Saturday, November 24, 2018

Bela Tauhid Bukti Bertauhid



Oleh: Zakariya al-Bantany

Dua tersangka pembakar bendera di Garut dijatuhi vonis 10 hari penjara dan denda Rp2.000. Persaudaraan Alumni (PA) 212 mengaku kecewa dan menilai putusan hakim tersebut telah melukai umat Islam.

"Untuk kesekian kalinya rezim ini menyakiti hati umat Islam, kami sangat kecewa, ini vonis abal-abal, dagelan," kata Ketua Umum PA Slamet Maarif kepada Republika.co.id, Selasa (6/11).

Ia juga menganggap putusan tersebut sangat jauh dari tuntutan umat yang telah disampaikan melalui aksi bela tauhid beberapa waktu lalu di depan istana. "Masih jauh dari keinginan dan tuntutan umat," ujarnya.

Slamet mengganggap putusan ringan hakim kepada pembawa dan pembakar bendera tersebut sangat tidak adil. "Ini sangat tidak adil. Kami akan terus berjuang untuk kibarkan jutaan bendera tauhid panji Rasulullah di negeri ini," tegas Slamet.

Sidang kasus pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid digelar di Pengadilan Negeri Garut pada Senin (5/11). Dalam sidang tersebut, hakim memutuskan pembakar bendera menjatuhkan hukuman 10 hari dan denda Rp2.000.

"Keduanya terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dan dijatuhi kurungan 10 hari dan denda Rp 2 ribu," ujar hakim Hasanudin. [https://m.republika.co.id/berita/nasional/hukum/18/11/06/phr0cl282-pembakar-bendera-tauhid-dihukum-10-hari-penjara]

Inilah bukti kesekian kalinya bahwa keadilan dalam negara demokrasi hanyalah sebuah ilusi belaka. Dalam negara demokrasi katanya hukum adalah panglima, tapi faktanya kekuasaan dan kepentinganlah yang menjadi panglima dan hukum hanya menjadi budaknya semata, serta hukum hanya menjadi alat kekuasaan dan alat kepentingan belaka.

Dalam negara demokrasi pun kian terbukti hukum hanya tumpul ke atas dan hanya tajam ke bawah, bahkan parahnya kini hukum pun makin kian tumpul ke kafir dan hanya makin kian tajam ke Islam belaka. Negara demokrasi begitu sangat lembutnya kepada para pembenci dan penista Islam, tapi sebaliknya begitu amat sangat keras dan buruknya perlakuannya terhadap Islam dan para pecinta Islam serta pembela Islam.

Lihatlah, terbukti para penista agama yaitu mereka para pembakar bendera tauhid tersebut dibela dan dilindungi oleh negara demokrasi dan penguasa demokrasi di mana para pelaku pembakaran bendera tauhid tersebut hanya dijatuhi hukuman 10 hari dan denda Rp2000. Di mana letak keadilannya?

Sebegitu murah dan rendahkah kalimat tauhid dalam bendera tauhid tersebut yang hanya dihargai oleh rezim demokrasi tersebut dengan penjara 10 hari dan denda Rp2000 bagi para pelaku pembakarnya tersebut? Ini bukti negara demokrasi dan rezim demokrasi tersebut pun turut serta menistakan, melecehkan dan menghinakan serta telah merendahkan kalimat tauhid tersebut dan rasa keadilan.

Artinya demokrasi itu sesungguhnya adalah biang penistaan agama dan biang penistaan kalimat tauhid dan biang penistaan seluruh ajaran Islam. Demokrasi kapitalisme sekulerisme tersebut hakikatnya adalah sumber malapetaka dan sumber bencana zaman now bagi dunia dan umat Islam di akhir zaman ini.

Jadi, sangat wajar rezim demokrasi dan negara demokrasi tersebut sangat membela dan melindungi para penista agama dan para pembakar bendera tauhid tersebut. Dalam pandangan negara demokrasi dan rezim demokrasi, kalimat tauhid dianggap tidak ada harganya sama sekali, sebab pada hakikatnya rezim demokrasi dan negara demokrasi tersebut sangat anti dan sangat memusuhi kalimat tauhid dan sangat memusuhi Islam itu sendiri.

Mengapa demikian? Karena demokrasi tidak punya agama. Sebab latar belakang lahirnya demokrasi itu sendiri pada abad kegelapan bangsa Eropa adalah merupakan bentuk perlawanan bangsa Eropa dalam membebaskan diri dari belenggu kegelapan tirani dan kediktatoran gereja dan agamawan kristen. Karena itulah demokrasi sangat anti dengan simbol-simbol agama khususnya simbol Islam yakni kalimat tauhid dan bendera tauhid tersebut.

Padahal, dalam Islam sangat jelas bahwasanya kalimat tauhid yang terkandung dalam bendera tauhid tersebut memiliki nilai yang sangat sakral dan agung serta mulia, bahkan harganya pun sangat mahal melebihi langit dan bumi beserta isinya bukan seharga Rp2.000.

Dari Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:

قال موسى عليه السلام : يا رب علمني شيئاً أذكرك وأدعوك به ، قال : قل يا موسى لا إله إلا الله . قال : كل عبادك يقولون هذا ، قال : يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ، ولا إله إلا الله في كفة ، مالت بهن لا إله إلا الله

”Berkata Musa ‘alaihis salam: ‘Wahai Rabb, ajarkanlah padaku sesuatu yang dengannya aku berdzikir kepada-Mu dan berdoa kepada-Mu.’ Maka (Allah) berfirman: ‘Wahai Musa, Ucapkanlah: ‘Laa ilaaha illaLLaah.’ Berkata (Muusaa) : ‘Setiap hambaMu mengucapkan hal ini.’ (Allaah) berfirman: ‘Wahai Muusaa, seandainya langit yang tujuh serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat Laa ilaaha illaLLaah diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat Laa ilaaha illaLLaah lebih berat timbangannya’…” (HR. Ibnu Hibban dan al-Hakim dan ia [al-Hakim] menshahihkannya)

Dan bendera tauhid yang di dalamnya terkandung kalimat tauhid yakni bertuliskan kalimat agung "Laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah" merupakan panji Rasul atau bendera Rasulullah Saw dan bendera Islam serta benderanya umat Islam yang notabene simbol keagungan dan kesucian Islam serta simbol keagungan dan kesucian Allah SWT Tuhan Semesta Alam yang Maha Esa lagi Maha Serba Maha. Bendera tauhid yang bertuliskan kalimat tauhid yang agung tersebut pun adalah representasi syiar dakwah Islam untuk segenap alam semesta dan simbol persatuan umat Islam sedunia dalam ikatan shahih mabda' (ideologi) Islam atau akidah tauhid Islam.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ لِوَاءُ -صلى الله عليه وسلم- أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ

“Bendera (Liwa) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna putih, dan panjinya (Rayah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim, Al-Baghawi, At-Tirmidzi)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhu:

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْه ِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

“Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah.” (HR. Ath-Thabrani)

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ النبي -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لِوَاؤُهُ يَوْمَ دَخَلَ مَكَّةَ أَبْيَضَ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam liwa’-nya pada hari penaklukkan Kota Mekkah berwarna putih.” (HR. Ibn Majah, Al-Hakim, Ibn Hibban)

Dari Yunus bin Ubaid maula Muhammad bin Al-Qasim, ia berkata: Muhammad bin Al-Qasim mengutusku kepada Al-Bara’ bin ‘Azib, aku bertanya tentang rayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti apa? Al-Bara’ bin ‘Azib menjawab:

كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ

“(Ar-Rayah) ia berwarna hitam, berbentuk persegi panjang terbuat dari kain wol.” (HR. At-Tirmidzi, Al-Baghawi, An-Nasa’i)

Dari Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كَانَتْ رَايَةُ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ تُسَمَّى الْعُقَابَ

“Rayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam disebut Al-‘Uqab.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Bahkan tugas utama Rasulullah Saw diutus oleh Allah SWT ke dunia adalah menyebarluaskan risalah kalimat tauhid tersebut ke seluruh alam semesta. Beliau Saw pun mati-matian membela tauhid tersebut dan itupun menjadi bukti beliau Saw adalah sosok pribadi bertauhid sejati sekaligus beliau Saw adalah contoh teladan terbaik dalam membela risalah tauhid tersebut.

Rasulullah Saw pun bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّيْ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالَى

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada tuhan yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat dan membayar zakat. Jika mereka melakukan semua itu, berarti mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam. Adapun perhitungan atas dosa mereka diserahkan kepada Allah SWT." (HR. Muttafaq ‘alaih)

Dan kelak Rasulullah Saw pun akan mengumpulkan dan menyatukan umatnya yang bertauhid sejati pada hari Kiamat dalam ikatan akidah tauhid Islam "Laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah" dan dalam naungan panji Rasul (bendera tauhid) tersebut bahkan para Nabi dan Rasul terdahulu lainnya pun akan turut berhimpun dalam naungan bendera tauhid Rasulullah Saw tersebut. Rasulullah Saw bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آَدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ، وَبِيَدِيْ لِوَاءُ اْلحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ، وَ مَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آَدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَاءِيْ وَ أَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ وَلاَ فَخْرَ

“Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari Kiamat dan bukannya sombong, dan di tanganku Panji Al-Hamd (bendera tauhid) dan bukannya sombong, dan tidak ada seorang Nabi pun, tidak pula Adam juga yang lainnya ketika itu kecuali semua di bawah benderaku, dan aku orang pertama yang keluar dari tanah/ kubur dan bukannya sombong.” (HR. At Tirmidziy, Ibnu Majah dan Ahmad)

Karena itulah, sebaik-baik kalimat adalah kalimat tauhid: "Laa ilaaha illallaah Muhammadurrasulullah (tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah)." Dan sebaik-baiknya bendera adalah bendera tauhid baik berwarna putih (al-Liwaa') maupun berwarna hitam (ar-Royah) yang di dalamnya tertulis kalimat agung nan suci kalimat tauhid tersebut. Kalimat tauhid ini adalah kalimat sakral yang agung nan suci penuh kemuliaan yang sangat ditakuti oleh iblis, setan, dajjal, orang-orang kafir dan munafik serta orang-orang yang hatinya berpenyakit.

Sebab, kalimat tauhid yang terkandung dalam bendera tauhid ini adalah asas Islam dan asas kehidupan, serta kunci hidup dan mati kita. Kalimat tauhid inilah kunci kemuliaan dan kunci kebangkitan dan kunci kekuasaan dalam menggenggam dunia dan seisinya, serta kunci kejayaan dan kunci keselamatan, serta kunci kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Kalimat tauhid ini pula yang telah melahirkan peradaban agung Islam dalam wujud sempurnanya yaitu Daulah Khilafah Islam yang telah berkuasa lebih dari 13 abad lamanya dan menguasai 2/3 dunia serta berhasil mewujudkan 'Islam rahmatan lil 'alamin.' Sekaligus pula kalimat tauhid inilah yang telah melahirkan generasi yang terbaik yang digelari 'khairu ummah' yang menebar rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta dalam bingkai Khilafah Islam dalam naungan panji tauhid.

Kalimat tauhid inilah yang telah memanusiakan manusia hingga mengenal dan memahami hakikat jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah sekaligus hamba Allah (Abdullah) dan Khalifatullah (wakil Allah) dalam mengelola dan mengurusi serta memakmurkan bumi milik Allah ini hanya dengan hukum-hukum Allah semata hingga ia menjadi insanul kamil (manusia yang sempurna yakni sempurna iman dan amal shalih serta kepribadiannya dan ketaqwaannya kepada Allah). Kalimat tauhid inilah yang telah mampu membebaskan dan memerdekakan umat manusia secara hakiki dari segala bentuk perbudakan dan dari segala bentuk penjajahan.

Kalimat tauhid inilah jalan hakiki kebangkitan yang menghantarkan hidup dan mati kita kepada cahaya yang terang-benderang dan jalan lurus menuju keridhaan Allah SWT dan surga-Nya yang seluas langit dan bumi. Kalimat Tauhid inilah yang terbukti telah menjauhkan kita dari segala bentuk kegelapan yang gelap gulita.

Kalimat tauhid inilah jalan keselamatan menuju negeri akhirat yang kekal nan abadi. Dan kalimat tauhid inilah yang bisa menyelamatkan diri kita dari murka dan azab Allah serta dari neraka Allah. Serta kalimat tauhid ini pun sejatinya kunci surga.

Oleh karena itulah, suatu saat Nabi Saw mendengar muadzin mengucapkan ’Asyhadu alla ilaha illallah.’ Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi:

« خَرَجْتَ مِنَ النَّارِ »

”Engkau terbebas dari neraka.” (HR. Muslim)

Nabi Saw juga bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘laa ilaaha illallaah,’ maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud)

Dari ’Ubadah bin Shomit radhiyallahu ’anhu, Nabi Saw bersabda:

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

”Barangsiapa mengucapkan, ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 149)

Sungguh kalimat tauhid tersebut telah membawa dampak yang luar biasa kepada umat manusia dan dunia beserta peradabannya sepanjang masa.

Kalimat tauhid pun melahirkan kebangkitan dan keberanian untuk melakukan perubahan secara revolusioner melawan kesyirikan dan kezhaliman, serta kebangkitan dan keberanian untuk meruntuhkan serta menumbangkan kedigdayaan peradaban kufur tirani yang angkara murka dalam tiap zamannya.

Dengan modal kalimat tauhid, Nabiyullah Ibrahim As. berani menghancurkan berhala-berhala sesembahan kaumnya, berhadapan dengan Raja Namrudz yang zalim, bahkan merelakan dirinya dibakar hidup-hidup dalam kobaran raksasa api yang sangat panas bergejolak dahsyat.

Dengan dorongan kalimat tauhid Nabiyullah Daud AS yang saat itu masih kecil tak gentar bertarung melawan sang raksasa Jalut dan pasukannya serta mampu mengalahkan Jalut sang raksasa beserta pasukannya tersebut.

Dengan dorongan kalimat tauhid pula Nabiyullah Musa As dan Nabiyullah Harun As berani menghadapi kediktatoran Fir’aun sang penguasa Mesir yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan Semesta Alam bersama kejahatan tukang sihir dan pasukannya.

Demi kalimat tauhid pun Rasulullah Saw harus rela bertahun-tahun lamanya di-bully, dipersekusi, dikriminalisasi, diboikot dan diembargo serta terancam dibunuh oleh kaumnya sendiri yaitu di Mekkah hingga beliau Saw pun dengan kekuatan kalimat tauhid mampu mewujudkan kekuasaan Islam sekaligus mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat Islam yang berperadaban agung nan tinggi dan menjadi pemimpin dunia, serta menguasai 2/3 dunia dan menebar rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta selama lebih dari 13 abad lamanya dalam sepanjang sejarah peradaban umat manusia sejak diutusnya baginda Rasulullah Saw untuk semesta alam.

Demi kalimat tauhid pula para sahabat radhiyallahu 'anhum dan orang-orang shalih pun rela mengorbankan harta, waktu, pikiran, perasaan dan jiwa mereka di jalan Allah SWT. Mush’ab bin Umair radhiyallahu 'anhu rela meninggalkan kemewahan hidupnya dan kasih sayang kedua orangtuanya demi memilih berada di barisan pendukung, pembela dan pejuang kalimat tauhid dalam menggapai ridha Allah semata.

Bahkan, dalam Perang Uhud, Mush'ab bin Umair adalah salah seorang pahlawan dan pembawa bendera tauhid bertuliskan kalimat tauhid. Ketika situasi mulai gawat karena kaum Muslimin melupakan perintah Nabi Saw, maka ia mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju menyerang musuh hingga beliau kehilangan kedua tangannya demi mempertahankan bendera tauhid tersebut hingga beliau syahid dalam mempertahankan bendera tauhid tersebut di perang Uhud.

Atas dorongan tauhid juga tiga sahabat Rasulullah Saw sekaligus panglima Islam saat perang Mu'tah yaitu Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawwahah radhiyallahu 'anhum sangat heroik gugur syahid dalam mempertahankan bendera tauhid tersebut.

Karena kalimat tauhid pun Bilal bin Rabbah ra. pun sanggup menahan siksaan orang kafir dan beliau pun dalam rasa sakit atas siksaan tersebut tetap lantang dan konsisten mengucapkan kalimat tauhid tersebut. Demikian pula keluarga Yasir, demi mempertahankan kalimat tauhid, Summayah istri Yasir rela menerima siksaan yang mengantarkannya kepada syahid pertama dalam Islam.

Dan atas dorongan kekuatan kalimat tauhid yang menjadi 'beyond inspiration' pula Sultan Muhammad al-Fatih dan pasukan terbaiknya tidak kenal lelah dan penuh kesungguhan mewujudkan bisyarah Rasulullah Saw yaitu penaklukkan Konstatinopel pusat kekuasaan Bizantium Romawi Timur, hingga akhirnya Konstatinopel pun bisa ditaklukkan oleh Sultan Muhammad al-Fatih beserta pasukan terbaiknya setelah 800 tahun lamanya kaum Muslim berupaya menaklukkan Konstatinopel dalam mewujudkan bisyarah Rasulullah Saw atas dorongan kalimat tauhid itu juga.

Karena itulah, Islam datang untuk membongkar kebatilan akidah umat manusia sepanjang masa. Apakah kaum Ahlul Kitab yang meyakini Isa al-Masih sebagai bagian dari tuhan, atau kaum Yahudi yang mempercayai Uzair sebagai anak tuhan, atau kaum paganis yang mempersekutukan Allah SWT dengan berbagai mahluk-Nya. Islam mengajak mereka untuk beribadah dan taat hanya kepada Allah SWT.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Katakanlah, "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) pada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, yakni bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah, tidak mempersekutukan Dia dengan apapun, dan sebagian kita tidak pula menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling, katakanlah kepada mereka, "Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS Ali Imran [3]: 64)

Berkat kalimat tauhid, umat manusia dibebaskan oleh Islam dari penyembahan kepada sesama mahluk. Mereka hanya tunduk dan taat pada Allah SWT. Tidak ada yang dimintai bantuan dan pertolongan melainkan Allah ‘Azza wa Jalla. Tak ada yang diharapkan ridhanya selain ridha Allah SWT. Tak ada yang ditakuti selain kemurkaan-Nya.

Pemahaman tauhid yang benar akan membuat orang yang lemah menjadi bangkit dan kuat, bangsa jahiliyah menjadi penguasa dunia dan bangsa yang lemah menjadi adidaya super power. Manusia yang berbeda suku bangsa, warna kulit dan bahasa justru bisa disatukan secara hakiki dengan ikatan tauhid. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudara kalian itu dan takutlah kepada Allah agar kalian mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Tauhid sejatinya melahirkan ketaatan mutlak hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketaatan hanya kepada Allah SWT tentu menafikan pihak lain untuk ditaati. Tauhid pun meniscayakan bahwa pembuat hukum yang wajib ditaati hanyalah Allah SWT. Dialah sebaik-baik pembuat aturan bagi manusia. Ketika seorang manusia tidak mau berhukum pada hukum Allah dan Rasul-Nya, tentu tauhidnya ternoda. Allah SWT berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada keberatan di dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa’ [4]: 65)

Karena itulah, atas tuntutan dan dorongan kalimat tauhid atau keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT maka sudah selayaknyalah seorang Muslim yang beriman dan bertakwa wajib membela tauhid dan bendera tauhid serta seluruh ajaran Islam khususnya perihal Syariah dan Khilafah, sebab membela tauhid dan bendera tauhid serta seluruh ajaran Islam khususnya perihal Syariah dan Khilafah tersebut adalah bukti jika kita memang pribadi-pribadi Muslim yang bertauhid sejati seperti halnya yang telah dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul yang terdahulu serta juga dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum serta para Khalifah setelahnya dan Salafush Shalih.

Dan puncak keimanan serta puncak ketaqwaan ataupun puncak bertauhid itu adalah ikhlas semata-semata karena Allah dengan penuh kesungguhan segenap daya upaya turut mendukung, membela dan berjuang serta berjihad fisabilillah melakukan pembelaan terhadap kalimat tauhid dan bendera tauhid tersebut beserta seluruh ajaran Islam lainnya yang terkandung di dalamnya khususnya perihal Syariah dan Khilafah dari segala bentuk propaganda jahat, persekusi, stigmatisasi, monsterisasi, radikalisasi dan kriminalisasi serta terorisasi yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak bertauhid yaitu orang-orang kafir dan munafik baik dari kalangan negara-negara kafir penjajah kapitalis asing dan aseng maupun para agen-agen penjajah yaitu penguasa boneka (ruwaibidhah) dan kaum liberal serta media mainstream corong penjajah. Allah SWT berfirman:

وَ سَارِعُوا إِلَي مَغفِرَةٍ مِن رَبِّكُم وَ جَنَّةٍ عَرضُهَا السَّمَاوَاتِ وَ الأَرضُ، أُعِدَّت لِلمُتَّقِينَ.

"Bersegeralah kalian menuju keampunan Tuhanmu dan surga-Nya yang seluas langit dan bumi yang diperuntukkan hanya untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133)

Oleh karena itu, wahai umat Islam di manapun kalian berada! Buktikanlah bahwa kalian adalah pribadi-pribadi bertauhid sejati dengan turut serta mendukung dan membela tauhid serta menjadi pejuang tauhid, khususnya ikhlaskan diri kalian untuk sungguh-sungguh hadir dalam "Aksi Bela Tauhid” di Reuni 212 nanti.

Dan kibarkanlah sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya dengan gagah perkasanya dan semaraknya penuh struggle-nya jutaan panji Rasul atau bendera tauhid yang bertuliskan kalimat tauhid: "Laa ilaaha illallaah Muhammadurrasulullah" di Aksi Bela Tauhid dalam Reuni 212 nanti dan di seluruh penjuru Nusantara dan di seluruh penjuru dunia demi kemuliaan Islam dan kaum Muslimin, serta demi tegaknya kembali kalimat Allah yang agung tersebut di muka bumi ini di akhir zaman ini sehingga rahmah dan berkah Allah dari langit dan bumi kian terbuka luas bagi negeri zamrud khatulistiwa ini dan bagi dunia ini serta bagi seluruh alam semesta.

Wallahu a'lam bish shawab. []

#BenderaTauhidMilikUmat
#BenderaTauhidSatukanUmat
#BelaBenderaTauhid
#BersatuBelaTauhid
#BersatuBelaSeluruhAjaranIslam
#BelaTauhid212
#212BersatuDibawahTauhid
#AksiBelaTauhid212

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog