Sunday, February 10, 2019

Ganti Rezim Bukan Solusi


Oleh: Zakariya al-Bantany

Saat ini kita telah berada di puncaknya tahun politik yaitu tahun 2019 yang akan digelar pemilu serentak baik pileg maupun pilpres pada tanggal 17 April 2019 mendatang.

Baik di dunia nyata maupun di dunia maya atau di dunia media sosial pertarungan politik dan intelektual pun begitu terasa sangat dahsyatnya antara kubu petahana yang sangat berhasratnya pertahankan kekuasaannya hingga 2 periode dan kubu oposisi yang sangat menginginkan perubahan rezim yang baru dan kehidupan yang lebih baik dalam berbangsa dan bernegara.

Debat capres perdana pun sudah digelar oleh KPU pusat pada 17 Januari 2019 yang lalu hingga semakin menambah kian panasnya suhu politik nasional dan kian menaikkan tingginya tensi konstelasi politik nasional. Tak puas hasil debat capres yang pertama, kedua kubu pun melakukan manuver politik dan serangan politik untuk melemahkan lawan politiknya masing-masing dengan adu data, serta adu konsep perubahan sampai-sampai kubu petahana sangat takut dengan hashtag #2019GantiPresiden yang diviralkan oleh kubu oposisi yang disambut gegap gempita oleh rakyat yang sangat menginginkan perubahan hingga kubu petahana sangat ketakutan setengah mati.

Sampai-sampai saking paniknya kubu petahana terhadap elektabilitasnya yang semakin nyungsep dan jatuhnya kredibilitas, wibawa dan kharisma sang petahana di mata rakyatnya akibat kedustaan dan kedzalimannya kepada rakyatnya melalui kebijakan-kebijakannya yang sangat mendzalimi rakyat. Serta terbongkarnya kebobrokan dan kegagalan rezim petahana dalam mengurus dan mengelola negara dan rakyatnya membuat sang rezim petahana keluarkan jurus mabok di mana tatkala kubu petahana kehabisan argumentasi dan kalah data dengan kubu oposisi maka secepat kilat kubu petahana langsung melabeli kubu oposisi menebar hoax, menebar fitnah dan menebar kebencian, serta menebar perpecahan bangsa.

Hingga akhirnya pun kian membuat kubu petahana sering melakukan blunder politik yang kian menggerus elektabilitasnya hingga kubu petahana pun semakin panik dengan menggunakan alat kekuasaannya untuk membungkam lawan politiknya dengan ancaman UU ITE dan belenggu penjara hingga persekusi dan kriminalisasi hingga kubu petahana pun menyerang membabi buta kepada lawan politiknya dengan melontarkan tudingan bahwa kubu oposisi menggunakan "propaganda Rusia" untuk menjatuhkan dirinya. Namun, justru itu menjadi blunder terparah dan boomerang buat kubu petahana itu sendiri hingga negara Rusia lewat kedubesnya pun protes keras dan marah kepada kubu petahana yang membawa-bawa Rusia dalam pusaran pilpres 2019 tersebut dan sangat mungkin pula AS ikutan marah atas kelakuan sang petahana tersebut.

Dan akhirnya pun semakin menguatkan tekad baja rakyat menginginkan perubahan dengan berupaya keras menggantinya dengan presiden yang baru yang sangat mereka harapkan mampu membawa perubahan yang lebih baik bagi kehidupan mereka melalui pesta demokrasi pilpres 2019 pada 17 April mendatang.

Maka, berujunglah semakin ramai dan viralnya hashtag #2019GantiPresiden baik di media sosial maupun di dunia nyata yang menjadi bukti betapa rakyat sangat menginginkan perubahan yang lebih baik, dan rakyat pun sudah bosan dan muak dengan rezim petahana yang sudah mengingkari 60 lebih janji politiknya saat kampanye pilpres 2014 yang lalu, serta sudah sangat menyusahkan rakyat melalui kebijakan-kebijakan dzalim sang petahana yang sangat liberal dan sangat pro kapitalis asing dan aseng, serta hanya membahayakan ketahanan negeri belaka.

Lantas, yang menjadi pertanyaannya, apakah sebuah solusi real jika sekedar ganti presiden atau ganti rezim untuk mewujudkan perubahan hakiki yang lebih baik bagi Indonesia yang sejahtera dan berkeadilan di masa depan..?!

Bukankah kita sangat berpengalaman dalam sejarah sudah berkali-kali ganti presiden atau ganti rezim sejak orde lama (era presiden Soekarno), orde baru (era presiden Soeharto) hingga orde reformasi (era presiden BJ Habibie, Gusdur, Megawati, SBY hingga Jokowi sekarang)..?!

Apakah dengan pergantian rezim atau presiden berkali-berkali belaka tersebut kian membuat Indonesia semakin lebih baik, sejahtera, adil dan makmur..?! Faktanya tidak, justru sebaliknya Indonesia semakin lebih buruk, terpuruk, terjajah, miskin, tidak berkeadilan, tidak sejahtera, tidak aman dan di ambang kehancurannya.

Buktinya Timor Leste beserta Sipadan dan Ligitan lepas dari Indonesia, utang negara tembus lebih dari 5000 triliyun, pemerintah defisit APBN, rakyat dipalak melulu di semua lini kehidupannya atas nama pajak dan BPJS, BBM mahal dan naik terus, listrik mahal, biaya berobat mahal, biaya sekolah mahal, biaya pajak STNK dan BPKB mahal, daging mahal, cabe mahal, sembako mahal dan naik terus sebaliknya yang turun hanya harga diri, dan yang tidak naik-naik hanyalah gaji rakyat dan pendapatan rakyat saja.

Buktinya juga Indonesia dibanjiri ribuan hingga jutaan lebih tenaga kerja asing dari Cina baik legal maupun ilegal. Indonesia juga dibanjiri berton-ton narkoba. Indonesia pun dibanjiri oleh: LGBT, kumpul kebo, pornografi-pornoaksi, serta garam impor, beras impor, dan ribuan lebih cacing sarden mackarel kaleng impor.

Buktinya juga Indonesia makin subur dan mengguritanya kemiskinan, kriminalitas dan pelacuran; korupsi dari kelas ikan teri, kelas ikan kakap hingga kelas ikan paus; privatisasi aset-aset vital dan penting negara; 2/3 wilayah Indonesia dikuasai asing dan aseng; dan lebih dari 80% SDA dan Migas kita dikuasai asing dan aseng.

Buktinya juga hukum di Indonesia makin tumpul ke atas dan hanya tajam ke bawah, yang berujung hukum makin tumpul ke kafir dan hanya tajam ke Islam; ajaran Islam dan Ulama pun dikriminalisasi; sebaliknya para penista agama (penista Islam) dilindungi oleh penguasa; bahkan gerakan separatisme seperti OPM di Papua, RMS di Maluku, Minahasa Merdeka dibiarkan dan cenderung dilindungi oleh penguasa, dan lain-lain.

Itu semua biangnya gara-gara sistem kufur warisan penjajah yang bernama demokrasi kapitalisme sekulerisme yang diadopsi dan diterapkan di Indonesia selama puluhan tahun hingga kini. Masihkah percaya demokrasi, kapitalisme, sekulerisme tersebut?! Mikir..?!

Allah SWT berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ
وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al-Maidah: 50)

Karena itulah, rasanya tidak layak kita sebagai seorang Muslim ataupun Mukmin terjatuh ke dalam lubang yang sama berkali-kali. Keledai saja tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk berkali-kalinya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Saw. bersabda:

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular (terperosok/jatuh) dari lubang (ke dalam lubang) yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998)

Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “yuldagu” ada dua cara:

Pertama: Yuldagu dengan ghain-nya di-dhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (akhirat).

Kedua: Yuldagi dengan ghain-nya di-kasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. (Syarh Shahih Muslim, 12: 104)

Ibnu Hajar berkata, “Seorang muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (Fath Al-Bari, 10: 530)

Kesimpulannya, Muslim yang cerdas ataupun Mukmin yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali dan tidak akan membiarkan dirinya jatuh terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama dan jangan lagi jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kesekian kalinya.

Oleh sebab itulah, sudah terbukti secara historis dan empiris berkali-kali jalan demokrasi itu dibuat oleh penjajah kafir untuk menjebak, melemahkan dan menghancurkan umat Islam dan Islam, serta untuk mematikan kebangkitan Islam, dan juga untuk kian mengokohkan hegemoni penjajahan kapitalisme global kafir penjajah yang terlaknat tersebut di negeri-negeri Islam khususnya di Indonesia. Mengapa kita masih tetap menjatuhkan diri terjun bebas ke dalam lubang kubangan lumpur hitam jalan demokrasi yang sesat dan kufur tersebut. Mikir..?!

Jadi, jika sekedar ganti presiden atau ganti rezim belaka tanpa ganti sistem maka itu ibarat kita punya ladang yang ditumbuhi banyak rerumputan. Apabila kita hanya membersihkan rerumputan tersebut dari ladang kita dengan cara memangkas rerumputan tersebut maka rerumputan tersebut niscaya tetap akan tumbuh lagi bahkan akan semakin tumbuh subur dan semakin banyaknya, akhirnya ladang kita pun tetap tidak bisa ditanami tanaman buah yang baik, sehat dan bermanfaat.

Namun, sebaliknya apabila kita ganti rezim sekaligus ganti sistem maka itu ibaratnya kita punya ladang yang ditumbuhi rerumputan dan kita pun membersihkan rerumputan tersebut dari ladang kita dengan cara mencabut rerumputan tersebut sampai ke akar-akarnya dan membajak tanahnya hingga gembur, serta tidak akan membiarkan satupun akar rerumputan tersebut tertinggal di ladang kita. Maka rerumputan tersebut niscaya tidak akan tumbuh lagi. Dan akhirnya ladang kita pun bisa ditanami tanaman buah yang baik, sehat dan bermanfaat seperti padi, jagung, gandum, pisang, sayur-sayuran, dan lain-lain.

Karena itu, solusi real dan finalnya atas segala problematika yang tengah mendera dan melanda Indonesia hanyalah #2019 GantiRezimGantiSistem Hanya Dengan Syariah dan Khilafah_untuk Indonesia yang lebih baik, sejahtera, berkeadilan penuh rahmah dan penuh berkah. Mau..?!

Wallahu a'lam bish shawab. []

#JgnPilihPembohongRakyat
#GakMauKetipuLagi
#SiapaBilangRezimProRakyat
#PikirLagiPilihPembohong
#JualanJanjiBohongiRakyat
#HaramPilihPemimpinIngkarJanji
#HaramPilihPemimpinAntekAsingAseng
#2019GantiRezimGantiSistem
#2019TumbangkanDemokrasi
#2019TegakkanKhilafah
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAjaranIslam
#KhilafahAdalahSolusi

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog