Saturday, May 11, 2019

Demokrasi Lebih Beracun Daripada Kopi Sianida



Oleh: Zakariya al-Bantany

Masihkah anda ingat tragedi kasus kopi sianida yang telah membunuh dan menewaskan Wayan Mirna Salihin (27 tahun) yang malang, pada tanggal 6 Januari 2016 yang lalu..?!

Di mana kasus kopi sianida tersebut membuat heboh sejagad Indonesia raya. Bahkan ramai media cetak dan media televisi serta media sosial pagi dan petang, siang dan malam memberitakannya.

Sampai-sampai karena sangat hebohnya kasus kopi sianida tersebut, Indonesia Lawyers Club (ILC TVONE) yang dibawakan oleh Presiden ILC Karni Ilyas pun sangat serius membahas dan membedahnya secara live pada Selasa (2/2/2016) malam dengan menghadirkan para narasumber yang berkompeten.

Bahkan pemerintah pun begitu sangat sigap dan sangat cepatnya mengungkap dan menyingkap misteri kasus kopi sianida yang telah menewaskan Mirna yang malang tersebut.

Hingga polisi pun berhasil meringkus dan menangkap terduga pelakunya yakni Jessica Kumala Wongso hingga pemerintah pun bersemangat memproses dan mengadili Jessica tersebut dengan membuat pengadilan live atas kasus kopi sianida tersebut hingga berjilid-jilid bak sinetron di sejumlah media televisi hingga selama satu tahun.


Namun, tatkala 554 orang petugas pemilu meninggal dunia -dan sangat mungkin korban nyawa akan terus bertambah- saat jalankan tugasnya dalam pemilu serentak 2019 yang sudah diselenggarakan 17 April 2019 yang lalu justru pemerintah dan negara bungkam bahkan cenderung menutupinya dan sejumlah media pun tidak begitu hebohnya memberitakan tewasnya 554 petugas pemilu tersebut bahkan ILC TVONE pun dibuat cuti panjang.

Padahal jumlah petugas penyelenggara Pemilu 2019 yang meninggal dunia terus bertambah -lebih sangat banyak daripada korban nyawa kopi sianida tersebut-. Data sementara secara keseluruhan petugas yang tewas mencapai 554 orang, baik dari pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) maupun personel Polri.

Berdasarkan data KPU per Sabtu (4/5) pukul 16.00 WIB, jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal sebanyak 440 orang. Sementara petugas yang sakit 3.788 orang.

Jumlah itu bertambah dari hari sebelumnya yaitu 424 orang. Begitu pula dengan petugas yang sakit juga bertambah dari hari sebelumnya yang mencapai 3.668 orang. [https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190507084423-32-392531/total-554-orang-kpps-panwas-dan-polisi-tewas-di-pemilu-2019]

Ini makin membuktikan demokrasi lebih beracun daripada kopi sianida. Kopi sianida hanya bisa membunuh satu orang Mirna yang malang saja. Sebaliknya, demokrasi lebih gila dan lebih brutal serta lebih sadis dengan terbukti mampu membunuh 554 petugas pemilu tersebut dalam waktu serentak dan dalam waktu yang berdekatan serta menjadi misteri hingga kini.

Namun, parahnya justru pemerintah dan negara masih tetap bungkam bahkan cenderung menutupi atas tewasnya 554 orang petugas pemilu tersebut yang menjadi tumbal pesta demokrasi 2019 tersebut.

Sebaliknya dahulu pemerintah dan negara begitu sangat sigap dan cekatan menyingkap misteri tabir kasus kopi sianida yang telah menewaskan Mirna yang malang tersebut bahkan berhasil menangkap Jessica pelakunya dan juga persidangannya pun dibuat live di sejumlah media televisi hingga berjilid-jilid bak sinetron. Di manakah keadilan dalam negara demokrasi itu..?!

Jika seorang Mirna dan keluarganya telah dilayani urusan hukumnya dan Jessica pelaku pembunuhan via kopi sianida tersebut telah dijatuhi hukuman berat, lantas mengapa sampai saat ini 554 orang petugas pemilu yang tewas tersebut dan keluarganya belum juga kunjung mendapatkan pelayanan hukum dari pemerintah dan negara..?!

Bukankah 554 orang petugas pemilu yang tewas tersebut juga adalah warga negara Indonesia bahkan mereka adalah panitia penyelenggara pemilu dan konon katanya pun mereka digelari pahlawan pemilu..?!

Mengapa pemerintah dan negara demokrasi ini bungkam dan cenderung menutupi kasus tewasnya 554 orang petugas pemilu tersebut..?! Dan mengapa pula KPU dan pemerintah atau negara ini tidak mau mengungkap dan menyingkap misteri tabir kematian 554 orang petugas pemilu tersebut..?!

Bukankah kematian 554 orang petugas pemilu tersebut adalah sebuah kejadian luar biasa sekaligus tragedi dan bencana demokrasi dan petaka pesta demokrasi 2019..?! Bukankah meninggalnya 554 orang petugas pemilu tersebut jauh lebih banyak daripada korban kecelakaan pesawat terbang dan korban terorisme di New Zealand serta korban kopi sianida..?!

Mengapa juga negara demokrasi ini tidak juga kunjung mengeluarkan secara resmi dari lisan sang Presiden RI berupa pernyataan sikap bela sungkawa sedalam-dalamnya atas tewasnya 554 petugas pemilu tersebut dan menjadikannya sebagai darurat bencana nasional serta mengibarkan bendera setengah tiang sebagai wujud duka cita yang sangat mendalam bagi seluruh bangsa Indonesia atas tragedi kemanusiaan tewasnya 554 orang petugas pemilu tersebut dalam melaksanakan tugasnya..?!

Namun pasca pemilu serentak yang menghabiskan biaya 25 triliyun lebih tersebut, pemerintah dan negara demokrasi saat ini justru sibuk berupaya membentuk tim pantau pencaci jokowi. [https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190506183019-12-392420/wiranto-bentuk-tim-pantau-pencaci-jokowi].

Dan juga justru sibuk mengkriminalisasi Dokter Ani Hasibuan yang mencurigai meninggalnya petugas KPPS tersebut, di mana ia akan dilaporkan ke polisi oleh Jangkar Relawan Jokowi karena dituduh pendukung Prabowo dan melakukan kebohongan serta mempolitisasi tewasnya 554 petugas pemilu tersebut untuk mendeligitimasi KPU. Padahal, sebelumnya dokter Ani Hasibuan mengaku penelusurannya itu independen.

“Saya dokter, saya independen. Saya sendirian saja (melakukan penelusuran). Nggak ada yang nyuruh juga,” kata dokter Ani Hasibuan saat dihubungi, Rabu (8/5/2019).

Sebagai tenaga medis, Ani awalnya heran dengan banyaknya petugas KPPS yang meninggal usai Pemilu 2019 hingga jumlahnya mencapai ratusan. Menurutnya, peristiwa itu bisa dianggap masuk akal apabila jumlah petugas KPPS yang meninggal 5-10 orang dan sudah lanjut usia. Tapi, ternyata ada pula petugas KPPS yang meninggal di usia muda.

“Jadi saya ingin tahu ada apa sesungguhnya? Kok bisa ada kematian yang banyak dalam waktu bersamaan,” ujarnya. [https://www.google.com/amp/s/suaranasional.com/2019/05/09/jangkar-relawan-jokowi-akan-laporkan-dokter-ani-hasibuan-ke-polisi/amp/]

Padahal, saat ini yang sangat dibutuhkan oleh seluruh rakyat Indonesia adalah keadilan dan kejujuran untuk mengusut, menyingkap dan mengungkap misteri kematian tak wajar dari 554 orang petugas pemilu tersebut dan juga atas dugaan kecurangan pemilu yang begitu sangat terang-benderang, terstruktur, sistematis, massif dan brutal.

Ini semakin meneguhkan bukti sangat kuat bahwa keadilan dalam negara demokrasi hanyalah sebuah ilusi dan hanyalah utopia belaka serta hanyalah sebuah fatamorgana belaka. Masihkah percaya demokrasi..?! Mikir..?!

Allah SWT berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?." (QS. Al-Maidah : 50)

Oleh sebab itu,  maka sudah kiranya itu semua semakin membuktikan bahwa demokrasi adalah sistem gagal dan betapa bobroknya demokrasi serta betapa brutal dan sadisnya demokrasi sistem kufur warisan penjajah tersebut. Demokrasi hanya lahirkan democrazy dan dungukrasi serta demokrasi hanya menjadi biang petaka dan biang bencana serta biang penjajahan dan biang kejahatan di negeri ini dan di dunia.

Karena itu, sudah tiba saatnya segera tumbangkan demokrasi dan bersegeralah hijrah ke dalam sistem Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan dalam bingkai Khilafah Rasyidah Islamiyah untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik, berkeadilan dan sejahtera penuh rahmah dan penuh berkah. Mau..?!

Wallahu a'lam bish shawab. []


#RamadhanBulanPerjuangan
#RamadhanBulanJihad
#RamadhanBulanKetaatan
#2019TumbangkanDemokrasi
#RamadhanBulanKhilafah
#2019TegakkanKhilafah
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahSolusiUntukIndonesiaDanDunia
#SelamatkanIndonesiaDanDuniaDenganSyariahDanKhilafah

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog