Sunday, March 17, 2019

Belajar Dari Ekosistem Laut



Oleh: Zakariya al-Bantany

Ekosistem laut atau disebut juga ekosistem bahari merupakan ekosistem yang terdapat di perairan laut, terdiri atas ekosistem perairan dalam, ekosistem pantai pasir dangkal/ bitarol, dan ekosistem pasang surut.

Ekosistem air laut memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut:

1. Memiliki salinitas tinggi, semakin mendekati khatulistiwa semakin tinggi;

2. NaCl mendominasi mineral ekosistem laut hingga mencapai 75%.
Iklim dan cuaca tidak terlalu berpengaruh pada ekosistem laut;

3. Memiliki variasi perbedaan suhu di permukaan dengan di kedalaman;

4. Pembagian zona laut berdasarkan kedalaman.


Ekosistem laut juga berperan penting bagi lingkungan di daratan. 50% oksigen yang dihisap organisme di daratan berasal dari fitoplankton di lautan. Habitat pantai (estuari, hutan bakau, dan sebagainya) merupakan kawasan paling produktif di bumi. Ekosistem terumbu karang menyediakan sumber makanan dan tempat berlindung bagi berbagai jenis organisme dengan keanekaragaman hayati tingkat tinggi di lautan.

Ekosistem lautan pada umumnya memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga diperkirakan memiliki ketahanan yang baik terhadap spesies invasif. Namun beberapa kasus yang melibatkan spesies invasif telah ditemukan dan mekanisme yang menentukan kesuksesan spesies invasif ini belum dipahami secara pasti. [https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ekosistem_laut]


Ekosistem laut merupakan ekosistem alami yang sangat luas. Saking luasnya, ekosistem ini dibagi menjadi beberapa sub ekosistem, baik berdasarkan kedalamannya maupun berdasarkan jaraknya dari tepi pantai. Karena saking luasnya pula, ekosistem laut memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terlebih bagi ekosistem laut yang masih belum tercemar.


Rantai Makanan Di Laut


Rantai makanan adalah suatu proses makan dan dimakan yang terjadi antara mahluk hidup secara linier mengikuti tingkat trofik tertentu. Rantai makanan juga dapat diartikan sebagai suatu perpindahan energi secara biokimiawi antar mahluk hidup melalui sebuah interaksi makan dan dimakan.

Dalam ekosistem laut, terkandung banyak mahluk hidup yang saling memangsa. Adapun organisme yang bertindak sebagai produsen atau organisme yang hidup tanpa memangsa melainkan memperoleh makanan dengan cara membuatnya sendiri beberapa di antaranya adalah alga dan fitoplanton.

Dalam ekosistem laut, rantai makanan dimulai dari:


a. Kelas yang terendah, yaitu:

1. Alga merupakan organisme autotrof yang tidak memiliki organ. Pada dasarnya algae tidak memiliki organ seperti akar, batang dan daun. Ada beberapa jenis alga antara lain hijau, merah, pirang, keemasan. Keunikan dari alga yaitu mereka tidak bisa dijadikan menjadi satu kelompok.

Alga memiliki klorofil sehingga disebut autotrof. Tempat tumbuh alga berada di daerah yang lembab atau terendam air. Ada yang berada di air tawar ada juga di air asin. Ada 4 divisi dalam alga yaitu Chlorophyta, Chrysophyta, Phaeophyta, dan Phyrophyta.

Alga Chlorophyta merupakan jenis alga yang paling beragam dan banyak macamnya. Berkembang biak di berbagai daerah di Indonesia. Alga berperan sebagai produsen dalam ekosistem. Berbagai jenis alga yang hidup bebas di air terutama yang tubuhnya bersel satu dan dapat bergerak aktif merupakan penyusun phitoplankton. Sebagian besar fitoplankton adalah anggota alga hijau, pigmen klorofil yang dimilikinya efektif melakukan fotosintesis sehingga alga hijau merupakan produsen utama dalam ekosistem perairan.

Alga menjadi makanan utama dari ikan-ikan yang berukuran kecil seperti anak-anak ikan yang masih kecil, teri, sarden, udang, dan lain-lain.

2. Plankton (organisme laut yang paling kecil). Plankton didefinisikan sebagai organisme renik yang bergerak mengikuti arus apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar. Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik.

Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Ukurannya sangat kecil. Walaupun termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air pasang atau angin yang menghanyutkannya.

Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk memungkinkannya terus hidup. Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan menangkap ikan aktif dijalankan di kawasan itu.

Selain sisa-sisa hewan, plankton juga hidup dari tumbuhan. Jika dilihat menggunakan mikroskop, unsur tumbuhan alga dapat dilihat pada plankton. Beberapa makhluk laut yang memakan plankton adalah seperti batu karang, kerang, teri dan anak-anak ikan yang masih kecil serta udang dan juga sebagian dari jenis ikan raksasa yaitu paus pemakan plankton semisal Hiu Paus dan Paus jenis Balin (ada sekitar 7 spesies) serta pare manta (pare jenis raksasa).

Plankton secara umum dibagi dua spesies yaitu: Fitoplankton (plankton nabati) dan Zooplankton (plankton hewani).

b. Rantai makanan dalam ekosistem selanjutnya adalah kelas rendah, yaitu:

Kerang, terumbu karang, dan ikan-ikan yang berukuran kecil, seperti bayi-bayi ikan, teri, udang, sarden dan lain-lain. Ikan-ikan kecil ini biasanya menjadi makanan pokok dari ikan-ikan yang berukuran sedang seperti ikan cakalang, cumi-cumi, gurita, tongkol, tuna, kembung, tenggiri, barakuda, dan lain-lain. Dan mamalia laut pun seperti singa laut, anjing laut dan gajah laut, bahkan unggas laut seperti pinguin, pelikan dan camar pun suka memakan ikan-ikan yang berukuran kecil tersebut.

c. Kelas selanjutnya adalah kelas menengah, yaitu:

Ikan-ikan yang berukuran sedang dan cukup besar, seperti tongkol, cumi-cumi, gurita, lobster, kembung, cakalang, tuna, barakuda, marlin dan hiu berukuran kecil atau sedang, dan lain-lain. Ikan-ikan berukuran sedang dan cukup besar ini biasanya menjadi makanan utama dari ikan-ikan yang berukuran lebih besar atau berukuran raksasa, seperti hiu khususnya hiu putih dan paus pembunuh, dan juga beberapa mamalia laut seperti anjing laut, singa laut, gajah laut, dan lain-lain.

d. Kelas atas, yaitu:

Ikan Hiu

Hiu adalah predator kelas atas yang sangat buas dan memiliki gigi runcing setajam silet dan memiliki rahang yang sangat kuat dan mematikan.

Hiu memiliki sekitar 15 spesies di lautan dari hiu yang berukuran kecil, berukuran sedang, hingga yang berukuran raksasa seperti hiu putih (berukuran bisa mencapai lebih dari 6 meter) yang menjadikan hampir seluruh jenis ikan dari yang kecil, sedang sampai yang paling besar menjadi makanan pokoknya bahkan hiu pun khususnya hiu putih juga memakan mamalia laut (anjing laut, gajah laut, duyung dan singa laut) dan unggas laut (burung pinguin). Hanya saja kebanyakan jenis hiu terutama hiu putih hanya takluk di dalam gigi tajam dan rahang yang sangat kuat dan super buas dari paus pembunuh (orca).

e. Selanjutnya kelas teratas dalam rantai makanan dalam ekosistem laut, yaitu:

Paus Pembunuh (Orca)

Jenis paus pembunuh atau paus orca yang panjangnya bisa sampai lebih dari 10 meter. Paus pembunuh (orca) doyan makan segala hewan laut seperti anjing laut, gajah laut, singa laut, duyung, pinguin dan segala jenis ikan termasuk ikan tuna, tongkol, gurita bahkan hiu putih yang buas pun bisa menjadi santapan lezatnya. Bahkan paus pembunuh (orca) ini pun mampu memangsa paus jenis lain yang berukuran 3 kali lipat besarnya daripada orca tersebut.

Paus pembunuh adalah predator yang sangat mematikan nomor satu di seluruh penjuru lautan atau di Samudera. Dalam ekosistem laut, orca atau paus pembunuh adalah rantai makanan teratas, sedangkan hiu putih di bawahnya.

Paus pembunuh atau orca tatkala kehabisan cadangan makanan ikan-ikan kecil dan hewan laut lainnya, maka orca atau paus pembunuh secara berkelompok dengan kesolidan tim kelompok berburunya dan dengan teknik berburu yang sangat jitu serta serangan tiba-tiba yang mematikan mampu melumpuhkan hiu putih berukuran raksasa sekalipun. Dan mereka para orca pun akan pesta besar makan bareng hidangan raksasa dari daging hiu putih raksasa tersebut. Karena itulah, orca dijuluki sebagai paus pembunuh dan predator yang sangat mematikan di seluruh penjuru lautan atau Samudera di dunia.


Pelajaran Berharga Di Balik Ekosistem Laut


Di balik ekosistem laut beserta rantai makanan yang terkandung di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat berharga bagi manusia yang berakal sehingga akan memahamkan dan semakin mengenali jati dirinya dan eksistensi dirinya di dunia dan di alam semesta ini serta akan kian menumbuhkan keimanan yang kokoh kepada eksistensi Tuhannya yaitu Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan. Adapun pelajaran berharga tersebut, antara lain:


1. Ekosistem laut adalah menjadi salah satu bukti kuat bahwasanya Allah SWT adalah satu-satunya Al-Khaliq Yang Maha Esa yaitu Tuhan Yang Maha Pencipta, Maha Kuasa dan Maha Pengatur alam semesta dengan segala kecanggihan, keteraturan dan ketelitian yang sangat detail dan sistematis dalam mekanisme hukum alam (sunnatullah) yang Dia ciptakan. Allah SWT berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

"Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. As-Sajadah: 4)

2. Membuktikan Allah SWT itu Maha Besar dan Maha Kuat, sedangkan kita makhluk (ciptaan)-Nya ini adalah sangat lemah dan sangat kecil serta tiada daya dan upaya. Dan sesungguhnya Allah SWT tidaklah sia-sia dalam menciptakan segala sesuatu. Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali ‘Imran: 190-191)

3. Setiap makhluk hidup yang hidup di dunia dan di alam semesta khususnya di dalam ekosistem laut tidak bisa hidup sendiri dan setiap makhluk hidup saling membutuhkan dan saling ketergantungan.Allah SWT berfirman:

 وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا ۖ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. Ar-Ra'du: 3)

4. Kita umat Islam tidak boleh menjadi pihak yang lemah seperti alga dan plankton yang jumlahnya sangat banyak tapi tiada daya sehingga menjadi menu utama bagi para predator (penguasa boneka, kapitalis dan negara-negara kafir penjajah).

5. Kita umat Islam tidak boleh menghalalkan segala cara seperti makhluk-makhluk predator (penguasa boneka, kapitalis dan negara-negara kafir penjajah) seperti ikan-ikan di rantai makanan dari kelas menengah hingga kelas teratas yang selalu memangsa hewan atau ikan-ikan di bawah kelasnya demi memuaskan rasa lapar dan naluri liar kehewanannya.

6. Agar kita umat Islam tidak dijadikan mangsa empuk terus-menerus oleh negara-negara predator penjajah kafir dari segala penjuru baik negara adidaya maupun negara super adidaya, maka kita umat Islam tidak boleh terpecah-belah berkeping-keping dengan memisahkan diri menjadi hidup sebatang kara atau keluar dari barisan jama'ah kaum Muslimin sedunia dan hidup dalam kelompok-kelompok kecil (kesukuan, mazhab dan negara bangsa dengan paham sempit fanatisme golongan dan nasionalisme) tanpa kekuatan yang berarti.

7. Kita umat Islam haruslah bersatu dalam sistem koordinasi alamiah yang tunggal dengan membentuk satu formasi super raksasa sehingga melahirkan sebuah sistem pertahanan yang sangat kokoh hingga predator-predator yang dari berukuran sedang hingga yang berkuran raksasa tidak akan mampu berhadapan dengan satu kumpulan formasi super raksasa.


Karena itulah, kita sebagai umat Islam dengan insting alamiahnya yaitu fitrah akal, naluri hidup, ruh keimanan, dan ruh jama'i harus mampu mengenal dan memahami dengan benar hakikat jati diri kita sebagai makhluk ciptaan Allah dan sekaligus hamba Allah SWT, sehingga melahirkan di dalam diri kita berupa kesadaran ideologis hubungan sangat erat dengan Allah SWT (idrak shilah billah) dalam seluruh aspek kehidupan kita.

Serta kita selaku umat Islam pun wajib terikat secara totalitas dalam seluruh aspek kehidupan kita baik pola pikir dan pola hidup kita dengan Akidah Islam dan Syariah Islam (hukum-hukum Allah SWT) serta umat Islam apapun mazhab dan harakah dakwahnya wajib bersatu dalam satu jama'ah umat Islam (sistem koordinasi tunggal dan formasi super raksasa: Khilafah Islam) yang diikat dengan ikatan ideologis Akidah Islam sebagai dari tuntutan akidah tauhid Islam.

Dan juga kita umat Islam wajib meninggalkan segala fanatisme sempit golongan ('ashabiyah) baik fanatisme mazhab maupun harakah dan wajib pula meninggalkan paham nasionalisme yang sempit beserta meninggalkan sistem maupun segala ideologi kufur jahiliyah penjajah kafir Barat dan Timur. Allah SWT berfirman:

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلىَ شَفاَ خُـفْرَةٍ مِنَ النَّاِر فَأَنْقـَدَكُمْ مِنْهَا كَذَالِكَ يُبَبِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَاتِهِ لَعَلـَّكُمْ تَهْـتَدُونَ

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah-belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu di atas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imron: 103)


Sehingga kita umat Islam benar-benar akan mengalami kebangkitan hakiki dan menjelma dalam sistem koordinasi tunggal dan formasi super raksasa adidaya Khilafah, sehingga negara-negara penjajah kafir yang selama ini menjajah dan memangsa umat Islam dan kekayaan sumber daya alam negeri-negeri umat Islam bisa dikalahkan dan dienyahkan dari negeri-negeri Islam dan dari peta dunia.

Dan umat Islam pun yang telah berwujud menjadi formasi super power raksasa adidaya Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah (NKRI) tersebut akan benar-benar bisa terbebas dari segala bentuk penjajahan serta umat Islam pun akan kembali menjadi khairu ummah (umat yang terbaik) dan akan bisa menguasai seluruh penjuru dunia dan menebar rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta. Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً

"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar dimenangkannya atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi." (QS. al-Fath: 28)

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa (menjadi Khalifah/Khilafah) di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq." (QS. An-Nuur: 55)


Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ اللهَ زَوَى لِي اْلأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا

“Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan (memperlihatkan) bumi kepadaku. Sehingga, aku melihat bumi mulai dari ujung Timur hingga ujung Barat. Dan umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku….” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)


Allah SWT pun menegaskan janji-Nya untuk senantiasa membela, menyertai dan menyelamatkan orang-orang mukmin. Firman-Nya:

ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُواْ كَذَلِكَ حَقّاً عَلَيْنَا نُنجِ الْمُؤْمِنِينَ

"Demikianlah, menjadi kewajiban atas Kami untuk menyelamatkan orang-orang mukmin." (QS. Yunus: 103)


Kesimpulannya, rahasia kesuksesan kebangkitan umat Islam menjadi khairu ummah (umat yang terbaik) dalam wujud sempurnanya yaitu Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah (NKRI) adalah tatkala umat Islam mencampakkan seluruh bentuk ideologi kufur jahiliyah penjajah kafir seperti demokrasi, kapitalisme, sekulerisme, maupun sosialisme-komunisme, dan umat Islam segera kembali mengadopsi akidah Islam atau mabda' (ideologi) Islam secara totalitas sehingga ideologi Islam tersebut benar-benar mengkristal atau bermutajasad dalam tubuh umat Islam hingga secara alamiah akan memicu persatuan umat Islam sedunia karena dorongan fitrah Islam yang merasuk dalam pemikiran, perasaan dan sendi-sendi kehidupan umat Islam.

Sehingga dengan kepemimpinan ideologis Islam (qiyadah fikriyah Islam) atau kepemimpinan intelektual Islam yang merasuk dalam tubuh dan jiwa umat Islam tersebut, maka akan terjadinya sebuah metamorfosis ideologis yaitu sebuah revolusi pemikiran di tengah umat Islam hingga akan terwujudlah kebangkitan hakiki Islam dan umat Islam dalam wujud sempurnanya yaitu menjadi super raksasa adidaya Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah. Rasulullah Saw bersabda:

...ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَي مِنهَاجِ انُّبُوَّةِ...

"...Kemudian akan kembali datang Khilafah yang mengikuti metode Kenabian (Khilafah Rasyidah yang kedua)." (HR. Ahmad)

Wallahu a'lam bish shawab. []


#UlamaBelaHTI
#UmatBersamaHTI
#HTIOnTheTrack
#HTILanjutkanPerjuangan
#HaramPilihPemimpinIngkarJanji
#HaramPilihPemimpinZalim
#HaramPilihPemimpinAntekAsingAseng
#HaramPilihPemimpinDiktatorAntiIslam
#2019GantiRezimGantiSistem
#2019TumbangkanDemokrasi
#2019TegakkanKhilafah
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahTheRealSolution

Wednesday, March 6, 2019

Mancing Bukan Sekedar Hobi Biasa



Oleh: Zakariya al-Bantany

Sebagian orang begitu sangat menggandrungi yang namanya memancing hingga memancing pun menjadi menu utama liburan akhir pekan mereka selepas seminggu full menjalani rutinitas kerja, selain memancing menjadi sebuah hobi yang mengasyikkan jiwa.

Namun, sayangnya di zaman now -yang notabene adalah era peradaban kapitalistik-sekuleristik dengan berhala demokrasinya- yang penuh dengan gaya hidup liberalistik dan hedonistik serta serba pragmatis seperti saat ini, sebagian orang kebanyakan terlalaikan dengan memancing hingga mereka pun lupa waktu, lupa anak dan lupa istri di rumah, lupa pekerjaan mereka, sampai-sampai mereka pun yang ngaku Muslim tega melupakan kewajiban shalat dan lupa pula ngaji Islam serta dakwah.

Bahkan parahnya mereka pun sampai lupa segala-galanya termasuk lupa dengan segala problematika yang sedang mendera umat, dan mereka pun celakanya sampai lupa sama Tuhannya yang telah menciptakannya yaitu Allah SWT, dan mereka lupa pula hakikat jati dirinya sebagai seorang hamba Allah, serta mereka pun lupa dengan kematian yang senantiasa mengintainya.

Ini semua akibat pemahaman yang keliru dan salah dalam memaknai memancing. Karena pengaruh pola pikir kapitalis-sekuler dan pola hidup kapitalis-sekuler yang sangat liberal dan hedonis yang diadopsi oleh masyarakat dan negara. Semua ini adalah buah busuk nan beracun dari penerapan sistem kufur demokrasi, kapitalisme, sekulerisme biang kerusakan hingga membuat masyarakat pun khususnya para "Mancing Mania" menjadi sakit pola pikir dan pola hidup mereka hingga merusak kehidupan mereka sendiri. Na'udzubillahi min dzalik..!!!

Padahal, dalam Islam memancing hukumnya mubah atau boleh-boleh saja, asalkan memancing tidak sampai melalaikan kewajiban mereka sebagai seorang hamba Allah dan tidak pula melanggar Syariat Allah, serta tidak boleh melalaikan kewajiban mereka terhadap aktivitas dakwah secara berjama'ah untuk mewujudkan berlanjutnya kehidupan Islam dalam bentuk negara.

Dalam sudut pandang Islam, jika kita mau menggunakan pola pikir Islam dan pola hidup Islam dalam memahami dan memaknai memancing, maka memancing akan jauh lebih bermakna, mencerdaskan dan menyehatkan bagi kita, serta tidak akan membuat waktu kita pun sia-sia.

Dan tentunya tidak akan membuat kita lupa segala-galanya, bahkan akan semakin menambah keimanan kita kepada Allah SWT Tuhan Semesta Alam.

Adapun hikmah memancing antara lain:

1. Melatih kesabaran dan keuletan serta melatih pengendalian emosi;

2. Melatih rasa tanggung jawab;

3. Melatih kedisiplinan;

4. Melatih rasa empati dan keikhlasan;

5. Melatih kecerdasan IQ, kecerdasan emosional dan spritual;

6. Melatih kecerdasan politik;

7. Melatih jiwa kepemimpinan atau leadership;

8. Melatih kita untuk memahami sains dan teknologi;

9. Melatih kita untuk memahami hakikat jati diri kita sebagai hamba Allah;

10. Menambah dan menguatkan keimanan kita kepada Allah SWT Sang Pencipta Alam Semesta, manusia dan kehidupan;

11. Melatih kita dalam memahami hukum sebab-akibat khususnya terkait takdir dan rizki serta makna tawakkal;

12. Tentunya memancing pun akan bikin kita jauh lebih sehat, karena dapat memacu adrenalin kita serta melancarkan peredaran darah kita hingga kita pun merasakan sebuah relaksasi dan sensasi kebahagiaan;

13. Memperat tali ukhuwah dan kekeluargaan pada saat mancing bareng;

14. Menajamkan akal pikir kita dan daya konsentrasi kita;

15. Dan dengan ilmu seni memancing akan menambah kita semakin struggle dalam medan pertarungan pemikiran dan dalam perjuangan dakwah politik ideologis.

So, Buat anda para Mancing Mania yang dirahmati Allah, agar hobi memancing anda tidak sia-sia dan bahkan justru hobi memancing anda akan semakin lebih bermakna, mencerdaskan dan menyehatkan serta lebih berkah dan mudah-mudahan juga berpahala. Ada baiknya terlebih dahulu anda membaca, memahami dan merenungi firman Allah SWT ini:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣

"1. (Demi masa) atau zaman atau waktu yang dimulai dari tergelincirnya matahari hingga terbenamnya; maksudnya adalah waktu shalat Asar.

2. (Sesungguhnya manusia itu) yang dimaksud adalah jenis manusia (benar-benar berada dalam kerugian) di dalam perniagaannya.

3. (Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh) mereka tidak termasuk orang-orang yang merugi di dalam perniagaannya (dan nasihat-menasihati) artinya sebagian di antara mereka menasihati sebagian yang lainnya (supaya menaati kebenaran) yaitu iman (dan nasihat-menasihati dengan kesabaran) yaitu di dalam menjalankan amal ketaatan dan menjauhi kemaksiatan." (QS. al-'Ashr: 1-3)

Semoga lebih barakah..!!!

Wallahu a'lam bish shawab. []

#MANCINGIDEOLOGIS

Tuesday, March 5, 2019

Ikhlas Itu Condong Pada Kebenaran



Oleh: Zakariya al-Bantany

Di zaman now ini, terkadang dalam diskusi baik di dunia nyata maupun di dunia medsos tanpa sadar kita sering terjebak pada baqa' atau keakuan seperti ego kesenioritasan dan hawa nafsu serta perasaan emosional hingga terbitlah rasa sombong di dalam dada kita baik besar ataupun kecil kesombongan tersebut, baik dalam kondisi sadar maupun tidak sadar.

Sehingga kita pun terkadang terjebak dan terjerumus sering meremehkan orang lain yang di bawah level kita dan di bawah usia kita hingga kita terkadang dengan congkaknya menolak nasihat, ilmu dan hikmah serta kebenaran dari orang tersebut yang telah tulus semata-mata karena Allah dalam menyampaikan nasihat, ilmu dan hikmah serta kebenaran kepada kita.

Bahkan pula karena kesombongan kita pada kebenaran lantas kita pun terkadang sampai membabi-buta menyerang pribadi dan membunuh karakter orang yang menyampaikan nasihat, ilmu, hikmah dan kebenaran tersebut dengan bully-an dan caci-makian yang sangat merendahkan.

Padahal Allah SWT telah berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 34)

Qotadah berkata tentang ayat ini, “Iblis hasad kepada Adam ‘alaihis salaam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Iblis mengatakan, “Saya diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah.” Kesombongan inilah dosa yang pertama kali terjadi. Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada Adam.” [Tafsir Ibnu Katsir, 1/114, cet. al-Maktabah at-Tauqifiyah]

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain." (HR. Muslim, No. 91)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran.” [Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam]

Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al-haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi pada hadist di atas dalam sabda beliau, “Sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain.” Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. [Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam]

Menerima nasihat, ilmu, hikmah dan kebenaran yang disampaikan oleh orang yang di bawah level kita dan di bawah usia kita, serta dari orang yang kita tidak sukai memang sangatlah berat seperti laksana memikul gunung merapi, terkecuali yang sanggup memikulnya hanyalah orang-orang yang ikhlas (mukhlis) dan tawadhu' saja. Orang yang mukhlis itu laksana padi yang semakin berisi, maka ia akan semakin merunduk dan kian menguning keemasan.

Karena itulah, dalam tiap diskusi atau dalam mencari kebenaran harusnya pemikiran dilawan dengan pemikiran, intelektual dilawan dengan intelektual, ide dilawan ide, fakta dilawan dengan fakta, ilmu dilawan dengan ilmu, hujjah dilawan dengan hujjah, data dilawan dengan data, karya ilmiah dilawan dengan karya ilmiah, buku dilawan dengan buku, tesis dilawan dengan tesis. Bukan dilawan dengan emosi, perasaan atau baqa' (ego) ataupun hawa nafsu maupun bully-an.

Jawaban-jawaban yang diberikan dalam diskusi harusnya pun jawaban yang intelektual, memuaskan akal, menentramkan hati, sesuai fitrah dan tentunya yang paling utama harus sesuai Syariah.

Bukan justru jawaban seperti anak kecil yang polos dan suka ngambek-ngambek atau jawaban seperti orang awam, mencla-mencle, mengedepankan baqa' atau emosi atau ego atau keakuan maupun ego kesenioritasan sehingga jawabannya tidak intelektual, tidak memuaskan akal, tidak menentramkan hati, tidak sesuai fitrah dan tidak pula sesuai Syariah hingga jauh dari kebenaran, sehingga diskusinya pun bukan lagi diniatkan mencari kebenaran tapi justru hanya untuk menang-menangan semata dan berakhir dengan debat kusir yang sangat jauh dari adab Islam atau akhlaq Islam.

Karena itulah, dalam hal ini Allah SWT memberikan panduan yang jelas pada kita dalam firman-Nya:

 اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125)

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.”  (QS. Al-Baqarah [2]: 111)

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, "Kami mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An-Nuur: 51)

Oleh karena itulah, hanya orang-orang yang mukhlis (ikhlas) saja yang mau senang hati dengan penuh ketulusan dan ketawadhu'an menerima nasihat, ilmu dan hikmah yang benar dari siapapun. Sekalipun nasihat, ilmu dan hikmah serta kebenaran itu datangnya dari anak kecil ataupun dari hewan sekalipun maupun dari orang yang paling kita benci sekalipun.

Sebab nasihat, ilmu dan hikmah serta kebenaran yang disampaikan dengan tulus oleh saudara kita itu hakikatnya adalah datangnya dari Allah SWT sebagai wujud cinta dan kasih sayang (rahmah) Allah kepada kita agar kita selamat dunia dan akhirat serta tetap dalam koridor Akidah Islam dan Syariah Islam.

Sekaligus nasihat, ilmu dan hikmah serta kebenaran yang disampaikan oleh saudara kita itu pun hakikatnya adalah wujud cinta dan kasih sayangnya kepada kita sebagai sesama saudara seakidah dan semuslimnya sebagai tuntutan akidah Islam.

Dalam hal ini, disandarkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau berkata:

أنظر ما قال ولا تنظر من قال

"Lihatlah apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan."

Senada dengan ucapan di atas, Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi rahimahullahu juga mengatakan :

أنظر إلى القول ولا تنظر إلى القائل

"Perhatikanlah ucapannya jangan memperhatikan yang mengucapkan."

Sebagaimana yang diucapkan oleh Ubay bin Ka’ab:

اقْبَلِ الْحَقَّ مِمَّنْ جَاءَكَ بِهِ وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا بَغِيضًا ، وَارْدُدِ الْبَاطِلَ عَلَى مِنْ جَاءَكَ بِهِ ، وَإِنْ كَانَ حَبِيبًا قَرِيبًا

"Terimalah kebenaran yang datang padamu walaupun berasal dari orang jauh yang kau benci, dan tolaklah kebathilan yang sampai padamu walaupun berasal dari orang dekat yang kau cintai."

Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama." (QS. Az-Zumar: 11)

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Al-Hijr: 39-40)

Oleh karena itulah, sesungguhnya ikhlas itu selalu condong pada kebenaran. Sebaliknya sombong itu selalu condong pada keburukan. Wallahu a'lam bish shawab. []


Monday, March 4, 2019

Ayat Al-Qur’an Yang Paling Sering Kita Langgar



Oleh: Zakariya al-Bantany

Tahukah anda ayat dari Al-Qur’an yang paling sering kita langgar..?!

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara."
(QS. Ali Imran: 103)

Tafsir Ayat (QS. Ali Imran: 103):

1. Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata tentang tafsir ayat ini:

"Allah SWT menghendaki dengan ayat ini, dan berpeganglah kamu semuanya kepada agama Allah yang telah Dia perintahkan, dan (berpeganglah kamu semuanya) kepada janji-Nya yang Dia (Allah) telah mengadakan perjanjian atas kamu di dalam Kitab-Nya, yang berupa persatuan dan kesepakatan di atas kalimat yang haq dan berserah diri terhadap perintah Allah." [Jami’ul Bayan, 4/30.]

2. Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah (satu umat, satu kepemimpinan dan satu negara) dan melarang perpecahan (banyak kelompok, kepemimpinan dan banyak negara). Dan telah datang banyak hadits, yang (berisi) larangan perpecahan dan perintah persatuan. Mereka dijamin terjaga dari kesalahan manakala mereka bersepakat, sebagaimana tersebut banyak hadits tentang hal itu juga. Dikhawatirkan terjadi perpecahan dan perselisihan atas mereka. Namun hal itu telah terjadi pada umat ini, sehingga mereka berpecah menjadi 73 firqah. Di antaranya  terdapat satu firqah najiyah (yang selamat) menuju surga dan selamat dari siksa neraka. Mereka ialah orang-orang yang berada di atas apa-apa yang ada pada diri Nabi dan para sahabat beliau.” [Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim, surat Ali Imran:103.]

3. Al-Qurthubi rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan (banyak kelompok, banyak kepemimpinan/pemerintahan dan banyak negara). Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasaan dan al-jama’ah (persatuan umat dalam satu umat, satu pemerintahan/satu kepemimpinan dan satu negara) merupakan keselamatan.” [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159.]

4. Al-Qurthubi rahimahullah juga mengatakan:

“Maka Allah Ta’ala mewajibkan kita berpegang kepada Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya, serta -ketika berselisih- kembali kepada keduanya. Dan memerintahkan kita bersatu di atas landasan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, baik dalam keyakinan dan perbuatan. Hal itu merupakan sebab persatuan kalimat dan tersusunnya perpecahan (menjadi persatuan), yang dengannya mashlahat-mashlahat dunia dan agama menjadi sempurna, dan selamat dari perselisihan. Dan Allah memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan yang telah terjadi pada kedua ahli kitab.” [Al-Jami’ Li Ahkaml Qur’an 4/164]

5. Beliau juga mengatakan,

“Boleh juga maknanya, janganlah kamu berpecah-belah karena mengikuti hawa nafsu dan tujuan-tujuan yang bermacam-macam. Jadilah kamu saudara-saudara di dalam agama Allah, sehingga hal itu menghalangi dari (sikap) saling memutuskan dan membelakangi.” [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159.]

6. Asy-Syaukani rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini:

“Allah memerintahkan mereka bersatu di atas landasan agama Islam, atau kepada Al-Qur’an. Dan melarang mereka dari perpecahan yang muncul akibat perselisihan di dalam agama.” [Fahul Qadir 1/367]

Dari banyak ayat al-Qur’an yang sering kita langgar, ayat inilah yang paling sering kita langgar hingga saat ini sejak diruntuhkannya Daulah Khilafah Islam Utsmaniyah oleh Inggris melalui agennya Mustafa Kamal at-Tarturk laknatullahi 'alaihi pada 03 Maret 1924 M hingga umat Islam pun yang sebelumnya satu jama'ah atau satu umat, satu kepemimpinan/ satu pemerintahan dan satu negara terpecah-belah berkeping-keping menjadi lebih dari 60 negara-negara kecil yang lemah dalam sekat dan bentuk negara bangsa (nation state) dengan paham sempit nasionalismenya yang sesat nan kufur serta mengadopsi ideologi kufur penjajah baik demokrasi, kapitalisme, sekulerisme maupun sosialisme-komunisme.

Hingga umat Islam pun merintih kesakitan tiada kesudahan, saling berperang, saling bunuh, dan terus-menerus umat Islam dan negeri-negeri mereka pun dijajah dan kekayaan sumberdaya alam negeri-negeri mereka pun dirampok bahkan mereka pun dibunuhi secara massal dan sadis oleh musuh-musuh mereka baik penjajah kafir Barat (AS, Inggris, Prancis, Italia, Belanda, Portugis, Spanyol, dan lain-lain), zionis yahudi israel maupun penjajah kafir Timur (Jepang, RRC, Myanmar, dan lain-lain).

Dan umat Islam pun di seluruh penjuru dunia hingga kini terus menerus menjadi bulan-bulanan kaum kafir penjajah tersebut dan terus-menerus dipecundangi, ditindas dan dihabisi, serta dijajah secara sistemik oleh kaum kafir penjajah Barat dan Timur dengan bantuan kaum munafik.

Saat ini kondisi umat Islam benar-benar seperti anak ayam yang kehilangan induknya dan bagaikan kebun tanpa pagar serta laksana buih di atas lautan yang centang-perenang terombang-ambing tak tentu arah hingga dihantam ombak gelombang lautan hingga pecah berkeping-keping. Umat Islam pun kini bagaikan menu hidangan lezat di atas meja makan yang diperebutkan oleh musuh-musuh mereka baik dari Barat dan Timur hingga dari Utara dan Selatan. Umat Islam benar-benar dalam kondisi antara hidup dan mati. Benarlah sabda Rasulullah berikut ini:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Rasulullah bersabda: “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahn.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR. Abu Dawud 3745)

Karena itulah, di sinilah salah satu urgensi perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islam. Karena, subtansi Khilafah Islam adalah penerapan Syariah Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan dan persatuan umat Islam (ukhuwwah al-Islamiyyah) serta mengurusi seluruh urusan umat Islam (ri'ayah al-Islamiyyah) serta perisai (al-junnah) dan benteng kokoh penjaga Islam dan umat Islam serta Khilafah pun adalah mahkota kewajiban (taajul furudh) di dalam Islam, sebab dengan Khilafah seluruh ajaran Islam dan hukum-hukum Islam bisa secara sempurna dan kaffah diterapkan dalam segala aspek kehidupan.

Jadi, seluruh umat Islam -apapun mazhab dan harakah dakwahnya- wajib hukumnya memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah Islam tersebut. Sebab, Khilafah adalah ajaran Islam dan juga warisan Rasulullah dan sanadnya pun sampai ke Rasulullah ﷺ, serta Khilafah pun adalah janji Allah yang difardhukan (baca: QS. An-Nuur: 55) dan kabar gembira dari Rasulullah (bisyarah Rasulillah ), serta Khilafah pun mahkota kewajiban di dalam Islam yang merupakan perkara hidup dan matinya umat Islam, serta perkara vital keberlangsungan kehidupan Islam dan syiar dakwah Islam serta jihad Islam ke segala penjuru dunia demi tegaknya kalimat Allah yang agung dan demi izzul Islam wal muslimin, sekaligus demi mewujudkan kembalinya khairu ummah (umat yang terbaik) dan Islam rahmatan lil 'alamin yang menebar rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta. Wallahu a'lam bish-shawab. []

#UlamaBelaHTI
#UmatBersamaHTI
#HTIOnTheTrack
#HTILanjutkanPerjuangan
#HaramPilihPemimpinIngkarJanji
#HaramPilihPemimpinZalim
#HaramPilihPemimpinAntekAsingAseng
#HaramPilihPemimpinDiktatorAntiIslam
#2019GantiRezimGantiSistem
#2019TumbangkanDemokrasi
#2019TegakkanKhilafah
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahTheRealSolution


Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog