Sunday, May 12, 2019

Biang Petaka Palestina Adalah Nasionalisme



Oleh: Zakariya al-Bantany

Nasionalisme adalah sebuah paham sempit kebangsaan yang lahir dari ideologi penjajah kafir Barat dan Timur baik kapitalisme-sekulerisme maupun sosialisme-komunisme ataupun ideologi jahiliyah. Nasionalisme adalah warisan para penjajah Barat dan Timur untuk memecah-belah persatuan para penduduk negeri-negeri jajahannya sehingga para penjajah tersebut dapat dengan mudah dan lebih leluasa dalam menguasai sepenuhnya wilayah jajahannya tersebut secara sistemik.

Dalam pandangan ideologi (mabda' , akidah) Islam, Nasionalisme adalah sebuah ikatan yang sangat rapuh dan sangat rendah nilainya serta temporal sifatnya dan hanya membawa perpecahan dan malapetaka di tengah umat manusia atau masyarakat. Karena itulah dalam hadits Rasulullah ﷺ disebutkan:

عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Dari Jundab bin Abdullah Al-Bajaliy, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa terbunuh karena membela bendera kefanatikan yang menyeru kepada kebangsaan atau mendukungnya, maka matinya seperti mati Jahiliyah.”
(HR. Muslim, No. 3440)

Menurut As-Sindi, Ummiyyah atau Immiyyah adalah bentuk kinâyah, yaitu larangan berperang membela jamaah (kelompok) yang dihimpun dengan dasar yang tidak jelas (majhûl), yang tidak diketahui apakah haq atau batil. Karena itu, orang yang berperang karena faktor ta’âshub itu, menurutnya, adalah orang yang berperang bukan demi memenangkan agama, atau menjunjung tinggi kalimah Allah [As-Sindi, Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibn Majah, VII/318].

Dengan demikian, jelas bahwa makna ‘ashabiyyah di sini bersifat spesifik, yaitu ajakan untuk membela orang atau kelompok, tanpa melihat apakah orang atau kelompok tersebut benar atau salah; juga bukan untuk membela Islam, atau menjunjung tinggi kalimat Allah, melainkan karena dorongan marah dan hawa nafsu. Islam tidak mengakui setiap loyalitas kepada selain akidahnya, tidak mengakui persyerikatan kecuali ukhuwah Islamiyyah (persatuan Islam atau persaudaraan Islam) dan tidak mengakui ciri khas yang membedakan manusia kecuali iman dan kekafiran [Ahmad Ar Rifa’i, 2011].

Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa para pembawa bendera 'ashabiyah (fanatisme kelompok, kesukuan dan kebangsaan) bukanlah termasuk umat Beliau ﷺ:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

Dari Jabir bin Muth’im, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada 'ashabiyah (fanatisme kelompok, kesukuan dan kebangsaan), bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena 'ashabiyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena 'ashabiyah.” (HR. Abu Dawud No.4456)

Padahal Allah SWT juga telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kalian sekali-kali mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran: 102)

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

"Berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah (agama-Nya) kesemuanya dan janganlah kalian berpecah-belah (setelah menganut Islam) serta ingatlah nikmat Allah (yakni karunia-Nya) kepada kalian ketika kalian (yakni sebelum Islam) bermusuh-musuhan, maka disatukan-Nya (dihimpunkan-Nya) di antara hati kalian (melalui Islam), lalu jadilah kalian berkat nikmat-Nya bersaudara (dalam agama dan pemerintahan serta negara Islam). Padahal sebelumnya kalian telah berada dipinggir jurang neraka (sehingga tidak ada lagi pilihan lain bagi kalian kecuali terjerumus ke dalamnya dan mati dalam kekafiran) lalu diselamatkan-Nya kalian dari neraka tersebut (melalui iman kalian kepada Allah dan Rasul-Nya). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya supaya kalian mendapat petunjuk." (QS. Ali Imran: 103)

Padahal, umat Islam sebagaimana juga digambarkan oleh Rasulullah ﷺ bagaikan satu tubuh. Hadits Rasul yang diriwayatkan:

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Dari Nu'man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam." (HR. Muslim)

Bila seorang atau sekelompok mukmin menderita kesulitan, maka mukmin yang lain juga seharusnya merasakan itu. Itulah makna ukhuwah (persaudaraan/persatuan) sesungguhnya. Islam mendorong Umatnya untuk menerjemahkan ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari. Agar mereka dapat merasakan apa yang diderita saudaranya seagama atau seakidah tersebut, untuk selanjutnya memberikan bantuan apapun bentuknya agar meringankan beban dan penderitaan saudaranya itu. Baik bantuan berupa pemikiran, tenaga, doa, materi, sandang, pangan maupun papan ataupun nyawa sekalipun.

Betapa banyak Kaum Muslimin di penjuru bumi yang masih belum merasakan ketenangan dan ketentraman hidup khususnya di Palestina, Rohingya, Suriah dan lain-lain yang sedang terpuruk dan ditindas serta dijajah secara sistemik oleh koalisi para penjajah kafir Barat dan Timur beserta para bonekanya (proxy).

Karena itulah Islam mendorong umatnya segera bersatu untuk membantu dengan segenap daya upaya kepada siapapun khususnya dari sesama saudara seiman dan semuslimnya yang sangat membutuhkan bantuan dan pertolongan tanpa melihat ras, suku dan bangsanya.

Dan pada hakikatnya menolong orang khususnya sesama saudara seiman yang sangat membutuhkan pertolongan juga berarti bahwasanya sama saja kita telah menolong diri kita sendiri. Ada kaidah dalam bahasa Arab yang berbunyi: "al-jazaa’ min jinsil ‘amal", bahwa balasan seperti amal yang dilakukan. Karena itu dengan kaidah tersebut kita bisa memahami sabda Rasulullah ﷺ berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمـِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فيِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang menyelesaikan problem seorang Mukmin di Dunia, maka Allah SWT akan menyelesaikan problemnya di Akhirat, siapa yang memudahkan orang yang kesulitan maka Allah SWT akan memberikan kemudahan kepadanya di Dunia dan Akhirat, siapa yang menutupi aib saudaranya seiman maka Allah SWT akan menutupi aibnya di Dunia dan Akhirat, dan Allah SWT senantiasa akan menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya." (HR. Muslim)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh ia mendzhalimi dan membiarkannya terdzhalimi (dalam bahaya), siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebab itulah, permasalahan umat Islam adalah permasalahan akidah atau permasalahan keimanan bukan sekedar permasalahan kemanusiaan belaka. Karena itu, siapa saja yang menolong saudaranya sesama akidah atau sesama Muslim atas dorongan akidah Islam semata, maka niscaya Allah SWT yang akan langsung memberikan pertolongan kepadanya. Dan pertolongan dari Allah SWT, itu mencakup di Dunia dan di Akhirat.

Ada beberapa amal yang bisa dilakukan untuk meringankan dan menyelesaikan masalah sesama Muslim. Di antaranya dengan usaha paling minimal doa selain bantuan pemikiran, tenaga, materi, sandang, papan, pangan dan jihad. Berdoa untuk saudara-saudara kita yang dilanda musibah dan masalah seperti di Palestina, Rohingya, Suriah dan lain-lain. Berdoa di antara salah-satu bukti perhatian dan kepedulian kita terhadap sesama Muslim yang notabene adalah saudara seakidah atau seiman.

Berdoa adalah satu amal ringan namun cukup memiliki pengaruh. Apalagi doa zahril gaib, yaitu doa dibaca ketika sedang tidak bersama orang yang kita doakan. Lantaran membaca doa zahril gaib, Malaikat akan mendoakan si pembaca doa. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abu Darda’ Radhiyallahu 'anhu:

عَنِ أَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

"Doa seorang Muslim untuk saudaranya dalam keadaan zahril ghaib (tidak bersama saudara yang didoakan) mustajab, (dan) di atas kepalanya (orang yang mendoakan) ada Malaikat yang diutus, setiap kali orang itu berdoa untuk kebaikan saudaranya, maka Malaikat itu akan berkata 'Aaamiin, dan bagimu seperti itu juga'." (HR. Muslim)

Sebab itulah, sesungguhnya nasionalisme sangat bertentangan dengan Islam dan nasionalisme hanya merusak persaudaraan dan persatuan umat Islam sedunia. Karena itulah, nasionalisme sejatinya adalah senjata pemikiran yang ampuh dan beracun serta mematikan dari kafir penjajah Barat dan Timur dalam menikam dada dan tubuh umat Islam untuk memecah-belah dan menghancurkan persatuan dan persaudaraan umat Islam tersebut menjadi berkeping-keping sekaligus senjata ampuh para penjajah kafir Barat dan Timur tersebut dalam menjauhkan Islam dari benak umat Islam sehingga umat Islam hanya tersibukkan dan hanya peduli dengan urusan pribadinya belaka ataupun tersibukkan oleh urusan bangsanya sendiri hingga mereka pun tidak lagi peduli dengan nasib saudara-saudara sesama Muslimnya yang sedang ditindas, dijajah dan dibunuh secara massal seperti di Palestina, Rohingya, Suriah, Uighur, dan lain-lain.

Nasionalisme pula sesungguhnya merupakan salah-satu faktor penyebab terjadinya malapetaka runtuhnya Daulah Khilafah Islam yang berpusat di Turki pada tahun 1924 M hingga terjadinya perpecahan umat Islam yang sebelumnya adalah satu tubuh negara besar warisan Rasulullah ﷺ yakni Khilafah Islam -yang telah berkuasa selama rentang 13 abad lamanya dan menguasai 2/3 dunia dari penjuru Nusantara hingga pintu gerbang kota Wina Austria- yang diikat oleh akidah (ideologi/mabda') Islam, kini terpecah berkeping-keping menjadi lebih dari 50 negara kecil dalam bentuk negara bangsa (nation state) dengan paham sempit nan kufur nasionalismenya.

Sehingga berpuluh-puluh tahun lamanya hingga kini umat Islam pun kian merintih kesakitan dan menangis darah tiada kesudahan tertimpa berbagai balak bencana dan tragedi berdarah serta hanya menjadi bulan-bulanan para penjajah kafir Barat dan Timur. Umat Islam benar-benar seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Umat Islam benar-benar kondisinya kini laksana tanaman atau kebun tanpa pagar.

Di mana mereka umat Islam hingga kini pun secara sistemik terus-menerus dijajah dan dibantai secara massal dengan keji dan brutal di tanah kelahirannya sendiri oleh para penjajah kafir Barat dan Timur, serta kekayaan sumberdaya alam negeri-negeri mereka pun dirampok dengan kejinya oleh para penjajah kafir Barat dan Timur yang sangat culas dan sangat serakah penuh kerakusan tiada tara tersebut.

Nasionalisme pun menjadi salah-satu biang tragedi berdarah atas dibantainya secara massal puluhan ribu lebih umat Islam Rohingya di tanah kelahirannya sendiri oleh bangsa barbar ekstrimis radikal teroris buddha Myanmar. Hanya gara-gara umat Islam Rohingya beragama Islam dan memilih Islam. Begitupula jutaan lebih umat Islam Uighur dijajah dan dibantai serta dipaksa murtad oleh negara komunis Cina RRC di tanah kelahiran kaum Muslim Uighur (Turkistan Timur) sendiri.

Nasionalisme pula yang menyebabkan puluhan tahun umat Islam Palestina dibunuh secara massal hampir setiap hari, tiap minggu, tiap bulan dan tiap tahun serta wilayah Palestina khususnya Yerussalem (Al-Quds) dicaplok dan dirampas dengan sangat brutal dan barbarnya oleh bangsa kera zionis yahudi israel yang dibidani oleh Inggris dan negara-negara sekutu jahatnya dan dibekingi serta dilindungi oleh AS sejak tahun 1948 hingga "zaman now" sekarang.

Lihatlah, karena nasionalisme pula kita umat Islam di seluruh penjuru dunia tidak bisa bersatu dan tidak punya kekuatan serta tidak berdaya untuk menolong saudara seakidah kita umat Islam Palestina dari orang tua hingga bayi yang dibunuh hampir setiap harinya secara keji dan brutal oleh bangsa barbar zionis yahudi israel laknatullahi 'alaihim. Bahkan, kita pun umat Islam sedunia tidak mampu membebaskan tanah suci Palestina dari belenggu cengkraman penjajahan bangsa maling zionis yahudi israel tersebut. Padahal jumlah kita umat Islam sedunia sangat banyak yaitu milyaran dan kita pun umat Islam sedunia memiliki jumlah pasukan militer puluhan juta lebih tentara aktif dan perlengkapan persenjataan tempur militer kita pun sangat mumpuni serta sangat banyak jumlahnya. Sebaliknya jumlah penduduk warga ilegal zionis yahudi israel sangat sedikit tidak sampai puluhan juta dan jumlah pasukan militer israel pun tidak sampai jutaan tentara aktif.

Lihatlah pula, karena nasionalisme para penguasa negeri-negeri Islam seperti Turki, Mesir, Libanon, Yordania, Suriah, Arab Saudi, Iran, Brunei Darussalam, Malaysia, Indonesia, dan lain-lain menjadi diam membisu, tanpa merasa malu dan tanpa merasa berdosa membiarkan terus-menerus terjadinya pembantaian secara massal (genosida) terhadap puluhan ribu lebih umat Islam Palestina dari tahun 1948 hingga kini yang dilakukan bangsa barbar zionis yahudi israel terkutuk tersebut. Kalaupun kecaman paling sebatas retorika belaka tanpa aksi nyata untuk bersatu memobilisasi pasukan militer dan armada perangnya untuk berjihad membebaskan bumi para Nabi yaitu tanah suci Palestina sekaligus mengenyahkan entitas ilegal zionis yahudi israel dari peta dunia.

Dan parahnya para penguasa negeri-negeri Islam tersebut begitu lunak dan cenderung membela dan mengakui serta melindungi penjahat zionis yahudi israel tersebut dengan sejumlah sandiwara politik dan retorika basi baik berupa kecaman belaka, genjatan senjata, diplomasi, perdamaian dan solusi dua negara yang notabene justru hanya mengakui keberadaan entitas ilegal bangsa penjajah zionis yahudi israel tersebut.

Padahal umat Islam Palestina telah menangis darah dan menjerit histeria meminta pertolongan kepada dunia terlebih kepada saudara seimannya umat Islam di seluruh penjuru dunia khususnya para penguasa Muslim tersebut. Padahal masalah Palestina adalah masalah akidah atau masalah keimanan bukan sekedar masalah kemanusiaan belaka.

Namun, tidak ada satu pun dari penguasa Muslim tersebut yang tergerak hatinya untuk segera memobilisasi seluruh umat Islam sedunia dan jutaan pasukan militernya serta mengerahkan pesawat tempur dan tanknya serta armada perangnya untuk berjihad dalam menyelamatkan dan membebaskan umat Islam Palestina dari penindasan, penjajahan dan pembantaian massal (genosida) yang dilakukan bangsa barbar teroris zionis yahudi israel tersebut sekaligus mengenyahkan bangsa barbar tersebut dari Palestina sekaligus menaklukkan kembali Baitul Maqdish serta membersihkan tanah suci Palestina dari kotoran dan najis bangsa kera zionis yahudi israel tersebut. Sebab bahasa yang paling dimengerti oleh bangsa barbar teroris israel dan induk semangnya AS tersebut adalah jihad (perang) bukan bahasa dialog.

Padahal di sisi Allah SWT, hilangnya nyawa seorang muslim lebih besar perkaranya daripada hilangnya dunia.

Dari al-Barra’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang Mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455)

Sangat disayangkan, tiada hentinya puluhan ribu lebih nyawa umat Islam Palestina harus hilang dibinasakan dengan biadabnya oleh bangsa barbar zionis yahudi israel terkutuk tersebut dihadapan kita umat Islam di seluruh penjuru dunia khususnya umat Islam Yordania, Lebanon, Suriah, Turki, Iran dan Arab Saudi yang lebih dekat dengan mereka. Namun, lagi-lagi gara-gara nasionalisme pula kita umat Islam tidak kuasa mencegah dan menghentikan kejahatan dari bangsa barbar zionis yahudi israel tersebut serta kita pun tidak bisa secara totalitas menolong saudara Muslim Palestina kita tersebut.

Padahal, satu tetes darah umat Islam Palestina baik orang tua maupun anak-anak tertumpahkan dan satu nyawa umat Islam Palestina ada yang hilang, maka kita umat Islam di seluruh penjuru dunia khususnya para penguasa Muslim di negeri-negeri Islam termasuk penguasa Arab, Saudi, Turki, Iran, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Brunei Darussalam, dan lain-lain tersebut pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT di Yaumil Hisab kelak. Jika kita tetap diam membisu tidak mau menolong umat Islam Palestina yang sedang dijajah dan dibantai secara massal oleh bangsa barbar zionis yahudi tersebut, maka sesungguhnya kita pun termasuk orang-orang yang dzhalim. Bukankah Allah SWT tidak pernah melupakan tindakan orang-orang yang dzhalim..?! Allah SWT berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

“Jangan sekali-kali kamu mengira, Allah akan melupakan tindakan yang dilakukan orang dzhalim. Sesungguhnya Allah menunda hukuman mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena melihat adzab).” (QS. Ibrahim: 42)

Dan bisa jadi pula, hukuman itu Allah segerakan di Dunia. Sebagaimana riwayat hadits dari Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ مِنَ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

"Tidak ada dosa yang lebih berhak untuk Allah segerakan hukuman bagi pelakunya di dunia, di samping masih ada hukuman di akhirat, selain dosa dzhalim dan memutus silaturrahmi." (HR. Tirmidzi, 2700 dan Abu Daud, 4904)

Di sinilah relevansi dan urgensi Khilafah. Karena Khilafah adalah perkara hidup dan matinya umat Islam. Karena Khilafah adalah pelaksana Syariah dan pemersatu umat Islam serta penjaga Akidah Islam dan umat Islam serta Khilafah adalah benteng kokoh Islam.

Karena itulah dalam Islam, Khilafah adalah salah-satu benteng utama Islam sekaligus perisai Islam (junnatul Islam) dan pedang Allah yang terhunus. Sekaligus mahkota kewajiban (taajul furuudh), sehingga kewajiban-kewajiban hukum Syariah bisa dilaksanakan dengan sempurna, termasuk kewajiban menolong saudara seakidah-seperti Palestina, Rohingya, Kashmir, Iraq, Suriah, Afghanistan, dan lain-lain-yang tengah ditindas dan dijajah serta dibunuhi secara massal oleh para penjajah kafir Barat dan Timur.

Seperti pada masa Daulah Islam yang pertama di Madinah, pada pertengahan bulan Syawal tahun 2 H Rasulullah ﷺ mengerahkan pasukannya dan mengepung perkampungan Yahudi Qainuqa' serta menghukum mati semua orang-orang yahudi Qainuqa' yang telah terlibat melecehkan kehormatan seorang Muslimah dan pembunuhan secara beramai-ramai terhadap seorang pemuda Muslim yang membela kehormatan wanita Muslimah tersebut.

Sebagaimana pula Rasulullah ﷺ telah memimpin langsung 30.000 pasukan kaum Muslimin menghadapi pasukan Bizantium Romawi Timur yang berjumlah 100.000 pasukan dalam perang tabuk yang terjadi pada 630 M atau 9 H. Rasulullah ﷺ mengerahkan pasukan jihadnya tersebut dalam membebaskan kaum Muslimin (masyarakat Tabuk yang baru masuk Islam) yang dijajah dan dibunuh secara massal oleh tentara Romawi tersebut di Tabuk (perbatasan wilayah jajahan Romawi di Syam).

Juga sebagaimana pula pada masa Khulafaur Rasyidin Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu bersama Panglima militernya yaitu Khalid bin Walid dan Amru bin Ash Radhiyallahu 'anhuma berhasil membebaskan Palestina dari penjajahan imperium Bizantium Romawi Timur pada tahun 637 M.

Sebagaimana halnya pula pada masa Kekhilafahan Islam Bani Abbasiyah, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi seorang wali Mesir dan Syam sekaligus panglima militer Khilafah Islam berhasil membebaskan Palestina dari cengkraman penjajahan bangsa Eropa Salibis. Kemenangan besar dalam pembebasan Palestina itu terjadi pada tanggal 27 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M, yaitu setelah 88 tahun di bawah penjajahan kekuasaan bangsa Eropa Salibis.

Seperti halnya pula Khalifah al-Mu'tashim Billah (pada masa Khilafah Abbasiyah) berhasil menaklukkan kota Amuria (Turki) dan membebaskan seorang Muslimah dari Bani Hasyim yang telah dilecehkan kehormatannya oleh seorang tentara Romawi.

Di mana pada tahun 837, al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi, kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu'tashim Billah dengan lafadz yang legendaris: waa Mu'tashimaah!

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Amuria dan melibas semua orang kafir yang ada di sana (30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 yang lain ditawan). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari istana Khalifah di Baghdad hingga kota Amuria, karena besarnya pasukan.

Setelah menduduki kota tersebut, Khalifah memanggil sang pelapor untuk ditunjukkan di mana rumah wanita tersebut, saat berjumpa dengannya ia mengucapkan, "Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?" Dan sang budak wanita inipun dibebaskan oleh Khalifah serta orang romawi yang melecehkannya dijadikan budak bagi wanita tersebut.

Dan juga masih pada masa Khilafah Abbasiyah, sebagaimana halnya pula Sultan al-Mudzhaffar Saifuddin Qutuz sebagai Wali Mesir sekaligus Panglima militer Islam beserta pasukan kaum Muslim berhasil membebaskan dan membersihkan wilayah Daulah Khilafah Islam dari cengkraman penjajahan bangsa barbar Mongol (Tartar) dalam peperangan yang sangat terkenal dalam sejarah yaitu Perang AIN JALUT (Spring of Goliath) pada tahun 658 H/1260 M.

Juga sebagaimana pada tahun 1989-1902 di masa akhir Khilafah Islam Utsmaniyah pada masa Khalifah Sultan Abdul Hamid II yang begitu sangat luar biasanya dan heroiknya beliau tetap sangat kokohnya menjaga dan mempertahankan tanah suci Palestina dengan tidak memberikan sejengkal tanah pun kepada bangsa barbar zionis yahudi israel, meskipun beliau pada akhirnya pada tahun 1909 harus kehilangan jabatannya sebagai Khalifah dan beliau pun beserta keluarga besarnya harus terusir dari istananya dan dibuang serta mendekam dalam penjara di Salonika Yunani hingga beliau wafat di sana. Karena konspirasi jahat zionis yahudi dan Inggris beserta negara-negara barat penjajah sekutunya dan para boneka-para pengkhianat Islam yaitu kaum zindiq dan kaum nasionalis Turki muda-nya yang ditanam di tubuh negara Khilafah Utsmaniyah yang sudah tua renta dan sudah sakit-sakitan tersebut.

Karena itulah, solusi final dari tragedi Palestina dan seluruh problematika negeri-negeri Islam lainnya yang sedang terjajah seperti Uighur, Rohingya, Suriah, Iraq, Afghanistan, Kashmir, Bosnia, Indonesia, dan lain-lain adalah dengan segera umat Islam sedunia bersatu-padu meruntuhkan dinding tebal sekat-sekat nasionalisme biang petaka Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya tersebut, dan bersegera mencampakkan sistem kufur demokrasi, kapitalisme, sekulerisme -yang menjadi biang masalah dan biang penjajahan di seluruh penjuru negeri Islam- ke dalam tong sampah peradaban dunia selamanya.

Dan solusi finalnya pun, umat Islam harus segera kembali bangkit dan bersegera bersatu pula dalam bingkai Khilafah Islam dengan bergerak di bawah komando seorang Khalifah dalam jihad fi sabilillah membebaskan Palestina dari kejahatan bangsa barbar teroris radikal zionis yahudi israel sekaligus mengenyahkan bangsa barbar teroris zionis yahudi israel tersebut beserta induk semangnya AS dari peta dunia selamanya. Dan sekaligus juga membebaskan seluruh negeri-negeri Islam lainnya dari belenggu penjajahan kafir Barat dan Timur kapitalisme global. Sebab, hanya jihad dan Khilafah saja solusi real dalam menyelamatkan dan membebaskan Palestina dan seluruh negeri-negeri Islam lainnya dari belenggu kejahatan gurita penjajahan kapitalisme global baik asing (AS, Eropa dan zionis yahudi) maupun aseng (RRC).

Wallahu a'lam bish shawab. []


#RamadhanBulanKetaatan
#RamadhanBulanPerjuangan
#RamadhanBulanDakwah
#RamadhanBulanJihad
#RamadhanBulanKhilafah
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahDanJihadSolusiTuntasPalestina

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog