Monday, December 24, 2018

Tuntas Bela Uyghur Hanya Dengan Khilafah Dan Jihad



Oleh: Zakariya al-Bantany

Pada masa Daulah Islam yang pertama di Madinah (masa Nubuwwah), pada pertengahan bulan Syawal tahun 2 H Rasulullah mengerahkan pasukannya dan mengepung perkampungan yahudi Qainuqa' serta menundukkan semua orang-orang yahudi Qainuqa' karena telah melanggar perjanjian dan terlibat melecehkan kehormatan seorang Muslimah dan pembunuhan secara beramai-ramai terhadap seorang pemuda Muslim yang membela kehormatan wanita Muslimah tersebut.

Sebagaimana pula Rasulullah telah memimpin langsung 30.000 pasukan kaum Muslimin menghadapi pasukan Bizantium Romawi Timur yang berjumlah 100.000 pasukan dalam perang tabuk yang terjadi pada 630 M atau 9 H. Rasulullah mengerahkan pasukan jihadnya tersebut dalam membebaskan kaum Muslimin (masyarakat Tabuk yang baru masuk Islam) yang dijajah dan dibunuh secara massal oleh tentara Romawi tersebut di Tabuk (perbatasan wilayah jajahan Romawi di Syam).

Juga sebagaimana pula pada masa Khulafaur Rasyidin Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu bersama Panglima militernya yaitu Khalid bin Walid dan Amru bin Ash Radhiyallahu 'anhuma berhasil membebaskan Palestina dari penjajahan imperium Bizantium Romawi Timur pada tahun 637 M.

Sebagaimana halnya pula pada masa Kekhilafahan Islam Bani Abbasiyah, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi seorang wali Mesir dan Syam sekaligus panglima militer Khilafah Islam berhasil membebaskan Palestina dari cengkraman penjajahan bangsa Eropa Salibis. Kemenangan besar dalam pembebasan Palestina itu terjadi pada tanggal 27 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M, yaitu setelah 88 tahun di bawah penjajahan kekuasaan bangsa Eropa Salibis.

Seperti halnya pula Khalifah al-Mu'tashim Billah (pada masa Khilafah Abbasiyah) berhasil menaklukkan kota Amuria (Turki) dan membebaskan seorang Muslimah dari Bani Hasyim yang telah dilecehkan kehormatannya oleh seorang tentara Romawi.

Di mana pada tahun 837, al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi, kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu'tashim Billah dengan lafadz yang legendaris: waa Mu'tashimaah!

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Amuria dan melibas semua orang kafir yang ada di sana (30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 yang lain ditawan). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari istana Khalifah di Baghdad hingga kota Amuria, karena besarnya pasukan.

Setelah menduduki kota tersebut, Khalifah memanggil sang pelapor untuk ditunjukkan di mana rumah wanita tersebut, saat berjumpa dengannya ia mengucapkan "Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?" Dan sang budak wanita inipun dibebaskan oleh Khalifah serta orang romawi yang melecehkannya dijadikan budak bagi wanita tersebut.

Dan juga masih pada masa Khilafah Abbasiyah, sebagaimana halnya pula Sultan al-Mudzhaffar Saifuddin Qutuz sebagai Wali Mesir sekaligus Panglima militer Islam beserta pasukan kaum Muslim berhasil membebaskan dan membersihkan wilayah Daulah Khilafah Islam dari cengkraman penjajahan bangsa barbar Mongol (Tartar) dalam peperangan yang sangat terkenal dalam sejarah yaitu Perang AIN JALUT (Spring of Goliath) pada tahun 658 H/1260 M.

Juga sebagaimana pada tahun 1989-1902 di masa akhir Khilafah Islam Utsmaniyah pada masa Khalifah Sultan Abdul Hamid II yang begitu sangat luar biasanya dan heroiknya beliau tetap sangat kokohnya menjaga dan mempertahankan tanah suci Palestina dengan tidak memberikan sejengkal tanah pun kepada bangsa barbar zionis yahudi israel, meskipun beliau pada akhirnya pada tahun 1909 harus kehilangan jabatannya sebagai Khalifah dan beliau pun beserta keluarga besarnya harus terusir dari istananya dan dibuang serta mendekam dalam penjara di Salonika Yunani hingga beliau wafat di sana. Karena konspirasi jahat zionis yahudi dan Inggris beserta negara-negara barat penjajah sekutunya dan para boneka -para pengkhianat Islam yaitu kaum zindiq dan kaum nasionalis Turki muda- nya yang ditanam di tubuh negara Khilafah Utsmaniyah yang sudah tua renta dan sudah sakit-sakitan tersebut.

Begitulah teladan agung dari Daulah Khilafah Islamiyah yang diteladankan oleh baginda Rasulullah dan para Khalifah setelahnya dalam membela, mempertahankan dan menjaga kehormatan dan kemuliaan Islam serta kehormatan dan kemuliaan umat Islam serta dalam membela, menyelamatkan, mempertahankan dan menjaga darah umat Islam dan tanah wilayah Islam dengan jihad dan pengorbanan totalitas serta ketaatan totalitas kepada Allah SWT sebagai wujud konsekuensi kalimat tauhid dan akidah tauhid Islam.

Namun, pada hari ini kita menyaksikan dengan mata kepala kita jutaan saudara Muslim Uyghur kita di Turkistan Timur (Xinjiang) tengah ditindas dan digenosida dengan barbarnya dan secara sistematis oleh negara kafir komunis Cina terlaknat.

Negara kafir penjajah komunis Cina tersebut benar-benar secara terbuka dan sangat arogannya melucuti keislaman Muslim Uyghur. Kaum Muslim Uyghur dipaksa dengan sadis dan brutalnya oleh rezim komunis Cina untuk meninggalkan Islam agama mereka dan beralih menjadi komunis dengan siksaan yang tidak berperikemanusiaan seperti dilecehkan kehormatan dan harga diri mereka, mereka pun dilarang menjalankan seluruh ajaran Islam, menggunakan nama-nama Islam, menggunakan atribut dan simbol-simbol Islam, membaca dan mengamalkan al-Quran, dilarang berpuasa, dilarang sholat, disiksa, dibunuh, dilarang menyelenggarakan pendidikan Islam, dan penghancuran ribuan masjid, serta bentuk penindasan kejam lainnya hingga jutaan kaum Muslim Uyghur dimasukkan secara paksa ke dalam kamp-kamp konsentrasi penyiksaan dan pencucian otak.

Umat Islam Uyghur pun merintih kesakitan tak terperi dan menjerit meminta pertolongan kepada dunia khususnya kepada saudara sesama Muslimnya di seluruh penjuru dunia terlebih lagi kepada saudara sesama Muslimnya di bumi Nusantara ini yang notabene negara yang jumlah penduduknya mayoritas Muslim dan terbesar di dunia.

Namun, para penguasa negeri-negeri Islam cenderung bungkam dan ciut nyalinya serta tidak berdaya menghentikan kebiadaban negara kafir penjajah komunis Cina yang tengah membantai dan memusnahkan jutaan kaum Muslim Uyghur di Turkistan Timur (Xinjiang) tersebut.

Bahkan parahnya penguasa rezim jokowi di negeri mayoritas Islam ini pun sangat takut kepada negara komunis Cina tersebut hingga diam membisu gemetar penuh ketakutan bahkan sepatah kata kutukan pun atas kebiadaban negara komunis Cina tersebut tak juga kunjung diucapkan oleh sang presiden Jokowi apatah lagi hanya sekedar untuk memutus hubungan diplomatik dengan Cina dan mengusir Dubes Cina serta mengirimkan pasukan militer TNI untuk berjihad membebaskan dan menyelamatkan Muslim Uyghur sekaligus menghukum bangsa barbar teroris negara komunis kafir Cina (RRC) tersebut sebagai wujud solidaritas sesama Muslim kepada Muslim Uyghur dan wujud pelaksanaan tuntutan akidah Tauhid Islam, namun lagi-lagi itu semua tidak dilakukan oleh sang rezim petahana bahkan cenderung bungkam.

Rezim Jokowi ini benar-benar tidak peduli dengan nasib Muslim Uyghur yang tengah dibantai dan digenocida oleh negara kafir komunis Cina. Jangankan peduli kepada Muslim Uyghur, kepada rakyatnya sendiri pun rezim Jokowi tidak peduli seperti pada 31 jiwa rakyatnya sendiri yang melayang dibantai secara sadis oleh OPM di Papua yang notabene merupakan wilayah kekuasaannya sendiri dan dalam tanah airnya sendiri dan bangsanya sendiri, apatah lagi pada jutaan jiwa warga Muslim Uyghur Xinjiang -yang bukan rakyatnya sendiri dan bukan pula bangsanya sendiri- yang tengah dibantai dengan kejinya oleh negara teroris kafir penjajah Cina komunis, jelas rezim Jokowi tidak akan peduli walau hanya sekedar ucapan kecaman dan kutukan kepada kebiadaban negara teroris komunis Cina (RRC).

Sebab rezim demokrasi ini leher, kaki, dan tangannya sudah diikat kuat oleh rantai baja yang bernama nasionalisme, hukum internasional, perjanjian internasional, kerjasama totalitas politik ekonomi dengan Cina, serta jeratan utang luar negeri dari Cina yang begitu sangat dalam, dan sangat mengguritanya buah busuk dari penerapan ideologi kufur penjajah yang bernama sistem demokrasi-kapitalisme-sekulerisme. Begitupula yang tengah terjadi dan yang tengah menimpa para penguasa negeri-negeri Muslim lainnya sehingga mereka menjadi pengecut sejati dan tidak berani menjadi laki-laki sejati walau hanya sekedar satu hari.

Karena itulah, mendukung dan membela rezim dzhalim demokrasi tersebut sama saja mendukung dan membela kepentingan negara penjajah kafir Cina komunis (RRC) dalam menjajah dan menguasai negeri ini, serta sama saja ia mendukung dan membela RRC membantai jutaan umat Islam Uyghur di Xinjiang yang notabene adalah saudara seimannya sendiri.

Bukankah baginda Rasulullah telah bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَ لَا يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim yang lainnya. Tidak boleh mendzhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang Muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari no.2442, Muslim no.2580, Ahmad no.5646, Abu Dawud no.4893, at-Tirmidzi no.1426; dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma)

Namun, sampai detik ini pun rezim Jokowi dan para penguasa Muslim di negeri-negeri Islam lainnya tidak ada satu pun yang tergerak hatinya untuk segera memobilisasi seluruh umat Islam sedunia dan jutaan pasukan militernya serta mengerahkan pesawat tempur dan tanknya serta armada perangnya untuk berjihad dalam menyelamatkan dan membebaskan umat Islam Uyghur dari penindasan, penjajahan dan pembantaian massal (genosida) yang dilakukan bangsa barbar teroris negara komunis Cina tersebut, sekaligus memerangi dan mengenyahkan bangsa barbar negara kafir komunis Cina tersebut dari Uyghur Turkistan Timur, sekaligus menundukkan dan menaklukkan negara komunis Cina (RRC) tersebut.

Padahal di sisi Allah SWT, hilangnya nyawa seorang muslim lebih besar perkaranya daripada hilangnya dunia.

Dari al-Barra’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang Mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455)

Sangat disayangkan, tiada hentinya nyawa umat Islam Uyghur harus hilang dibinasakan dan dimusnahkan dengan biadabnya oleh bangsa barbar teroris negara kafir komunis Cina (RRC) terkutuk tersebut di hadapan kita umat Islam di seluruh penjuru dunia khususnya kita umat Islam di bumi Nusantara ini. Namun, lagi-lagi gegara nasionalisme dan hukum internasional serta perjanjian internasional pula kita umat Islam tidak kuasa mencegah dan menghentikan kejahatan dari bangsa barbar negara kafir komunis Cina tersebut, serta kita pun tidak bisa secara totalitas menolong saudara Muslim Uyghur kita tersebut yang tengah merintih kesakitan tiada tara dan menjerit histeris meminta pertolongan kepada dunia dan kepada kita umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Padahal, satu tetes darah umat Islam Uyghur baik orang tua maupun anak-anak tertumpahkan dan satu nyawa umat Islam Uyghur ada yang hilang, maka kita umat Islam di seluruh penjuru dunia khususnya para penguasa Muslim di negeri-negeri Islam termasuk penguasa Arab, Saudi, Turki, Iran, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Brunei Darussalam, dan lain-lain tersebut pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT di Yaumil Hisab kelak.

Jika kita tetap diam membisu tidak mau menolong umat Islam Uyghur yang sedang dijajah dan dibantai secara massal oleh bangsa barbar negara komunis Cina tersebut apalagi sampai membela negara kafir komunis Cina tersebut dengan memfitnah dan menyudutkan umat Islam Uyghur sebagai teroris, separatis dan ekstrimis-radikal, maka sesungguhnya kita pun adalah termasuk orang-orang yang dzhalim. Bukankah Allah SWT tidak pernah melupakan tindakan orang-orang yang dzhalim..?! Allah SWT berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

“Jangan sekali-kali kamu mengira, Allah akan melupakan tindakan yang dilakukan orang dzhalim. Sesungguhnya Allah menunda hukuman mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena melihat adzab).” (QS. Ibrahim: 42)

Dan bisa jadi pula, hukuman itu Allah segerakan di Dunia. Sebagaimana riwayat hadits dari Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ مِنَ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

"Tidak ada dosa yang lebih berhak untuk Allah segerakan hukuman bagi pelakunya di dunia, di samping masih ada hukuman di akhirat, selain dosa dzhalim dan memutus silaturrahmi." (HR. Tirmidzi, 2700 dan Abu Dawud, 4904)

Karena itulah, wajib hukumnya umat Islam membela dan menolong serta menyelamatkan saudaranya umat Islam Uyghur yang sedang didzhalimi, dijajah dan ditindas serta dibinasakan dan dipunahkan oleh bangsa barbar teroris radikal negara kafir komunis Cina tersebut. Allah SWT berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi wali (penolong) bagi sebagian yang lain." (QS. at-Taubah:71)

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

"Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib memberikan pertolongan." (QS. al-Anfal: 72)

Karena seorang Mukmin mencintai saudaranya sesama Mukmin, maka dia akan menolongnya dan membela kehormatannya dan juga jiwanya. Dia tidak akan pernah rela saudaranya dihinakan atau direndahkan, serta ia pun tidak akan pernah rela saudara seakidahnya didzhalimi, ditindas dan dibinasakan oleh musuh-musuh Islam seperti yang tengah dialami saat ini oleh umat Islam Uyghur oleh negara kafir komunis Cina tersebut. Jika saudara seakidah kita dihinakan, didzhalimi dan dibinasakan, maka harusnya kita tampil terdepan membela dan menyelamatkannya, karena ini merupakan konsekuensi tauhid dan konsekuensi kecintaan, serta konsekuensi keimanan sebagai tuntutan akidah tauhid Islam.

Seorang Mukmin tidak akan menuduh Mukmin lainnya dengan tuduhan palsu apatah lagi sampai memojokkannya dan memfitnahnya dengan kejinya serta membiarkannya teraniaya dan dibinasakan oleh musuh-musuh Islam tersebut. Karena walâyah (kedekatan dan kecintaan serta keimanan) itu akan mendorongnya untuk memberikan nasihat kepada saudaranya jika salah, dan dengan segenap jiwa dia pun akan membela dan menyelamatkan saudara sesama Muslimnya yang sedang didzhalimi, ditindas dan dibinasakan oleh musuh-musuh Islam, bukan justru sebaliknya membela musuh-musuh Islam tersebut.

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَس بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pembantu Rasulullah , dari Rasulullah , beliau bersabda:

"Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)

Umat Islam Uyghur telah lama menjerit meminta tolong kepada kaum Muslim. Mereka ingin diselamatkan. Karena itu sekali lagi wajib atas kaum Muslim sedunia, termasuk penduduk Indonesia dan penguasa yang ada, melindungi mereka; memelihara keimanan dan keislaman mereka; sekaligus mencegah mereka dari kekufuran yang dipaksakan kepada mereka.

Sayang, saat ini tidak ada seorang pemimpin Muslim pun dari sekian banyak negeri-negeri Islam termasuk yang berada dalam OKI dan Liga Arab yang mau dan berani mengirimkan pasukan perang untuk berjihad menyelamatkan mereka. Sungguh tidak ada yang mempedulikan mereka. Termasuk penguasa negeri ini yang katanya termasuk salah satu dari 100 tokoh Muslim yang paling berpengaruh di dunia, yang penduduk Muslimnya terbesar di dunia. Jangankan memberikan pertolongan secara riil, bahkan sekedar kecaman pun hingga hari ini tidak terdengar dari penguasa negeri ini dan sungguh tidak ada simpati serta tidak ada respek sama sekali.

Oleh sebab itulah, di sinilah relevansi dan urgensi Khilafah. Karena Khilafah adalah perkara hidup dan matinya umat Islam. Karena Khilafah adalah pelaksana Syariah dan pemersatu umat Islam serta perisai dan penjaga Akidah Islam dan umat Islam, serta Khilafah adalah benteng kokoh Islam. Tanpa Khilafah umat Islam kondisinya laksana anak ayam yang kehilangan induknya dan laksana kebun tanpa pagar.

Karena itulah dalam Islam, Khilafah adalah benteng utama Islam sekaligus perisai Islam (junnatul Islam) dan pedang Allah yang terhunus. Sekaligus mahkota kewajiban (taajul furuudh), sehingga kewajiban-kewajiban hukum Syariah bisa dilaksanakan dengan sempurna, termasuk kewajiban menolong saudara seakidah semuslim kita -seperti dalam hal ini Uyghur dan juga sekaligus Palestina, Rohingya, Kashmir, Iraq, Suriah, Afghanistan, Morro, Pattani dan lain-lain- yang tengah ditindas dan dijajah serta dibunuhi secara massal oleh para penjajah kafir Barat dan Timur.

Rasulullah bersabda:

وَإِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

"Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Makna frasa “Al-Imâm junnat[un] (Imam/Khalifah itu laksana perisai)” dijelaskan oleh Imam an-Nawawi, “Maksudnya, ibarat tameng, karena Imam/ Khalifah mencegah musuh untuk menyerang (menyakiti) kaum Muslim; mencegah anggota masyarakat satu sama lain dari serangan; melindungi keutuhan Islam…”

Mengapa hanya Imam/ Khalifah yang disebut sebagai junnah (perisai)..?! Karena dialah satu-satunya yang bertanggung jawab. Ini sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi :

الإِمَامُ رَاعٍ وَ هُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Imam/Khalifah itu pengurus rakyat dan hanya dia yang bertanggung jawab atas rakyatnya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Menjadi junnah (perisai) bagi umat Islam khususnya dan rakyat umumnya meniscayakan Imam/ Khalifah harus kuat, berani dan terdepan. Bukan orang yang pengecut dan lemah. Kekuatan ini bukan hanya pada pribadinya, tetapi pada institusi negaranya, yakni Khilafah. Kekuatan ini dibangun karena pondasi pribadi (Khalifah) dan negara (Khilafah)-nya sama, yaitu akidah tauhid Islam.

Karena itulah, solusi final dari tragedi Uyghur dan seluruh problematika negeri-negeri Islam lainnya yang sedang terjajah seperti Rohingya, Suriah, Iraq, Afghanistan, Kashmir, Bosnia, Morro, Pattani, Indonesia, dan lain-lain adalah dengan segera umat Islam sedunia bersatu-padu meruntuhkan dinding tebal sekat-sekat nasionalisme, hukum internasional dan perjanjian internasional biang petaka Uyghur dan negeri-negeri Islam lainnya tersebut, dan bersegera mencampakkan sistem kufur demokrasi kapitalisme sekulerisme -yang menjadi biang utama masalah dan biang utama penjajahan di seluruh penjuru negeri Islam- ke dalam tong sampah peradaban dunia selamanya.

Dan solusi finalnya pun, umat Islam harus segera kembali bangkit dan bersegera bersatu pula dalam bingkai Khilafah Islam dalam ikatan kalimat tauhid dalam naungan panji tauhid Islam dengan bergerak di bawah komando seorang Khalifah dalam jihad fi sabilillah memerangi bangsa barbar teroris negara kafir komunis Cina (RRC), dan membebaskan umat Islam Uyghur dari kejahatan bangsa barbar teroris radikal negara komunis Cina (RRC) tersebut, sekaligus menundukkan dan menaklukkan negara kafir komunis Cina ke dalam pangkuan Islam.
Dan sekaligus juga membebaskan seluruh negeri-negeri Islam lainnya dari belenggu gurita penjajahan negara kafir barat dan timur kapitalisme global.
Sebab, hanya jihad dan Khilafah saja solusi real dalam menyelamatkan dan membebaskan Uyghur dan seluruh negeri-negeri Islam lainnya dari belenggu kejahatan gurita penjajahan kapitalisme global baik asing (AS, Eropa dan zionis yahudi) maupun aseng komunis (RRC). Karena itu, bela dan selamatkan Uyghur dan seluruh dunia Islam dengan Khilafah dan jihad!

Wallahu a'lam bish shawab. []

#DukaUighurDukaKita
#KamiPeduliMuslimUighur
#IndonesianMuslimWithUighur
#PRCisTerrorist
#StandWithMuslimUighur
#KhilafahSaveUighur
#SaveMuslimUyghurWithKhilafahAndJihad


Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog