Sunday, May 12, 2019

Biang Petaka Palestina Adalah Nasionalisme



Oleh: Zakariya al-Bantany

Nasionalisme adalah sebuah paham sempit kebangsaan yang lahir dari ideologi penjajah kafir Barat dan Timur baik kapitalisme-sekulerisme maupun sosialisme-komunisme ataupun ideologi jahiliyah. Nasionalisme adalah warisan para penjajah Barat dan Timur untuk memecah-belah persatuan para penduduk negeri-negeri jajahannya sehingga para penjajah tersebut dapat dengan mudah dan lebih leluasa dalam menguasai sepenuhnya wilayah jajahannya tersebut secara sistemik.

Dalam pandangan ideologi (mabda' , akidah) Islam, Nasionalisme adalah sebuah ikatan yang sangat rapuh dan sangat rendah nilainya serta temporal sifatnya dan hanya membawa perpecahan dan malapetaka di tengah umat manusia atau masyarakat. Karena itulah dalam hadits Rasulullah ﷺ disebutkan:

عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Dari Jundab bin Abdullah Al-Bajaliy, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa terbunuh karena membela bendera kefanatikan yang menyeru kepada kebangsaan atau mendukungnya, maka matinya seperti mati Jahiliyah.”
(HR. Muslim, No. 3440)

Menurut As-Sindi, Ummiyyah atau Immiyyah adalah bentuk kinâyah, yaitu larangan berperang membela jamaah (kelompok) yang dihimpun dengan dasar yang tidak jelas (majhûl), yang tidak diketahui apakah haq atau batil. Karena itu, orang yang berperang karena faktor ta’âshub itu, menurutnya, adalah orang yang berperang bukan demi memenangkan agama, atau menjunjung tinggi kalimah Allah [As-Sindi, Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibn Majah, VII/318].

Dengan demikian, jelas bahwa makna ‘ashabiyyah di sini bersifat spesifik, yaitu ajakan untuk membela orang atau kelompok, tanpa melihat apakah orang atau kelompok tersebut benar atau salah; juga bukan untuk membela Islam, atau menjunjung tinggi kalimat Allah, melainkan karena dorongan marah dan hawa nafsu. Islam tidak mengakui setiap loyalitas kepada selain akidahnya, tidak mengakui persyerikatan kecuali ukhuwah Islamiyyah (persatuan Islam atau persaudaraan Islam) dan tidak mengakui ciri khas yang membedakan manusia kecuali iman dan kekafiran [Ahmad Ar Rifa’i, 2011].

Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa para pembawa bendera 'ashabiyah (fanatisme kelompok, kesukuan dan kebangsaan) bukanlah termasuk umat Beliau ﷺ:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

Dari Jabir bin Muth’im, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada 'ashabiyah (fanatisme kelompok, kesukuan dan kebangsaan), bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena 'ashabiyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena 'ashabiyah.” (HR. Abu Dawud No.4456)

Padahal Allah SWT juga telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kalian sekali-kali mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran: 102)

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

"Berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah (agama-Nya) kesemuanya dan janganlah kalian berpecah-belah (setelah menganut Islam) serta ingatlah nikmat Allah (yakni karunia-Nya) kepada kalian ketika kalian (yakni sebelum Islam) bermusuh-musuhan, maka disatukan-Nya (dihimpunkan-Nya) di antara hati kalian (melalui Islam), lalu jadilah kalian berkat nikmat-Nya bersaudara (dalam agama dan pemerintahan serta negara Islam). Padahal sebelumnya kalian telah berada dipinggir jurang neraka (sehingga tidak ada lagi pilihan lain bagi kalian kecuali terjerumus ke dalamnya dan mati dalam kekafiran) lalu diselamatkan-Nya kalian dari neraka tersebut (melalui iman kalian kepada Allah dan Rasul-Nya). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya supaya kalian mendapat petunjuk." (QS. Ali Imran: 103)

Padahal, umat Islam sebagaimana juga digambarkan oleh Rasulullah ﷺ bagaikan satu tubuh. Hadits Rasul yang diriwayatkan:

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Dari Nu'man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam." (HR. Muslim)

Bila seorang atau sekelompok mukmin menderita kesulitan, maka mukmin yang lain juga seharusnya merasakan itu. Itulah makna ukhuwah (persaudaraan/persatuan) sesungguhnya. Islam mendorong Umatnya untuk menerjemahkan ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari. Agar mereka dapat merasakan apa yang diderita saudaranya seagama atau seakidah tersebut, untuk selanjutnya memberikan bantuan apapun bentuknya agar meringankan beban dan penderitaan saudaranya itu. Baik bantuan berupa pemikiran, tenaga, doa, materi, sandang, pangan maupun papan ataupun nyawa sekalipun.

Betapa banyak Kaum Muslimin di penjuru bumi yang masih belum merasakan ketenangan dan ketentraman hidup khususnya di Palestina, Rohingya, Suriah dan lain-lain yang sedang terpuruk dan ditindas serta dijajah secara sistemik oleh koalisi para penjajah kafir Barat dan Timur beserta para bonekanya (proxy).

Karena itulah Islam mendorong umatnya segera bersatu untuk membantu dengan segenap daya upaya kepada siapapun khususnya dari sesama saudara seiman dan semuslimnya yang sangat membutuhkan bantuan dan pertolongan tanpa melihat ras, suku dan bangsanya.

Dan pada hakikatnya menolong orang khususnya sesama saudara seiman yang sangat membutuhkan pertolongan juga berarti bahwasanya sama saja kita telah menolong diri kita sendiri. Ada kaidah dalam bahasa Arab yang berbunyi: "al-jazaa’ min jinsil ‘amal", bahwa balasan seperti amal yang dilakukan. Karena itu dengan kaidah tersebut kita bisa memahami sabda Rasulullah ﷺ berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمـِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فيِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang menyelesaikan problem seorang Mukmin di Dunia, maka Allah SWT akan menyelesaikan problemnya di Akhirat, siapa yang memudahkan orang yang kesulitan maka Allah SWT akan memberikan kemudahan kepadanya di Dunia dan Akhirat, siapa yang menutupi aib saudaranya seiman maka Allah SWT akan menutupi aibnya di Dunia dan Akhirat, dan Allah SWT senantiasa akan menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya." (HR. Muslim)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh ia mendzhalimi dan membiarkannya terdzhalimi (dalam bahaya), siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebab itulah, permasalahan umat Islam adalah permasalahan akidah atau permasalahan keimanan bukan sekedar permasalahan kemanusiaan belaka. Karena itu, siapa saja yang menolong saudaranya sesama akidah atau sesama Muslim atas dorongan akidah Islam semata, maka niscaya Allah SWT yang akan langsung memberikan pertolongan kepadanya. Dan pertolongan dari Allah SWT, itu mencakup di Dunia dan di Akhirat.

Ada beberapa amal yang bisa dilakukan untuk meringankan dan menyelesaikan masalah sesama Muslim. Di antaranya dengan usaha paling minimal doa selain bantuan pemikiran, tenaga, materi, sandang, papan, pangan dan jihad. Berdoa untuk saudara-saudara kita yang dilanda musibah dan masalah seperti di Palestina, Rohingya, Suriah dan lain-lain. Berdoa di antara salah-satu bukti perhatian dan kepedulian kita terhadap sesama Muslim yang notabene adalah saudara seakidah atau seiman.

Berdoa adalah satu amal ringan namun cukup memiliki pengaruh. Apalagi doa zahril gaib, yaitu doa dibaca ketika sedang tidak bersama orang yang kita doakan. Lantaran membaca doa zahril gaib, Malaikat akan mendoakan si pembaca doa. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abu Darda’ Radhiyallahu 'anhu:

عَنِ أَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

"Doa seorang Muslim untuk saudaranya dalam keadaan zahril ghaib (tidak bersama saudara yang didoakan) mustajab, (dan) di atas kepalanya (orang yang mendoakan) ada Malaikat yang diutus, setiap kali orang itu berdoa untuk kebaikan saudaranya, maka Malaikat itu akan berkata 'Aaamiin, dan bagimu seperti itu juga'." (HR. Muslim)

Sebab itulah, sesungguhnya nasionalisme sangat bertentangan dengan Islam dan nasionalisme hanya merusak persaudaraan dan persatuan umat Islam sedunia. Karena itulah, nasionalisme sejatinya adalah senjata pemikiran yang ampuh dan beracun serta mematikan dari kafir penjajah Barat dan Timur dalam menikam dada dan tubuh umat Islam untuk memecah-belah dan menghancurkan persatuan dan persaudaraan umat Islam tersebut menjadi berkeping-keping sekaligus senjata ampuh para penjajah kafir Barat dan Timur tersebut dalam menjauhkan Islam dari benak umat Islam sehingga umat Islam hanya tersibukkan dan hanya peduli dengan urusan pribadinya belaka ataupun tersibukkan oleh urusan bangsanya sendiri hingga mereka pun tidak lagi peduli dengan nasib saudara-saudara sesama Muslimnya yang sedang ditindas, dijajah dan dibunuh secara massal seperti di Palestina, Rohingya, Suriah, Uighur, dan lain-lain.

Nasionalisme pula sesungguhnya merupakan salah-satu faktor penyebab terjadinya malapetaka runtuhnya Daulah Khilafah Islam yang berpusat di Turki pada tahun 1924 M hingga terjadinya perpecahan umat Islam yang sebelumnya adalah satu tubuh negara besar warisan Rasulullah ﷺ yakni Khilafah Islam -yang telah berkuasa selama rentang 13 abad lamanya dan menguasai 2/3 dunia dari penjuru Nusantara hingga pintu gerbang kota Wina Austria- yang diikat oleh akidah (ideologi/mabda') Islam, kini terpecah berkeping-keping menjadi lebih dari 50 negara kecil dalam bentuk negara bangsa (nation state) dengan paham sempit nan kufur nasionalismenya.

Sehingga berpuluh-puluh tahun lamanya hingga kini umat Islam pun kian merintih kesakitan dan menangis darah tiada kesudahan tertimpa berbagai balak bencana dan tragedi berdarah serta hanya menjadi bulan-bulanan para penjajah kafir Barat dan Timur. Umat Islam benar-benar seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Umat Islam benar-benar kondisinya kini laksana tanaman atau kebun tanpa pagar.

Di mana mereka umat Islam hingga kini pun secara sistemik terus-menerus dijajah dan dibantai secara massal dengan keji dan brutal di tanah kelahirannya sendiri oleh para penjajah kafir Barat dan Timur, serta kekayaan sumberdaya alam negeri-negeri mereka pun dirampok dengan kejinya oleh para penjajah kafir Barat dan Timur yang sangat culas dan sangat serakah penuh kerakusan tiada tara tersebut.

Nasionalisme pun menjadi salah-satu biang tragedi berdarah atas dibantainya secara massal puluhan ribu lebih umat Islam Rohingya di tanah kelahirannya sendiri oleh bangsa barbar ekstrimis radikal teroris buddha Myanmar. Hanya gara-gara umat Islam Rohingya beragama Islam dan memilih Islam. Begitupula jutaan lebih umat Islam Uighur dijajah dan dibantai serta dipaksa murtad oleh negara komunis Cina RRC di tanah kelahiran kaum Muslim Uighur (Turkistan Timur) sendiri.

Nasionalisme pula yang menyebabkan puluhan tahun umat Islam Palestina dibunuh secara massal hampir setiap hari, tiap minggu, tiap bulan dan tiap tahun serta wilayah Palestina khususnya Yerussalem (Al-Quds) dicaplok dan dirampas dengan sangat brutal dan barbarnya oleh bangsa kera zionis yahudi israel yang dibidani oleh Inggris dan negara-negara sekutu jahatnya dan dibekingi serta dilindungi oleh AS sejak tahun 1948 hingga "zaman now" sekarang.

Lihatlah, karena nasionalisme pula kita umat Islam di seluruh penjuru dunia tidak bisa bersatu dan tidak punya kekuatan serta tidak berdaya untuk menolong saudara seakidah kita umat Islam Palestina dari orang tua hingga bayi yang dibunuh hampir setiap harinya secara keji dan brutal oleh bangsa barbar zionis yahudi israel laknatullahi 'alaihim. Bahkan, kita pun umat Islam sedunia tidak mampu membebaskan tanah suci Palestina dari belenggu cengkraman penjajahan bangsa maling zionis yahudi israel tersebut. Padahal jumlah kita umat Islam sedunia sangat banyak yaitu milyaran dan kita pun umat Islam sedunia memiliki jumlah pasukan militer puluhan juta lebih tentara aktif dan perlengkapan persenjataan tempur militer kita pun sangat mumpuni serta sangat banyak jumlahnya. Sebaliknya jumlah penduduk warga ilegal zionis yahudi israel sangat sedikit tidak sampai puluhan juta dan jumlah pasukan militer israel pun tidak sampai jutaan tentara aktif.

Lihatlah pula, karena nasionalisme para penguasa negeri-negeri Islam seperti Turki, Mesir, Libanon, Yordania, Suriah, Arab Saudi, Iran, Brunei Darussalam, Malaysia, Indonesia, dan lain-lain menjadi diam membisu, tanpa merasa malu dan tanpa merasa berdosa membiarkan terus-menerus terjadinya pembantaian secara massal (genosida) terhadap puluhan ribu lebih umat Islam Palestina dari tahun 1948 hingga kini yang dilakukan bangsa barbar zionis yahudi israel terkutuk tersebut. Kalaupun kecaman paling sebatas retorika belaka tanpa aksi nyata untuk bersatu memobilisasi pasukan militer dan armada perangnya untuk berjihad membebaskan bumi para Nabi yaitu tanah suci Palestina sekaligus mengenyahkan entitas ilegal zionis yahudi israel dari peta dunia.

Dan parahnya para penguasa negeri-negeri Islam tersebut begitu lunak dan cenderung membela dan mengakui serta melindungi penjahat zionis yahudi israel tersebut dengan sejumlah sandiwara politik dan retorika basi baik berupa kecaman belaka, genjatan senjata, diplomasi, perdamaian dan solusi dua negara yang notabene justru hanya mengakui keberadaan entitas ilegal bangsa penjajah zionis yahudi israel tersebut.

Padahal umat Islam Palestina telah menangis darah dan menjerit histeria meminta pertolongan kepada dunia terlebih kepada saudara seimannya umat Islam di seluruh penjuru dunia khususnya para penguasa Muslim tersebut. Padahal masalah Palestina adalah masalah akidah atau masalah keimanan bukan sekedar masalah kemanusiaan belaka.

Namun, tidak ada satu pun dari penguasa Muslim tersebut yang tergerak hatinya untuk segera memobilisasi seluruh umat Islam sedunia dan jutaan pasukan militernya serta mengerahkan pesawat tempur dan tanknya serta armada perangnya untuk berjihad dalam menyelamatkan dan membebaskan umat Islam Palestina dari penindasan, penjajahan dan pembantaian massal (genosida) yang dilakukan bangsa barbar teroris zionis yahudi israel tersebut sekaligus mengenyahkan bangsa barbar tersebut dari Palestina sekaligus menaklukkan kembali Baitul Maqdish serta membersihkan tanah suci Palestina dari kotoran dan najis bangsa kera zionis yahudi israel tersebut. Sebab bahasa yang paling dimengerti oleh bangsa barbar teroris israel dan induk semangnya AS tersebut adalah jihad (perang) bukan bahasa dialog.

Padahal di sisi Allah SWT, hilangnya nyawa seorang muslim lebih besar perkaranya daripada hilangnya dunia.

Dari al-Barra’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang Mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455)

Sangat disayangkan, tiada hentinya puluhan ribu lebih nyawa umat Islam Palestina harus hilang dibinasakan dengan biadabnya oleh bangsa barbar zionis yahudi israel terkutuk tersebut dihadapan kita umat Islam di seluruh penjuru dunia khususnya umat Islam Yordania, Lebanon, Suriah, Turki, Iran dan Arab Saudi yang lebih dekat dengan mereka. Namun, lagi-lagi gara-gara nasionalisme pula kita umat Islam tidak kuasa mencegah dan menghentikan kejahatan dari bangsa barbar zionis yahudi israel tersebut serta kita pun tidak bisa secara totalitas menolong saudara Muslim Palestina kita tersebut.

Padahal, satu tetes darah umat Islam Palestina baik orang tua maupun anak-anak tertumpahkan dan satu nyawa umat Islam Palestina ada yang hilang, maka kita umat Islam di seluruh penjuru dunia khususnya para penguasa Muslim di negeri-negeri Islam termasuk penguasa Arab, Saudi, Turki, Iran, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Brunei Darussalam, dan lain-lain tersebut pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT di Yaumil Hisab kelak. Jika kita tetap diam membisu tidak mau menolong umat Islam Palestina yang sedang dijajah dan dibantai secara massal oleh bangsa barbar zionis yahudi tersebut, maka sesungguhnya kita pun termasuk orang-orang yang dzhalim. Bukankah Allah SWT tidak pernah melupakan tindakan orang-orang yang dzhalim..?! Allah SWT berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

“Jangan sekali-kali kamu mengira, Allah akan melupakan tindakan yang dilakukan orang dzhalim. Sesungguhnya Allah menunda hukuman mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena melihat adzab).” (QS. Ibrahim: 42)

Dan bisa jadi pula, hukuman itu Allah segerakan di Dunia. Sebagaimana riwayat hadits dari Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ مِنَ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

"Tidak ada dosa yang lebih berhak untuk Allah segerakan hukuman bagi pelakunya di dunia, di samping masih ada hukuman di akhirat, selain dosa dzhalim dan memutus silaturrahmi." (HR. Tirmidzi, 2700 dan Abu Daud, 4904)

Di sinilah relevansi dan urgensi Khilafah. Karena Khilafah adalah perkara hidup dan matinya umat Islam. Karena Khilafah adalah pelaksana Syariah dan pemersatu umat Islam serta penjaga Akidah Islam dan umat Islam serta Khilafah adalah benteng kokoh Islam.

Karena itulah dalam Islam, Khilafah adalah salah-satu benteng utama Islam sekaligus perisai Islam (junnatul Islam) dan pedang Allah yang terhunus. Sekaligus mahkota kewajiban (taajul furuudh), sehingga kewajiban-kewajiban hukum Syariah bisa dilaksanakan dengan sempurna, termasuk kewajiban menolong saudara seakidah-seperti Palestina, Rohingya, Kashmir, Iraq, Suriah, Afghanistan, dan lain-lain-yang tengah ditindas dan dijajah serta dibunuhi secara massal oleh para penjajah kafir Barat dan Timur.

Seperti pada masa Daulah Islam yang pertama di Madinah, pada pertengahan bulan Syawal tahun 2 H Rasulullah ﷺ mengerahkan pasukannya dan mengepung perkampungan Yahudi Qainuqa' serta menghukum mati semua orang-orang yahudi Qainuqa' yang telah terlibat melecehkan kehormatan seorang Muslimah dan pembunuhan secara beramai-ramai terhadap seorang pemuda Muslim yang membela kehormatan wanita Muslimah tersebut.

Sebagaimana pula Rasulullah ﷺ telah memimpin langsung 30.000 pasukan kaum Muslimin menghadapi pasukan Bizantium Romawi Timur yang berjumlah 100.000 pasukan dalam perang tabuk yang terjadi pada 630 M atau 9 H. Rasulullah ﷺ mengerahkan pasukan jihadnya tersebut dalam membebaskan kaum Muslimin (masyarakat Tabuk yang baru masuk Islam) yang dijajah dan dibunuh secara massal oleh tentara Romawi tersebut di Tabuk (perbatasan wilayah jajahan Romawi di Syam).

Juga sebagaimana pula pada masa Khulafaur Rasyidin Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu bersama Panglima militernya yaitu Khalid bin Walid dan Amru bin Ash Radhiyallahu 'anhuma berhasil membebaskan Palestina dari penjajahan imperium Bizantium Romawi Timur pada tahun 637 M.

Sebagaimana halnya pula pada masa Kekhilafahan Islam Bani Abbasiyah, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi seorang wali Mesir dan Syam sekaligus panglima militer Khilafah Islam berhasil membebaskan Palestina dari cengkraman penjajahan bangsa Eropa Salibis. Kemenangan besar dalam pembebasan Palestina itu terjadi pada tanggal 27 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M, yaitu setelah 88 tahun di bawah penjajahan kekuasaan bangsa Eropa Salibis.

Seperti halnya pula Khalifah al-Mu'tashim Billah (pada masa Khilafah Abbasiyah) berhasil menaklukkan kota Amuria (Turki) dan membebaskan seorang Muslimah dari Bani Hasyim yang telah dilecehkan kehormatannya oleh seorang tentara Romawi.

Di mana pada tahun 837, al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi, kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu'tashim Billah dengan lafadz yang legendaris: waa Mu'tashimaah!

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Amuria dan melibas semua orang kafir yang ada di sana (30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 yang lain ditawan). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari istana Khalifah di Baghdad hingga kota Amuria, karena besarnya pasukan.

Setelah menduduki kota tersebut, Khalifah memanggil sang pelapor untuk ditunjukkan di mana rumah wanita tersebut, saat berjumpa dengannya ia mengucapkan, "Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?" Dan sang budak wanita inipun dibebaskan oleh Khalifah serta orang romawi yang melecehkannya dijadikan budak bagi wanita tersebut.

Dan juga masih pada masa Khilafah Abbasiyah, sebagaimana halnya pula Sultan al-Mudzhaffar Saifuddin Qutuz sebagai Wali Mesir sekaligus Panglima militer Islam beserta pasukan kaum Muslim berhasil membebaskan dan membersihkan wilayah Daulah Khilafah Islam dari cengkraman penjajahan bangsa barbar Mongol (Tartar) dalam peperangan yang sangat terkenal dalam sejarah yaitu Perang AIN JALUT (Spring of Goliath) pada tahun 658 H/1260 M.

Juga sebagaimana pada tahun 1989-1902 di masa akhir Khilafah Islam Utsmaniyah pada masa Khalifah Sultan Abdul Hamid II yang begitu sangat luar biasanya dan heroiknya beliau tetap sangat kokohnya menjaga dan mempertahankan tanah suci Palestina dengan tidak memberikan sejengkal tanah pun kepada bangsa barbar zionis yahudi israel, meskipun beliau pada akhirnya pada tahun 1909 harus kehilangan jabatannya sebagai Khalifah dan beliau pun beserta keluarga besarnya harus terusir dari istananya dan dibuang serta mendekam dalam penjara di Salonika Yunani hingga beliau wafat di sana. Karena konspirasi jahat zionis yahudi dan Inggris beserta negara-negara barat penjajah sekutunya dan para boneka-para pengkhianat Islam yaitu kaum zindiq dan kaum nasionalis Turki muda-nya yang ditanam di tubuh negara Khilafah Utsmaniyah yang sudah tua renta dan sudah sakit-sakitan tersebut.

Karena itulah, solusi final dari tragedi Palestina dan seluruh problematika negeri-negeri Islam lainnya yang sedang terjajah seperti Uighur, Rohingya, Suriah, Iraq, Afghanistan, Kashmir, Bosnia, Indonesia, dan lain-lain adalah dengan segera umat Islam sedunia bersatu-padu meruntuhkan dinding tebal sekat-sekat nasionalisme biang petaka Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya tersebut, dan bersegera mencampakkan sistem kufur demokrasi, kapitalisme, sekulerisme -yang menjadi biang masalah dan biang penjajahan di seluruh penjuru negeri Islam- ke dalam tong sampah peradaban dunia selamanya.

Dan solusi finalnya pun, umat Islam harus segera kembali bangkit dan bersegera bersatu pula dalam bingkai Khilafah Islam dengan bergerak di bawah komando seorang Khalifah dalam jihad fi sabilillah membebaskan Palestina dari kejahatan bangsa barbar teroris radikal zionis yahudi israel sekaligus mengenyahkan bangsa barbar teroris zionis yahudi israel tersebut beserta induk semangnya AS dari peta dunia selamanya. Dan sekaligus juga membebaskan seluruh negeri-negeri Islam lainnya dari belenggu penjajahan kafir Barat dan Timur kapitalisme global. Sebab, hanya jihad dan Khilafah saja solusi real dalam menyelamatkan dan membebaskan Palestina dan seluruh negeri-negeri Islam lainnya dari belenggu kejahatan gurita penjajahan kapitalisme global baik asing (AS, Eropa dan zionis yahudi) maupun aseng (RRC).

Wallahu a'lam bish shawab. []


#RamadhanBulanKetaatan
#RamadhanBulanPerjuangan
#RamadhanBulanDakwah
#RamadhanBulanJihad
#RamadhanBulanKhilafah
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahDanJihadSolusiTuntasPalestina

Saturday, May 11, 2019

Demokrasi Lebih Beracun Daripada Kopi Sianida



Oleh: Zakariya al-Bantany

Masihkah anda ingat tragedi kasus kopi sianida yang telah membunuh dan menewaskan Wayan Mirna Salihin (27 tahun) yang malang, pada tanggal 6 Januari 2016 yang lalu..?!

Di mana kasus kopi sianida tersebut membuat heboh sejagad Indonesia raya. Bahkan ramai media cetak dan media televisi serta media sosial pagi dan petang, siang dan malam memberitakannya.

Sampai-sampai karena sangat hebohnya kasus kopi sianida tersebut, Indonesia Lawyers Club (ILC TVONE) yang dibawakan oleh Presiden ILC Karni Ilyas pun sangat serius membahas dan membedahnya secara live pada Selasa (2/2/2016) malam dengan menghadirkan para narasumber yang berkompeten.

Bahkan pemerintah pun begitu sangat sigap dan sangat cepatnya mengungkap dan menyingkap misteri kasus kopi sianida yang telah menewaskan Mirna yang malang tersebut.

Hingga polisi pun berhasil meringkus dan menangkap terduga pelakunya yakni Jessica Kumala Wongso hingga pemerintah pun bersemangat memproses dan mengadili Jessica tersebut dengan membuat pengadilan live atas kasus kopi sianida tersebut hingga berjilid-jilid bak sinetron di sejumlah media televisi hingga selama satu tahun.


Namun, tatkala 554 orang petugas pemilu meninggal dunia -dan sangat mungkin korban nyawa akan terus bertambah- saat jalankan tugasnya dalam pemilu serentak 2019 yang sudah diselenggarakan 17 April 2019 yang lalu justru pemerintah dan negara bungkam bahkan cenderung menutupinya dan sejumlah media pun tidak begitu hebohnya memberitakan tewasnya 554 petugas pemilu tersebut bahkan ILC TVONE pun dibuat cuti panjang.

Padahal jumlah petugas penyelenggara Pemilu 2019 yang meninggal dunia terus bertambah -lebih sangat banyak daripada korban nyawa kopi sianida tersebut-. Data sementara secara keseluruhan petugas yang tewas mencapai 554 orang, baik dari pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) maupun personel Polri.

Berdasarkan data KPU per Sabtu (4/5) pukul 16.00 WIB, jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal sebanyak 440 orang. Sementara petugas yang sakit 3.788 orang.

Jumlah itu bertambah dari hari sebelumnya yaitu 424 orang. Begitu pula dengan petugas yang sakit juga bertambah dari hari sebelumnya yang mencapai 3.668 orang. [https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190507084423-32-392531/total-554-orang-kpps-panwas-dan-polisi-tewas-di-pemilu-2019]

Ini makin membuktikan demokrasi lebih beracun daripada kopi sianida. Kopi sianida hanya bisa membunuh satu orang Mirna yang malang saja. Sebaliknya, demokrasi lebih gila dan lebih brutal serta lebih sadis dengan terbukti mampu membunuh 554 petugas pemilu tersebut dalam waktu serentak dan dalam waktu yang berdekatan serta menjadi misteri hingga kini.

Namun, parahnya justru pemerintah dan negara masih tetap bungkam bahkan cenderung menutupi atas tewasnya 554 orang petugas pemilu tersebut yang menjadi tumbal pesta demokrasi 2019 tersebut.

Sebaliknya dahulu pemerintah dan negara begitu sangat sigap dan cekatan menyingkap misteri tabir kasus kopi sianida yang telah menewaskan Mirna yang malang tersebut bahkan berhasil menangkap Jessica pelakunya dan juga persidangannya pun dibuat live di sejumlah media televisi hingga berjilid-jilid bak sinetron. Di manakah keadilan dalam negara demokrasi itu..?!

Jika seorang Mirna dan keluarganya telah dilayani urusan hukumnya dan Jessica pelaku pembunuhan via kopi sianida tersebut telah dijatuhi hukuman berat, lantas mengapa sampai saat ini 554 orang petugas pemilu yang tewas tersebut dan keluarganya belum juga kunjung mendapatkan pelayanan hukum dari pemerintah dan negara..?!

Bukankah 554 orang petugas pemilu yang tewas tersebut juga adalah warga negara Indonesia bahkan mereka adalah panitia penyelenggara pemilu dan konon katanya pun mereka digelari pahlawan pemilu..?!

Mengapa pemerintah dan negara demokrasi ini bungkam dan cenderung menutupi kasus tewasnya 554 orang petugas pemilu tersebut..?! Dan mengapa pula KPU dan pemerintah atau negara ini tidak mau mengungkap dan menyingkap misteri tabir kematian 554 orang petugas pemilu tersebut..?!

Bukankah kematian 554 orang petugas pemilu tersebut adalah sebuah kejadian luar biasa sekaligus tragedi dan bencana demokrasi dan petaka pesta demokrasi 2019..?! Bukankah meninggalnya 554 orang petugas pemilu tersebut jauh lebih banyak daripada korban kecelakaan pesawat terbang dan korban terorisme di New Zealand serta korban kopi sianida..?!

Mengapa juga negara demokrasi ini tidak juga kunjung mengeluarkan secara resmi dari lisan sang Presiden RI berupa pernyataan sikap bela sungkawa sedalam-dalamnya atas tewasnya 554 petugas pemilu tersebut dan menjadikannya sebagai darurat bencana nasional serta mengibarkan bendera setengah tiang sebagai wujud duka cita yang sangat mendalam bagi seluruh bangsa Indonesia atas tragedi kemanusiaan tewasnya 554 orang petugas pemilu tersebut dalam melaksanakan tugasnya..?!

Namun pasca pemilu serentak yang menghabiskan biaya 25 triliyun lebih tersebut, pemerintah dan negara demokrasi saat ini justru sibuk berupaya membentuk tim pantau pencaci jokowi. [https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190506183019-12-392420/wiranto-bentuk-tim-pantau-pencaci-jokowi].

Dan juga justru sibuk mengkriminalisasi Dokter Ani Hasibuan yang mencurigai meninggalnya petugas KPPS tersebut, di mana ia akan dilaporkan ke polisi oleh Jangkar Relawan Jokowi karena dituduh pendukung Prabowo dan melakukan kebohongan serta mempolitisasi tewasnya 554 petugas pemilu tersebut untuk mendeligitimasi KPU. Padahal, sebelumnya dokter Ani Hasibuan mengaku penelusurannya itu independen.

“Saya dokter, saya independen. Saya sendirian saja (melakukan penelusuran). Nggak ada yang nyuruh juga,” kata dokter Ani Hasibuan saat dihubungi, Rabu (8/5/2019).

Sebagai tenaga medis, Ani awalnya heran dengan banyaknya petugas KPPS yang meninggal usai Pemilu 2019 hingga jumlahnya mencapai ratusan. Menurutnya, peristiwa itu bisa dianggap masuk akal apabila jumlah petugas KPPS yang meninggal 5-10 orang dan sudah lanjut usia. Tapi, ternyata ada pula petugas KPPS yang meninggal di usia muda.

“Jadi saya ingin tahu ada apa sesungguhnya? Kok bisa ada kematian yang banyak dalam waktu bersamaan,” ujarnya. [https://www.google.com/amp/s/suaranasional.com/2019/05/09/jangkar-relawan-jokowi-akan-laporkan-dokter-ani-hasibuan-ke-polisi/amp/]

Padahal, saat ini yang sangat dibutuhkan oleh seluruh rakyat Indonesia adalah keadilan dan kejujuran untuk mengusut, menyingkap dan mengungkap misteri kematian tak wajar dari 554 orang petugas pemilu tersebut dan juga atas dugaan kecurangan pemilu yang begitu sangat terang-benderang, terstruktur, sistematis, massif dan brutal.

Ini semakin meneguhkan bukti sangat kuat bahwa keadilan dalam negara demokrasi hanyalah sebuah ilusi dan hanyalah utopia belaka serta hanyalah sebuah fatamorgana belaka. Masihkah percaya demokrasi..?! Mikir..?!

Allah SWT berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?." (QS. Al-Maidah : 50)

Oleh sebab itu,  maka sudah kiranya itu semua semakin membuktikan bahwa demokrasi adalah sistem gagal dan betapa bobroknya demokrasi serta betapa brutal dan sadisnya demokrasi sistem kufur warisan penjajah tersebut. Demokrasi hanya lahirkan democrazy dan dungukrasi serta demokrasi hanya menjadi biang petaka dan biang bencana serta biang penjajahan dan biang kejahatan di negeri ini dan di dunia.

Karena itu, sudah tiba saatnya segera tumbangkan demokrasi dan bersegeralah hijrah ke dalam sistem Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan dalam bingkai Khilafah Rasyidah Islamiyah untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik, berkeadilan dan sejahtera penuh rahmah dan penuh berkah. Mau..?!

Wallahu a'lam bish shawab. []


#RamadhanBulanPerjuangan
#RamadhanBulanJihad
#RamadhanBulanKetaatan
#2019TumbangkanDemokrasi
#RamadhanBulanKhilafah
#2019TegakkanKhilafah
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahSolusiUntukIndonesiaDanDunia
#SelamatkanIndonesiaDanDuniaDenganSyariahDanKhilafah

Wednesday, May 8, 2019

Arab Tidak Bisa Dipisahkan Dari Islam



Oleh: Zakariya al-Bantany

Karena, Islam wahyu Allah ini diturunkan di Jazirah Arab kepada Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ yang notabene beliau adalah orang Arab asli yang diutus untuk seluruh umat manusia dan untuk seluruh alam semesta.

Sumber hukum Islam yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah pun berbahasa Arab.

Khazanah pemikiran Islam pun berbahasa Arab.

Umat Islam pun dalam beribadah khususnya shalat menggunakan bahasa Arab. Karena, bahasa Arab adalah bahasa Umat Islam apapun suku bangsa dan warna kulitnya.

Negara Khilafah Islam yang berkuasa lebih dari 13 abad lamanya sejak Rasulullah ﷺ mendirikan Daulah Islam pertama di Madinah hingga Khulafaur Rasyidin, Khilafah Bani Umayyah, Khilafah Bani Abbasiyah dan Khilafah Bani Utsmaniyah pun menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resminya.

Para Wali Songo yang diutus oleh Khilafah Islam Utsmaniyah ke bumi Nusantara untuk Islamisasi dan mendirikan kesultanan-kesultanan Islam adalah kebanyakan mereka pun merupakan orang Arab.

Bahkan, hampir 40% kosakata bahasa Indonesia yang kita pakai dalam kehidupan sehari-sehari adalah banyak mengadopsi dari kosakata bahasa Arab.

Bahkan kelak di Surga pun kita menggunakan bahasa Arab.

Para pejuang kemerdekaan Indonesia pun kebanyakan mereka yang mempelopori di antaranya dari keturunan Arab dalam melawan kafir penjajah.

Jadi, melecehkan Arab sama saja melecehkan Islam dan juga melecehkan sejarah asal-usul jati diri kita sendiri.

Karena, Arab adalah bagian dari Islam dan kharisma Islam akan tampak dengan Arab khususnya bahasa Arab.

Karena itu, Arab tidak bisa dipisahkan dari Islam dan Islam pun tidak bisa dipisahkan dari Arab, laksana dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Wallahu a'lam bish shawab. []


#RamadhanBulanPerjuangan
#RamadhanBulanJihad
#RamadhanBulanDakwah
#RamadhanBulanKhilafah
#ReturnTheKhilafah

Bekam Itu Sehat



Oleh: Zakariya al-Bantany

Bekam atau dalam bahasa Arab disebut dengan istilah hijamah, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah cupping. Bekam adalah sebuah proses membuang darah kotor dari dalam tubuh. Darah kotor sendiri dalam dunia medis disebut dengan istilah CPS atau Cairan Penyebab Sakit, sebab darah kotor mengandung sel-sel darah merah yang sudah mati dan rusak, toksin (racun), kolesterol jahat, radikal bebas, bakteri jahat, zat-zat yang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh, dan lain-lain.

Oleh sebab itulah, sebenarnya darah kotor tersebut merupakan sampah atau limbah industri tubuh kita. Yang namanya sampah atau limbah jika tetap dibiarkan menumpuk dan tidak segera dibuang, maka hanya akan menjadi sumber penyakit atau hanya akan menjadi biang penyakit belaka. Karena darah kotor tersebut sangat beracun dan sangat membahayakan keberlangsungan sistem imunitas tubuh kita, sistem syaraf dan sistem organ serta sistem hormon tubuh kita dan tentunya pun sangat mengganggu bagi keberlangsungan kinerja metabolisme tubuh kita.

Karena itulah, darah kotor tersebut harus segera dibuang di antaranya dengan cara rutin dikeluarkan melalui proses pembekaman minimal 1-2 bulan sekali. Sehingga dengan bekam tersebut akan dapat melancarkan sistem peredaran darah, membantu regenerasi sel darah merah yang baru dalam tubuh, menguatkan imunitas tubuh, menguatkan sistem syaraf dan organ tubuh dan mengaktifkan 72 macam hormon dalam tubuh, menyeimbangkan angin dalam tubuh, membuang racun dalam tubuh, dan lain-lain.

Simplenya atau sederhananya, bekam sangat baik bagi kesehatan tubuh kita dan bekam pun dengan izin Allah dapat mencegah dan mengobati berbagai macam keluhan penyakit khususnya penyakit yang terkait dengan sistem peredaran darah manusia. Insya Allah!

Rasulullah Saw. pun rajin berbekam, dalam banyak hadits diriwayatkan:

سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ فَقَالَ احْتَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَكَلَّمَ أَهْلَهُ فَوَضَعُوا عَنْهُ مِنْ خَرَاجِهِ وَقَالَ إِنَّ أَفْضَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ أَوْ هُوَ مِنْ أَمْثَلِ دَوَائِكُمْ

"Dari Anas bin Malik ra.,(ditanya) mengenai Hijamah, beliau berkata: Bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. berbekam (hijamah) dan memerintahkan keluarga beliau dan Rasulullah Saw. pun bersabda: 'Sebaik-baik pengobatan yang kalian lakukan adalah dengan Hijamah.' Hadits dari Ibnu Abi Umar juga menyebutkan demikian." (HR. Muslim, No.1577)

عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَنْ سَمُرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”أَفْضَلُ مَا تَدَاوَى بِهِ النَّاسُ الْحِجَامَةُ”. المعجم الكبير الطبراني

"Dari Abi Raja’, dari Samurah ra. berkata: Bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: 'Sebaik-baik pengobatan yang manusia lakukan adalah dengan Hijamah'." (Mu’jam Kabir–At-Thabrani)

عن معوية، عن معقل بن يسار ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « الحجامة يوم الثلاثاء لسبع عشرة من الشهر ، دواء لداء سنة » القول في البيان عن معاني هذه الأخبار إن قال لك قائل : ما أنت قائل في هذه الأخبار التي رويتها لنا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، من ندبه أمته إلى الحجامة ، وقوله عليه السلام : « ما مررت بملأ من الملأ الأعلى إلا أمروني بالحجامة ، وقالوا : مر أمتك بالحجامة » ، وقوله صلى الله عليه وسلم « احتجموا لخمس عشرة ، وسبع عشرة ، وتسع عشرة ، وإحدى وعشرين

"Dari Muawiyah, dari Ma’ql bin Yassar ra., berkata: bahwa Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: 'Hijamah pada hari selasa atau tanggal 17 adalah pengobatan yang disunnahkan. Dijelaskan bahwa diceritakan mengenai Pengobatan dengan Hijamah dan dikatakan bahwa: Rasulullah Saw. bersabda: “Aku tidak diperintah oleh Para Malaikat pada Malam Isra' kecuali mereka (para Malaikat) itu berkata: 'Kerjakan Hijamah, ya Muhammad'. ”Dan mereka (para Malaikat) itu juga berkata Perintahkan Umatmu berhijamah. Rasulullah Saw. bersabda: Hendaklah berhijamah (berbekam) pada tanggal 15, 17, 19 dan 21”." (Ma’rifatu Shahabah dan Mu’jam Kabir At-Thabrani)

Wallahu a'lam bish shawab. []

Jadi, bekam itu sehat dan berpahala. Yuk segera berbekam..?! Mau..?!

Khilafah Itu Cocok Untuk Indonesia



Oleh: Zakariya al-Bantany

Di antara propaganda jahat yang dihembuskan oleh penjajah kafir kapitalis Barat dan Timur melalui kaki tangannya baik para penguasa boneka, para komprador dan media mainstream serta tim cybernya yang menjadi corong imperialisme, maupun orang-orang yang awam dan buta politik, yaitu: Indonesia bukan negara Islam, karena itu, Syariah dan Khilafah tidak cocok untuk Indonesia. Siapapun yang ingin menegakkan Syariah dan Khilafah silahkan keluar dari Indonesia dan pindah saja ke Timur Tengah..?! Benar sekali, Indonesia bukan negara Islam. Tapi, Indonesia penduduknya mayoritas beragama Islam dan Islam sendiri adalah agama yang bertuhankan Allah SWT yang Maha Esa.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan dan mengusir penjajah Portugis, Belanda, Jepang, Inggris dan sekutu justru umat Islamlah -yang dipimpin oleh para Ulama- yang terdepan dalam melawan dan mengusir penjajah Belanda, Portugis, Jepang, Inggris dan sekutu dari bumi pertiwi ini. Bahkan yang paling banyak tertumpahkan darah dan nyawanya di tanah Nusantara ini adalah umat Islam dan para Ulamanya.

Bahkan, saat di sidang BPUPKI dan Konstituante pada tahun 1945 para Ulama lintas harakah baik dari Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis, NU, Syarikat Islam, dan lain-lain pernah mengusulkan dan pernah pula memperjuangkan agar Islam menjadi asas negara dan agar Islam menjadi UUD negara ini.

Dan juga sebelumnya pun pasca diruntuhkannya Khilafah Islam Utsmaniyah di Turki pada 3 Maret 1924 Masehi oleh Inggris melalui agennya seorang yahudi yakni Mustafa Kamal Attarturk laknatullahi 'alaihi seluruh Ulama di Nusantara dari berbagai harakah Islam baik Muhammadiyah, Syarikat Islam, Persis, NU, Al-Irsyad, Jami'atul Khair, dan lain-lain bermusyarah dan bermufakat memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah dan Syariah sebagai respon atas diruntuhkannya Khilafah Islam Utsmaniyah tersebut.

Dan sejarah Indonesia pun tidak bisa lepas dari sejarah Islam, karena di Indonesia terdapat banyak sekali jejak-jejak Syariah dan Khilafah baik fisik maupun non-fisik di seantero penjuru Nusantara yang dibawa oleh Walisongo yang merupakan duta-duta politik dan da'i-da'i pilihan yang dikirim secara resmi oleh Daulah Khilafah Islam yang berpusat di Turki sehingga kini kita sekeluarga menjadi Muslim dan Indonesia menjadi negara Muslim terbesar di dunia dengan mayoritas rakyatnya beragama Islam.

Bahkan sebelumnya pun pada abad 7 masehi, Islam sudah masuk ke Nusantara ini yaitu dengan masuk Islamnya raja Sridavarman seorang penguasa kerajaan Sriwijaya di Nusantara. Sebelumnya raja Sridavarman mengirimkan suratnya kepada Khalifah Mu'awiyyah bin Abi Sofyan pada masa Khilafah Bani Umayyah, di mana raja Sridavarman sangat tertarik dan takjub dengan keagungan Islam dan peradaban Islam dalam negara Khilafah. Dan raja Sridavarman pun mengirimkan kembali suratnya kepada Khalifah selanjutnya yakni Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayyah, agar Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkenan mengirimkan seorang Ulama atau da'i untuk mengajarkan Islam kepadanya di kerajaan Sriwijaya. Setahun kemudian raja Sridavarman pun akhirnya masuk Islam dan mengubah namanya menjadi Sribuza Islam.

Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibnu Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.

Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para da'i atau Ulama yang diutus Khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 7 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400-an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.

Lalu ada Syekh Ja'far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus -berasal dari kata al-Quds (Jerusalem Palestina). Pada masa Walisongo, Kesultanan-kesultanan Islam seantero nusantara pun benar-benar telah menerapkan Syariah Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan dan Islam pun menjadi sendi-sendi kehidupan masyarakat Islam di bumi nusantara ini.

Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang dan Islam pun kini menjadi mayoritas di Indonesia. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak Syariah dan Khilafah. Itu sama artinya ia menolak jati diri asal-usul sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para Ulama yang diutus oleh para Khalifah.

Artinya secara historis, Syariah dan Khilafah itu sangat cocok untuk Indonesia.

Justru yang tidak cocok untuk Indonesia itu adalah sosialisme-komunisme dan demokrasi-kapitalisme-sekulerisme yang notabene adalah warisan penjajah kafir terlaknat.

Sosialisme-komunisme melahirkan banyak tragedi berdarah dan petaka serta bencana dalam sejarah Indonesia dan puncaknya adalah pengkhianatan G30SPKI pada tahun 1965.

Lalu, demokrasi, kapitalisme, sekulerisme yang diterapkan di negeri ini sejak awal kemerdekaan Indonesia hingga sekarang hanya banyak melahirkan kerusakan dan masalah yang begitu kompleksnya bagi negeri ini, seperti kian tinggi dan mengguritanya: korupsi, narkoba, kriminalitas, kemiskinan, sex bebas, prostitusi, pornografi dan pornoaksi, penistaan agama, aliran sesat, hutang luar negeri, LGBT, liberalisme, imperialisme, separatisme OPM di Papua dan lepasnya Timor Timur dari NKRI pada tahun 1999, Biaya hidup yang mahal dan mencekik rakyat, kesenjangan sosial, Freeport (AS) makin leluasa menguasai gunung emas di Papua, lebih dari 80% sumber daya alam Indonesia dikuasai asing dan aseng, privatisasi aset-aset penting negara, ancaman disintegrasi bangsa, konflik horizontal dan vertikal antar anak bangsa, hukum makin tumpul ke atas dan hanya tajam ke bawah, kriminalisasi ajaran Islam dan Ulama, martabat rakyat pun kian terancam dan kian menguritanya secara sistemik neoliberalisme dan neoimperialisme yang berwujud raksasa kapitalisme global baik kapitalis Barat (asing) maupun kapitalis Timur (aseng) di negeri ini.

Bahkan pasca pesta demokrasi pemilu serentak 17 April 2019 yang lalu, kini semakin terungkap dan terbukti demokrasi, kapitalisme, sekulerisme tersebut hanya membawa kerusakan, petaka dan bencana bagi negeri ini. Lihatlah, betapa pesta demokrasi tersebut telah menghabiskan lebih dari Rp25 trilyun lebih, namun justru memicu banyak sekali kekisruhan dan kegaduhan serta kecurangan yang kasat mata, sistematis, terstruktur, massif dan brutal demi memenangkan sang petahana hingga pesta demokrasi itu pun telah memakan korban jiwa yakni tumbal jiwa petugas pemilu sebanyak lebih dari 330 orang dan lebih dari 2000 orang lainnya dirawat di Rumah Sakit. Dan korban nyawa dari pesta demokrasi tersebut sangat mungkin akan terus bertambah.

Masihkah percaya demokrasi..?! Masihkah tetap mempertahankan demokrasi..?!

Kalau bukan Islam yaitu Syariah dan Khilafah, lantas apa solusinya atas segala problematika umat dan negeri ini yang disebabkan oleh sistem kufur demokrasi-kapitalisme-sekulerisme warisan kafir penjajah tersebut..?!

Sosialisme-komunisme telah terbukti gagal dan hanya membawa petaka berdarah dan bencana di negeri ini. Demokrasi, kapitalisme, sekulerisme pun terbukti sekarang hanya membawa bencana dan malapetaka bagi negeri ini dan hanya menjadi biang masalah, biang kecurangan, biang keculasan dan kerusakan serta biang penjajahan bagi negeri ini dan dunia secara sistemik.

Jadi, kesimpulannya baik secara historis maupun secara empiris, sistem Islam yaitu Syariah dan Khilafah tentunya sangat cocok dan sangat tepat untuk Indonesia yang lebih baik dan penuh berkah. Bahkan Syariah dan Khilafah sangat mendesak dibutuhkan oleh Indonesia. Karena, Syariah dan Khilafah itulah solusi dari Islam untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik penuh rahmah dan penuh berkah. Apatah lagi Allah SWT yang Maha Sempurna telah menjamin kesempurnaan Islam, sebagaimana firman-Nya:

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagimu." (QS. Al-Maidah: 3)

Maka, Hanya Syariah dan Khilafah saja yang bisa menyelamatkan Indonesia dari jurang kehancurannya dan dari penjajahan gaya baru akibat demokrasi, kapitalisme, sekulerisme warisan penjajah tersebut.

Dan karena Indonesia juga adalah milik Allah, sebab Indonesia adalah bagian integral dari buminya Allah Tuhan Semesta Alam yang Maha Esa lagi Maha Kuasa lagi Maha Serba Maha.

Karena itulah, sesungguhnya penegakkan Syariah dan Khilafah adalah bukti keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya sendiri." (QS. Al-A'raf: 96)

Jadi, siapapun yang tidak suka dan berupaya menghalangi tegaknya Syariah dan Khilafah, maka bersiap-siaplah berhadapan dengan Allah SWT dan silakan saja keluar dari buminya Allah ini, bila perlu silahkan keluar dari kolong langitnya Allah SWT..?! Karena langit ini pun dan alam semesta ini adalah miliknya Allah, bahkan nyawa dan jasad tubuh kita ini pun adalah miliknya Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 284)

Wallahu a'lam bish shawab. []


#2019TumbangkanDemokrasi
#2019TegakkanKhilafah
#KhilafahPastiMenang
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahTheRealSolution
#KhilafahUntukIndonesiaYangLebihBaikPenuhBerkah

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog