Friday, February 1, 2019

Khilafah Bukanlah ISIS



Oleh: Zakariya al-Bantany

Para penjajah kafir Barat dan Timur dengan propaganda jahatnya baik secara langsung maupun melalui proxy (bonekanya) baik para penguasa boneka dan para komprador serta media mainstream yang menjadi corong imperialismenya terus-menerus tiada hentinya meniupkan kesesatan demi kesesatan di tengah kaum Muslim, dengan menciptakan sebuah stigma negatif dan menyesatkan, yaitu Khilafah itu adalah ISIS, yang telah menebar teror bagi dunia..?!

Keabsahan Kekhalifahan yang dideklarasikan oleh ISIS dengan Khalifah palsunya yang bernama Abu Bakar Al-Baghdadi di Raqqa Suriah sesungguhnya secara syar'i telah tertolak karena tidak memenuhi empat syarat syar'i sekaligus, yaitu:

Pertama: Khilafah semestinya menguasai satu wilayah otonom, bukan berada di bawah sebuah negara. Artinya Khilafah bukanlah negara dalam negara. Khilafah secara de facto dan de jure adalah sebuah negara yang independen dan sebuah negara yang berdaulat penuh atas wilayah hukum dan politiknya serta geografis dan keamanannya.

Kedua: Semestinya Khilafah mengontrol penuh keamanan dan rasa aman di wilayah itu.

Ketiga: Khilafah semestinya mampu menerapkan Syariah Islam secara adil dan menyeluruh (kaffah) dalam segala aspek kehidupan.

Keempat: Pengangkatan Khalifah semestinya memenuhi seluruh syarat-syarat syar'i pengangkatan (syurutul in’iqad), yaitu Muslim, laki-laki, baligh, berakal, merdeka, adil dan mampu, serta ia dibaiat dengan prinsip ridha wal ikhtiyar (kerelaan dan pilihan) oleh umat Islam di wilayah itu setelah opini umum (ra'yul 'aam) tentang Khilafah berkembang dan menjadi kesadaran umum (wa'yul 'aam) di tengah masyarakat. Kenyataannya, semuanya tidak terpenuhi.

Lagi pula, metode perjuangan yang digunakan ISIS tidaklah sesuai dengan metode (thariqah/ manhaj) Rasulullah dalam mendirikan Daulah Islam pertama di Madinah. Dalam metode perjuangan dakwah Rasul tersebut, Rasulullah tidak pernah sedikitpun menempuh jalan kekerasan, apalagi menghancurkan tempat ibadah, melakukan pembunuhan tanpa haq, menebar teror dan sebagainya.

Jadi, pasca deklarasi, ISIS sesungguhnya tetaplah sebagai milisi bersenjata, bukan Khilafah. Haruslah diingat, bahwa Khilafah adalah negara yang punya bobot bukan sekedar namanya saja, proklamasinya akan menjadi peristiwa yang hebat dan mengguncang dunia, sebagaimana peristiwa hebat dan telah berguncangnya dunia saat berdirinya Daulah Islam yang pertama oleh Rasulullah di Madinah tersebut. Bukan seperti sekarang, Khilafah palsu ala ISIS tersebut yang justru hanya menjadi bahan olok-olokan dan cemoohan di mana-mana.

Setelah meledaknya soal ISIS, terlihat ada upaya monsterisasi istilah “Khilafah” dengan mengaitkannya dengan ISIS. Yakni dimanfaatkannya pemberitaan soal ISIS ini untuk menciptakan stigmatisasi negatif, terorisasi, radikalisasi, monsterisasi dan kriminalisasi terhadap simbol-simbol Islam dan istilah-istilah Islam serta ajaran Islam seperti panji Rasul (bendera tauhid Islam), dakwah, jihad, Syariah dan Khilafah. Tanda-tanda ke arah sana sudah ada dan kian benderang bahkan korbannya pun sudah banyak berjatuhan.

Mengapa monsterisasi istilah “Khilafah” bisa terjadi di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini..?!

Karena, Indonesia adalah mayoritas Muslim. Bahkan disebut-sebut sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia dan wilayahnya yang sangat luas dan sangat strategis dari aspek konstelasi geopolitik strategisnya, serta begitu sangat kayanya sumberdaya alam yang dimiliki oleh Indonesia tersebut.

Justru karena itulah,  banyak pihak yang tidak menghendaki umat Islam di negeri ini bangkit. Sebab, bila itu terjadi tentu akan sangat berpengaruh terhadap konstelasi geopolitik dunia, khususnya di dunia Islam dan tentunya pula sangat membahayakan bagi kepentingan negara-negara penjajah Barat dan Timur ataupun gurita hegemoni penjajahan kapitalisme global, baik blok Barat (asing) yaitu AS dan Eropa serta zionis yahudi Israel maupun blok Timur (aseng) yaitu RRC.

Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah hal itu terjadi. Di antaranya dengan memunculkan kesan buruk dan menakutkan terhadap sejumlah ajaran Islam khususnya ajaran kunci dalam Islam yaitu Syariah dan Khilafah.

Di situlah terjadi monsterisasi atau kriminalisasi istilah Khilafah. Harapannya, bila orang-orang takut dan punya kesan buruk, maka dengan mudah didorong untuk menjauhi dan menolak ajaran Islam yang sesungguhnya sangat mulia itu, dan yang sesungguhnya menjadi solusi atas segala problematika umat manusia saat ini.

Oleh karena itu, kita harus waspada jangan sampai isu ISIS dijadikan alat untuk menjauhkan Islam dari umat Islam dan propaganda jahat para penjajah kafir dan para bonekanya untuk memecah-belah umat Islam dan membendung kebangkitan Islam sekaligus mengaborsi kelahiran bayi Khilafah Islam yang hakiki.

Juga jangan sampai penolakan terhadap ISIS, berkembang menjadi penolakan terhadap ide Syariah dan Khilafah. Karena itu, harus dibedakan antara tindak kekerasan yang membabi-buta ISIS dengan ide Khilafah sebagai gagasan yang berasal dari Islam.

Khilafah sebagai gagasan dari Islam yang notabene adalah ajaran dan warisan Rasulullah jelas sangat berbeda dengan ISIS yang nyata-nyata telah menyalahi thariqah atau manhaj (metode) Rasulullah dan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum tersebut.

Apatah lagi ISIS terindikasi sangat kuat adalah ciptaan AS melalui operasi intelijen CIA dan militer AS yang bertujuan mendistorsi dan monsterisasi ajaran Islam tentang dakwah, jihad, Syariah dan Khilafah serta simbol-simbol Islam sekaligus politik adu-domba dan jebakan maut terhadap umat Islam, yang tujuan utamanya adalah melemahkan Islam dan umat Islam serta membendung kebangkitan Islam dan mengaborsi kelahiran bayi raksasa Khilafah yang hakiki serta melanggengkan hegemoni penjajahan kapitalisme global AS di Timur Tengah dan di dunia Islam.

ISIS pun dijadikan legitimasi oleh AS dan sekutu jahatnya untuk membajak Revolusi Arab khususnya Revolusi Syam serta legitimasi untuk mengkriminalisasi dan menghabisi ajaran Islam yang utama, yaitu Syariah dan Khilafah dan para pejuangnya.

Indikasi sangat kuat ISIS adalah buatan AS diakui sendiri oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama (sekarang mantan Presiden AS) -sebelum Presiden terbaru AS Donald Trump yang terpilih saat ini- yang terpeleset lidah dalam sebuah konferensi pers membicarakan ISIS. Dalam pernyataannya, Obama mengatakan bahwa AS melatih tentara ISIS.

Diberitakan RT, Rabu (8/7/2015), pernyataan Obama itu disampaikan setelah mendapatkan penjelasan dari para pejabat keamanan soal upaya AS dalam mengalahkan ISIS, salah satunya adalah memberikan pelatihan bagi kelompok pemberontak moderat di Suriah.

Namun dalam konferensi pers Senin (6/7/2015), Obama mengatakan bahwa “kami meningkatkan pelatihan pasukan ISIL, termasuk relawan dari suku Sunni di Provinsi Anbar.” ISIL adalah sebutan lain ISIS yang biasa digunakan pemerintah AS.

Obama seperti tidak sadar telah mengucapkan kalimat yang salah dan melanjutkan perkataannya. Namun pihak Gedung Putih sepertinya menyadari kesalahan kalimat itu dan melakukan perbaikan dalam transkrip resmi di situs pemerintah.

Dalam transkrip tersebut, kalimat Obama ditambahi kata dalam kurung “Iraqi” atau warga Irak. Namun inisiatif Gedung Putih ini juga terasa aneh dan tidak memperbaiki keadaan. Kalimat “Pelatihan pasukan ISIL (warga Irak)” bermakna seolah AS melatih pasukan ISIL yang berada di Irak.

Kesalahan Obama dan perbaikannya dalam transkrip yang janggal memicu kehebohan di media sosial. Beberapa mengatakan bahwa ini adalah Freudian slip, yaitu tidak sengaja mengatakan hal-hal yang terpendam di alam bawah sadar yang biasanya merupakan kejujuran. Artinya, Obama mengakui bahwa mereka telah melatih ISIS. (cnnindonesia.com, 9/7/2015) [hizbut-tahrir.or.id › 2015/07/11]

Mantan menteri luar negeri dan ibu negara AS Hillary Clinton pun secara terang-terangan mengakui bahwa Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) merupakan gerakan buatan AS guna memecah-belah dan membuat Timur Tengah senantiasa bergolak.

Pengakuan tersebut termuat dalam buku terbaru Hillary Clinton “Hard Choice” dan menjadi pemberitaan luas media-media massa internasional akhir-akhir ini.

Mantan Menlu di kabinet pertama Presiden Barack Obama itu mengaku, pemerintah AS dan negara-negara Barat sengaja membentuk organisasi ISIS demi memecah-belah Timur Tengah (Timteng). Hillary mengatakan gerakan ISIS sepakat dibentuk dan diumumkan pada 5 Juni 2013. [http://liputanislam.com/berita/hillary-clinton-terang-terangan-akui-isis-buatan-amerika/]

Bahkan Presiden Amerika Serikat (AS) yang sekarang dari Partai Republik, Donald Trump pun mengakui ISIS adalah buatan AS:

"Mereka telah membuat ISIS. Hillary Clinton membuat ISIS bersama dengan Obama," kata Trump saat berbicara di Biloxi, Mississippi, seperti dikutip dari laman The Guardian, Minggu (3/1/2016). [https://international.sindonews.com/read/1074087/42/trump-isis-buatan-hillary-clinton-dan-barack-obama-1451815062]

Jadi kesimpulannya, Khilafah bukan ISIS dan ISIS bukanlah Khilafah. Khilafah yang hakiki yang memenuhi syarat-syarat syar'i yang sesungguhnya adalah Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah atau Khilafah Rasyidah Islamiyah -Khilafah yang berada di jalan lurus yaitu jalan yang mengikuti manhaj atau metode Kenabian- yang sebentar lagi tegak di akhir zaman ini melalui metode dakwah Rasulullah yang sedang diperjuangkan oleh para pejuang Khilafah yang mukhlis dan konsisten mengikuti metode perjuangan dakwah Rasulullah tersebut, serta mereka pun berjuang bersama seluruh elemen umat Islam di seluruh penjuru dunia, termasuk di negeri ini untuk mewujudkan tegaknya kembali Khilafah Rasyidah 'ala Minhajin Nubuwwah wa'dullah (janji Allah) wa (dan) busyrah Rasulillah (kabar gembira Rasulullah ), bi idznillah.

Wallahu a'lam bish shawab. []

#2019GantiRezimGantiSistem
#2019TumbangkanDemokrasi
#2019TegakkanKhilafah
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahTheRealSolution

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog