Monday, July 15, 2019

Rapuhnya Koalisi Demokrasi



Oleh: Zakariya al-Bantany


Koalisi ala demokrasi itu sangatlah rapuh laksana rapuhnya sarang laba-laba. Allah SWT berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 41)

Koalisi ala demokrasi diikat oleh faktor kepentingan bukan faktor ideologis.

Karena itulah, demi kepentingannya tercapai, maka para elit dan parpol demokrasi akan menghalalkan segala cara meskipun elemen koalisi tersebut berbeda akidah dan ideologinya bahkan sebelumnya tak jarang adalah rival politik.

Tatkala kepentingannya tercapai maka mereka pun akan rebutan kue kekuasaan dengan sikut sana-sini antar elemen koalisi di atas derita dan tangisan rakyat serta di atas genangan keringat dan darah rakyat.

Namun, tatkala kepentingannya tidak tercapai maka koalisi mereka akan bubar seketika dan mereka pun akan menjadi kutu loncat pindah ke kubu lawan politiknya atau berdamai dengan mesra dengan lawan politiknya serta mereka pun tak segan-segan menjilat ludah mereka sendiri yang sudah mereka buang ke permukaan tanah.

Mereka pun tak segan-segan tanpa rasa malu dan tanpa rasa takut dosa menipu dan mengkhianati rakyat demi kepentingannya tercapai. Pokoknya halal-haram hantam, hak orang hak aku.

Karena itulah, hakikatnya dalam demokrasi itu tidak ada istilah teman sejati, tidak ada musuh yang sejati dan tidak ada makan siang gratis.

Dalam demokrasi yang ada hanyalah uang sejati dan kepentingan sejati nan abadi.

Dalam demokrasi, uang dan kepentingan adalah maha segala-galanya bagi mereka para pemuja dan penikmat demokrasi tersebut hingga mereka pun menjadi democrazy dan dungukrasi alias hanya menjadi tontonan dungu nan gila.

Masihkah percaya demokrasi..?! Mikir..?!

Wallahu a'lam bish shawab. []


#SudahDicurangiDikhianatiLagi
#KhilafahPerjuanganHakiki
#KhilafahKepemimpinanHakiki
#MenyongsongFaseAkhirZaman
#DariAwalBelaIslam


Belajar Ilmu Padi



Oleh: Zakariya al-Bantany


Mengenal Padi

Padi yang bahasa latinnya adalah oryza sativa, dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah rice dan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah arruzzun (أَرُّزٌّ). Padi termasuk dalam jenis keluarga tumbuhan suku rumput-rumputan seperti halnya gandum, jewawut dan ilalang. Tanaman padi berbunga dan menghasilkan biji dengan jenis biji berkeping satu atau monokotil. Secara garis besar ada dua jenis varietas padi, yaitu padi varietas hibrida dan padi varietas unggul.

Padi umumnya tumbuh sebagai tanaman tahunan. Tanaman padi dapat tumbuh hingga setinggi 1-1,8 m. Daunnya panjang dan ramping dengan panjang 50-100 cm dan lebar 2-2,5 cm. Beras yang dapat dimakan berukuran panjang 5-12 mm dan tebal 2-3 mm. Daun tunggal berbentuk pita yang panjangnya 15-30 cm, lebar mencapai 2 ern, perabaan kasar, ujung runcing, tepi rata, berpelepah, pertulangan sejajar, hijau. Bunga majemuk berbentuk malai. Buahnya buah batu, terjurai pada tangkai, warna hijau, setelah tua menjadi kuning. Biji keras, bulat telur, putih atau merah. Butir-butir padi yang sudah lepas dari tangkainya disebut gabah, dan yang sudah dibuang kulit luarnya disebut beras.

Padi umumnya banyak ditanam di daerah pedesaan baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Biasanya padi ditanam di areal persawahan yang berair dan berhektar-hektar luasnya. Padi pun menjadi salah-satu kunci mata pencaharian utama masyarakat di pedesaan.

Padi merupakan salah-satu tanaman budidaya yang terpenting dalam peradaban umat manusia. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi biasanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis dan banyak menyebar di Asia, Afrika, Amerika dan Australia.

Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang kita yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM.

Padi (oriza sativa) merupakan tanaman yang berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika, dari daerah beriklim Tropis dan Sub Tropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) dimulai pada 3.000 tahun sebelum masehi. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapurr Uttar Pradesh (India) sekitar 100-800SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam.

Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.

Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) di Indonesia sendiri produksi padi pada tahun 2015 lalu sebanyak 75,36 juta ton gabah kering giling (GKG) atau mengalami kenaikan sebanyak 4,51 juta ton (6,37 persen) dibandingkan tahun 2014. Kenaikan produksi tersebut terjadi di Pulau Jawa sebanyak 2,31 juta ton dan di luar Pulau Jawa sebanyak 2,21 juta ton. Kenaikan produksi padi terjadi karena kenaikan luas panen seluas 0,32 juta hektar (2,31 persen) dan peningkatan produktivitas sebesar 2,04 kuintal/hektar (3,97 persen).

Kenaikan produksi padi tahun 2015 sebanyak 4,51 juta ton (6,37 persen) terjadi pada subround Januari–April, subround Mei–Agustus, dan subround September-Desember masing-masing sebanyak 1,49 juta ton (4,73 persen), 3,02 juta ton (13,26 persen), dan 1,80 ribu ton (0,01 persen) dibandingkan dengan produksi pada subround yang sama tahun 2014 (year-on-year).

Kandungan Gizi Padi

Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras, dan beras diolah lagi menjadi tepung beras dan jika beras dimasak bisa menjadi nasi dan bubur. Beras atau nasi sendiri merupakan salah-satu makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia. Dan tepung beras sendiri bisa diolah lagi menjadi berbagai macam makanan tradisional khas Nusantara seperti kue, nagasari, jenang, bubur sumsum, bubur ayam, dan lain-lain. Sedangkan, kulit padi yang telah dipisahkan dari biji berasnya biasanya diolah menjadi gabah dan dedak untuk makanan ternak serta bisa juga diolah menjadi sekam bahan bakar ataupun abu gosok.

Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang berwarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2.800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai-nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr: 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio (1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal: 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr: 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg: 0,31 mg).

Kekurangan tiamin bisa mengganggu sistem saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, kesemutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang.

Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan) dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase. Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik. Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi asam lemak tak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif lainnya. Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain. [Sumber: Wikipedia]

Kandungan gizi beras:

Sebagaimana bulir serealia lain beras memiliki kandungan gizi antara lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air.

Pati beras tersusun dari duapolimer karbohidrat:
1. Amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang;
2. Amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket.

Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.

Kandungan gizi beras (beras, putih, panjang, biasa):

-Nilai nurtrisi per 100g (3.5oz);
-Energi: 1.527kJ (365kcal);
-Karbohidrat: 79 g
-Gula: 0.12 g;
-Serat pangan: 1.3 g;
-Lemak: 0.66 g;
-Protein: 7.13 g;
-Air: 11.62 g;
-Thiamine (Vit. B1): 0.070 mg (5%);
-Riboflavin (Vit. B2): 0.049 mg (3%);
-Niacin (Vit. B3): 1.6 mg (11%);
-Pantothenic acid (B5): 1.014 mg (20%);
-Vitamin B6: 0.164 mg (13%);
-Folate (Vit. B9): 8 g (2%);
-Calcium: 28 mg (3%);
-Iron: 0.80 mg (6%);
-Magnesium: 25 mg (7%);
-Manganese: 1.088 mg (54%);
-Phosphorus: 115 mg (16%);
-Potassium: 115 mg (2%);
-Zinc: 1.09 mg (11%).

Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa. [Sumber data Nutrisi USDA]

Manfaat beras (nasi):

Selain mengenyangkan ternyata nasi beras memiliki beberapa manfaat diantaranya:

1. Sumber energi yang hebat. Nasi itu banyak mengandung karbohidrat yang bertindak sebagai bahan bakar bagi tubuh dan membantu dalam fungsi normal otak.

2. Bebas kolesterol. Makan nasi itu sangat baik bagi kesehatan, karena nasi tidak mengandung lemak yang berbahaya, yaitu kolesterol atau sodium. Nasi menjadi salah satu bagian dari diet yang seimbang.

3. Kaya akan vitamin. Nasi itu banyak mengandung vitamin dan mineral misalnya niacin, vitamin D, kalsium, serat, zat besi, thiamine, dan riboflavin.

4. Banyak mengandung resistant starch. Nasi banyak mengandung resistant starch, yang akan masuk ke dalam usus dalam bentuk yang belum dicerna. Itu akan membantu pertumbuhan bakteri-bakteri yang berguna di dalam usus.

4. Mengurangi resiko tekanan darah tinggi. Nasi tidak banyak mengandung sodium, dan dianggap sebagai makanan terbaik untuk mereka yang menderita tekanan darah tinggi dan hipertensi.

5. Mencegah kanker. Whole grain rice misalnya brown rice itu banyak mengandung serat insoluble yang mungkin bisa melindungi anda dari berbagai jenis kanker. Banyak peneliti yang percaya bahwa serat insoluble itu penting dalam melindungi tubuh dari sel-sel kanker.

6. Mengobati bagi disenteri. Bagian kulit ari dari nasi dianggap sebagai obat yang efektif untuk mengobati disenteri. Sekam padi yang berusia tiga bulan mengandung diuretic properties. Orang China percaya bahwa nasi dianggap meningkatkan selera, menyembuhkan sakit perut dan masalah pencernaan.

7. Merawat kulit. Para ahli medis mengatakan bahwa tepung padi bisa digunakan untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit kulit. Di wilayah India, air beras digunakan oleh praktisi ayurvedic sebagai obat yang efektif untuk mendinginkan permukaan kulit yang terbakar.

8. Mencegah Alzheimer’s Disease. Brown rice banyak mengandung neurotransmitter yang bisa mencegah Alzheimer’s disease.

9. Menguatkan jantung. Rice bran oil punya kemampuan antioxidant yang bisa menguatkan jantung dengan cara mengurangi kadar kolesterol dalam tubuh.

10. Mencegah konstipasi. Serat insoluble yang terdapat di nasi akan bertindak sebagai sponge lembut yang mendorong makanan untuk melewati usus dengan mudah dan cepat.

Makna Filosofis Padi

Padi merupakan bagian terpenting yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Asia Selatan, Asia Timur dan Asia Tenggara khususnya Indonesia.

Masyarakat setempat khususnya Indonesia dan masyarakat melayu pada khususnya umat Islam mengenal filosofi ilmu padi. Sejumlah peribahasa juga melibatkan padi, misalnya:

1. Padi ditanam tumbuh ilalang;

Artinya hasil yang diperoleh dari usaha tidak seperti yang diharapkan atau sial sekali; bernasib malang.

Perihal orang yang melakukan kebaikan, tetapi mendapat kerugian.

Karena itulah setiap usaha atau kebaikan harus dimulai dengan ilmu dan niat yang benar semata-mata ikhlas karena Allah SWT serta caranya pun benar sesuai yang diajarkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya agar beruntung di dunia dan di akhirat.

2. Padi masak, jagung mengupih;

Artinya keuntungan yang berlipat ganda atau mendapat dua keuntungan sekaligus.

Bisa juga diartikan seorang Muslim yang beriman dan bertakwa sebenar-benarnya takwa maka niscaya ia akan memperoleh dua keberuntungan yaitu kebahagiaan hidup di dunia dan juga kebahagiaan hidup di akhirat.

3. Bagai ayam mati di lumbung padi;

Artinya seseorang yang sengsara (mati/binasa/celaka) dalam keadaan yang serba berkecukupan.

Seperti kondisi rakyat Indonesia-sekarang-yang mayoritas miskin hingga ada yang mati kelaparan, padahal Indonesia negeri yang kaya raya dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah dari Sabang hingga Merauke. Tapi sayang karena kebijakan zhalim penguasanya -yang menjadi boneka penjajah Barat dan Timur- yang lebih berpihak kepada penjajah asing dan aseng kapitalis hingga 80% lebih kekayaan SDA Indonesia tersebut hanya dimiliki dan dinikmati oleh para penjajah kapitalis asing dan aseng bukan rakyat Indonesia.

4. Padi semakin berisi semakin merunduk semakin menguning;

Artinya orang yang berilmu dan berharta itu seharusnya semakin bertambah ilmu dan semakin bertambah hartanya seharusnya semakin membuatnya tawadhu' dan semakin tunduk kepada Tuhannya yaitu Allah SWT yang telah menciptakannya dan telah memberinya ilmu dan harta tersebut. Dan dengan ketawadhu'an serta ketundukkannya tersebut, maka akan semakin membuatnya mulia di sisi Tuhannya dan di sisi manusia sesamanya.

5. Bila kita menanam padi pastilah tumbuh rumput. Jikalau kita menanam rumput jangan harap tumbuh padi, sampai kiamat pun padi tak akan tumbuh;

Artinya jika kita mengutamakan akhirat dengan tidak melupakan dunia, maka dunia itu akan ikut mudah diraih. Sebaliknya jika kita mengutamakan dunia semata dengan melupakan akhirat, maka hanya dunia semata yang didapatkan tapi akhirat tidak bisa didapatkan. Maksudnya dunia dan akhirat haruslah seimbang tidak boleh berat sebelah.

6. Tiada artinya sebatang padi, jikalau padi banyak berbatang-batang barulah punya arti.

Artinya seorang manusia khususnya seorang Muslim dalam menjalani kehidupannya tidak bisa ia hidup sendirian sebatang kara di dunia. Karena itulah seorang manusia khususnya seorang Muslim harusnya hidup bermasyarakat dan bersatu dalam barisan jama'ah umat Islam agar hidupnya lebih berarti, lebih bermanfaat dan lebih hidup penuh berkah.

Padi Dalam Al-Quran

Di dalam Islam sendiri padi memiliki kedudukan yang istimewa yaitu disebut dan digunakan di dalam al-Qur’an sebagai perumpamaan yang kaya makna. Allah SWT berfirman:


إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ


“Sungguh, Allah yang menumbuhkan butir (padi-padian) dan biji (kurma). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah (kekuasaan) Allah, maka mengapa kamu masih berpaling.” (QS Al-An’aam: 95)

Padi yang lebih dikenal di dunia Botani (Ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan) dengan nama oryza sativa merupakan tumbuhan yang telah Allah jelaskan dalam al-Qur’an Surat al-An’aam: 95, yaitu: “Allah yang menumbuhkan butir (padi-padian)”. Dalam ayat ini Allah telah menjelaskan bahwa padi merupakan tanaman yang tumbuh dengan buah berbentuk butir-butir. Sehingga padi diklasifikasikan ke dalam family poaceae karena beberapa ciri yang dimiliki oleh spesies tersebut ke dalam family poaceae.

Allah SWT juga berfirman:


مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261)


زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ


“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan SAWAH ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Kesimpulan

Di balik padi terkandung banyak tersirat ilmu hikmah di antaranya:

1. Ilmu akidah, yang semakin membuktikan kebesaran Allah SWT Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur alam semesta, manusia dan kehidupan. Semoga semakin mengokohkan keimanan kita kepada Allah SWT Yang Maha Suci lagi Maha Kuasa di balik tanaman padi tersebut. Dan semoga kian menyadarkan kita bahwasanya Allah SWT Maha Besar lagi Maha Perkasa, sedangkan kita ini para hamba-Nya adalah kecil dan tiada daya serta selalu bergantung kepada Allah SWT Yang Maha Serba Maha. Allah SWT berfirman:


وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ (٢٠) وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٢١) وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ (٢٢) وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ (٢٣) وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (٢٤) وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالأرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الأرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ (٢٥)


"20. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.

21. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

22. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

23. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.

24. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.

25. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur)." (QS. Ar-Ruum: 20-25)

2. Ilmu kehidupan, di balik padi tersirat banyak berjuta makna Allah SWT ajarkan kepada kita tentang realitas kehidupan alam dan kehidupan manusia baik ataupun buruk. Semoga kita bisa hidup seperti padi yang kaya manfaat dan kaya makna serta membawa kebaikan dan keberkahan tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain dan alam semesta. Dan semoga kita pun menjadi pribadi-pribadi Muslim yang istimewa dan menjadi inspirasi kebaikan sebagaimana halnya padi yang sangat istimewa tersebut. Rasulullah Saw bersabda:


خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)

Allah SWT berfirman:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ


“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

3. Sebatang padi mungkin tidak akan mampu memberi manfaat kepada seluruh penduduk bumi. Tapi tatkala padi ditanam dalam jumlah banyak hingga berjuta-juta hektar di seantero bumi, maka padi tersebut akan menghasilkan beratus-ratus juta ton atau bermilyar ton beras yang mampu memberi manfaat yang sangat besar bagi seluruh penduduk bumi.

Begitulah umat Islam jika hanya hidup sebatang kara atau hanya terpecah-belah dalam komunitas yang sangat kecil, maka umat Islam tidak akan mampu memberi manfaat yang sangat besar bagi seluruh dunia dan alam semesta.

Namun, tatkala umat Islam sedunia bersatu kembali dalam institusi politik Islam warisan Rasulullah Saw yaitu Khilafah Rasyidah Islamiyah -Sang Pelaksana Syariah dan Pemersatu Umat-, maka niscaya umat Islam akan benar-benar menjelma kembali menjadi khairu ummah (umat yang terbaik) yang menebar semilyar manfaat, kebaikan, rahmah dan berkah bagi seluruh dunia dan alam semesta -sebagaimana yang termaktub dalam QS. An-Nuur: 55- serta Islam rahmatan lil 'alamin pun benar-benar akan kembali bisa diwujudkan di muka bumi.

Wallahu a'lam bish shawab. []

Sunday, July 14, 2019

Logika Matematika Politik Khilafah



Oleh: Zakariya al-Bantany


Matematika adalah sebuah ilmu pasti, dalam matematika semuanya serba pasti. Sedangkan politik adalah sebuah ilmu seni kemungkinan, dalam politik semuanya serba mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik.

Sebuah kemungkinan akan menjadi pasti manakala kemungkinan tersebut memenuhi dan menggenapi serta menyempurnakan segala kemungkinan atau hukum sebab-akibat atau sunnatullah-nya.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan atau sebuah kepastian yang pasti terjadi manakala segala kemungkinan atau hukum sebab-akibat tersebut dipenuhi atau digenapi secara sempurna.

Karena itulah, dalam logika matematika politik:

01 + 02= 03. Paham maksudnya..?!

Artinya, baik 01 yang menang ataupun 02 yang menang tetap hasil akhirnya yang menang hakiki adalah 03 yaitu tegaknya Khilafah Rasyidah Islamiyah.

Sebab, Khilafah adalah janji Allah yang pasti dan kabar gembira Rasulullah ﷺ sekaligus proyek Allah dan takdir Allah yang pasti terjadi.

Sebab, Khilafah adalah masa depan. Dan masa depan itu adalah Khilafah. (Baca: QS. An-Nuur: 55). Dan Rasulullah ﷺ pun bersabda:

...ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَي مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ...

"...Kemudian akan kembali datang Khilafah yang mengikuti metode Kenabian..." (HR. Ahmad)

Oleh karena itulah, Khilafah itu laksana Matahari yang terbit dari ufuk Timur. Siapa pun bahkan fir'aun dan iblis sekalipun tak sanggup menghalangi terbitnya matahari dari ufuk timur tersebut.

Maka, semua pada akhirnya akan Khilafah. Dan Khilafah pada akhirnya akan menjadi semuanya..!!!

Bahkan pada Desember 2004 lalu, National Intelelligence Council’s (NIC) merilis sebuah laporan yang berjudul, “Mapping the Global Future”. Dalam laporan ini diprediksi empat skenario dunia tahun 2020, salah-satunya adalah:

A New Chaliphate: Berdirinya kembali Khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global Barat. [https://www.google.com/amp/s/kuliahpemikiran.wordpress.com/2010/07/04/skenario-dunia-2020-khilafah-akan-berdiri/amp/#ampshare=https://kuliahpemikiran.wordpress.com/2010/07/04/skenario-dunia-2020-khilafah-akan-berdiri/]

Dan kini opini Khilafah pun telah menjadi opini umum yang sangat viral di tengah masyarakat di seluruh penjuru dunia khususnya di negeri ini baik di medsos maupun di darat.

Dan juga opini Khilafah pun mulai mengkristalisasi menjadi kesadaran umum di tengah masyarakat di seluruh penjuru dunia khususnya di negeri ini, apatah lagi pasca gagalnya ganti presiden dalam pesta demokrasi pilpres 2019 di negeri ini.

Sekarang, tinggal kita memilih di barisan manakah kita berada, di barisan para pejuang dan pendukung Khilafah ataukah justru tetap berada di barisan para pembenci, pemusuh dan penghalang Khilafah..?!

Terserah kepada kalian..!!! Pikir wahai orang-orang yang berakal sehat dan yang beriman serta berhati nurani..?!

Wallahu a'lam bish shawab. []

#2019GagalGantiPresiden
#2019UdahKhilafahAja
#KhilafahAdalahSolusi

Saturday, July 13, 2019

Khilafah Dokter Umat



Oleh: Zakariya al-Bantany


Tahukah Anda..?!

Saat ini dunia baik umat manusia maupun khususnya umat Islam tengah alami sakit berat yang sangat parah dan komplikasi sepenuh badan penuh penyakit.

Dari penyakit fisik hingga penyakit akidah, penyakit moral dan penyakit sosial serta juga penyakit politik ekonomi, dan lain-lain, hingga mengundang berbagai macam bencana dari bencana akidah, bencana akhlak, bencana sosial politik dan ekonomi hingga juga memicu berbagai bencana alam.

Akibat mereka terinfeksi virus kapitalisme sekulerisme demokrasi beserta segala macam derivat atau turunannya yang amat mematikan akal sehat, iman dan hati nurani serta tubuh mereka hingga menjalar dan meggerogoti organ-organ vital mereka hingga mereka pun sekarat antara hidup dan mati.

Hanya Syariah Islam obat ideologis yang amat sangat mujarab yang bersumber dari Dzat Yang Maha Penyembuh yakni Allah SWT Sang Maha Pencipta alam semesta, kehidupan dan manusia sajalah yang bisa menyembuhkan mereka sekaligus memusnahkan penyakit dan virus-virus sekuler kufur tersebut sampai ke akar-akarnya.

Syariah Islam obat ideologis tersebut telah teruji secara ilahiyah, alamiah dan ilmiah telah mampu mengobati berbagai macam keluhan penyakit yang diderita oleh umat manusia selama rentang lebih dari 13 abad lamanya.

Dan hanya Khilafah Islam sang dokter umat dan dokter ideologis yang diutus dan dijanjikan Allah SWT dan telah direkomendasikan oleh Rasulullah sajalah yang bisa mendiagnosis dan menterapi secara ideologis serta memberikan dengan tepat obat ideologis tersebut kepada mereka semua sesuai dengan aturan pakainya menurut rujukan utamanya yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Hingga mereka pun dapat segera disembuhkan dari segala macam penyakit dan virus-virus sekuler kufur tersebut, dan membuat mereka pun menjadi sehat kembali lahir dan bathin sekaligus menjadikan mereka kembali memiliki sebuah sistem super imunitas yang sangat kuat dan kokoh.

Hingga mereka pun menjelma kembali bermetamorfosis menjadi sang raksasa super power adidaya Khilafah Rasyidah Islamiyah yang menebar rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta.

Dan Khilafah Islam sang dokter umat dan dokter ideologis tersebut telah diakui kredibilitas dan integritasnya oleh sejarah peradaban dunia serta juga telah terbukti dan telah teruji lebih dari 13 abad lamanya sukses mendiagnosis, menterapi dan mengobati umat manusia dari berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh ide-ide kufur jahiliyah.

Jadi, apapun masalahnya dan penyakitnya, maka Islamlah solusinya. Yakni obatnya Syariah dan dokternya Khilafah.

Wallahu a'lam bish shawab. []


#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAdalahSolusi
#KhilafahWujudkanIslamRahmatanLilAlamin

Persaudaraan Sejati


Oleh: Zakariya al-Bantany


Pada hari Jumat tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1 H Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ sampai di Madinah setelah melakukan perjalanan panjang hijrah dari Makkah ke Madinah. Sampainya beliau pada tanggal 12 Rabiul Awal di Madinah tersebut menandai telah berdirinya secara resmi Daulah Islam (Negara Islam) yang pertama yang berpusat di Madinah al-Munawwarah.

Rasulullah ﷺ secara resmi -baik secara de facto dan de jure -mendirikan dan mendeklarasikan berdirinya Daulah Islam (Negara Islam) yang pertama di Madinah al-Munawwarah tersebut setelah hijrahnya beliau ﷺ dan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum dari Makkah ke Madinah dan juga setelah sebelumnya dibaiatnya Rasulullah ﷺ baik melalui baiat Aqabah yang pertama oleh 12 rombongan haji dari Yastrib (Madinah) -pada tahun ke-12 Kenabian yang bertepatan dengan tahun 621 M- maupun baiat Aqabah yang kedua oleh 73 orang utusan dari kaum 'Aus dan Khazraj Madinah yang telah memeluk Islam -dan 73 orang utusan tersebut kebanyakan mereka adalah tokoh-tokoh sentral kaum 'Aus dan Khazraj-pada tahun ke-13 Kenabian yang bertepatan dengan tahun 622 M di bukit Aqabah Makkah.

Kemudian Rasulullah ﷺ sebagai kepala negara Daulah Islam yang pertama di Madinah pun melebur kaum Muhajirin (para Sahabat yang berhijrah ke Madinah) dengan kaum Anshar (para Sahabat pribumi asli Madinah ['Aus dan Khazraj] yang sudah memeluk Islam dan menolong kaum Muhajirin) yaitu dengan mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar sebagai saudara sejati yang diikat dengan ikatan shahih akidah Islam atau mabda' (ideologi) Islam yang melebihi ikatan darah dan kekeluargaan ataupun kesukuan.

Sehingga Muhajirin dan Anshar pun melebur menjadi satu ke dalam wujud persaudaraan sejati dengan menjadi wujud sempurnanya yaitu menjadi satu umat yakni umat Islam yang satu pemikiran, satu perasaan, satu sistem hukum, satu kepemimpinan, satu bendera, satu negara dan satu Tuhan (Allah SWT) yang wajib disembah dan ditaati.

Hingga akhirnya pun dengan persatuan hakiki Islam tersebut umat Islam di bawah naungan Daulah Islam (Negara Islam) yang dipimpin oleh Rasullah ﷺ sebagai kepala negara pertamanya -dan dilanjutkan oleh para Sahabat yaitu Khulafaur Rasyidin (Khilafah Rasyidah yang pertama [Khilafah 'ala Minhaj an-Nubuwwah]) dan dilanjutkan seterusnya oleh para Khalifah setelahnya (Khilafah bani Umayyah, Khilafah bani Abbasiyah dan Khilafah bani Utsmaniyah) selama lebih dari 13 abad lamanya- pun benar-benar menjadikan umat Islam sebagai umat yang terbaik dan menebar rahmah dan berkah bagi dunia dengan Islam rahmatan lil 'alamin-nya.

Serta umat Islam pun dengan wujud sempurnanya yaitu Khilafah Islam tersebut mampu membuat tubuh umat Islam pun kian membesar menjadi raksasa adidaya super power dan mampu menaklukkan imperium super power adidaya Persia dan Romawi serta mampu menguasai 2/3 dunia dengan semakin beragamnya suku bangsa, ras dan warna kulit mereka dan makin sangat luasnya wilayah negara mereka yang melintasi antar benua dan antar samudera serta dari belahan bumi bagian Timur hingga belahan bumi bagian Barat.

Dan mereka umat Islam dalam bingkai Khilafah Islamnya tersebut pun benar-benar mencapai puncak kejayaan peradaban emasnya yang penuh kegemilangan hingga peradaban agung Islam kian menjadi mercusuar dunia yang menerangi dunia dan menyatukan dunia ke dalam pangkuan persaudaraan sejati Islam dan persatuan sejati Islam serta menebar rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta. Sehingga umat Islam pun benar-benar menjadi "Khairu Ummah ukhrijat linnaas (umat yang terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia)". Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Ali Imran: 110)

Inilah persaudaraan sejati sekaligus persatuan sejati yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum dalam ikatan shahih akidah Islam atau mabda'(ideologi) Islam yang direpresentasikan dalam wujud institusi politik Khilafah Islam warisan Rasulullah ﷺ dan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum tersebut. Karena itulah substansi dari Khilafah Islam warisan Rasulullah ﷺ dan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum tersebut selain pelaksana Syariah juga adalah pemersatu umat dalam persaudaraan sejati Islam sekaligus persatuan sejati Islam (ukhuwwah Islamiyah) yang diikat oleh akidah Islam atau mabda' (ideologi) Islam.

Umat Islam Itu Bersaudara
Karena itulah, pada hakikatnya umat Islam apapun suku bangsa, warna kulit dan mazhab maupun harakah dakwahnya adalah sejatinya mereka bersaudara yaitu saudara seakidah, seiman dan sesama Muslim.

Umat Islam itu memiliki fitrah berupa ruh berjama'ah atau syu'ur jama'i yang artinya umat Islam itu hakikatnya satu tubuh dan umat Islam itu tidak akan bisa hidup sebatang kara atau hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Secara alamiah umat Islam itu saling membutuhkan satu sama lain, mereka dalam memenuhi nalurinya (gharizah) dan kebutuhan pokoknya (hajatul 'udhawiyah) maka umat Islam akan berinteraksi, bergaul dan berkumpul bersama-sama serta dengan dorongan akidah Islam atau mabda' (ideologi) Islam yang sudah mengkristal (mutajasad) di dalam benak umat Islam maka mereka pun secara alamiah akan bersatu membentuk barisan jama'ah yang lebih besar.

Karena itulah, umat Islam akan benar-benar hidup lebih hidup penuh makna dan penuh berkah jika mereka bersatu kembali dalam ikatan shahih akidah Islam atau mabda' (ideologi) Islammenjadi satu barisan jama'ah yang super besar dan kokoh-seperti yang dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum yaitu dalam bentuk Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah dengan segera mencampakkan ta'ashub atau 'ashabiyah atau fanatisme sempit dan berlebihan baik fanatisme kebangsaan (nasionalisme), kesukuan, ras, mazhab maupun harakah dakwahnya serta mencampakkan sistem kufur penjajah kafir barat dan timur yaitu demokrasi kapitalisme sekulerisme dan sosialisme komunisme yang menjadi biang utama umat Islam terus-menerus terjajah secara sistemik dan biang utama perpecahan umat Islam hingga berpecah-belah menjadi lebih dari 50 negara-negara kecil dalam bentuk negara bangsa (nation state) dengan paham sempit dan sesat nasionalismenya.

Karena itulah hakikatnya umat Islam itu adalah bersaudara dan satu jama'ah. Dan mencintai atau saling menyayangi sesama saudara seiman atau semuslim adalah bagian dari keimanan atau salah-satu cabang keimanan. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah ﷺ, dari Nabi ﷺ Beliau bersabda:

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya."
[HR. Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al-Iman, Bab Min Al-Iman An Yuhibba Liakhihi Ma Yuhibbu Linafsihi, No. 13 dan Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al-Iman, Bab Al Dalil ‘Ala Ana Min Khishal Al-Iman An Yuhibba Liakhihi Al-Muslim Ma Yuhibbu Linafsihi Min Al-Khair, No. 45]

Dalam Al-Qur’an ditegaskan pula bahwasanya sesama Muslim atau sesama Mukmin itu bersaudara dan persaudaraan sesama Muslim itu adalah sifat orang-orang yang beriman atau orang-orang Mukmin. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُم
"Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah di antara saudara-saudara kalian." (QS. Al-Hujurat: 10)

Terkait ayat di atas, Imam Ali ash-Shabuni dalam Shafwah at-Tafâsir antara lain menyatakan, “Persaudaraan karena faktor iman jauh lebih kuat daripada persaudaraan karena faktor nasab.”

Persaudaraan Muslim yang hakiki digambarkan oleh Rasulullah ﷺ:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَراحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَطُّفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ؛ إِنِ اشْتَكَى عُضْوٌ مِنْهُ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بالْحُمَّى والسَّهَرِ
"Perumpamaan kaum Mukmin itu dalam hal kasih sayang, sikap welas asih dan lemah-lebut mereka adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, anggota tubuh lainnya akan merasakan panas dan demam." (HR. Abu Dawud)

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال :قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :
اَلْمُسْلِمُ اَخُوَاْلُمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَ مْن كَا نَ فِيْ حَا جَةِ اَ خِيْهِ كاَ نَ الَلَهُ فِيْ حَا جَتِهِ وَ مَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ وَ مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ. (رواه البخا ري و مسلم ابو داود و انسائ و اترمذي)
Dari Abdullah bin Umar Ra. berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lainnya, ia tidak akan menzhaliminya dan ia tidak akan membiarkan saudaranya terzhalimi. Barangsiapa yang (mencukupi) kebutuhan saudaranya, maka Allah akan (mencukupkan) kebutuhannya pula, dan barangsiapa yang meringankan beban kesedihan seorang Muslim, maka Allah akan meringankan beban kesedihan hari Kiamat darinya. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutupi (aib) nya kelak pada hari Kiamat." (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi)

Larangan Mendzhalimi Sesama Muslim
Karena itulah, tidaklah pantas seorang Muslim merendahkan atau mencela ataupun menikam saudara sesama Muslimnya dari belakang atau menzhaliminya ataupun membiarkan saudaranya terzhalimi atau sampai hati dengan teganya ia membunuh saudara sesama Muslimnya tanpa hak. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Hujuraat:11)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

“Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)

عَنْ أبِي بكرَ ة رَضِيَ اللّه عَنْهُ عَنْ النْبِي صلى اللّه عليه وآله وصحبه وسلم قال: إذا التَقَى المُسْلِمانِ بِسَيْفِيْهِمَا فَقَتَلَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ, فَالْقَاتِلْ وَالمقَتْوُل في النَارِ. قِيلَ: يا رسول هَذَا القَاتِل فَمَا بَالُ المقَتْوُلْ قَال:إِنَهُ كانَ حَرِيْصًا على قَتْلِ صَاحبِهِ

Dari Abu Bakrah Ra. dari Nabi ﷺ: “Jika dua orang muslim bertemu dengan kedua pedangnya, maka salah-satu di antaranya membunuh teman lainnya, yang membunuh dan yang dibunuh masuk neraka. Salah seorang shahabat bertanya: "Hal itu bagi pembunuh, bagaimana dengan orang yang terbunuh?", Beliau ﷺ menjawab: ‘‘Karena orang yang terbunuh berusaha membunuh saudaranya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا : الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لا دِرْهَمَ لَهُ وَلا مَتَاعَ ، فَقَالَ : إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي ا
لنَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang pailit (bangkrut)? Para Sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta.” Nabi berkata: “Sesungguhnya orang yang bangkrut di umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat; akan tetapi dia datang (dengan membawa dosa) telah mencaci si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si itu; maka si ini (orang yang terdzhalimi) akan diberikan (pahala) kebaikannya si ini (pelaku kedzhaliman), dan si ini (orang yang terdzhalimi lainnya) akan diberikan kebaikannya si ini (pelaku kedzhaliman). Jika kebaikannya telah habis sebelum dituntaskan dosanya, maka (dosa) kesalahan mereka diambil lalu dilemparkan kepadanya kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)

Larangan Menuduh Kafir Terhadap Sesama Muslim
Tidaklah pantas pula seorang Muslim dengan terlalu mudahnya menuduh saudara sesama Muslimnya dengan tuduhan kafir, sesat ataupun ahlul bid'ah sebelum ada pembuktian secara qath'i (pasti).

Dalam hal ini Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ”Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kata fasiq, dan menuduhnya dengan kata kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh jika orang yang tertuduh tidak seperti yang dituduhkan." (HR. Bukhari)

Hadits di atas menjelaskan kepada kita bahaya ucapan kafir. Tuduhan kafir yang ditujukan kepada seorang muslim, pasti akan tertuju kepada salah satunya, penuduh atau yang dituduh.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

"Apabila ada seseorang yang mengkafirkan saudaranya [seiman] maka salah satu dari keduanya akan tertimpa kekufuran." (HR. Muslim)

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

"Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, “hai orang kafir,” maka kata itu akan menimpa salah satunya. Jika benar apa yang diucapkan (berarti orang yang dituduh kafir); jika tidak, maka tuduhan itu akan menimpa orang yang menuduh." (HR. Muslim)

Jika panggilan itu keliru, artinya orang yang dipanggil kafir tidak benar kafir, maka kata kafir akan kembali kepada orang yang memanggil. Wal iyadzu billah. Jika benar, maka dia selamat dari resiko kekafiran atau kefasikan, namun bukan berarti ia selamat dari dosa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar. [Fathul Bari, Kitabul Adab, 12/84] Maksudnya, orang yang memanggil saudaranya dengan kata kafir atau fasiq, meskipun benar, namun boleh jadi ia menanggung dosa. Misalkan jika maksud dan tujuannya untuk mencela, membongkar aib urusan pribadi orang di masyarakat atau memperkenalkan orang ini. Perbuatan seperti ini tidak diperbolehkan. Kita diperintahkan untuk menutupi aib urusan pribadi ini kemudian membimbing dan mengajarinya dengan lemah lembut dan bijaksana. Sebagaimana firman Allah:

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

"Berserulah ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan dengan nasihat yang baik." (QS. An-Nahl: 125)

Adapun jika orang yang mengucapkan, hai kafir atau hai fasiq, bertujuan untuk menakut-nakuti orang yang dipanggil agar menghindari perbuatan-perbuatan dosa, atau untuk menasihatinya dan atau untuk menasihati orang lain agar menjauhi perbuatan yang dilakukan orang ini, maka orang ini jujur dan pada saat yang sama dia mendapatkan pahala.

Permasalahan yang muncul selanjutnya ialah keimanan orang yang memanggil saudaranya dengan kafir. Sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:

وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ

"Dan barangsiapa yang memanggil seseorang dengan panggilan “kafir” atau “musuh Allah” padahal dia tidak kafir, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh." (HR. Muslim)

لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

"Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kata fasiq, dan menuduhnya dengan kata kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh, jika orang yang tertuduh tidak seperti yang dituduhkan." (HR. Bukhari)

Apakah ia menjadi kafir sebagaimana zhahir hadits di atas ataukah tidak? Para Ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan makna “maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh.”

Pendapat Pertama mengatakan: Dia menjadi kafir jika diikuti dengan keyakinan halalnya mengkafirkan orang muslim.

Pendapat Kedua mengatakan: Yang kembali ke penuduh ialah dosa mencela dan mengkafirkan saudaranya.

Pendapat Ketiga mengatakan: Ini ialah haknya orang-orang Khawarij yang mengkafirkan kaum muslimin (karena melakukan dosa besar). Pendapat ini dinukil oleh Qhadhi Iyadh dari Imam Malik bin Anas. Namun pendapat ini dilemahkan oleh Imam Nawawi, karena menurut pendapat yang shahih sebagaimana ucapan banyak ulama dan para pen-tahqiq, bahwa orang Khawarij tidak boleh dikafirkan, seperti juga semua ahlul bid’ah tidak boleh dikafirkan.

Pendapat Keempat mengatakan: Bahwa perbuatan mengkafirkan itu akan menyeret kepada kekufuran. Maksudnya, perbuatan ini (merusak kehormatan kaum muslimin dan mengkafirkan tanpa alasan yang benar), dapat menyeret pelakunya kepada kekufuran. Pendapat ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Awanah:

وَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَ إِلاَّ فَقَدْ بَاءَ بِالْكُفْرِ

"Jika kenyataannya sebagaimana ucapannya (maka dituduh kafir) dan jika tidak benar, maka dia kembali dengan membawa kekufuran."

Pendapat Kelima mengatakan: Bahwa yang kembali kepada penuduh ialah dosa mengkafirkan. Bukan kekufuran yang hakiki, tapi hanya dosa mengkafirkan, karena mengkafirkan saudaranya. Maka seakan-akan mengkafirkan dirinya sendiri atau mengkafirkan orang yang sama dengannya. Wallahu a’lam. [Lihat Syarah Shahih Muslim, oleh Imam Nawawi, 2/237]

Singkat kata, perkataan seperti ini sangat berbahaya untuk diucapkan. Sudah sewajarnya (seharusnya) kita berhati-hati menggunakan kalimat tersebut. Janganlah terburu-buru menggunakan kata kafir, fasiq atau yang sejenisnya kepada sesama Muslim. Karena kekufuran merupakan hukum syar’i yang berdasarkan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Mengkafirkan seseorang harus berdasarkan dalil syar’i, yaitu dari Al-Qur’an, Al-Hadits yang shahih dan Ijma’ Sahabat bukan berdasarkan hawa nafsu atau prasangka belaka. Di samping harus mengetahui syarat-syaratnya, juga harus mengetahui tentang ketiadaan hal-hal yang bisa menghalangi dari takfir (mengkafirkan). Karena takfir itu merupakan hukum syar’i yang memiliki syarat-syarat dan mawani’ (faktor-faktor yang menghalangi takfir). Jika syarat-syarat sudah terpenuhi dan mawani’ sudah tidak ada lagi serta telah dibuktikan pula faktanya secara pasti (qath'i), maka barulah seseorang itu boleh dikafirkan dan boleh dianggap murtad dari Islam. Tidak semua orang yang melakukan perbuatan kufur itu kafir. Karena boleh jadi dia melakukannya karena tidak mengetahui, bila itu merupakan perbuatan kekufuran.

Wajibnya Umat Islam Bersatu
Sesungguhnya Islam sangat menekankan persaudaraan dan persatuan. Bahkan Islam itu sendiri datang untuk mempersatukan pemeluk-pemeluknya dan menyatukan seluruh umat manusia dan seluruh dunia serta seluruh alam semesta ke dalam akidah tauhid Islam atau mabda' (ideologi) Islam untuk hanya menyembah dan mentaati Tuhan Yang Maha Esa semata yaitu Allah SWT Sang Maha Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan, bukan untuk memecah-belah. Karena itulah, Allah SWT menurunkan Islam kepada Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia dan seluruh alam semesta. Allah SWT berfirman:

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (QS. Saba': 28)

Dengan Islam -yang rahmatan lil 'alamin- yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ tersebut, Allah SWT pun mewajibkan umat Islam untuk bersatu. Sebagaimana firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

"Dan berpegang-teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu (masa Jahiliyah) kalian bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kalian orang yang bersaudara; dan kalian (sebelumnya) telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk." (QS. Ali Imran: 103)

Imam ath-Thabariy dalam tafsirnya mengatakan [Lihat Tafsiruth Thabari, Dâr Ihyâ’ it-Turâts al-‘Arabi, IV/hal. 42, cet. I -1421 H/2001 M]: “Yang diinginkan oleh Allah SWT dengan ayat ini ialah: “Berpeganglah kalian pada agama dan ketetapan Allah SWT yang dengan agama serta ketetapan itu Allah SWT telah memerintahkan agar kalian bersatu-padu dalam satu kalimatul haq (kebenaran) dan menyerah pada perintah Allah SWT".

Kemudian tentang firman Allah SWT pada ayat ini yang berbunyi:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

"Dan ingatlah akan nikmat Allah SWT kepada kalian ketika dahulu (masa Jahiliyah) kalian bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kalian orang yang bersaudara." (QS. Ali Imran: 103)

Imam ath-Thabariy rahimahullah mengatakan: “Tafsir ayat ini ialah: Ingatlah wahai kaum Mukminin akan nikmat Allah SWT yang telah dianugerahkan kepada kalian! Yaitu manakala kalian saling bermusuhan karena kemusyrikan kalian; kalian saling membunuh satu sama lain disebabkan fanatisme golongan (ta'ashub/'ashabiyah), dan bukan disebabkan taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. (Ingatlah ketika itu!-pen) Allah SWT kemudian mempersatukan hati-hati kalian dengan datangnya Islam. Maka Allah SWT jadikan sebagian kalian sebagai saudara bagi sebagian yang lain, padahal sebelumnya kalian saling bermusuhan. Kalian saling berhubungan berdasarkan persatuan Islam dan kalian bersatu-padu di dalam Islam.” [Lihat kitab Tafsîruth-Thabari yang sama, hal. 45-46]

Demikianlah keadaan penduduk Madinah yang secara umum dihuni dua kabilah besar yaitu Aus dan Khazraj. Sebelum kedatangan Islam mereka selalu saling berperang dan bermusuhan tanpa henti. Namun sesudah kehadiran Islam yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ -yang direpresentasikan dalam wujud Daulah Islam- mereka menjadi bersaudara.

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan: “Konteks firman Allah SWT di atas, berkenaan dengan keadaan orang-orang Aus dan Khazraj. Sesungguhnya pada zaman jahiliyah dua kabilah itu sangat sering terlibat dalam pertempuran, permusuhan keras, kebencian, dengki dan dendam. Karenanya mereka terperangkap dalam peperangan terus-menerus tanpa berkesudahan. Ketika Allah SWT mendatangkan Islam, maka masuklah sebagian besar dari mereka ke dalam Islam. Akhirnya mereka hidup bersaudara, saling mencintai berdasarkan keagungan Allah SWT, saling berhubungan berlandaskan (keyakinan atas) Dzat Allah SWT, dan saling tolong-menolong dalam ketakwaan serta kebaikan. Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ

"Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para Mukmin. Dan Allah mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan segala apa yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah yang mempersatukan hati mereka." (QS. Al-Anfal: 62-63). [Lihat Tafsîr Ibni Katsîrtentang Surat Ali Imrân: 103]

Berkenaan dengan Surat Al-Anfal ayat 63 yang dibawakan oleh Ibnu Katsîr di atas, Abu ath-Thayyib Shiddîq bin Hasan al-Qanûji al-Bukhâri (wafat 1307) dalam tafsirnya mengatakan [Fathul Bayân Fî Maqâshidil Qur’ân, Mansyûrât Muhammad ‘Ali Baidhûn, Dârul Kutub al-‘Ilmiyah Beirut, cet. I – 1420 H/1999 M, Juz I hal. 55]:

“Jumhur Ahli Tafsir mengatakan: ‘Yang dimaksud (dengan ayat 63 Surat Al-Anfal) adalah orang-orang Aus dan Khazraj. Sesungguhnya dahulu mereka terkungkung dalam fanatisme golongan yang berat, saling mengunggulkan diri, saling dikuasai kedengkian meskipun hanya dalam urusan yang paling sepele, dan saling berperang hingga memakan waktu 120 tahun. Hampir tidak pernah ada dua hati yang bisa saling bersatu dalam dua kabilah tersebut. Maka kemudian Allah SWT mempersatukan hati-hati mereka dengan iman kepada Rasulullah ﷺ. Berbaliklah kondisi buruk mereka menjadi baik, bersatulah kalimat mereka dan lenyaplah fanatisme yang ada pada mereka. Berganti pula sifat-sifat iri mereka dengan cinta kasih karena Allah SWT dan di jalan Allah SWT. Mereka semua sepakat untuk taat kepada Allah SWT hingga jadilah mereka sebagai pembela-pembela yang berperang untuk melindungi Rasulullah ﷺ.”

Allah SWT juga berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

"Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat." (QS. Ali Imran: 105)

Imam ath-Thabariy rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya: [Lihat Tafsiruth Thabari hal. 52 dengan terjemah bebas]: “Yang dimaksudkan oleh Allah SWT ialah: “Wahai orang-orang yang beriman! janganlah menjadi seperti orang-orang Ahli Kitab, yang berpecah-belah dan berselisih dalam agama, perintah dan larangan Allah SWT, sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas berupa bukti-bukti dari Allah SWT. Mereka berselisih di dalamnya. Mereka memahami kebenaran tetapi mereka sengaja menentangnya, menyelisihi perintah Allah SWT dan membatalkan ikatan perjanjian yang dibuat oleh Allah SWT dengan lancang.

Orang-orang Ahlu Kitab (yahudi dan nasrani) yang berpecah-belah dan berselisih dalam agama Allah SWT itu akan mendapat azab yang berat.

Jadi maksud firman Allah SWT di atas adalah: “Kalian wahai kaum mukminin, janganlah berpecah-belah dalam agama kalian seperti mereka berpecah-belah dalam agama mereka. Janganlah kalian berbuat dan mempunyai kebiasaan seperti perbuatan dan kebiasaan mereka. Sehingga jika demikian kalian akan mendapatkan azab yang berat seperti azab yang mereka dapatkan.”

Makna yang dapat dipetik dari ayat-ayat di atas antara lain bahwa kaum Muslimin dilarang berselisih pemahaman dalam masalah agama yaitu dalam hal-hal yang telah pasti dalam Islam, sebab yang demikian itu akan mengakibatkan perselisihan dan perpecahan fisik (seperti sekarang umat Islam terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara bangsa).

Imam asy-Syâthibi rahimahullah dalam al-I’tishâm menjelaskan bahwa, perpecahan fisik (tafarruq), adalah akibat ikhtilâf (perselisihan) mazhab dan ikhtilâf pemikiran. Itu jika kita jadikan kalimat tafarruq bermakna perpecahan fisik. Inilah makna hakiki dari tafarruq. Namun jika kita jadikan makna tafarruq adalah perselisihan mazhab, maka maknanya sama dengan ikhtilâf, sebagaimana firman Allah SWT:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا

"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih." [Al-I’tishâm karya Imam asy-Syâthibi, tahqîq: Syaikh Salîm bin ‘îd al-Hilâliy, hal. 669-670]

Dalam banyak hadits pun, Rasulullah ﷺ menegaskan wajibnya umat Islam bersatu dan larangan berpecah-belah, antara lain yaitu:

اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. اَلتَّقْوَى هَهُنَا. يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ : بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh merendahkannya dan tidak pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini -Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali-. (kemudian beliau bersabda lagi:) Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain; haram darahnya, kehormatannya dan hartanya." (HR. Muslim)

Juga sabda Rasulullah ﷺ:

لاَتَبَاغَضُوْا وَلاَ تَحَاسَدُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

"Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara." (Muttafaq ‘Alaihi)

Hadits-hadits senada sangat banyak. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

"Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. (Muttafaq ‘Alaihi)

Dalam riwayat Al-Bukhari ada tambahan:

وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

"Dan Rasulullah ﷺ menjalinkan jari-jemari kedua tangannya."

Nabi ﷺ juga bersabda dalam hadits yang dibawakan oleh an-Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu 'anhu:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى.

"Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur." (HR. Bukhâri dan Muslim, sedangkan lafalnya adalah lafadzh Imam Muslim)

Kesimpulan
Umat Islam apapun suku bangsa, warna kulit, mazhab dan harakah dakwahnya sejatinya mereka adalah bersaudara dan umat Islam adalah satu umat yang satu pemikiran, satu perasaan, satu sistem hukum, satu kepemimpinan, satu negara dan satu Tuhan yang wajib disembah dan ditaati yaitu hanyalah Allah SWT Yang Maha Esa lagi Maha Pencipta semesta alam.

Karena umat Islam itu bersaudara, maka umat Islam tidak boleh saling bermusuhan, saling caci-maki, saling menzhalimi, saling menyesatkan dan saling mengkafirkan, saling berpecah-belah, ataupun bunuh-membunuh.

Sebaliknya umat Islam -yang memiliki akidah Islam atau mabda' (ideologi) Islam di dalam benak mereka- itu wajib bersatu-padu melebur menjadi satu umat dalam persaudaraan sejati atau persatuan sejati yang diikat oleh ikatan shahih akidah tauhid Islam atau mabda' (ideologi) Islam serta wajib saling mencintai, saling menyayangi, saling berlemah-lembut dan saling tolong-menolong serta saling menasihati dalam kebenaran dan ketakwaan sebagai tuntutan akidah tauhid Islam.

Karena itulah, persaudaraan sejati dan persatuan sejati itu adalah ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam atau persatuan Islam) yang diikat oleh akidah tauhid Islam atau mabda' (ideologi) Islam. Dan ukhuwah Islamiyah itu akan semakin terwujud sempurna dan semakin kokoh tatkala direpresentasikan kembali ke dalam bentuk Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah yang telah dicontohkan dan telah diwariskan oleh Rasulullah ﷺ dan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum. Sebab substansi Khilafah itu sendiri selain pelaksana Syariah, juga sebagai pemersatu umat, pelayan umat dan penjaga umat serta penyebar risalah Islam ke segala penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Karena itulah, salah-satu rahasia kebangkitan dan kejayaan umat Islam adalah persatuan ideologis atau persaudaraan ideologis mereka, dan mereka pun memahami dan meyakini bahwa mereka wajib bersatu sebagai tuntutan akidah tauhid Islam. Serta mereka pun memahami dan meyakini secara ideologis bahwasanya mereka adalah bersaudara laksana bangunan tubuh yang tersusun secara sistematis dan kokoh.

Dan rahasia persatuan sejati atau persaudaraan sejati (ukhuwah Islamiyah) yang akan menghantarkan kembalinya umat Islam bangkit, berjaya dan benar-benar kembali menjadi umat yang terbaik (khairu ummah) yang menebar rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta adalah hanya dengan sistem Khilafah Rasyidah Islamiyah Wa'dullah (janji Allah) wa (dan) Busyrah Rasulillah (kabar gembira Rasulullah ﷺ).

Oleh karena itu, sebagai tuntutan dari keimanan atau akidah tauhid Islam atau mabda' (ideologi) Islam, maka umat Islam apapun suku bangsa, warna kulit dan mazhabnya maupun harakah dakwahnya wajib bersatu-padu berjuang bersama-sama -dengan meneladani metode dakwah Rasulullah ﷺ- mewujudkan tegaknya kembali Daulah Khilafah Rasyidah Islamiyah. Dan umat Islam seantero dunia pun wajib bersatu kembali dalam satu kepemimpinan Daulah Khilafah Rasyidah Islamiyah.

Karena tanpa Khilafah umat Islam akan terus bernasib tragis seperti anak ayam yang kehilangan induknya dan seperti kebun tanpa pagar serta umat Islam akan tetap berpecah-belah dan sulit untuk bersatu kembali dalam persaudaraan sejati dan persatuan sejati secara hakiki serta umat Islam akan terus dijajah secara sistemik oleh negara-negara kafir penjajah Barat dan Timur ataupun penjajah kapitalisme global. Karena itulah, Khilafah adalah perkara hidup dan matinya umat Islam sekaligus perkara yang sangat urgen karena menyangkut surga dan neraka. Khilafah juga adalah al-Junnah (perisai) dan benteng Islam yang utama yang menjaga dan melindungi darah dan kehormatan umat Islam serta penjaga dan pelindung wilayah umat Islam serta pemersatu umat Islam.

Karena itulah, wahai umat Islam bangkit dan bersatulah kalian dalam memperjuangkan tegaknya Khilafah Islam. Dan bangkit dan bersatulah kalian kembali dalam bingkai Khilafah Islam tersebut.

Wallahu a'lam bish shawab. []

#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAdalahSolusi
#KhilafahWujudkanIslamRahmatanLilAlamin

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog