Sunday, February 17, 2019

Tauhid Dulu Ataukah Khilafah Dulu..?!



Oleh: Zakariya al-Bantany

Dalam Islam tidak ada dikotomi antara dakwah Tauhid (dakwah akidah) dengan dakwah perjuangan menegakkan Khilafah. Antara dakwah Tauhid (dakwah akidah) maupun dakwah Khilafah adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, karena keduanya hakikatnya adalah dakwah Islam yang hukumnya wajib bagi setiap Muslim dan seluruh umat Islam apapun mazhab dan harakah dakwahnya. Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan (Islam), menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104)

Dakwah perjuangan menegakkan Khilafah itu sendiri dilandasi dengan akidah Tauhid Islam. Dakwah Khilafah pun bertujuan untuk melanjutkan kehidupan Islam tatkala hukum-hukum Allah (Syariah Islam: Al-Qur’an dan as-Sunnah) diterapkan secara totalitas dalam segala aspek kehidupan dan risalah Islam disebarluaskan ke segala penjuru dunia dengan dakwah dan jihad melalui penegakkan kembali Daulah Khilafah Rasyidah Islamiyah yang pondasinya berasaskan akidah Tauhid Islam.

Karena itulah, pada hakikatnya Khilafah itu sendiri adalah tuntutan dari akidah Tauhid Islam. Sebab, Khilafah lahir dari akidah Islam dan Khilafah adalah mahkota kewajiban (taajul furuudh) serta induk kebaikan (ummul akhyar). Karena sesungguhnya dengan Khilafah seluruh kewajiban Syariah bisa diterapkan secara sempurna dan totalitas dalam segala aspek kehidupan. Dan salah satu fungsi utama Khilafah selain pelaksana Syariah dan pemersatu umat juga sebagai penjaga akidah Islam. Sehingga dengan Khilafah, keimanan dan ketaqwaan kita pun akan semakin sempurna hingga membawa rahmat dan keberkahan dari Allah SWT bagi dunia dan seluruh alam semesta.

Meremehkan ataupun mencampakkan Khilafah sama saja dengan meremehkan dan mencampakkan akidah Islam itu sendiri. Dan ini adalah dosa besar. Sebab puncak tauhid itu sendiri adalah tegaknya Khilafah sang pelaksana Syariah secara kaffah dan pemersatu umat.

Karena itulah, dalam perjuangan dakwah Rasulullah ﷺ untuk mewujudkan tegaknya Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan dan Islam pun bisa tersebarluaskan ke segala penjuru dunia, maka beliau pun dalam thariqah (metode) dakwahnya berupaya keras mewujudkan tegaknya kekuasaan Islam, bahkan beliau ﷺ pun memohon kekuasaan kepada Allah SWT, dengan beliau berdoa:

وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا

"…Dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong."
[QS. Al-Isra’ (17): 80]

Imam Qatadah menjelaskan, “Nabi ﷺ menyadari bahwa tidak ada daya bagi beliau dengan perkara ini kecuali dengan sulthân (kekuasaan). Karena itu, beliau memohon kekuasaan yang menolong untuk Kitabullah (Al-Qur’an), untuk hudûd Allah, untuk kewajiban-kewajiban dari Allah dan untuk tegaknya agama Allah. (Imam ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabarî).

Kekuasaan itu tidak ada artinya jika bukan sulthân[an] nashîr[an] (kekuasaan yang menolong). Kekuasaan yang menolong itu hanyalah kekuasaan yang sedari awal memang ditujukan untuk menolong agama Allah SWT, Kitabullah (Al-Qur’an) dan untuk menegakkan Syariah-Nya. Kekuasan seperti ini hanyalah kekuasaan yang Islami sejak dari asasnya, bentuknya, sistemnya, hukumnya, perangkat-perangkatnya, struktur dan semua penyusunnya. Kekuasaan yang menolong seperti itu adalah Daulah Islam atau pasca wafatnya Nabi ﷺ bernama Khilafah Rasyidah ‘ala minhâj an-Nubuwwah.

Bahkan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum pun lebih menyibukkan diri berembuk atau ber-ijma' memilih Khalifah pengganti Rasulullah ﷺ pasca wafatnya Rasulullah ﷺ, dan para Sahabat pun menunda sampai 2 hari 2 malam pemakaman jenazah mulia baginda Rasulullah ﷺ, sampai benar-benar dibai’at seorang Khalifah pengganti Rasulullah ﷺ. Dan akhirnya pun terpilih dan dibaiatlah Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra sebagai Khalifah pengganti Rasulullah ﷺ oleh para Sahabat dan seluruh kaum Muslimin.

Setelah terpilihnya Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra sebagai Khalifah baru pengganti Rasulullah ﷺ, barulah kemudian para Sahabat dan kaum Muslim yang dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra memakamkan jenazah mulia baginda Rasulullah ﷺ.

Jadi, artinya Khilafah itu sangat urgen karena menyangkut tuntutan akidah tauhid Islam dan menyangkut perkara hidup dan matinya Islam dan umat Islam. Karena Khilafah adalah mahkota kewajiban dan induk kebaikan, sekaligus perisai Islam dan benteng utama Islam serta senjata Islam.

Wallahu a'lam bish shawab. []

#JanganPilihPembohong
#HaramPilihPemimpinDzhalimDanIngkarJanji
#HaramPilihPemimpinAntekAsingAseng
#2019GantiRezimGantiSistem
#2019TumbangkanDemokrasi
#2019TegakkanKhilafah
#KhilafahAjaranIslam
#UlamaBelaHTI
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAdalahSolusi

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog