiat legal/resmi) dan bai'at tha'at oleh seluruh kaum Muslim hingga membawa dan menebar rahmah dan berkah tidak hanya bagi umat Islam, namun juga membawa dan menebar rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta.

Maka, segera campakkan dan tumbangkan demokrasi sebuah sistem rusak yang berbiaya tinggi dan super curang serta super culas. Segera ganti dengan Khilafah, dipastikan hidup menjadi berkah dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat hingga ke surga penuh selamat dan bahagia. Mau..?!

Wallahu a'lam bish shawab. []


#2019TumbangkanDemokrasi
#2019TegakkanKhilafah
#KhilafahPastiMenang
#ReturnTheKhilafah

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog